Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Kesenian naga dari Dieng

IMG_1512Berseragam kuning dengan motif sisik naga, sekitar sepuluh orang berlari ke dalam lingkaran. Masing-masing menggenggam tongkat yang mengusung kepala, badan, hingga ekor naga yang juga berwarna kuning. Mereka bergerak dengan lincah mengikuti irama tambur. Ke mana kepala bergerak, ke sana tubuh meliuk dan ekornya melecut. Bisa jadi suatu ketika pembawa bagian kepala lari melompati badan bagian tengah. Si pemegang badan otomatis merunduk dan ketika orang kedua dari kepala melompat, orang di belakangnya pun sigap merundukkan kepala. Tidak terjadi tabrakan, betapapun cepatnya mereka bergerak.

Mereka pun saling memberikan informasi dengan cepat. Jika salah seorang pembawa sudah lelah, dari tepi lingkatan ada orang lain yang segera berlari untuk menggantikan tempatnya. Ternyata mengangkat tongkat sambil berlari demikian cukup menguras tenaga. Itu sebabnya mereka menyediakan sejumlah pemain cadangan.

Tiba-tiba salah seorang pemain melepaskan tongkatnya dan berlari ke tempat pemain cadangan. Tubuhnya langsung tersuruk dan kejang-kejang. Teman-temannya dengan sigap memegangi tangan dan kakinya, bahkan ada yang menduduki punggungnya. Betul, orang tadi kesurupan, dan harus dijagai agar tidak melukai dirinya sendiri. Tarian naga terus berlangsung dan masih ada beberapa orang lagi yang kesurupan.

IMG_1532

Percayakah saya dengan kesurupan? Saya tidak terlalu yakin. Tapi seorang anak kecil di sebelah saya bertanya kepada ibunya, apa yang terjadi pada orang tersebut. Sang ibu, dengan bahasanya yang sederhana, berkata, “Nggak papa, dia pusing saja habis lari-larian muter-muter begitu….” Dan si anak pun mengangguk-angguk puas.

Saya masih mengejar para pemain kesenian naga dari Dusun Simpangan itu. Tinggal satu orang yang kesurupan dan ada ‘dokternya’. Yang lain berkumpul tidak jauh dari tempat naga dan orang yang kesurupan tadi, sembari menelan sesuatu. Ketika saya tanyakan, mereka menjawab, “Disuruh  makan kembang kantil, supaya nggak kesurupan…” Apa rasanya? “Pahit!” jawab mereka setelah menenggak air minum banyak-banyak.

Salah satu pemain naga bercerita, sebelum melakukan tarian naga itu mereka memang harus menjalani ritual. Inti ritual itu sebenarnya mengharapkan kemudahan dan keringanan dalam mengangkat naga dan menggerak-gerakkan tubuhnya. Mengingat tubuh orang tidak mungkin mendadak jadi superkuat, saya rasa yang dimaksud adalah meminta bantuan makhluk halus untuk meringankan beban mengangkat naga itu. Nah, lantas mengapa jadi kesurupan? Para pemain pun tidak tahu jawabannya. Tapi mereka dengan patuh memakan kembang kantil agar tidak mengalami kejadian seperti temannya.

Ketika saya ajak berfoto bersama, mereka sangat girang. Langsung siap berfoto. Tapi mungkin gara-gara cerita tentang kesurupan tadi, ketika kepala naga didekatkan kepada saya untuk difoto, rasanya agak sedikit aneh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: