Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Gundala Gawat

gundala_gawatRasanya sudah hampir dua tahun saya tidak menonton teater, apalagi tertawa puas dengan guyonannya Gandrik. Jadi, meskipun sekarang harga tiketnya naik berkali-kali lipat, saya rasa itu harga yang pantas dibayar. Siapa lagi yang mau menghargai karya bangsa sendiri kalau bukan kita?

Gundala adalah Flash-nya Indonesia, komik superhero yang dibuat pada masa saya masih kecil. Sayangnya, karena dari dulu bukan pembaca komik, saya tidak mengenal secara langsung bagaimana kiprah jagoan ini. Saya tidak bisa bilang menyukai atau tidak menyukai tokoh ini. Jadi, ketika menonton teaternya, saya tidak punya memori apapun yang bisa memengaruhi penilaian saya terhadap Gundala Gawat-nya Gandrik. Saya hanya tertawa puas melihat bagaimana para aktor itu berimprovisasi dan memasukkan humor–ada juga yang menganggapnya sebagai sindiran–terhadap keadaan saat ini. Apalagi, karena salah satu pemainnya juga bernama Soesilo… ^_^

Naskah Gandrik kali ini dibuat oleh Goenawan Muhammad. Pertama kali membaca hal ini di buku acara, saya sempat ragu. Pasalnya, saya pernah menonton Tan Malaka, yang dibuat oleh orang yang sama, dan tidak paham sama sekali mengenai jalan ceritanya. Katakanlah memang saya yang tidak mampu berpikir setinggi itu, rasanya sayang sekali kalau Gandrik–yang dikenal selalu membawa cerita yang membumi, sampai kehilangan kelebihan itu karena naskahnya yang ‘berat’. Untungnya seorang teman menjanjikan kepada saya, “Selama ada Butet dan Soesilo, naskahnya pasti mereka improvisasi…”

Dan, benar saja. Terbukti ketika pada suatu adegan Butet terlalu menjurus membicarakan kondisi negeri ini, Soesilo menanggapi dengan, “Yang ini nggak ada di naskah, saya nggak ikut-ikutan….” Kurang lebih seperti itulah kalimatnya. Dan, semua itu justru membuat lakonnya semakin hidup. Tidak salah memang menempatkan kedua orang itu sebagai pemain utama: Soesilo sebagai Gundala dan Butet sebagai Pak Petir–ayah Gundala.

Inti ceritanya sederhana saja, bahwa superhero itu juga manusia. Mereka tidak serba hebat dan luar biasa. Mereka punya kelemahan-kelemahan, yang bukan saja terkait oleh usia yang semakin senior. Superhero tetap bisa silau melihat harta, menjual diri demi kekuasaan, bahkan tidak berdaya ketika orang-orang yang dikasihinya dijadikan sandera. Pahlawan pun bisa melakukan kesalahan!

Sebenarnya ini tidak terlalu berbeda dengan pahlawan-pahlawan di Amerika, kok. Dan ini, menurut saya, juga akibat dari perubahan zaman. Captain Amerika, misalnya. Digambarkan sebagai pahlawan yang baik hati, tidak sombong, selalu menolong. Sebaliknya dengan Iron Man. Dia memang pahlawan, tapi sifatnya tidak selalu serba baik. Stark, orang di belakang Iron Man, adalah pengusaha kaya raya yang suka tampil dan memuji diri sendiri. Belum lagi emosinya yang sering meledak-ledak sampai dengan tebar pesonanya yang ampun-ampunan–memang ganteng, sih. Jadi, memang kita diajak untuk melihat pahlawan masa kini dari sudut pandang yang berbeda. Zaman sudah berubah!

Kembali ke Gandrik, yang segar dari dialog mereka antara lain adalah bagaimana mereka saling mengejek. Seperti ketika Butet, yang harusnya menjadi Petir, tiba-tiba membawakan dialog seperti layaknya Semar–sang tokoh punakawan. Soesilo langsung berkomentar, intinya: tidak pantas Butet jadi Semar, paling banter jadi anaknya Bagong. Bagong memang salah satu nama punakawan, tapi Bagong yang dilontarkan Soesilo sebenarnya ejekan terhadap Butet yang merupakan anak dari mendiang Bagong Kussudiardjo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: