Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Parasan Rambut Gembel di Dieng Culture Festival IV

IMG_1489

Lapangan yang luas itu dipenuhi begitu banyak orang. Ada yang berkumpul di depan panggung untuk menyaksikan beragam kesenian daerah Dieng. Ada pula yang duduk-duduk di bawah tenda yang disediakan sambil menyantap makanan ringan. Tak jarang yang berkunjung ke kios-kios di sekeliling lapangan. Kios tersebut menyediakan berbagai barang, mulai dari souvenir, pupuk, hingga pengajuan kredit untuk para petani.

Bisa dibilang, inilah pestanya rakyat Kabupaten Banjarnegara. Bermula dari ritual memotong rambut gimbal, aktivitas ini kemudian meluas menjadi Dieng Culture Carnaval yang dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama, digelar berbagai kesenian rakyat dan hiburan—mulai dari tari, wayang, hingga pesta lampion dan kembang api. Sedangkan di hari kedua, yang merupakan puncak acara, digelar ruwatan pemotongan rambut gimbal. Keduanya diadakan di tempat yang berdekatan. Kalau kesenian dilakukan di lapangan, upacara pemotongan rambut gimbal dilakukan di kompleks candi.

IMG_1457

Dalam bahasa Indonesia, parasan artinya cukuran. Yang dicukur bukan sembarang rambut, tapi rambut yang gimbal sejak lahir. Anak-anak pemilik rambut gimbal ini diyakini memiliki beberapa kelebihan, dan kalau rambutnya dipotong tanpa melalui ruwatan—upacara menolak bala—si anak akan sakit dan rambut yang tumbuh akan tetap gimbal.

Uniknya lagi, si anak sendiri yang harus meminta rambutnya dipotong. Jadi, tidak bisa disuruh oleh orangtua, apalagi dipaksakan. Selain itu, permintaan si anak harus dituruti. Dari ketujuh anak yang diruwat hari itu, saya tersenyum geli melihat permintaan mereka. Ada yang meminta sepeda warna merah, tapi ada pula yang meminta perhiasan dan seekor kambing. Yang menarik, bahkan si pembawa acara pun tidak tahan untuk tidak tersenyum, ada seorang anak yang meminta topi. Tapi, topi tersebut harus—tidak boleh tidak—dibeli di toko Mickey Mouse.

IMG_2012

Upacara dimulai dengan kirab anak-anak tersebut ke sungai untuk dikeramasi. Nama acaranya adalah jamasan, yang berarti keramasan. Dalam kirab tersebut ada berbagai macam kesenian yang menyertai, mulai dari barongsai, naga, hingga jajaran raksasa buruk rupa. Sepanjang jalan yang dilewati kirab, baik penduduk maupun wisatawan sudah menanti. Tidak hanya berdiri di pinggir jalan, mereka tak ragu untuk masuk di antara peserta kirab dan berfoto bersama. Tentu saja suasana menjadi luar biasa heboh.

Seusai keramas yang bertujuan untuk menyucikan diri, anak-anak tersebut dibawa ke kompleks Candi Arjuna. Di sana telah disiapkan meja yang berisi tumpeng beserta lauknya. Di ujung meja terdapat gunungan makanan. Semua itu nantinya akan diperebutkan oleh tamu maupun masyarakat yang datang ke acara tersebut.

IMG_2100

Pemotongan rambut dilakukan di salah satu pintu candi. Satu per satu anak dipanggil, dan yang memotong rambut mereka pun bukan orang sembarang. Di antaranya adalah bupati dan wakil bupati Banjarnegara, kepala kepolisian setempat, bahkan beberapa duta besar negara sahabat. Uniknya, sang dubes dan istrinya juga mengenakan pakaian daerah. Setelah selesai mencukur, para pejabat itu kemudian memberikan amplop kepada setiap anak, seperti kalau kita menghadiahkan uang kepada anak yang baru dikhitan.

IMG_2026

Rambut yang dipotong kemudian dikumpulkan untuk dilarung di danau terdekat. Sayangnya, karena salah mengambil jalan, saya tidak dapat mengikuti acara tersebut. Tapi tidak menjadi masalah, karena banyak objek wisata lainnya di Dataran Tinggi Dieng yang sayang untuk dilewatkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: