Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Mengenang Setahun Kepergianmu

Sudah lama Uti bilang ingin mati saja. Antara kasihan dan kesal, saya mencoba memahami penyebabnya. Jelas, yang pertama karena Eyang Kakung sudah meninggal dan Uti merasa kesepian. Tidak ada lagi temannya mengobrol, betapapun kami mencoba menggantikannya. Pasangan hidup yang baik memang tidak dapat digantikan. Itulah pelajaran paling berharga yang saya dapat dari kakek-nenek saya itu.
 
Alasan kedua, adalah ketidakmampuannya untuk bergerak. Uti adalah orang yang sehat, semua organ dalam tubuhnya diperiksa secara rutin dan dia terbebas dari masalah-masalah yang sering dihinggapi orang dewasa: kolesterol, gula darah, tekanan darah, dan sebagainya. Justru karena masih sehat itulah Uti selalu aktif: jalan mengitari mal baru bukan kendala baginya. Pada saat anak pertama saya lahir tahun 2000, dia masih pergi sendirian dengan taksi ke rumah sakit.
 
Tangannya pernah patah hingga dipasang pen dan digendong berbulan-bulan, itu juga karena keaktifannya. Ia merawat burung kenari sendiri, dan ketika mencoba menggantungkan sangkarnya di kaitan di atap, ia terjatuh dari kursi tempatnya memanjat. Beruntung hanya tangannya yang patah.
 
Di suatu pagi yang nahas, ia jalan kaki seputaran kompleks seperti biasa rutin dilakukannya. Mungkin karena hari masih gelap–Uti biasa jalan pagi setelah salat subuh–Uti terjatuh karena terpeleset kotoran anjing. Dari situlah semuanya berawal.
 
Kaki kanannya patah di bagian bonggol paha atas dan harus diganti. Meskipun sudah dicari bonggol pengganti dari platina yang harganya supermahal, toh tubuhnya menolak kehadiran benda asing. Berkali-kali bonggol baru tersebut mengakibatkan infeksi.Dengan bonggol baru itu sebenarnya Uti bisa berjalan meski memakai kruk. Bisa duduk di kursi roda dan didorong ke depan rumah untuk menghirup udara segar. Memang, sejak itu Uti sudah tidak bisa memasak lagi karena tidak kuat berlama-lama berdiri. Padahal memasak adalah salah satu kesukaannya.
 
Ada banyak ketidakbisaan lain, bukan hanya terkait masalah kakinya yang patah. Kala itu Uti memang sudah sulit membaca, karena huruf-huruf koran atau majalah sudah terlalu kecil baginya. Dengan alasan yang sama, ia sudah tidak bisa lagi menjahit dan menyulam, salah satu kesenangannya yang diajarkan kepada saya. Ini membuat kesenangan dalam hidupnya berkurang amat banyak.
 
Kembali ke masalah bonggol, karena begitu mengganggu, begitu sering infeksi dan menyebabkan sakit, bonggol itu akhirnya harus diangkat. Sejak itu, Uti kesulitan duduk lama, apalagi berjalan. Sehari-harinya hanya tidur dengan bantuan lengkap untuk kebutuhan sehari-harinya.
 
Sejak itu kondisinya menurun. Uti seperti tidak punya semangat lagi untuk hidup. Tidak bisa kemana-mana, hanya bisa tiduran. Saya selalu datang berpamitan sebelum berangkat kerja, dan saya melihat betul penurunan semangat hidupnya.
 
Mulanya Uti jadi malas bicara. Kalau saya berpamitan, dia hanya memegang-megang lengan saya. Saya selalu mencium pipinya yang tirus. Dan Uti selalu tersenyum kepada saya. Paling-paling dia memegang bandul kalung saya ketika menciumnya, dan berkata, “Bagus..” Saya selalu menjawab, “Ini Uti yang belikan…” Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
 
10580245_10203969208337923_7286536569799630374_n
 
Ketika saya wisuda S2, saya berikan undangan itu kepadanya, dan sepertinya Uti paham undangan apa itu. Tetapi dia tidak berkomentar apapun. Dan ketika saya datang dengan toga lengkap untuk berfoto bersamanya, Uti pun tidak bicara. Saya tidak pernah melupakan wisuda S1, ketika Uti dan saya pergi lebih dulu ke Surabaya untuk daftar ulang sambil mengambil toga. Uti masih begitu muda dan penuh semangat. Empat belas tahun kemudian segalanya sudah berubah.
 
***
 
Hari itu saya dipanggil pulang karena Uti mendadak tidak mau makan dan tidak merespons. “Jangan sampai menyesal,” kata Mama. Saya pun pulang dan mendapati mata Uti yang kosong. Dia seperti tidak mendengar kata-kata kami. Terus-terusan Uti mengaduh. Apa yang sakit, kami juga tidak tahu.
 
Beberapa hari kemudian Uti dibawa ke rumah sakit karena ada darah dalam urine-nya. Sejak itu Uti tidak kembali ke rumah. Saya tidak terlalu ingat runtutannya. Yang saya ingat ketika Uti akhirnya masuk ICU dan diinfus makanan dari lehernya karena semua tempat yang biasa dimasuki jarum infus sudah menolak.
 
Sedih melihat Uti seperti kesakitan dengan infus barunya itu. Dokter sendiri mengatakan bahwa diinfus di leher memang sakit sekali. Tapi tidak ada cara lain untuk memasukkan makanan.
 
Menurut dokter, Uti mengalami infeksi di paru-parunya karena terlalu lama tidak bergerak. Ketika masuk rumah sakit kemampuan paru-parunya tinggal 30%. Segala antibiotik tercanggih diberikan untuk memperbaiki fungsi paru-parunya.
 
Di ICU itulah pertama kali Dokter menyarankan untuk melubangi trakea-nya. Tapi cara itu bukan tanpa risiko. Di usia yang sudah 87 tahun, dikhawatirkan paru-parunya justru tidak mampu memperbaiki sel-selnya sendiri sehingga menimbulkan ketergantungan pada alat bantu itu.
 
Keputusan itu akhirnya diambil melalui rembuk keluarga. Uti tidak dipasangi alat bantu di trakea dan dipindahkan ke ruang biasa agar dapat ditunggui secara bergiliran. Di ICU kami tidak bisa menunggui di sampingnya, dan itu membuat Uti kesepian.
 
Perpindahan dari ICU ke ruang biasa bukan tanpa perjuangan. Entah mengapa Uti masih berontak dan menendang-nendang di atas tempat tidur. Saya berlari di samping tempat tidurnya, memegangi selimutnya yang disepak kesana-kesini, padahal Uti tidak berpakaian sama sekali. Entah bagaimana Uti sepertinya mengerti waktu saya bilang, “Ini Manda. Saya di sini…” Uti berhenti berontak, tetapi saya harus terus lari mengiringi tempat tidurnya.
 
Saya ingat Uti masih memegangi tangan saya sampai tertidur di tempatnya yang baru. Saya tinggalkan Uti setelah semua infusnya kembali berjalan. Ini kamar super VIP dengan pengawasan perawat di dalam kamar.
 
Beberapa hari kemudian, Uti dipindahkan lagi dari kamar perawatan VIP ke kamar biasa. Kami masih bisa menunggui, tetapi tidak ada perawat di dalam kamar. Di sini kondisi Uti memburuk. Tidak lagi mengenali kami dan riak di tenggorokannya terlalu banyak sehingga harus disedot beberapa waktu sekali.
 
***
 
Jumat, 2 Agustus 2013. Adik saya yang terakhir menunggui dan gantian dengan Mama karena harus ke kantor. Saya datang malam sebelumnya dan berjanji akan berjaga malam ini. Sekitar jam 2 siang, dengan Mama di sampingnya, Uti pergi meninggalkan kami. Jantungnya masih berdetak ketika paru-parunya berhenti berfungsi.
 
Saya dan Mama mengerjakan semuanya. Saya adalah salah satu orang yang mengangkat jenazah Uti dari tempat tidur ke dorongan untuk ambulans. Saya harus berdiri di atas tempat tidur karena ternyata berat memindahkan jenazah di jarak sedekat itu.
IMG_4610
Esoknya, saya juga yang mengangkat Uti untuk dimandikan dan dikafani. Saya ikut memandikan dan menyalatkan. Duh, Uti. Tidak ada lagi teman saya bercerita. Uti adalah sahabat semua cucunya, dan saya yakin bukan hanya saya yang merasa kehilangan. Saya hanya yakin bahwa Uti tidak lagi menderita. Bahwa Uti sudah terbebas dan segala kesakitannya. Bahwa Uti akan bersama-sama lagi dengan  Eyang Kakung.
 
Sesuai permintaannya, kami kuburkan Uti bersama Eyang Kakung dalam satu liang. Dua puluh tahun mereka terpisah, kami berharap mereka sekarang sudah bersama lagi, seperti janji mereka dahulu: together forever.
 
Beberapa waktu lalu saya bermimpi seperti ditelepon Uti. “Ini siapa?” katanya. Sangat jelas itu suara Uti. “Ini Manda,” jawab saya. Persis seperti yang saya katakan saat berlari di samping tempat tidurnya. Saya bertanya, apakah Uti sakit? Karena suaranya sangat mirip orang pilek. Mimpi saya terputus sampai di situ. Tapi saya meyakini satu hal: kami saling merindukan. Sesegera mungkin saya berziarah ke makamnya. “Ini Manda,” ujar saya di pusaranya. Saya tahu Uti mendengarnya.
 
Saya memang tak berlama-lama bersedih. Saya selalu ingat bahwa Uti sudah lama kesepian. Tapi tak bersedih bukan berarti saya tidak merindukannya. Saya kangen sekali. Saya sengaja membuat sendiri buku tahlilnya, agar saya bisa merangkai foto-foto Uti sebagai pengobat rindu. Saya tak pandai berpuisi, tapi di buku tahlil 100 hari Uti, saya menuliskan kata-kata ini:
 
Biarkan kami mengenangmu,
Dengan kejadian-kejadian indah
Yang pernah kita alami bersama.
Biarkan kami mengikhlaskanmu,
 
Berharap kebahagiaan sejati
Menantimu di sana.
Biarkan kami mendoakanmu,
Semoga Ia menempatkanmu
Di tempat terbaik-Nya.
 
Biarkan kami merindumu,
Berharap suatu saat nanti
Kita akan bersama-sama lagi.
 
Uti, ini Manda. Saya tuliskan catatan ini dengan penuh kerinduan….
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: