Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Buat Apa Borong Buku?

Akhirnya perhelatan yang namanya BigBadWolf itu berlalu sudah, sejalan dengan pundi-pundi tabungan saya yang semakin menipis akibat tiga kali datang ke sana. Total pembelanjaan saya selama BBW ini Rp 4 juta. Tenang saja, jumlah itu tidak seberapa dibanding orang lain yang memborong buku sampai belasan kantong plastik bahkan bertroli-troli. Pembelanjaan sejumlah itu juga bukan buat saya seorang. Tentu saja yang tersayang di sekeliling saya juga dapat bagian.
Sejak pertama kali digelar pada 2016, saya memang selalu rutin datang ke sana. Sebenarnya kecintaan saya pada BBW bermula dari ketidaksengajaan. Pada 2016 itu saya sedang menghadiri suatu acara di Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang letaknya memang tidak jauh dari rumah saya. Saat itu saya ditawari untuk masuk di preview day, 1 hari sebelum BBW resmi dibuka. Tentu saja, pameran buku asing itu masih sedikit pengunjungnya. Baru pertama kali digelar, preview day, pula. Saya dengan leluasa melihat-lihat berbagai buku yang tersedia.
BBW pertama itu saya datangi tiga kali. Pertama pada saat preview day. Kedua kalinya, saya datang sendiri sepulang kerja. Meskipun sore hari, pengunjungnya juga tidak terlalu banyak. Saya masih dengan nyaman memilih buku dan tidak perlu antre di kasir. Ketiga kalinya, saya dan keluarga mencoba datang menjelang tengah malam. Maklumlah, baru sekali ini saya tahu ada pameran yang dibuka 24 jam nonstop! Wah! Penuhnya! antre kasirnya pun luar biasa. Anak saya sampai memilih untuk menyerah dan duduk menunggu di luar sementara kami berdua mengantre kasir. Begitupun, saya pulang dengan membawa sekardus buku.
BBW pertama ini tampaknya masih sangat asing bagi orang-orang. Baru beberapa hari saja buku-buku sudah bercampur aduk entah kategori apa. Tampaknya orang begitu beringas mengambil dan meletakkan buku secara sembarangan. Bahkan beberapa buku tampak rusak karena terinjak-injak, terlipat, dan sebagainya. Saya kira, mungkin karena buku luar negeri selama ini dianggap mahal, ketika ada buku seperti itu yang dijual murah, pengunjung pun langsung khilaf. Pada kedatangan ketiga saya sudah tidak menikmati lagi mencari-cari buku karena kondisinya sudah begitu berantakan.
BBW pertama ini belum dibuka full selama 24 jam. Baru setelah minggu kedua mereka memberlakukan buka nonstop. Di situlah tampaknya panitia tidak sempat lagi mengembalikan buku yang sudah beredar ke mana-mana sehingga klasifikasinya sudah tidak jelas lagi.
Kapok di BBW Kedua
Dari pengalaman itulah saya memutuskan untuk datang ke BBW pada saat preview day saja. Selain pengunjungnya belum terlalu banyak, susunan bukunya pun masih rapi sehingga saya masih nyaman melihat dan mencari buku yang menarik hati. Karenanya ketika BBW 2017 dan saya mendapat undangan preview day dari sebuah bank, kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan. Saya mengajak seorang teman yang juga gemar membaca buku untuk datang pada saat preview day. Seperti tahun lalu, satu tiket preview day berlaku untuk dua orang. Rasanya sayang saja kalau saya tidak mengajak orang yang “sepemahaman” dengan saya.
Sayangnya strategi saya kali itu justru salah. Entah karena sudah banyak orang yang tahu soal BBW, atau panitia yang tidak siap dengan sejumlah besar orang yang masuk di preview day, jumlah pengunjung hari itu sangat luar biasa. Terlihat dari antrean kasir yang mengular panjang, bahkan saya antre dari jam 06.00 sore dan baru selesai ditangani kasir jam 11.00 malam. Total menghabiskan waktu selama 5 jam hanya untuk mengantre kasir. Selama mengantre itu saya dan teman saya bergantian menjaga belanjaan sementara yang lainnya berkeliling untuk melihat-lihat–dan akhirnya memilih–buku yang menarik.
Saat di kasir saya menemukan beberapa masalahnya. Pertama, antreannya tidak beraturan. Bahkan petugas di BBW justru salah mengatur antrean sehingga orang yang sudah mengantre lama justru tersalip oleh orang baru yang dia masukkan ke dalam antrean. Masalah kedua adalah soal pembayarannya. Entah kenapa scanner tidak berfungsi dengan baik dan kasir harus memasukkan satu per satu kode bukunya. Tentu saja itu memakan waktu yang lebih lama daripada seharusnya.
Pengalaman mengantre 5 jam itu tampaknya cukup membekas. BBW 2017 itu hanya saya datangi sekali saja. Tidak sudi rasanya membuang waktu hanya untuk mengantre dan bukannya mencari buku. Meskipun di hari-hari selanjutnya ada teman yang mengatakan bahwa antreannya tidak sepanjang preview day, saya tetap tidak tertarik untuk datang lagi ke BBW 2017.
BBW Ketiga, Lebih Teratur
Tapi saya tidak kapok datang ke BBW. Buktinya, saya sangat menantikan BBW 2018. Agak aneh juga ketika menjelang BBW 2018 dibuka, saya tidak mendapat undangan preview day seperti tahun sebelumnya. Padahal saya masih tetap nasabah bank yang sama, dan saya sudah mendaftar sebagai member BBW sejak 2016. Tapi hal itu juga tidak terlalu saya pusingkan, karena preview day 2018 ini jatuh saat jadwal mengajar saya.
Saya baru datang pada hari keempat, yang jatuh pada hari Minggu. Saya datang lepas maghrib, dengan asumsi pengunjungnya sudah berkurang. Meskipun BBW buka 24 jam nonstop, tapi pengunjung kan harus bersiap-siap untuk besok masuk kerja atau sekolah lagi, toh. Jadi logikanya, pengunjung BBW pada Minggu malam tidak seramai pada hari libur.
Strategi saya kali ini tepat. Pengunjung tidak terlalu penuh dan tampaknya pengaturan secara keseluruhan lebih tertata. Di sisi sebelah kiri hall 7 tersedia tempat makanan untuk mereka yang kelaparan setelah berputar-putar mencari buku. Tempat makanan ini dibatasi dari tempat buku dengan semacam pagar kayu. Pengunjung yang mau masuk ke area makanan harus meletakkan troli bukunya di sepanjang pagar tersebut, tidak boleh dibawa masuk ke area makanan. Demikian pula, makanan tidak boleh dibawa masuk ke area buku.
Untuk membeli makanan, pengunjung perlu membeli kartu. Nanti saldonya bisa diuangkan kembali kalau sisanya minimal Rp10.000. Jenis makanan yang disediakan pun bermacam-macam, mulai dari camilan hingga makanan berat seperti nasi dengan ayam geprek. Disediakan juga tempat duduk untuk menikmati makanan, dan menjelang pintu ke area buku disediakan tempat sampah ukuran besar.
Jalur antrean ke kasir juga lebih baik, meskipun tiga kali datang ke sana saya tidak pernah mengantre. Saya bahkan datang di hari penutupan. Saya perkirakan banyak orang akan memenuhi hari terakhir BBW, ternyata tidak semengerikan itu. Selain itu penataan bukunya lebih bagus dan tampaknya pengunjung pun sudah belajar untuk lebih menghargai buku.
Panitia BBW kali ini menyediakan banyak poster yang mengingatkan pengunjung untuk mengembalikan buku ke tempatnya jika tidak jadi membeli, atau setidaknya menumpuk dengan rapi di tempat yang telah disediakan. Jadi di BBW kali ini saya tidak melihat buku-buku yang rusak. Meskipun tidak serapi hari-hari pertama, setidaknya tumpukan buku tetap dalam kondisi baik sampai hari terakhir. Entah pengunjungnya yang sudah lebih beradab, atau panitia BBW yang sudah lebih sigap menyikapi pengunjung yang kalap.
Book Hoarder
Bagi pencinta buku seperti saya, BBW adalah acara yang paling ditunggu-tunggu. Kapan lagi saya bisa mendapatkan buku asing dengan harga yang cukup terjangkau? Hal ini terutama penting kalau saya sedang mencari sesuatu yang baru. Misalnya ketika saya berminat membaca buku dari seorang pengarang yang belum Saya kenal tulisannya. Kalau bukunya tidak terlalu mahal kan saya jadi tidak terlalu bersedih kalau ternyata tulisannya kurang bagus dan saya tidak suka membaca sampai selesai. Sepanjang 3 kali BBW saya sudah mendapati beberapa penulis buku yang akhirnya tidak saya baca bukunya sampai tamat. Buku-buku tersebut tinggal menunggu giliran untuk dihibahkan kepada orang lain.
Buku-buku dengan harga miring ini tentu saja juga cocok untuk menjadi hadiah. Lumayan kan, saya jadi memberi hadiah yang positif untuk orang lain, terutama untuk anak-anak, keponakan, dan mahasiswa saya. Kadang saya juga membeli hanya karena bagus gambarnya. Misalnya ketika saya membeli buku tentang anjing. Saya sangat suka anjing tapi sadar diri bahwa saya tidak mampu memelihara. Karena itu ketika saya menemukan buku menarik tentang jenis-jenis anjing, saya membelinya. Hanya untuk dilihat-lihat gambarnya saja.
Fungsi lain BBW tentu saja untuk melengkapi koleksi buku saya. Dulu saya sempat harus membeli buku-buku Phillipa Gregory di Amazon, yang ongkos kirimnya saja sudah setengah dari total harga tiga buku yang saya pesan. Di BBW saya mendapatkan beberapa bukunya yang belum saya miliki.
BBW juga berfungsi sebagai tempat saya membeli buku yang, jika harganya normal, tidak akan saya beli. Termasuk ensiklopedia dan berbagai buku referensi lain. Jadi, tidak perlu heran kalau saya memborong buku di BBW.
Selain itu saya sering juga mendapati buku menarik yang tidak berada di klasifikasinya. Rasanya itu adalah buku yang sudah dipilih orang namun tidak jadi dibeli sehingga diletakkan begitu saja di tempat yang terlewati. Seringnya saya mengambil buku itu dan tidak menemukan teman-temannya lagi, sehingga saya tidak bisa memilih mana buku yang bagus fisiknya. Jadi saya mendapat buku, bisa dikatakan, karena keberuntungan saja.
Strategi ini sudah saya gunakan di setiap BBW. Tadinya saya selalu berharap bisa menemukan buku sejenis lain supaya saya bisa memilih. Tapi karena sering kali hanya ketemu satu buku itu, saya selalu berpendapat: ambil saja dulu, nanti menjelang kasir baru disortir. Walaupun, pada kenyataannya, proses menyortir itu hampir tidak pernah terjadi, alias semua buku yang masuk ke troli akhirnya saya bayar juga.
JasTip? Not For Me
Jastip alias jasa titip termasuk salah satu jenis layanan yang banyak saya dengar sepanjang BBW. Prinsipnya adalah kita menitipkan pembelian barang pada orang yang mendatangi acara tersebut. Tentunya dengan membayar biaya jasa yang tidak terlalu mahal. Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang rumahnya jauh dari tempat acara atau tidak punya waktu untuk datang ke sana. Dalam konteks BBW, tampaknya jastip terjadi karena orang tidak mau mengantre yang katanya luar biasa panjang. Juga mungkin karena lokasi ICE yang bukan di “tengah kota”.
Saya sendiri tidak paham benar bagaimana cara kerjanya karena mencari buku di BBW juga bukan sesuatu yang mudah. Misalnya, saya menginginkan sebuah judul dari seorang pengarang. Ketika sampai di area nya tidak mudah mencari buku tersebut karena klasifikasi hanya dilakukan atas dasar jenis buku. Misalnya novel, buku anak, referensi, komik, buku bergambar, hobi dan kerajinan tangan, dan sebagainya. Jadi dalam klasifikasi novel itu pun ada begitu banyak pilihan pengarang dan judul buku yang sangat sulit untuk dicari satu per satu.
Beberapa pengunjung saya lihat mengambil foto buku buku yang ada untuk dikirimkan melalui berbagai pesan singkat kepada teman atau keluarga. Lalu mereka akan mengambil buku yang dipesan. Hal tersebut masih wajar asalkan komunikasinya berjalan lancar. Jangan sampai kita sudah pindah ke bagian buku lain dan harus kembali ke bagian buku sebelumnya untuk mengambil pesanan orang. Kalau terjadi hanya pada satu orang saja, masih tidak apa-apa. Bayangkan saja kalau yang pesan 5 orang dan kita harus bolak-balik 5 kali ke tempat yang diinginkan. Soalnya 1 hall saja sudah besar, loh. Dan BBW ini biasanya mengambil tempat sampai 4 hall.
Nah, apakah jastip itu sudah tahu apa pesanan yang diinginkan atau tergantung apa yang dia temukan, saya tidak tahu. Saya sih merasa pusing kalau harus mencari buku tertentu di antara berbagai jenis buku yang ada di BBW. Mata pedas, kepala berkunang-kunang. Tapi tetap senang “ubek-ubek” buku di sana. Dan sepertinya, urusan “ubek-ubek” itulah yang membuat saya kembali lagi ke BBW. Kita lihat saja tahun depan!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: