Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Jalan 4000 Langkah

Empat ribuan langkah, jarak antara mal AEON dengan rumahku. Setidaknya begitulah menurut aplikasi Samsung Health di ponselku.

Aku ingat betapa satpam kompleks menatapku lekat-lekat, sejak berbelok dari trotoar sampai benar-benar berdiri di hadapan mereka. Untung aku memakai celana panjang, jadi mereka bisa lihat bahwa kakiku menapak. Hiy!

Buat apa sih jalan kaki, malam-malam pula. Mereka terheran-heran karena biasanya aku selalu identik dengan Sirion unguku. Bahkan ke Gramedia World saja naik mobil, padahal jaraknya lebih dekat lagi. Aku hanya nyengir dengan keheranan mereka. “Macet,” kataku.

Ya, macet. Setiap ada perhelatan GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang diselenggarakan di Indonesian Convention Exhibition (ICE), daerah perumahan sekitarnya terkena imbas kemacetan dan parkir yang tumpah tuah ke jalanan. Setidaknya sudah tiga kali penyelenggaraan, bahkan berminat datang pun aku tidak. Demi melihat antrean yang disebabkannya aku sudah menyerah. Mau jalan kemanapun susah, karena arus lalu lintas banyak direkayasa: tutup sana, tutup sini. Sehingga mau ke mal AEON yang terhitung tinggal menyeberang perempatan saja bisa berputar-putar entah kemana.

Jadi, naik ojek dan jalan kaki merupakan solusi yang paling tepat. Sekali ini terpaksa saya memanfaatkan jasa pengendara motor yang bisa menyalip di berbagai tempat aneh, berbelok dan berputar di antara dua penghalan, hingga berhenti tepat di depan pintu masuk yang diinginkan. Bayangkan kalau naik mobil sendiri. Sudah macet ke sana, masih harus bersabar pula mencari tempat parkir.

Tapi, ya tentu saja. Sekali lagi pemilihan waktu yang tepat juga penting. Jalan kaki, meskipun lebih cepat, tetapi bila dilakukan tengah hari ya sama saja menderitanya. Panas dan debu kendaraan tetap menjadi kendala nomor satu. Makanya, ketika pulang dari mal jam 7 malam, saya langsung memilih jalan kaki. Ini kesempatan yang bagus buat olahraga, dan ternyata banyak hal yang bisa saya lihat, lho.

Zebra Cross, Punya Siapa?

Sebenarnya syarat utama adalah tersedianya trotoar yang aman dan nyaman. Tapi, di seputaran BSD memang trotoar hampir tidak menjadi masalah. Pengembang menyediakan trotoar yang cukup lebar dan bersih, berbeda dengan di Jakarta, yang trotoarnya sempit, kadang ada tiang berdiri di tengahnya, dan kebanyakan dihuni oleh pedagang atau pengojek.

Trotoar di BSD justru sering menjadi kendala untuk orang yang bersepeda, karena kurangnya bagian landai untuk naik-turun sepeda ketika trotoar tersebut terpotong oleh jalan masuk ke sebuah bangunan atau ruko. Jadi orang yang bersepeda harus turun dulu dan menaikkan sepedanya ke trotoar berikut, baru melanjutkan bersepeda. Kalau jalan masuknya agak banyak, aktivitas ini bisa lumayan menjengkelkan.

Karena trotoar sudah tidak ada masalah, saya akan bercerita tentang zebra cross alias tempat penyeberangan. Sama seperti Jakarta, zebra cross ini sering menjadi tempat berhentinya pemotor. Jadi, alih-alih berhenti di belakang garis lampu merah, sejumlah pemotor menempati zebra cross yang merupakan area pejalan kaki. Ini membuat pejalan kaki yang ingin menyeberang “terbuang” ke area yang bukan tempat menyeberang. Nah, kalau terjadi kecelakaan, siapa yang salah?

Sepanjang perjalanan pulang saya melewati beberapa zebra cross, dan dengan banyaknya lampu merah dimatikan dan arus lalu lintas dibuat searah, menyeberang di zebra cross pun bukan hal yang mudah. Pertama, karena tidak ada jeda kendaraan berhenti. Semua kendaraan berhak untuk tetap melaju–kan tidak ada lampu merah. Kedua, mental pengemudi di Indonesia memang jarang memberi hak kepada pejalan kaki. Sudah pejalan kaki berdiri di area zebra cross, pengendara mobil atau motor justru menekan gas lebih dalam supaya bisa segera melewati orang yang mau menyeberang.

Berbeda dengan di beberapa negara yang pernah saya kunjungi. Begitu ada orang berdiri di zebra cross, meskipun tanpa lampu merah penyeberangan menyala, pengendara akan berhenti dan memberikan kesempatan orang tersebut untuk menyeberang. Ini sering menjadi cerita lucu bagi orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke luar negeri. Karena baik orang yang ingin menyeberang dan orang yang duduk di belakang kemudi, sama-sama menunggu untuk memberi jalan. Nah lho.. Kapan menyeberangnya, ya?

Biasanya si pengendara tetap pada tempatnya, dan orang yang menyeberang itulah yang akhirnya sadar bahwa dialah yang ditunggu untuk menyeberang jalan, agar si pengendara dapat melanjutkan perjalanannya.

Dalam perjalanan saya pulang, setidaknya saya melewati 4 zebra cross. Zebra cross pertama berada di jalur menuju AEON atau ICE, dan semua kendaraan dipacu cepat-cepat. Jadi saya menunggu sampai tidak terlalu banyak kendaraan melaju. Untunglah saya tidak perlu menunggu terlalu lama karena sebuah mobil putih yang berada paling dekat dengan saya, memberi jalan. Terima kasih ya, mobil putih!

Pada zebra cross kedua, sebenarnya jalanan itu sepi. Hanya ada kendaraan yang berbelok kiri secara langsung, itu pun tidak banyak. Saat saya berada di tengah zebra cross, tiba-tiba sebuah motor melaju cepat dan berbelok ke arah jalanan yang saya sebrangi. Melihat pejalan kaki sedang menyeberang, bukannya berhenti, motor itu oleng ke kanan dan kiri, mencoba mencari celah entah di depan atau di belakang saya, agar tidak perlu berhenti. Daripada ditabrak, saya memilih berhenti di tengah zebra cross dan menatap lurus-lurus si pengendara motor. Sebenarnya saya mau tanya, “Kamu mau lewat depan atau belakang saya, sih?” Motor itu masih oleng beberapa kali sampai akhirnya si pengendara memutuskan bahwa saya tidak akan mundur, dan dia lewat di belakang saya. Fiuh! Untung cuma ada 1 motor saat itu. Susah juga kalau ada beberapa motor oleng atau mobil yang tetap tancap gas di tikungan….

Di zebra cross ketiga, saya mendapat jeda. Mungkin karena sebelumnya ada lampu merah, sehingga jalanan di depan saya lenggang beberapa waktu. Saya menyeberang. Herannya, mobil-mobil yang jaraknya masih 300-an meter dari saya, sibuk memberi lampu, pertanda bahwa mereka sedang jalan cepat. Loh, kan saya sudah menyeberang di tempat yang benar… Bukankah seharusnya mereka yang memperlambat laju kendaraan, ya? Haduh, saya benar-benar tidak paham etika berlalu lintasdi Indonesia. Atau, jangan-jangan sudah tidak ada lagi?

Industri Kreatif

Ini istilah saya saja. Maksudnya adalah pedagang asongan di seputaran area parkir ICE. Bayangkan saja, mereka bisa menyulap motor sampai mobil untuk menjadi warung berjalan. Kalau motor, mereka menambah tempat di jok belakang untuk menggantungkan aneka jenis kopi sachet dan camilan. Kalau mobil, mereka menyulap bagian belakang seperti warung. Jadi, kalau membuka bagasi, langsung tampak segala jualan yang sama seperti di motor tadi. Jajaran termos air panas sudah disiapkan untuk menyeduh kopi. Bahkan, tak jarang ada yang membawa kompor gas kecil untuk memasak mi instan.

Tentu saja, pasarnya adalah para supir yang menunggui mobil sementara si majikan sedang menikmati pameran. Kebanyakan penjual makanan dan minuman ini ikut parkir di pinggir jalan. Sementara supir yang memarkir kendaraannya di dalam area parkir bisa keluar melalui celah pagar–di area parkir tidak boleh ada orang berjualan.

Di mana mereka duduk? Tentu saja di trotoar. Dengan beralaskan spanduk atau koran bekas, para supir duduk dan mengobrol sambil menikmati kopi panas. Obrolannya bisa bermacam-macam, mulai dari majikannya sampai poligami. Saya mencuri dengar omongan salah satu supir, bahwa istrinya baru 2 orang. Dia menargetkan punya istri sampai 4 orang, seperti yang dicontohkan temannya sesama supir. Saya baru tahu bahwa punya sejumlah istri adalah target, ya di sini. Teringat sebuah guyonan di sosial media: jangan pikirin punya istri empat, tapi pikirin punya mertua delapan. Nah!

Soal trotoar, sebenarnya tidak salah juga sih jika digunakan untuk duduk-duduk. Karena trotoar di sini memang dilengkapi bangku-bangku di beberapa titik. Tapi para supir kebanyakan duduk lesehan menggelar alas, sementara bangku-bangku yang disediakan kebanyakan ditempati oleh…, muda-mudi berpasangan. Ah, iya. Ini kan malam Minggu. Mungkin sesekali perlu juga mengajak mantan pacar kencan di bangku trotoar begini. Supaya kekinian!

Dibuang Ke Mana?

Nah, kalau ini bukan perkara mantan, tetapi sampah. Dampak paling langsung dari jajan di pinggir jalan adalah banyaknya sampah yang tercecer di trotoar. Mulai dari gelas plastik bekas kopi, bungkus makanan… Yang menunggu majikan maupun yang pacaran, sama-sama membuang sampah, nih.

Saya heran, kenapa ya orang Indonesia tidak terbiasa membuang sampah? Apakah karena mental ingin dilayani? Maksudnya begini: kita merasa sudah mengeluarkan uang untuk membeli, lantas tidak peduli dengan sampahnya. Kalau perlu, seharusnya pihak penjuallah yang mengurusi sampah. Kan kita sudah membayar!

Atau, orang kita tidak peduli kebersihan. Bayangkan kalau sebaliknya: kita menginjak sampah yang ditinggalkan orang lain sehingga–katakanlah–sepatu/baju/celana panjang kita menjadi kotor. Atau, biarlah kalau orang lain yang kena, asal jangan saya. Begitukah?

Apa sih susahnya membereskan sampah? Misalnya, gelas plastik bekas minuman. Atau bungkus makanan. Tidak ada tempat sampah? Setidaknya kumpulkan di satu tempat. Dalam kasus trotoar yang saya lewati, setidaknya gelas plastik bekas minuman itu bisa dikumpulkan di dekat pohon, supaya petugas kebersihan lebih mudah mengambilnya. Daripada dia harus memunguti gelas-gelas yang berserakan, bukan?

Tapi ternyata itu pun sulit. Mempermudah pekerjaan orang lain bukan sesuatu yang mudah bagi orang kita. Bahkan saya dengar, kalau bisa mempersulit, kenapa mempermudah? Bahkan bisa jadi kita mengatakan, “Bukankah untuk itu kita membayar petugas kebersihan?”

Nah lho! Mungkin hal-hal seperti ini yang perlu kita tinggalkan. Tidak karena kita sudah membayar, sudah berkorban, lantas kita merasa berhak mempersulit pekerjaan orang lain. Membantu ternyata juga menyenangkan, lho. Ah, rasanya saya dulu sering mendengar ungkapan begini: mudahkanlah urusan orang lain, niscaya urusan kita akan dipermudah juga.

Well, empat ribuan langkah ternyata berarti juga, ya. Selain olahraga, banyak hal yang bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran buat saya. Kalau kita mau maju, mau berhasil, banyak hal yang perlu kita perbaiki. Salah satunya adalah sikap kita sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: