Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Lobang Japang

Sasaran saya berikutnya di Bukittinggi adalah gua bawah tanah yang dibuat oleh tentara Jepang ketika menjajah Indonesia. Dengan membayar tiket masuk Rp5.000, kita akan dibawa menyusuri gua sepanjang 1.470 meter.

Membawa pemandu lebih disarankan, agar tidak tersesat di lorong-lorong yang semuanya sama persis itu. Agak horor saja rasanya kalau kita tersesat, apalagi dengan cerita mengenai banyaknya pekerja romusha yang tewas di sana. Pemandu biasanya akan menjelaskan bahwa ada biaya untuk organisasi sebesar Rp50.000, dan untuk si pemandu sendiri terserah kebijakan setiap tamu.

Dari pintu masuk, pengunjung harus menuruni 130 anak tangga menuju gua datar yang berada 40 meter di bawah permukaan dan 40 meter di atas dasar Ngarai Sianok. Jalan masuk ini dulunya hanya seukuran ban mobil, karena jalur ini sebenarnya merupakan lubang pengintaian, bukan pintu masuk.

Kalau diperhatikan, dinding gua tersebut bentuknya tidak rata, melainkan bergelombang. Hal ini memang sesuai dengan aslinya, dan berfungsi untuk meredam gema. Pada masa lalu, cekungan dinding itu banyak dihuni oleh kelelawar dan burung walet. Udara di dalam gua terasa sejuk dan tidak pengap.

Tepat di dasar anak tangga, terdapat jalur utama yang memiliki 6 lorong di sisi kanan. Jalur ini masih sama dengan bentuk aslinya, hanya saja dilapisi semprotan semen. Pemandu mengatakan, lapisan semen itu justru berbahaya karena tidak menyatu dengan tanah di sekitarnya. Ketika ada gempa bumi, misalnya, yang rontok adalah lapisan semen tersebut. Sementara struktur asli gua tetap utuh.

Konon, dulu di jalur utama ini terdapat lubang panjang yang berfungsi sebagai jebakan jika ada musuh yang berhasil masuk. Disebut jebakan karena dalam lubang panjang tersebut tentara Jepang menanam banyak bambu runcing. Musuh yang masuk ke sana bisa dipastikan akan berakhir riwayatnya.

Sementara keenam lorong di sisi kanan jalur utama itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata. Keenam lorong itu sama persis bentuknya. Ada satu lorong yang dibiarkan seperti aslinya, yaitu memiliki ketinggian yang minim–seukuran tubuh orang Jepang–sehingga kita harus berjalan membungkuk di dalamnya.

Jalur utama dulunya juga memiliki ketinggian yang sama. Tapi ketika dibuka sebagai tempat wisata tahun 1986, telah dilakukan penggalian sekitar 0,5 meter untuk membuat orang dapat berjalan tegak di dalamnya. Gua ini sendiri sebenarnya sudah ditemukan tahun 1946.

Ada banyak gua serupa di Bukittinggi, tapi hanya gua ini yang dijadikan objek wisata. Akibat banyaknya gua seperti ini, orang Bukittinggi tidak dapat membangun gedung lebih dari 10 tingkat. Konon, tentara Jepang memang berencana membuat semacam kota bawah tanah dengan menyatukan gua-gua tersebut. Tetapi pemboman Hiroshima dan Nagasaki menghapuskan rencana tersebut.

Di ujung jalur utama, pengunjung akan bertemu dengan jalur kedua yang posisinya melintang di ujung jalur utama. Sepanjang jalur kedua ini ada 15 lorong yang–lagi-lagi–memiliki bentuk serupa. Lorong terdekat di kanan dan kiri persimpangan tersebut adalah ruang makan para romusha. Ini diketahui dari banyaknya peralatan makan yang ditemukan di sana, meskipun dalam keadaan rusak karena terbuat dari bambu.

Lorong kedua di sebelah kiri merupakan ruang pertemuan tentara Jepang. Sementara kedua belas lorong lainnya adalah ruang tidur tentara. Di ujung paling kiri terdapat penjara untuk menghukum para romusha. Tepat di sebelah kanannya, ditemui ruangan penyiksaan.

Konon, di ruangan itulah tentara Jepang menganiaya pekerja romusha, dan jasadnya dibuang ke lubang kecil di sudut bawah dinding. Menurut pemandu, lubang itu berakhir di sungai nun jauh di dasar ngarai, sehingga jasad yang dibuang tidak dapat ditemukan orang.

Di ujung atas ruang penyiksaan itu terdapat lubang pengintaian lainnya. Kalau berdiri menempel di dinding, pengunjung dapat melihat seberkas cahaya yang masuk dari lubang tersebut. Konon tanah di lubang itu dibuat bertakik-takik seperti anak tangga, meskipun untuk naiknya pun tetap harus dalam posisi merayap.

Selain lubang pengintaian, tak jauh dari situ juga terdapat lubang penyergapan. Jadi, kalau ada penduduk yang terintai berkeliaran di sekitar gua, ia akan segera disergap dan dibunuh. Dengan cara itulah keberadaan gua tersebut tetap menjadi misteri bagi penduduk Bukittinggi.

Memang, dari ratusan pekerja romusha itu justru tidak ada yang berasal dari daerah sekitar. Penduduk sekitar pasti mengenal daerah ini dan keberadaan gua tersebut mungkin dengan mudah dapat segera diidentifikasi. Jadi, Jepang mendatangkan pekerja romusha dari Jawa dan Kalimantan.

Ujung keenam maupun kelima belas lorong tersebut terhubung lagi dengan jalur-jalur sekunder. Sehingga, setiap lorong pasti terkoneksi dengan lorong lainnya.

Membayangkan gua seluas itu dibangun oleh pekerja romusha, rasanya memilukan. Tentu mereka tidak bekerja dengan peralatan bagus. Bahkan sangat tradisional, kalau bukan dengan tangan mereka sendiri. Selain itu, makanan yang diberikan pun tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan.

Pada tahun 2001 kabarnya ada salah seorang pekerja romusha yang selamat dan datang kembali ke Bukittinggi. Dia mau menceritakan tentang gua tersebut dan ditemukan banyak kecocokan. Hanya saja, orang tersebut tidak mau diajak turun ke gua. Bukan perkara tubuhnya telah renta dan tidak mampu secara fisik–karena para pemandu yang bekerja di sana sudah bersedia menggotongnya menuruni gua. Alasannya lebih karena trauma akan penyiksaan yang diterimanya di sana.

Jalan keluar dari gua tersebut sebenarnya bisa tembus ke seberang jalan. Tetapi karena sudah sore dan jalan tersebut sudah ditutup, saya kembali melalui jalan masuk. Terbayang dong bagaimana rasanya mendaki 130 anak tangga? Setali tiga uang dengan menapaki great wall Koto Gadang, lah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: