Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Kursi Kosong–Bukan Horor

Kejadian ini di food court sebuah mall semalam…

Seorang bapak membutuhkan kursi untuk 4 orang. Dia pun mengambil kursi-kursi tak berpenghuni. Satu di antaranya berada di meja dimana seorang anak laki-laki duduk sambil bermain HP. Ada empat kursi di meja si anak: satu dia duduki, satu diambil, tersisalah dua kursi lagi yang masih kosong. Anak itu hanya melihat si bapak mengambil kursinya, tapi tidak berkata apa-apa.

Tak lama, teman-teman si anak datang. Ternyata mereka berempat. Itu berarti, kursinya kurang satu. Dua anak lain pergi lagi setelah meletakkan makanannya, mungkin masih mau mencari makanan lain. Satu anak laki-laki yang tersisa kebingungan, karena dia yang tidak dapat kursi.

Lalu si anak laki-laki yang tadi duduk berkata, “Ambil aja kursi lain.” Sambil berkata begitu, dia menggeser kursi terdekat–yaitu salah satu dari empat kursi yang ada di meja saya. Dia menggeser tanpa memandang–boro-boro berbicara dengan–saya. Tapi si anak yang tidak dapat tempat duduk justru memandangi saya, seperti mau minta izin tapi tidak tahu bagaimana memulainya.

Kesempatan itu saya ambil dan berkata, “Kalau mau ambil kursi, sebaiknya tanya dulu, ada yang menduduki atau tidak.” Lalu saya menatap si anak yang tadi menggeser kursi. Tanpa minta maaf, si anak tadi bertanya acuh, “Ada yang duduk, nggak?” Maksudnya mau bertanya seperti saya, tapi sopan santunnya tidak ada sama sekali. Untuk memberi pelajaran kepadanya, saya katakan, “Ada.” Dia pun batal mengambil kursi dan temannya–yang belum dapat kursi tadi–menduduki kursi temannya yang masih kosong.

Saya memang hanya duduk sendiri, karena dua orang teman makan saya masih berputar-putar mencari makanan. Sebenarnya satu kursi tadi bisa saja saya berikan, asal si anak meminta dengan baik. Tapi karena tidak tahu sopan santun itulah, saya memilih untuk tidak memberikan kursi saya. Oh ya, anak yang saya maksud ini mungkin usianya 15 tahunan–sepantaran dengan anak saya.

Tidak lama kemudian teman makan saya datang dan mengajak pindah ke tempat duduk lain yang posisinya lebih baik daripada yang sekarang–maksudnya, tidak berdesakan. Maka saya pun bangkit dan berjalan. Ketika melewati meja si anak laki-laki itu, saya berkata, “Nah, sekarang kursinya kosong, bisa kamu ambil.” Kedua anak itu diam saja dan saya juga enggan menunggu respons mereka.

Sambil makan saya berpikir betapa orang dewasa mungkin tidak sadar bahwa ia menjadi contoh, bukan saja untuk anaknya tetapi anak-anak lain di sekitarnya. Bagaimanapun kita makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain–kenal maupun tidak. Anak laki-laki itu mungkin mencontoh si bapak yang tadi menggeser kursinya tanpa pamit. Atau mungkin ia tidak diajarkan sopan santun itu oleh orangtuanya di rumah. Sementara si anak laki-laki kedua, mungkin hati kecilnya tahu bahwa ia harus meminta izin, tapi bingung bagaimana mengucapkan karena ia tak terbiasa melakukannya. Entahlah.

Saya ingat ketika si bapak menggeser kursi yang ada di meja anak laki-laki itu, saya benar-benar memperhatikan, karena dalam hati saya heran, “Kok ambil kursi nggak bilang-bilang, ya?” Lalu–ini saya sadari belakangan–bapak tadi mencari kursi kedua. Sebenarnya yang terdekat memang kursi di meja saya, tapi karena saya terlanjur memperhatikan bapak itu, ia tampaknya merasa tak enak sehingga mencari kursi lain. Mungkin kalau saya nggak ngeliatin, bapak itu juga akan mengambil kursi saya. Lalu, tergantung pada saya, apakah mampu bersikap asertif atau tidak dengan menegur si bapak.

Apakah karena ia berhadapan dengan anak kecil, maka ia merasa tak perlu meminta izin? Apakah karena diliatin seorang dewasa lain, ia tidak berani menggeser kursi yang terdekat dengannya? Entahlah. Apakah sebegitu sulit menanyakan sebuah kursi boleh digeser atau tidak? Sekali lagi, masalah sopan santun saja sebenarnya. Kalau diminta dengan sopan, tentu dijawab dengan sopan juga: entah kursi itu terpakai atau boleh dipakai.

Ketika saya pindah meja dan mengatakan kepada si anak laki-laki bahwa kursinya sudah bisa diambil, itu pun maksudnya agar ia tahu bahwa saya merespons permintaan dia tadi dengan baik: karena tadi dia menanyakan kursi kosong, maka ketika kursi itu kosong, saya sampaikan bahwa dia bisa memakainya. Meski zaman sekarang sudah demikian maju, buat saya tata krama itu kok tetap penting. Dan semoga masih banyak orang yang berpendapat seperti ini sehingga tak lalai mengajarkan hal tersebut kepada generasi muda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: