Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Pemotor, Ojek, Go-Jek, dan Jek-jek Lainnya

Saya tidak bisa lupa pesan mama saya waktu saya masih SMP, terutama waktu kelas 3. Saat itu saya ikut bimbingan belajar di daerah Pancoran. Mama selalu bilang, “Kalau nyebrang jalan, hati-hati sama motor. Kalau mobil, lebih jelas. Entah dia kasih kita nyeberang, atau enggak. Kalau motor, nggak jelas. Dia bisa nyalip-nyalip seenaknya. Nanti kamu malah ketabrak.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya sudah bisa mengemudikan mobil, makin gemas saja saya melihat perilaku motor-motor di jalan raya. Dari sisi kanan memotong jalan di depan mobil untuk pindah ke sisi kiri, membawa muatan yang melebihi ukuran motor itu sendiri, membelok tanpa memberi lampu sen, dan lain-lain. Salah satu alasan mengapa saya senang lewat jalan tol–meskipun sekarang juga sama macetnya–adalah karena di jalan tol tidak ada motor. Jadi tidak pusing menghadapi pengendara motor yang seenaknya.

Naik Motor Sendiri
Karena Mama menganggap motor tidak aman, saya belajar untuk menyetir mobil terlebih dahulu–walaupun belum punya mobil sendiri. Tapi, itu pun dengan serangkaian SOP. Saya, misalnya, harus belajar menyetir mobil di salah satu kursus setir mobil. Tidak boleh belajar sendiri dengan orang-orang rumah. Selain itu, ketika mengambil SIM mobil juga harus sudah pada usia yang ditentukan. Tidak ada istilah “nembak” umur untuk mendapatkan SIM mobil lebih cepat. Lalu, ketika ambil SIM, kalau harus ujian, ya ikutlah ujian. Pokoknya semua aturan diikuti dengan baik dan benar. Yang ini adalah aturan dari Papa saya.

Salah satu alasan mengapa saya harus belajar bermobil di tempat kursus karena mobil yang digunakan sudah dilengkapi dengan peralatan yang dibutuhkan. Termasuk, si pelatih memiliki satu set kopling-rem-gas sendiri untuk menjaga keamanan. Apalagi di awal belajar mobil, saya paling sering terlalu cepat melepas kopling sehingga mobil jadi meloncat dan…, mati mesin. Selain bikin malu, bayangkan kalau hal itu terjadi di jalanan. Dalam hal ini, saya sangat terbantu dengan mobil dan pelatih di tempat kursus yang mengajarkan saya cara melepas kopling dan menginjak gas dengan sinkron.

Cerita yang sama terjadi ketika saya belajar mengendarai motor. Membuka gas terlalu tinggi sehingga motor meloncat dan menabrak dinding. Setelah itu saya kapok belajar motor. Sampai ketika saya bekerja, seorang teman mengatakan bahwa motor matik lebih mudah dipelajari dan tidak akan melompat seperti motor manual. Saya pun mulai belajar menyetir motor matik.

Ambil SIM motor? Sama saja. Hanya karena tidak ada kursus setir motor, saya langsung ambil SIM. Ketika diminta praktik motor, saya tanya, apa motornya? Karena saya cuma belajar motor matik. Petugas bilang, di sini motornya manual semua. Dan saya bilang, saya tidak bisa mengendarai motor manual. Dengan heran, si petugas bertanya, “Lalu, bagaimana kalau nanti Ibu terpaksa membawa motor manual?” Jawaban saya enteng saja, “Ya tidak akan saya bawa, Pak. Buat saya membawa motor bukan keharusan, tapi pilihan. Jadi saya hanya mau membawa motor matik. Dan untuk itu saya harus punya SIM. Kalau tidak ada motor matik, ya saya akan naik kendaraan lain. Karena saya juga tidak mau celaka.” Si petugas manggut-manggut saja lalu meloloskan saya dari ujian praktik.

Itu bukan akal-akalan untuk tidak ikut ujian, lho. Saya menepati janji saya kepada petugas tadi. Sampai detik ini saya tidak pernah mengendarai motor manual, selalu matik. Dan kalau tidak ada, ya saya lebih baik naik taksi saja.

Saya bermotor ke kantor ketika bekerja di daerah Ciracas. Standar keamanan saya tingkat tinggi, pokoknya: jaket tebal, helm cakil. Ini adalah jenis helm yang bukan hanya menempel di atas dan di samping kepala, tetapi juga sampai ke dagu. Untuk saya yang berkacamata memang lebih rumit karena memakai dan melepas helm berarti juga melakukan hal yang sama terhadap kacamata saya. Tapi tak apa. Buat saya, keselamatan tetap nomor satu. Dan mungkin karena saya mulai dengan bisa mengendarai mobil, saya merasa tidak semena-mena seperti pengendara motor lainnya. Ketika harus pindah jalur, tentu saya memberi lampu sen dan menunggu saat yang tepat, bukan dengan memotong kendaraan lain, misalnya. Dan ukuran ruang yang saya berikan tetap besar, meskipun tidak sebesar mobil. Saya, misalnya, pantang menyelipkan motor di antara 2 mobil, selalu mengambil jalur kiri, selalu berhenti di belakang garis lampu lalu lintas, dan sebagainya.

Pemotor di Jalanan
Ketika mulai bekerja, saya mendadak jatuh cinta dengan ojek. Awalnya, tentu saya naik bus ke kantor. Lalu setelah operasi usus buntu, saya merasa tidak nyaman berdiri terlalu lama, baik ketika menunggu bus maupun di dalam bus itu sendiri. Belum lagi lalu lintas yang tergolong padat di seputaran Pasar Senen. Pilihan naik taksi, jelas tidak mungkin selamanya. Bisa-bisa gaji sebulan hanya untuk membayar ongkos taksi.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada ojek. Langganan pula. Jadi setiap pagi dia mengantar anak saya ke sekolah, lalu mengantar saya ke kantor di daerah Kuningan. Siangnya dia jemput anak saya dari sekolah dan sorenya menjemput saya di kantor. Bermodal helm milik sendiri, tentu, yang saya wanti habis-habisan jangan sampai dipakai oleh orang lain. Perjalanan ke kantor menjadi lebih mudah dan dapat diprediksi waktunya. Imbasnya hanyalah kulit saya yang menggelap karena paparan debu, meskipun saya sudah mengenakan jaket dan masker. Dan, yah, tentu saja bermasalah ketika musim hujan datang…

Pengalaman berlangganan ojek dan menyetir motor sendiri itu membuat saya kemudian lebih berhati-hati kalau memilih ojek. Saya tidak mau ojek yang “ugal-ugalan”. Saya jadi galak kalau naik ojek: jangan nyalip, berhenti di belakang garis, jangan motong jalan orang, dan sebagainya. Mungkin tukang ojek akan stres menghadapi penumpang seperti saya. Tapi, biarlah. Salah sendiri jadi tukang ojek tidak tahu aturan. Kalau membahayakan diri sendiri, terserahlah. Tapi kalau membahayakan penumpang, sudah lain urusannya.

Kelengkapan Bermotor
Memang secara umum–kalau bukan karena jalanan yang sekarang kian macet–saya menganggap motor bukanlah kendaraan yang aman. Terutama karena perilaku pengendaranya. Pertama, pengendara tidak memperhatikan kelengkapan motor. Banyak lho, motor-motor berlalu-lalang tanpa kaca spion. Atau, kalaupun ada, ukurannya kecil–karena mengutamakan gaya, dan tidak diarahkan untuk melihat kendaraan dari samping belakang. Saya beberapa kali melihat spion yang diarahkan justru ke pengendara motor itu sendiri. Bukan itu lho fungsinya kaca spion…

Saya juga sering melihat pemotor berpakaian seadanya: semisal celana pendek dan sandal jepit, ketika berkendara. Pada suatu pelatihan yang disponsori oleh salah satu merek motor, saya mendapat penjelasan bahwa bermotor yang benar seharusnya mengenakan celana panjang dan sepatu, tentunya untuk keamanan diri sendiri. Suatu kali salah seorang tim saya terlambat masuk karena kecelakaan: kaki kirinya terbakar karena motor di depannya mundur dan knalpot motor tersebut mengenai kakinya. Seandainya saja dia memakai sepatu, tentu hal tersebut bisa diminimalkan dampaknya. Sayangnya, tim saya itu senang bersandal jepit-ria ketika bermotor. Duh! Semoga dia belajar dari kejadian tersebut.

Seorang guide di Jepang yang ditemui mama saya ketika berwisata ke sana bercerita bahwa dia pernah didatangi polisi karena sehari sebelumnya bermotor dengan celana pendek. Guide itu orang Indonesia, tentunya. Dan dia menganggap tidak masalah bermotor dengan celana pendek. Padahal, itu melanggar aturan dan di Jepang hal tersebut ditegakkan benar-benar. Ketika disambangi polisi di rumahnya, guide tersebut masih mencoba ngeles. Sayangnya si polisi punya bukti yang lebih kuat berupa rekaman CCTV peristiwa tersebut. Dan karena ia waktu itu masih pendatang baru, polisi hanya memberinya peringatan, belum hukuman.

Saya paling ngeri kalau melihat pemotor yang tidak mengenakan helm. Dan, entah kenapa, banyak orang saya lihat “mengganti” helm dengan kerudung atau kopiah. Padahal fungsinya tidak sama. Apakah jika menggenakan jilbab lantas tidak perlu pakai helm? Beberapa orang yang saya tanyai mengatakan bahwa mereka tidak pakai helm karena tidak pergi jauh-jauh. Well, siapa sih yang mau mendapat kecelakaan? Mau pergi jauh atau dekat, kita tidak tahu kapan kecelakaan akan terjadi. Ada pula yang memberi jawaban berdasarkan keimanan. Wah, saya tidak mau masuk ke urusan seperti itu. Buat saya, melindungi diri adalah yang penting. Terlepas dari apapun yang kita imani.

Saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman. Ia bertanya kepada orang lainnya, berapa harga helm yang dipakai orang tersebut. Kebetulan helm itu jenis yang hanya menutupi bagian atas kepala. Istilah saya, mohon maaf, helm Hitler. Waktu itu sekitar tahun 2007-an. Si pemilik helm menjawab, “Sepuluh ribu rupiah.” Orang yang bertanya kemudian menyimpulkan, “That’s the price of your head.” Betul juga!

Barang Bawaan dan Perilaku
Kedua, motor sering kali dipaksakan membawa barang-barang yang ukurannya jauh melebihi ukuran motor itu sendiri. Memang, sih. Motor adalah kendaraan yang fleksibel. Tinggal ditambah kantong di kanan dan kiri belakang, misalnya. Sudah bisa digunakan membawa barang, mulai dari surat–seperti model pak pos zaman dahulu, hingga kambing. Betul, kambing. Saya pernah melihatnya sendiri. Awalnya saya curiga, apa sih yang ada di kantong motor di depan saya. Kok bentuknya agak tidak biasa. Setelah saya dekati–saya, tentunya, bermobil–ternyata yang muncul dari kantong itu adalah kepala kambing. Badannya, tentu saja, ada di dalam kantong. Ini terjadi menjelang hari raya kurban. Mungkin si pengendara adalah penjual kambing yang hendak mengantarkan kambing ke pemesannya. Tapi kok ya begitu caranya? X_X

Sayangnya membawa muatan berlebih di belakang tidak membuat pemotor sadar. Dia tetap saja selap-selip di jalan, memotong jalur lain, bahkan berhenti mendadak. Saya pernah melihat pemotor dengan tambahan rangka besi di belakangnya untuk membawa termos nasi ukuran besar–yang biasanya untuk katering. Si pengemudi tetap saja memilih jalan sempit di antara dua mobil, padahal rangka besi di belakangnya membuat goresan panjang di mobil yang dilewatinya–meski si pemilik mobil tidak sadar. Saya yang sedang ada di bus di belakang mobil yang tergores tersebut hanya melongo. Buset, deh…

Ketiga, perilakunya itu sendiri. Menyelip di antara mobil–kaca spion mobil tersambar motor sudah bukan hal yang aneh di Jakarta. Betapapun sempitnya ruang yang ada, pemotor tetap saja berusaha lewat. Belum lagi perilaku pemotor yang naik ke tempat pejalan kaki karena jalanan dalam kondisi macet. Sudah melanggar aturan, membahayakan orang lain pula! Saya juga memperhatikan bahwa banyak pemotor merasa sudah berhenti di pinggir–dan menurutnya, orang akan dapat lalu lalang di sebelahnya–tanpa menyadari bahwa kakinya yang menjagang motor masih terlalu jauh dari bodi motor dan berpotensi terlindas mobil!

Pada poin ini saya akan menyarankan orang untuk belajar mobil terlebih dahulu dibandingkan motor. Dengan menguasai mobil terlebih dahulu, berdasarkan pengalaman, seseorang akan lebih berhati-hati ketika mengendarai motor. Alasannya, pertama, orang tersebut akan cenderung memiliki patokan ruang yang lebih besar sehingga tidak terbiasa menyalip sembarangan. Sebaliknya, jika menguasai motor terlebih dahulu, seseorang akan menyetir mobil seperti ketika menyetir motor. Ukuran ruangnya kecil sehingga ia merasa bisa menyalip atau menghindar dengan mudah. Atau, sembarangan padahal kondisi lalu lintas tidak memungkinkan karena sedang sangat macet.

Alasan kedua, pola pikir orang yang belajar mengendarai mobil terlebih dahulu adalah berhenti jika ada sesuatu di hadapannya. Sementara orang yang menguasai motor terlebih dahulu akan cenderung menghindar. Keseimbangan motor terjadi ketika ia bergerak, dan untuk menjaga keseimbangan itu, pengemudinya harus terus bergerak dan karenanya akan cenderung menghindar daripada mengerem. Mengerem berarti berhenti dan untuk menjaga keseimbangan, ia harus menurunkan kaki. Pemotor lebih suka “ngepot” sedikit ke samping sehingga tidak perlu berhenti. Sayangnya, kebiasaan itu juga terbawa ketika ia nantinya mengendarai mobil. Cenderung banting setir daripada berhenti.

Umur: Mental vs. Fisik
Keempat, urusan umur. Bukan tanpa alasan lho dibuat aturan bahwa pemohon SIM harus berusia 17 tahun. Secara psikologis diharapkan pada usia ini seseorang sudah mampu berpikir matang dan tidak emosional dalam berkendara, juga sudah dapat bertanggung jawab secara hukum.

Sayangnya, banyak orangtua berpikiran lain. Asalkan kaki si anak sudah dapat mendukung dirinya dan motornya, sudah dibolehkan mengendarai motor. Tak heran banyak anak SD kelas akhir yang sudah bermotor, bukan saja ke warung di dekat rumah tetapi ke jalan raya. Padahal, mungkin baru fisiknya yang siap. Secara mental ia belum layak berkendara motor. Bukan saja membahayakan dirinya, tetapi juga pengendara lain di jalanan.

Karena itu saya amat terkejut ketika membaca berita mengenai putra salah seorang selebritas yang kecelakaan di jalan tol. Bukan hanya usianya yang belum cukup untuk menyetir mobil, tetapi juga menyetir di jalan tol. Saya menyesalkan orangtua dan petugas manapun yang memberinya izin mengemudikan mobil.

Kembali pada pelatihan yang saya sebutkan di atas, pihak produsen motor itu kemudian meminta peserta untuk membuat tulisan mengenai motor. Saya–di situ sebagai pengajar–terkejut ketika banyak di antara peserta yang notabene para guru, menuliskan betapa murid atau anak tetangga mereka yang menjadi korban kecelakaan bermotor, mulai dari masuk ke selokan hingga yang mengantar nyawa. Sebagian besar karena salah satu dari faktor-faktor yang saya sebutkan di atas.

Ojek Aplikasi
Tibalah suatu masa ketika Nadiem Makarim memperkenalkan yang namanya Go-Jek. Tak urung saya mengagumi Nadiem yang berhasil mencari celah dari ruwetnya masalah trasnsportasi di Jakarta. Untuk masalah transportasi ini, nanti saya tuliskan secara terpisah. Tetapi Go-Jek benar-benar memberikan solusi cerdas. Bukan, saya bukan pengguna Go-Ride karena berbagai alasan yang sudah saya sebutkan di atas, meskipun banyak teman yang mengandalkan Go-Ride karena berbagai alasan. Tapi yang jelas saya sangat terbantu dengan layanan Go-Sent dan Go-Food.

Go-Sent alias jasa pengiriman barang adalah yang pertama kali saya coba. Manfaat yang paling besar adalah kejelasan dan keamanan. Jelas, karena si ojek terlacak posisinya. Aman, artinya barang yang saya kirim dipastikan diterima oleh orang yang dimaksud. Bayangkan kalau pakai ojek biasa. Wah, mana ada jaminan?

Go-Food atau jasa membelikan makanan, baru-baru saja saya alami ketika saya sakit dan malas memasak. Apalagi pergi ke luar untuk membeli makanan, bukan? Jadi saya tinggal buka aplikasi, memilih makanan, dan Go-Jek akan mengonfirmasi pesanan saya lalu membawakan ke rumah. Problem solved!

Tentu saja, jangan memanfaatkan jasa mereka pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. Secanggih apapun layanan yang diberikan, sulit menemukan jasa ojek pada jam-jam tersebut. Semua laris-manis dibutuhkan oleh orang-orang yang hendak berangkat atau pulang kantor.

Saya ikut mempromosikan Go-Jek dan berusaha menggunakan layanannya dalam berbagai kesempatan, bukan hanya karena kejelian Nadiem, tapi karena ini adalah produk canggih anak negeri. Dengan alasan tersebut saya sedapat mungkin tidak menggunakan aplikasi ojek lain yang diketahui memiliki investor dari negara lain. Tapi tetap saja, saya bukan dan sudah kapok mencoba Go-Ride. Selain karena keamanan, ternyata faktor U ikut berpengaruh. Saya jadi gampang masuk angin. Tentu saja saya pakai jaket, tetapi dengan kondisi lingkungan yang semakin panas, berkeringat dan kering lagi di badan adalah jalan masuk angin yang paling ampuh.

Ojek dan Masalahnya
Saya termasuk yang bersedih ketika timbul masalah antara Go-Jek dengan ojek pangkalan. Ah, sama-sama mencari nafkah, mengapa harus berselisih seperti itu? Ojek pangkalan juga bisa kok membuat layanannya seperti Go-Jek. Kebanyakan ojek pangkalan juga sudah mempunyai langganan yang berdomisili atau beraktivitas di dekat mereka. Tinggal bermodal ponsel agar dapat dihubungi oleh pelanggan, bukan?

Dulu, ketika saya berlangganan ojek, saya juga mengambil ojek pangkalan. Karena pada masa itu ponsel belum terlalu jauh penetrasinya, saya memberinya ponsel saya yang sudah tidak terpakai. Asalkan dia bisa dihubungi. Misalnya, untuk memastikan bahwa anak saya Abi sudah dijemput dengan selamat. Bahkan, kalau jam pulang saya berubah–karena harus liputan atau kegiatan lain–ojek saya tinggal di-SMS. Jadi dia akan menjemput saya di jam yang baru.

Lalu saya membuat perjanjian di awal: pada jam-jam Abi berangkat dan pulang sekolah, serta jam saya berangkat dan pulang kantor, dia tidak boleh alpa. Dan, Abi harus diantar jemput sendirian, tidak boleh dia sekaligus memboncengi lebih dari 1 anak–yang mana salah satunya adalah Abi. Pasalnya, saya pernah mendapat ojek yang sembrono. Ketika mengantar Abi, dia juga mengantar anak lain, yang tak laina dalah anaknya sendiri. Sehingga Abi yang–waktu itu–tubuhnya masih imut-imut terjepit di antara tukang ojek dan anaknya. Besoknya saya putuskan untuk mengganti ojek tersebut.

Kembali pada penggunaan ponsel, saya jadi mudah mengecek ojek saya sedang berada di mana. Sekali waktu dia sakit dan tidak bisa mengantar Abi, itu pun jadi lebih mudah diselesaikan dengan sarana komunikasi tersebut. Ketika akhirnya jasa si tukang ojek sudah tidak dibutuhkan, saya juga tak sampai hati meminta kembali ponsel yang saya pinjamkan, kok.

Dengan mencari pelanggan saja sebenarnya ojek pangkalan tidak perlu berlama-lama menganggur di pangkalannya. Bahkan, kalau sudah terjadwal seperti ojek langganan saya dahulu, di siang hari dia justru bisa istirahat sebelum jadwal menjemput berikutnya. Enak, bukan? Mau meminta tolong tukang ojek membelikan sesuatu barang juga bisa, kok. Hanya saja dia pasti akan datang dulu meminta uang sebelum berbelanja. Dan kita harus menyepakati berapa ongkos berbelanja tersebut. Dengan keberadaan Go-Jek, hal-hal seperti ini lebih mudah lagi karena ada standar. Tarif pun sudah ditentukan sehingga konsumen tidak dikemplang oleh tukang ojek yang tidak bertanggung jawab.

Persaingan antara ojek pangkalan dan ojek aplikasi manapun memang terus terjadi. Saya berharap ojek aplikasi–yang manapun–memberikan layanan lebih kepada konsumen. Bukan hanya perang tarif murah seperti sekarang, saya berhadap layanan tersebut bisa diberikan dari perilaku pengojek itu sendiri. Saya sering miris melihat ojek aplikasi yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas, misalnya. Seharusnya para provider ojek aplikasi tersebut mengetatkan aturan agar pengojeknya menjadi salah satu pelopor keamanan dan keselamatan berlalu lintas. Jangan hanya memberi jaket dan helm, misalnya, tetapi juga memeriksa kelengkapan motor seperti kaca spion, dan memberi pengenalan terhadap aturan lalu lintas serta sanksinya jika melanggar.

Tentu saja, pada industri jasa seperti ini, tak kalah pentingnya bicara soal pelayanan. Bersikap dan berbicara yang baik kepada pelanggan adalah keharusan. Di sini ojek pangkalan bisa jadi keteteran karena tak jarang mereka berlatar belakang semacam preman di daerahnya. Pernah ada berita mengenai ojek pangkalan yang melakukan kekerasan kepada ojek aplikasi. Terlepas dari persaingan yang mereka hadapi, itu adalah cara yang buruk untuk menunjukkan pelayanan. Tak salah jika banyak orang semakin ngeri menggunakan ojek pangkalan.

Larangan Ojek
Baru-baru ini terjadi kehebohan karena mendadak ada larangan bagi ojek sementara masyarakat sudah kadung menikmati layanan ojek aplikasi yang disediakan. Saya antara mendukung dan tidak. Kehadiran ojek, Go-Jek, lantas kemudian ada jek-jek yang lain termasuk Lady-Jek, adalah bukti carut marutnya urusan transportasi publik di Jakarta. Yang dilakukan masyarakat sebenarnya hanyalah mencari solusi dari permasalahan transportasi yang ada, kok.

Masyarakat semakin membutuhkan jaminan keamanan, itu sebabnya belakangan ini ojek aplikasi mengerucut pada mereka yang menyasar hanya kaum hawa. Mungkin penumpang merasa lebih nyaman jika pengemudi ojeknya sama-sama cewek. Seorang teman pernah berkata, dia memesan ojek dan ternyata yang datang adalah ojek dengan pengemudi perempuan. Padahal teman saya ini laki-laki, dan dia merasa tidak enak: masak cowok diboncengi cewek? Akhirnya mereka bernegosiasi, dan berujung kompromi yang lucu: teman saya yang membawa ojek, sementara tukang ojeknya menjadi penumpang. Nah!

Keunggulan ojek aplikasi lain adalah perkiraan waktu yang lebih tepat ketimbang menunggu di pinggir jalan untuk mendapatkan moda transportasi. Ada lagi sisi kemudahan: daripada menghabiskan berjam-jam menggunakan bus atau taksi untuk mengantar barang yang harus segera sampai–belum lagi biaya taksi jika ikut bermacet-macet dalam lalu lintas jakarta–lebih baik menggunakan ojek aplikasi.

Di sinilah pemerintah seharusnya berperan. Larangan ojek aplikasi memang sudah dibatalkan, tapi latar belakang pemikirannya tetap belum jelas. Menurut saya, janganlah terburu-buru mengharamkan ojek dalam bentuk apapun. Perbaiki dulu sarana transportasi publik. Banyak hal perlu dikerjakan di sini, mulai dari memperbaiki infrastruktur hingga membereskan perusahaan angkutan yang nakal. Sementara itu, buatlah aturan sementara untuk ojek dan teman-temannya. Saya setuju kok kalau ada pembatasan ojek di jalan-jalan tertentu. Memang pengendara motor, dengan perilaku yang tidak siap dan kondisi motor yang tak laik, tidak seharusnya berada di jalan utama. Bisa juga dengan memperketat pengawasan terhadap pemotor, mulai dari ujian SIM hingga perilakunya di jalanan.

Saya beberapa kali berkunjung ke luar negeri dan amat jarang melihat motor di sana, kecuali di Vietnam tentunya. Bahkan di negara yang merupakan produsen motor, seperti Cina dan Jepang, saya kok tidak melihat masyarakat di sana menggunakan motor. Tampaknya mereka hanya memproduksi dan kita yang mengonsumsi. Mereka dapat untung, kita dapat polusi dan lalu lintas yang semerawut. Yang jelas, transportasi publik di sana sangat memadai. Meskipun di Beijing ada semacam bajaj yang sama saja cara menyetirnya dengan bajaj di Jakarta, tapi jumlahnya tidak banyak karena sebagian besar tetap menggunakan kereta bawah tanah.

Melarang ojek sebelum membereskan transportasi publik seperti kemarin kita berupaya memadamkan api di tanah gambut. Api di bagian atas mungkin sudah padam, sementara di lapisan bawah, tanah masih membara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: