Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Pepaya (Tidak) Berbatang Tunggal

Dieng memang terkenal dengan agrobisnisnya. Kawasan bertanah vulkanik ini menghasilkan kubis yang besar-besar dan cantik. Daunnya mulus seperti kulit seorang model. Wortel pun berukuran besar-besar dan segar. Wah!

Soal buah dan sayur, saya masih dikagetkan dengan manisan Carica. Menurut penduduk Dieng, Carica adalah sejenis pepaya. Entah mengapa, dari bagian otak yang terdalam tiba-tiba saya teringat pelajaran masa sekolah dulu bahwa nama latin pepaya adalah Carica Papaya.  Uniknya, pepaya yang biasa kita lihat berbatang tunggal, namun Carica bisa memiliki beberapa batang. Dan, masing-masing bisa berbuah! Keunikan ini belum berakhir. Masih menurut mereka, jika bibit Carica ini ditanam di tempat selain Dieng, maka yang akan tumbuh adalah pepaya biasa yang kita kenal. Apakah karena pengaruh ‘mistis’ atau struktur tanah Dieng yang subur, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, makanan ini sangat menyegarkan dan merupakan salah satu buah tangan yang harus dibawa dari dataran tinggi ini.

Mengenai dinginnya, wah…, jangan ditanya. Di hari pertama saya mengikuti acara hingga pukul 7 malam dalam udara yang menggigit. Apalagi karena hujan, maka acara mundur hingga waktu yang tidak ditentukan. Tentu saja hal itu tidak terlalu menjadi masalah, karena acara malam itu adalah pagelaran wayang yang memang biasa dilakukan hingga dini hari. Ketika saya memutuskan untuk pulang, 15 menit turun gunung dengan motor rasanya cukup membekukan seluruh tubuh!

Mengapa bermotor? Nah, di sinilah cerita serunya. Saat berjalan dari Wonosobo menuju Dieng, saya baru tahu bahwa di suatu daerah bernama Kejajar, jalan tidak dapat dilalui karena longsor. Dari titik itu, mobil sewaan harus diparkir dan orangnya menyeberang melalui jalan sempit. Setelah jalan itu, perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan umum dari atas yang juga terhenti di titik yang sama. Nah, daripada harus menyambung seperti itu, akhirnya diputuskan untuk menyewa motor penduduk.

Tapi itulah… Ketika pulang malam hari saya baru sadar bahwa lampu utama motor tersebut sangat redup. Singkatnya, tidak cukup terang untuk menyinari jalanan yang akan dilalui. Padahal, jalan tersebut sudah cukup menyusahkan karena gelap dan berkelak-kelok. Belum lagi dengan gunung di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri.

Perjalanan turun selama 15 menit itu sungguh tidak terlupakan. Bukan hanya karena dinginnya, tetapi karena kecemasan menaiki kendaraan yang tidak layak. Rasanya seperti bermain game Temple Run, hanya saja kalau salah melompat hidup saya tidak bisa dimainkan ulang….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: