Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Author Archive: Amanda Setiorini W.

Jalan 4000 Langkah

Empat ribuan langkah, jarak antara mal AEON dengan rumahku. Setidaknya begitulah menurut aplikasi Samsung Health di ponselku. Aku ingat betapa satpam kompleks menatapku lekat-lekat, sejak berbelok dari trotoar sampai benar-benar berdiri di hadapan mereka. Untung aku memakai celana panjang, jadi mereka bisa lihat bahwa kakiku menapak. Hiy! Buat apa sih jalan kaki, malam-malam pula. Mereka …

Baca lebih lanjut

Kenapa Mahasiswa Kita Malas Membaca?

Sebagai pengajar, saya sering stres sendiri dengan mahasiswa saya. Kalau sudah urusan membaca, malasnya minta ampun. Siapapun tentu tahu, membaca buku teks yang tebal-tebal dan berbahasa asing bukan hal mudah, apalagi bisa dinikmati. Tetapi, sudah saya berikan sadurannya pun, mereka masih tetap enggan membaca. Soal minat terhadap literasi ini pun dibahas dalam pertemuan penulis dan editor …

Baca lebih lanjut

Big Bad Wolf

Dimulai sejak 30 April sampai nanti tanggal 8 Mei, bazar buku murah ini konon sudah berhasil menarik lebih dari 100 ribu pengunjung. Sampai hari ini, 7 Mei 2016, saya sudah datang tiga kali. Ya, tidak salah baca: tiga kali. Kunjungan pertama tanggal 29 April, sehari sebelum dibuka secara resmi untuk publik. Kedua, pada hari Senin, …

Baca lebih lanjut

Kursi Kosong–Bukan Horor

Kejadian ini di food court sebuah mall semalam… Seorang bapak membutuhkan kursi untuk 4 orang. Dia pun mengambil kursi-kursi tak berpenghuni. Satu di antaranya berada di meja dimana seorang anak laki-laki duduk sambil bermain HP. Ada empat kursi di meja si anak: satu dia duduki, satu diambil, tersisalah dua kursi lagi yang masih kosong. Anak …

Baca lebih lanjut

Pemotor, Ojek, Go-Jek, dan Jek-jek Lainnya

Saya tidak bisa lupa pesan mama saya waktu saya masih SMP, terutama waktu kelas 3. Saat itu saya ikut bimbingan belajar di daerah Pancoran. Mama selalu bilang, “Kalau nyebrang jalan, hati-hati sama motor. Kalau mobil, lebih jelas. Entah dia kasih kita nyeberang, atau enggak. Kalau motor, nggak jelas. Dia bisa nyalip-nyalip seenaknya. Nanti kamu malah …

Baca lebih lanjut

Tentu Saja Kamu Temanku

Tentu saja kamu temanku Sejak dulu, Sejak dalam pikiran kita hanya ada bermain dan bersenang-senang Sejak putih-merah mewarnai hari-hari kita Kita bisa bicara dengan bebas lewat surat, lewat kata-kata, bahkan tanpa kata. Kita sekelas, sebangku, atau satu ekstra kurikuler Kita mengalami semuanya sama-sama ujian, kelulusan, perploncoan, aneka bimbingan belajar Semua yang melelahkan tapi juga menggembirakan …

Baca lebih lanjut

Mengenang Setahun Kepergianmu

Sudah lama Uti bilang ingin mati saja. Antara kasihan dan kesal, saya mencoba memahami penyebabnya. Jelas, yang pertama karena Eyang Kakung sudah meninggal dan Uti merasa kesepian. Tidak ada lagi temannya mengobrol, betapapun kami mencoba menggantikannya. Pasangan hidup yang baik memang tidak dapat digantikan. Itulah pelajaran paling berharga yang saya dapat dari kakek-nenek saya itu. …

Baca lebih lanjut

Storyteller of Coffee

Sore yang dingin di Dieng saya habiskan bersama Pepeng. Di kartu  namanya tertulis ‘storyteller of coffee’. Memang, yang dijual bukan kopi, tapi cerita mengenai cara mengolah kopi yang nikmat. Pepeng memulainya dengan belajar dari para petani, lantas dia banyak bergaul dengan penikmat kopi dari mancanegara. Menurut Pepeng, orang-orang di luar negeri ‘bingung’ dengan orang Indonesia. …

Baca lebih lanjut

Kesenian naga dari Dieng

Berseragam kuning dengan motif sisik naga, sekitar sepuluh orang berlari ke dalam lingkaran. Masing-masing menggenggam tongkat yang mengusung kepala, badan, hingga ekor naga yang juga berwarna kuning. Mereka bergerak dengan lincah mengikuti irama tambur. Ke mana kepala bergerak, ke sana tubuh meliuk dan ekornya melecut. Bisa jadi suatu ketika pembawa bagian kepala lari melompati badan …

Baca lebih lanjut

Pepaya (Tidak) Berbatang Tunggal

Dieng memang terkenal dengan agrobisnisnya. Kawasan bertanah vulkanik ini menghasilkan kubis yang besar-besar dan cantik. Daunnya mulus seperti kulit seorang model. Wortel pun berukuran besar-besar dan segar. Wah! Soal buah dan sayur, saya masih dikagetkan dengan manisan Carica. Menurut penduduk Dieng, Carica adalah sejenis pepaya. Entah mengapa, dari bagian otak yang terdalam tiba-tiba saya teringat …

Baca lebih lanjut