Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Storyteller of Coffee

IMG_1685Sore yang dingin di Dieng saya habiskan bersama Pepeng. Di kartu  namanya tertulis ‘storyteller of coffee’. Memang, yang dijual bukan kopi, tapi cerita mengenai cara mengolah kopi yang nikmat. Pepeng memulainya dengan belajar dari para petani, lantas dia banyak bergaul dengan penikmat kopi dari mancanegara.

Menurut Pepeng, orang-orang di luar negeri ‘bingung’ dengan orang Indonesia. “Negara kalian adalah penghasil kopi, tapi kenapa kalian minum kopi sachet?” Pepeng menirukan kata-kata relasinya. Tidak heran, pertanyaan pertama Pepeng kepada saya adalah, “Biasa minum kopi apa, Mbak?” Dan ketika saya sebutkan salah satu merek kopi, dia hanya tersenyum.

Dibawakannya ke hadapan saya berbagai macam kopi. Menurut Pepeng, beberapa orang merasa kopi tertentu terlalu asam, sementara yang lain tidak merasa begitu. Jadi, pilihan kopi seratus persen bergantung pada preferensi tiap orang. Saya menyerah saja, minta dibuatkan mana yang menurutnya paling enak. Maka, Pepeng pun memasukkan biji-biji kopi ke dalam penggilingan tangan. Ia mengajarkan saya menggiling kopi. Tapi karena saya tahu diri, setelah beberapa menit mencoba akhirnya saya serahkan kepada ahlinya saja. Bisa-bisa antrean kopi menjadi panjang karena saya perlu waktu sangat lama untuk menggiling kopi!

Masih tetap bercerita tentang kopi, Pepeng memasukkan setakaran kopi Kalosi medium roasting ke dalam alat pembuat espresso. Di bawah kopi, diletakkan gelas yang sudah dipanaskan oleh uap dari ketel yang mendidihkan air. Lalu di bagian atas kopi, ke dalam sebuah cawan plastik bening, ia memasukkan air mendidih. Air itu kemudian ditekan ke bawah hingga membasahi kopi dan mengeluarkan cairan kopi ke dalam gelas. Berkali-kali ia menekan alat tersebut hingga kopi yang dihasilkan cukup banyak. “Ini baru espresso yang sebenarnya!” kata Pepeng sambil menyodorkan gelas kepada saya.

Slurp! Kopinya memang nikmat, meski bagi saya terlalu asam. Saya tambahkan susu kental manis cukup banyak. Tapi masih asam juga! Mungkin bukan jenis kopi ini yang bisa saya nikmati, ujar saya dalam hati sambil membayangkan segelas kopi biasa, teman setia saya di meja pagi.

Iklan

1 Komentar

  1. Ga jadi kopi kayakna tuh mbak.. jadinya milkshake.. pertamax gannnn….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: