Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Menjajal Janjang Koto Gadang

Nama Danau Maninjau dan Kelok 44 baru masuk dalam radar saya ketika membaca buku Ahmad Fuadi, Negeri 5 Menara. Sementara sate Padang Mak Syukur baru menarik setelah mendengar Lagu Melayu-nya Pandji Pragiwaksono.

Sudah lama sebenarnya saya ingin ke Padang. Tapi keinginan yang kuat baru mulai timbul ketika kenalan orang Padang bertambah banyak. Dan mulailah, segala informasi tentang daerah tersebut menarik perhatian saya. Dan teman-teman inilah yang kemudian memberikan sejumlah list apa yang harus saya lihat dan makan di tempat ini. Termasuk memberikan kontak mobil sewa. Singkatnya, ada saja yang datang memberikan bantuan, informasi, dan kemudahan.

Alhamdulillah. Jadilah pada hari yang ditentukan saya mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau. Tidak mau membuang waktu, saya datang dengan penerbangan pertama dan langsung tancap gas menuju Bukittinggi, yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan bermobil.

Tujuan pertama saya: Janjang Koto Gadang. Diresmikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring tanggal 26 Januari lalu, Janjang Koto Gadang ini mirip Great Wall di China. Ujung bawahnya ada di Ngarai Sianok, sementara ujung atasnya di lereng Gunung Singgalang. Bayangkan betapa indahnya pemandangan yang terhampar di depan mata.

   

Jalur sepanjang kurang lebih 1 km itu cukup menguras tenaga dan menguji kebugaran tubuh. Pasalnya, kita harus  mendaki tanjakan yang cukup tinggi di beberapa tempat. Bagi yang membutuhkan istirahat, terdapat beberapa area  datar untuk memulihkan tenaga sekaligus menikmati pemandangan.

Tampaknya yang menjadi titik tengah Janjang adalah jembatan di atas ngarai. Dari atas jembatan kita dapat melihat pemandangan tepat di tengah ngarai, termasuk sungainya yang meliuk di antara dinding-dinding alam.

Demi keselamatan, batas maksimum orang yang melintasi jembatan itu adalah 10 orang setiap penyeberanga  Itu pun, kesepuluh orang tersebut tidak boleh bergerombol. Jadi  bagi yang ingin berfoto, bersiap-siaplah menggunakan timer.

Saya mendapat informasi bahwa kalau mulai dari Ngarai Sianok, tanjakan akhir di Koto Gadang cukup tinggi. Maka, saya mencoba jalur sebaliknya: turun di Koto Gadang dan naik di Ngarai Sianok. Ternyata? Kedua pilihan itu sama curamnya!

Bedanya, di Koto Gadang saya melangkah di anak tangga, sementara di Ngarai Sianok saya melangkah di jalanan biasa. Dengan demikian, meski sama-sama melelahkan, setidaknya ketika turun saya tidak khawatir terpeleset. Sesampainya di atas, napas sudah tersengal-sengal. Benar-benar perlu stamina yang oke buat menjelajahi Janjang ini.

Tetapi di ujung manapun perjalanan berakhir, selalu ada segerombolan penjual minuman. Segeralah mengganti energi yang terbuang dengan minum air kelapa muda. Dijamin, tubuh akan kembali segar dan siap berpetualang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: