Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Big Bad Wolf

Dimulai sejak 30 April sampai nanti tanggal 8 Mei, bazar buku murah ini konon sudah berhasil menarik lebih dari 100 ribu pengunjung. Sampai hari ini, 7 Mei 2016, saya sudah datang tiga kali. Ya, tidak salah baca: tiga kali. Kunjungan pertama tanggal 29 April, sehari sebelum dibuka secara resmi untuk publik. Kedua, pada hari Senin, 2 Mei, sekitar pukul 16-18 WIB. Lalu ketiga, Jumat 6 Mei pukul 23.30 dan baru berhasil keluar dari Big Bad Wolf dini hari Sabtu 7 Mei pukul 03.30.
Kok bisa masuk sebelum dibuka buat publik? Sebenarnya sudah dibuka, sih, dengan pengguntingan pita oleh Anies Baswedan. Tapi belum boleh dimasuki publik karena tanggal yang diumumkan baru keesokan harinya. Pada hari itu pengunjung harus menunjukkan tiket masuk. Saya sendiri mendapat tiket masuk gratis dari acara IESE di hall 5—Big Bad Wolf di hall 10. Saya tidak tahu apakah pengunjung lain pada hari tersebut juga mendapatkan tiket dari acara di hall 5 atau ada tempat lain yang memberikan tiket masuk ke Big Bad Wolf. Tentu saja, karena belum dibuka secara publik, kondisi di hall 10 masih aman terkendali. Buku-buku tertata rapi sesuai tumpukannya. Saya melongok sedikit ke celah hall 9, di sana terdapat tumpukan kardus bekas.
Sayang, saya cuma punya waktu 30 menit untuk menyisir tepi kiri hall 10. Ini baru tepinya, lho, benar-benar bagian yang menempel ke tembok saja. Saya sama sekali belum melirik buku-buku yang ada di tengah. Tepi kiri berisi buku-buku fiksi. Di bagian depan, sempat membuat saya takjub, adalah buku-buku berbahasa Indonesia. Kebanyakan dari Penerbit Mizan. Tapi di sisi kiri, seluruhnya adalah fiksi berbahasa Inggris. Dalam 30 menit saya mendapatkan 7 buku—kebanyakan fiksi—dengan total pengeluaran kurang dari Rp400 ribu.
Menenteng kantong plastik berisi 7 buku bukan urusan berat, lah. Apalagi saya bisa langsung turun ke basement dan terhubung ke basement hall 5, tempat kendaraan saya parkir. Hal ini juga memudahkan kalau sedang hujan. Supaya buku-buku belanjaan tidak basah, dong.
Senang? Jelas. Lantas saya pun berencana untuk kembali pada hari Senin, pada jam kerja pula. Pertimbangannya sederhana: orang-orang belum pulang kantor sehingga tidak terlalu ramai. Tidak tergoda sama sekali untuk mengunjungi Big Bad Wolf di akhir pekan, meski dengan iming-iming mereka buka non-stop selama liburan tersebut. Artinya, buka mulai Sabtu dan baru tutup hari Minggu malam.

Senin Sore

Kali ini saya langsung menuju parkiran Hall 10. Posisinya tidak di basement, tetapi di lapangan terbuka. Saya pun menyiapkan payung karena khawatir hujan pada saat nanti saya selesai belanja buku. Pemilihan posisi parkir juga harus tepat. Meskipun mendekati pintu masuk hall, tapi ada taman di depannya yang membuat kita harus memutarinya. Lebih baik parkir di dekat pintu masuk atau sekalian di dekat pintu keluar. Saya memilih di dekat pintu keluar, supaya tidak terlalu antre ketika akan pulang.
Meskipun masih hari kerja, pengunjung sudah lebih banyak daripada ketika saya datang pertama kali. Agak pusing juga melihat begitu banyak orang dalam satu ruangan. Tapi saya berusaha untuk tidak memperhatikan, fokus hanya kepada buku-buku yang saya minati. Saya tidak lagi melihat tepi kiri, tapi langsung menyasar ke tengah, tapi masih di sisi kiri hall 10.
Sisi kiri ini dilihat dari pintu masuk, ya. Tepat setelah pintu masuk, terdapat alas rak dengan posisi lurus ke depan. Alas rak ini bagaikan membelah hall menjadi dua, sementara di sisi kanan dan kirinya diletakkan meja-meja secara melintang. Cara saya adalah mengitari meja-meja tempat buku tersebut seperti huruf S, terus sampai ke belakang.
Sejak masuk saya sudah membawa keranjang belanja karena tahu bakalan membeli lebih banyak daripada kemarin. Tapi membawa keranjang belanja beroda di antara cukup banyak orang rasanya juga tidak terlalu mudah. Harus banyak bersabar apabila berpapasan. Jangan main srudak-sruduk semaunya sendiri. Lumayanlah, bisa belajar toleransi.
Sebagian besar sisi kiri hall masih berisi fiksi. Baru agak ke belakang, maksudnya mendekati kasir, mulai terdapat buku anak-anak. Selesai menyusuri sisi kiri, saya sudah memenuhi keranjang belanjaan dengan 17 novel. Saya pun pindah ke sisi kanan. Di sini saya belum membeli buku, baru sekadar melihat-lihat. Di sisi kanan ini ada buku referensi, biografi, masakan, travel, dan di bagian belakang, kembali terdapat buku anak-anak segala rupa.
Karena sudah merasa lelah dan tidak nyaman, saya segera menuju kasir. Dinding belakang hall 10 dipenuhi oleh jajaran dua lapis kasir. Bagi pemegang kartu kredit atau debit Mandiri, disediakan kasir khusus yang sore itu tidak terlalu ramai. Sambil meminta kardus untuk belanjaan, saya mengajak ngobrol kasir tersebut. Dia bercerita bahwa akhir pekan sebelumnya, pengunjung sangat ramai pada pukul 2 dini hari. “Mungkin karena males kena macet, maka mereka datangnya malam hari, Bu,” begitu katanya. Mereka juga bercerita bahwa sif malam—untuk akhir pekan seperti itu—adalah jam 21 sampai jam 9 pagi keesokan harinya. Saya mendapat info bahwa honor SPG di sana Rp250 ribu per 12 jam. Ada yang mengatakan bahwa honor ini terlalu kecil, tapi saya sudah kroscek kepada teman-teman yang biasa membuat pameran, memang demikianlah adanya. Uang tersebut tidak termasuk uang makan.
Kembali ke Big Bad Wolf, kasirnya kebanyakan perempuan dan mereka cukup cekatan menangani belanjaan yang bertumpuk. Mereka menawarkan apakah saya ingin menggunakan poin dari kartu kredit Mandiri saya. Lumayanlah untuk mengurangi nilai belanja, meski tak seberapa.
Saya ditawari menggunakan jasa porter untuk sampai ke depan hall 10. Ia membawa troli untuk mengangkat kardus saya. Waktu itu rasanya belanjaan saya sudah banyak. Tapi sempat saya melirik pengunjung lain, ternyata ada yang belanja hingga 3 kardus seukuran punya saya. Wow, ternyata saya tidak terlalu kalap berbelanja.
Dengan diantar porter—yang semuanya pria—barang-barang belanjaan tak perlu lagi diperiksa di pintu keluar. Pemeriksaan hanya dilakukan pada tas yang dibawa pengunjung saja. Lalu saya ke depan, ke tempat pengumpulan barang belanja ketika pembelinya pergi mengambil kendaraan.
Di sana pembeli akan diberi nomor yang sama dengan belanjaannya. Ketika sudah datang dengan kendaraan, ia menukarkan nomor tersebut dengan belanjaannya. Dengan demikian tidak ada belanjaan yang tertukar. Karena saya hanya membawa satu kardus, rasanya agak malas juga kalau harus memutar mobil kembali ke depan hall, lebih baik langsung menuju pintu keluar. Maka saya pun menimbang beban kardus tersebut, dan setelah yakin cukup kuat membawanya sampai ke mobil, saya berterima kasih kepada si porter lalu berjalan pergi.

Jumat Malam

Penasaran dengan kehebohan Big Bad Wolf non-stop, saya pun merencanakan datang malam hari. Ingin tahu seperti apa sih orang-orang belanja buku sampai dini hari? Persiapan hari itu dimulai dengan tidur siang yang cukup sebelum begadang.
Tepat jam 23.30, kami memasuki area parkir hall 10. Waduh! Parkirannya penuh sekali. Belajar dari pengalaman hari Senin, kami mencari parkir di dekat pintu keluar. Sedekat mungkin, pokoknya.
Melangkahkan kaki masuk ke hall 10, saya tercengang. Antrean masuk mengular sampai ke pintu keluar. Mau tak mau, harus menunggu dengan sabar. Setelah sampai di depan pintu masuk barulah saya tahu bahwa mereka memberlakukan sistem buka-tutup. Wah, seperti apa ramainya di dalam, ya? Dari luar sih memang sudah tampak kepala-kepala memenuhi ruangan.
Masalah pertama: tidak kebagian keranjang belanja. Wah, tahu begitu dari rumah saya bawa koper kabin beroda. Tapi ya sudahlah, namanya rezeki, tidak lama kemudian saya mendapatkan keranjang belanja. Kali ini saya mencari buku di sisi kanan. Sayangnya, kondisi buku-buku tersebut sudah sangat berantakan—ini masalah kedua. Tidak jelas lagi pembagiannya, mana yang buku referensi, mana yang fiksi, mana yang buku anak. Semua sudah campur aduk menjadi satu di setiap meja. Buku-bukunya pun tak lagi dalam posisi tersusun rapi membentuk menara, tapi benar-benar berantakan.
Mungkin karena sejak hari Rabu malam bazar ini tidak pernah tutup, maka tidak ada kesempatan untuk merapikan buku-buku yang akan dijual. Saya pun tak bisa terlalu banyak memilih. Sudah bukunya berantakan, pengunjung juga terlalu penuh hingga sulit bergerak—apalagi dengan keranjang belanjaan, antrean di kasir pun mulai membuat nyali menciut.
Masalah ketiga: entah kenapa sinyal ponsel kali ini benar-benar tidak bersahabat. Padahal ketika hari Senin, saya masih dengan bebas mengecek daftar buku saya melalui google drive. Malam ini, untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga pun tidak bisa. Padahal kami terpisah dan entah bagaimana nanti akan bertemu lagi di hall penuh manusia seperti ini.
Pada kesempatan pertama bertemu, kami segera memutuskan untuk antre kasir yang panjangnya sudah mendekati pintu masuk—ini masalah keempat. Satu orang antre, yang lain cari buku. Nanti bergantian. Bahkan setelah keranjang penuh pun, kami masih antre di kasir. Lamanya kira-kira 1,5 jam. Kami diberkahi dengan mesin EDC yang tiba-tiba ngadat, sehingga kasir mencari pembeli yang bersedia membayar tunai. Dan kamilah yang berada di garis depan. Sebenarnya mesin EDC ngadat ini adalah masalah kelima, tapi karena memberi keuntungan bagi kami, ya sudahlah. Lebih baik saya anggap bukan masalah, toh?
Sejak beberapa hari belakangan, Big Bad Wolf membuka 2 hall, 9 dan 10. Semakin luas, dan semakin banyak buku yang ditampilkan. Tetapi juga semakin penuh orang. Buku-buku baru yang diletakkan di hall 9 bahkan tidak lagi pakai meja. Langsung di atas rak alas di lantai, masih dalam kardusnya yang hanya dipotong bagian atas untuk mengambil buku. Itu pun kondisinya sudah porak poranda. Memang bukunya tidak rusak, tetapi juga tidak mudah ditemukan.
Total empat jam kami di dalam bazar, dengan 1,5 jam diantaranya berdiri di barisan menuju kasir. Total belanjaan kali ini adalah 20 buku dengan nilai belanja Rp 1,4 juta. Sayang, beberapa buku yang saya incar di hari Senin tidak dapat saya temukan di tengah kekacauan hari ini.
Kebetulan saya masih menyimpan struk pembelian dari belanja di hari Senin. Tampak benar perbedaan kedua struk tersebut. Pada struk hari Senin, masih tertulis judul-judul buku yang saya beli. Saya ingat, kasir memindai satu per satu kode batang di setiap buku. Semalam, dalam kondisi yang ramai, kasir tidak lagi memindai. Dia mengelompokkan buku berdasarkan harganya, kemudian memasukkan data. Jadi struk saya hanya bertuliskan harga buku dikalikan dengan jumlah buku dengan harga tersebut. Jauh lebih sederhana!

Kapok?

Pagi ini saya membaca berita bahwa karena animo masyarakat yang luar biasa terhadap Big Bad Wolf, maka bazar buku itu akan diperpanjang hingga Senin malam. Jika dihitung dari Rabu malam, berarti lebih dari 100 jam bazar buku tersebut dibuka tanpa tutup. Wow!
Seorang teman melaporkan di Facebook saya bahwa tadi pagi ia datang untuk yang kedua kalinya sekitar pukul 7. Lalu ia memutuskan untuk pulang lagi karena melihat antre di kasir “hampir satu hall sendiri”. Nah lho.
Saya sendiri tidak berencana datang lagi ke bazar tersebut. Bukan kapok, sebenarnya. Tapi saya merasa tidak bisa lagi mencari buku di tengah orang sebanyak itu dan kekacauan buku yang sudah kadung terjadi. Selain itu, sejak awal memang kru Big Bad Wolf tidak bisa membantu menemukan buku yang kita cari, alias kita harus terjun sendiri mencari buku-buku tersebut.
Apalagi dalam kondisi sudah berantakan seperti ini, saya tidak yakin bisa mendapatkan buku yang saya inginkan. Yang paling mungkin terjadi adalah saya berusaha berjalan di sela-sela orang dan meja, sambil melihat buku-buku yang masih bisa dilihat, lalu mengambil buku yang menarik buat saya. Tidak mungkin, misalnya, ada teman minta tolong dicarikan buku X. Wah, hampir yakin saya bahwa buku yang dimaksud tidak bisa ditemukan meskipun sebenarnya ada.
Tidak ada lagi waktu berkunjung yang bisa saya rekomendasikan. Mau pagi, siang, sore, bahkan tengah malam sekalipun, bazar ini dipenuhi orang. Semalam saja ada yang membawa hingga dua keranjang belanja, atau satu keranjang belanja yang kemudian ditumpuk 1-2 kardus di atasnya. Saking banyaknya buku yang dibeli.
Lalu, apa yang saya beli dalam tiga kali kunjungan ke Big Bad Wolf ini? Kelompok pertama adalah novel, terutama karena saya menyukai Philippa Gregory. Saya pernah kesulitan mendapatkan buku-bukunya sehingga harus memesan langsung ke Amazon—yang mana ongkos kirimnya saja mencapai setengah dari total harga buku yang saya beli. Jadi, ketika menemukan buku-buku Philippa Gregory di sana, tak pikir dua kali langsung saya ambil.
Kelompok kedua adalah buku-buku referensi yang, kalau harganya normal, kemungkinan besar tidak saya beli. Tapi karena di sini harganya cukup menantang, maka saya segera mencari, terutama yang berhubungan dengan bahan ajar saya.
Kelompok ketiga adalah buku-buku acak yang menarik minat saya. Misalnya, 501 Must-Read Books. Tidak terlalu penting juga sih punya buku begitu, tapi menarik saja untuk tahu buku-buku apa sih yang “katanya” layak dibaca. Sebenarnya saya juga mencari buku sejenis tentang tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Tapi tiga kali ke sana, tidak saya temukan buku semacam itu. Koleksi buku travel-nya—menurut saya—sangat kurang.
Buku desain, buku masakan, buku anak, dan novel, adalah jenis-jenis buku yang tumpah ruah di ruangan tersebut dengan berbagai judul dan kemasan. Ada pula berbagai buku referensi yang menurut saya, mungkin tak banyak peminatnya. Seperti buku tentang macam-macam mobil, jam tangan, senjata api. Ada juga sih buku referensi tentang jenis-jenis kuda, anjing, atau burung. Atau buku Grey Anatomy yang tebal dan lebar, mungkin untuk mahasiswa kedokteran, ya.
Sungguh saya tidak merekomendasikan membawa anak-anak yang masih kecil ke tempat seperti ini, meski dengan alasan mengenalkan budaya baca sekalipun. Semalam saya melihat orangtua-orangtua yang membawa kereta dorong, dimana semua anak di dalamnya sudah tertidur dengan kaki menggantung. Ada pula ibu yang duduk bersila di antara meja dan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Pada masing-masing paha si ibu, terlelap seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang usianya mungkin belum sampai 10 tahun. Lalu, bukan 1-2 kali saya temukan anak kecil menangis dalam gendongan orangtuanya, entah karena lelah atau karena tidak dibolehkan mengambil buku yang ia mau.
Kalaupun mau mengajak anak, mungkin yang sudah duduk di bangku SMP sehingga dia paham konsekuensinya. Anak seusia itu sudah paham bahwa ia harus menunggu sementara orangtuanya harus antre membayar, misalnya. Ia sudah punya kesibukan sendiri, misalnya main HP di luar hall atau di tempat makan yang disediakan. Kecuali punya anak yang benar-benar cinta buku dan will do anything to get the books, saya tidak sarankan membawa anak-anak dalam kondisi yang sudah kacau balau seperti sekarang ini.

Kawanan Serigala

Dengan jumlah buku berbahasa Indonesia yang cukup minim, tadinya saya kira bazar ini tidak akan penuh seperti yang terjadi sekarang. Apakah minat baca masyarakat sudah membaik? Jika ya, apakah hanya untuk bacaan berbahasa Inggris? Bagaimana dengan bacaan berbahasa Indonesia, apakah juga akan diminati seperti ini?
Saya teringat akan pesta buku atau pameran buku yang selalu saya datangi. Hingga 4 tahun terakhir, saya masih rutin mendatangi pameran buku. Waktu itu saja saya merasa tidak sebanyak ini orang yang mengunjungi pameran tersebut. Saya sendiri pun lama-lama enggan ke sana. Bukan hanya tempatnya yang semakin tidak representatif—dulu Indonesian Book Fair digelar di JCC lama-lama pindah ke Istora, acaranya pun tidak menarik.
Salah satunya, tidak ada diskon yang cukup “nendang” untuk menarik minat pembeli. Beda betul dengan Big Bad Wolf yang memberi diskon antara 60-80% dari buku-buku tersebut. Langsung terasa bedanya antara membeli buku di Big Bad Wolf dengan di toko-toko buku asing semacam Periplus atau Kinokuniya. Jelas, orang akan tertarik membeli. Apalagi buku-bukunya pun tergolong terbitan baru. Kalaupun lama, jelas labelnya: cerita atau buku klasik. Ada nilai koleksi di dalamnya.
Sementara pameran buku kita, tidak demikian. Harganya—kalaupun ada diskon—tidak jauh berbeda. Lalu, untuk apa dong datang ke pameran buku kalau harganya sama saja dengan membeli di toko buku terdekat dari rumah? Kalaupun ada buku yang dijual murah—katakan saja Rp5 ribu atau Rp10 ribu—bisa dipastikan itu adalah buku-buku lama. Dijual dengan harga demikian murah mungkin untuk memberi ruang dalam gudang penerbit yang sudah penuh.
Selain itu, pameran buku kita cenderung tidak fokus. Pesta buku Jakarta biasanya dibarengi dengan penjualan alat tulis dan sekolah karena diadakan menjelang tahun ajaran baru. Lalu, saya tidak ingat lagi pada Islamic Book Fair tahun berapa yang saya merasa galau karena lebih banyak menjual perlengkapan muslim daripada buku-bukunya.
Kondisi tempat pameran pun perlu diperhatikan. Memindahkan Indonesian Book Fair dari JCC ke Istora, menurut saya, kurang sesuai. Istora terlalu kecil sehingga lebih cepat sesak. Apalagi bila sirkulasi udaranya kurang baik, bau pengap segera menguar, membuat sakit kepala pengunjung pameran. Bedakan dengan Big Bad Wolf yang digelar di gedung baru: ICE-BSD. Meski penuh sesak seperti semalam, tak ada aroma yang menganggu.
Memang, tidak semua orang terpuaskan dengan Big Bad Wolf. Sejumlah teman mengeluhkan tidak adanya buku-buku yang mereka minati, termasuk buku-buku mengenai Islam. Tidak apa. Bukankah ini peluang bagi penerbit kita? Membuat pameran sejenis untuk buku-buku berbahasa Indonesia dan buku-buku dari Timur Tengah, misalnya. Selama ini penerbit-penerbit besar di Indonesia rutin mengunjungi Frankfurt Book Fair—bahkan tahun lalu menjadi guest of honor di sana, London Book Fair, atau Bologna Children’s Book Fair—terutama untuk buku anak-anak. Mengapa tidak menjalin kerja sama dengan penerbit-penerbit di Abu Dhabi International Book Fair atau Cairo International Book Fair?
Big Bad Wolf sebenarnya adalah tokoh serigala—yang biasanya jahat—dalam cerita anak-anak. Kita dapat menemukan tokoh ini dalam cerita Gadis Berkerudung Merah atau Tiga Babi Kecil. Dalam kisah Tiga Babi Kecil, serigala ini bernama Midas. Saya tidak paham kenapa acara atau komunitas ini menggunakan istilah big bad wolf.
Tapi serigala yang ini mungkin adalah jenis yang baik, karena memberikan buku-buku bagus dengan harga yang sangat terjangkau. Jadi, ada baiknya juga bergabung dalam kawanan serigala ini. Pada kunjungan pertama saya ditawari menjadi member. Manfaatnya apa? Saya sih tidak terlalu memperhatikan penjelasan yang diberikan. Yang tertangkap hanya bahwa member akan mendapat kesempatan H-1 di acara yang sama tahun depan. Nah, itu saja sudah cukup.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: