Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Jalan Raya Padang-Bukittinggi

Meskipun perjalanan dari Padang ke Bukittinggi membutuhkan waktu selama kurang lebih dua jam, tidak berarti kita bisa tertidur di jalanan. Ada banyak pemberhentian dan kegiatan–termasuk berbelanja, tentunya– yang dapat dilakukan.

Pemberhentian pertama adalah air terjun Lembah Anai. Posisinya yang terletak di pinggir jalan memudahkan orang untuk menemukan tempat ini. Rasanya tidak ada yang lewat jalur ini tanpa berhenti sejenak dan berfoto di depan air terjun setinggi 50 meter ini. Apalagi dengan tiket masuk yang hanya Rp2.000. Siapalah yang tidak mau meng-update profile picture-nya dengan foto diri di depan kecantikan alam seperti ini?

    

Kawasan ini merupakan salah satu cagar alam di Sumatera Barat. Karena itu tidak heran jika di sekitarnya kita dapat menemukan kehijauan yang luar biasa indah. Benar-benar istirahat yang baik untuk mata yang lelah.

Pemberhentian kedua adalah Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Padang Panjang. Rumah gadang besar ini berfungsi layaknya museum: menyimpan segala informasi tentang Sumatera Barat. Di tempat ini kita dapat menyewa pakaian adat Minang dan berfoto di depan pelaminan atau rumah gadang. Biaya sewa pakaian adat hanya Rp25.000. Ada petugas yang akan membantu kita berpakaian. Jadi, tidak perlu khawatir akan bingung mengenakan pakaian yang tidak kita kenal.

Saya sudah sempat khawatir harus memakai hiasan kepala yang–katanya–berat sekali itu. Pasalnya teman saya yang menikah dengan adat Minang mengaku sakit kepala tingkat tinggi setelah memakai hiasan kepala tersebut selama sehari penuh.

Untungnya hiasan kepala yang disewakan sudah dimodifikasi. Selain ringan, pemakaiannya pun mudah. Seperti memakai bandana saja. Sedangkan pakaiannya memang berlapis-lapis, sehingga saya buru-buru berfoto dan melepaskannya kembali. Gerah!

Selesai berfoto, saya melaju ke Sate Mak Syukur. Memang rasanya lain dengan sate padang yang biasa saya makan di Jakarta! Bumbunya lebih terasa dan aroma cengkehnya sangat kental. Hmm…

         

Setelah mengisi perut, waktunya untuk berbelanja. Saya mampir di Pandai Sikek, tempatnya perajin tenun songket. Kalau sempat memperhatikan uang Rp5.000 zaman dahulu, di situ sudah tercantum gambar perajin tenun Pandai Sikek. Jadi, tempat ini sejak dulu memang sudah kesohor dengan tenunannya yang indah.

Seorang perajin bisa menghabiskan waktu hingga 3 bulan untuk menghasilkan selembar kain. Pekerjaan ini biasanya dikerjakan di rumah, dengan demikian anak perempuannya bisa belajar menenun sejak kecil. Cara inilah yang menjamin generasi penenun Pandai Sikek tetap ada dari masa ke masa.

Selembar kainnya bisa berharga jutaan rupiah. Mata yang jeli akan mampu membedakan mana yang tenunan tangan dan mana yang hasil kerja mesin. Harga tidak hanya ditentukan okeh penggunaan mesin atau tangan, tetapi juga motif dan banyaknya benang yang digunakan, serta jenis kainnya. Songket berbahan dasar kain sutra tentunya memiliki harga yang berbeda.

Meskipun daerah penghasil songket, kita juga bisa menemukan bahan bordir dan sulam di sini. Termasuk baju, mukena, tas, dan kopiah. Tentu, menawar adalah sebuah kewajiban, meskipun untuk karya yang dibuat dengan tangan rasanya tidak tega menawar terlalu rendah.

Sebelum masuk ke Bukittinggi, saya membelok sejenak ke Danau Maninjau dengan Kelok 44-nya. Dari arah ini, penghitungan kelok dimulai dari angka 44 hingga ke angka 1, kelokan pertama di dekat danau.

Dan memang, kelokannya sungguh-sungguh tajam! Beberapa bahkan bisa langsung berputar 180 derajat. Lumayan mengocok perut bagi orang-orang yang rentan mabuk perjalanan. Dan kebanyakan bukan turunan atau naikan yang landai…. Tak heran jika para peserta balap sepeda Tour de Singkarak menamainya ‘jalur neraka’!

Danau Maninjau sendiri ternyata agak sulit dinikmati. Sekelilingnya sudah dipenuhi  rumah dan toko. Hampir tidak ada ruang untuk duduk-duduk menikmati keindahan danau. Sebenarnya saya disarakan untuk mencoba ikan Rinuak, khas Danau Maninjau. Tetapi karena sulit mendapatkan tempat untuk berhenti, terpaksa saran tersebut saya lewatkan.

Terdapat tiga danau besar di Sumatera Barat: Maninjau, Singkarak, dan Kembar (lebih dikenal dengan nama Danau di Atas dan Danau di Bawah). Setiap danau menghasilkan ikan yang khas. Kalau di Maninjau ada ikan Rinuak, di Singkarak ada ikan Bilih.

Dari Maninjau ke Bukittinggi, kita kembali menghadapi kelokan-kelokan tajam…, kali ini dengan posisi yang menanjak! Hanya kelok 1 hingga 44 yang diberi tanda. Kelok lainnya? Tampaknya si pembuat sudah lelah atau terlalu mabuk untuk berhitung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: