Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Nonton David Foster!!

David Foster-PertaminaSetelah kehebohan membuat buku hanya dalam 4 hari, tampaknya institusi itu merasa perlu mengembalikan semangat kami. Salah satunya dengan mengirimkan undangan Malam Apresiasi dalam rangka ulang tahun mereka yang ke-55. Ketika undangan itu sampai di tangan, saya agak terkejut. Undangannya unik, seperti buku pop-up di salah penerbit dahulu (^_^). Jadi kalau undangannya dibuka, ada sebentuk pohon menyembul keluar. Uniknya lagi, di sudut kiri bawah undangan terdapat kantung yang berisi biji-bijian beserta cara untuk menanamnya.

Memasuki ballroom Ritz Carlton SCBD itu, yang pasti tiap tamu langsung diperiksa. Setiap bunyi alarm akan membawa petugas mendekat untuk memeriksa lebih lanjut. Menurut saya, ribet nggak sih? Setidaknya setiap cowok memakai ikat pinggang yang–pasti–ada logamnya, dan setiap cewek juga membawa sesuatu yang berlogam (^_^). Ya sutralah, yang penting sudah masuk.

Ketika registrasi, setiap tamu diberi gelang yang warnanya berbeda-beda. Sesuai perbedaan kelas, sepertinya. Sehingga nanti para protokol tahu harus mengarahkan tamunya ke mana. Saya dapat gelang kertas (di-bahasa Inggris-kan oleh panitianya jadinya bracelet 😛 ) warna hijau. Gelang lain warnanya–kalau nggak salah–ungu, pink, dan jingga. Kalau nggak malu sih saya memang pengen tanya, apa bedanya warna-warna itu….

Warna gelang menentukan–salah satunya–tempat makan. Tamu dengan gelang hijau diarahkan untuk makan malam di Nanny’s Pavillion, yang di Pacific Place bertemakan kamar mandi. Artinya, ada shower dan meja rias segala. Kata seorang teman, Nanny’s Pavillion yang di daerah Alam Sutera bertemakan gudang.. (-_-)

Tempat itu seperti sudah di-booked khusus untuk acara tersebut. Jadi, mereka tiddak menerima tamu dari luar. Selain itu, tamu acara pun hanya mendapat secarik kertas yang berisi dua pilihan menu. Tapi ajaibnya, meskipun menu yang harus disediakan sudah sesederhana itu, tetap saja pelayanannya sangat lama. Sehingga tetangga sebelah tidak sabar dan meminta piring kosong untuk share makanan dengan temannya. Tapi, makanannya memang enak, kok.

Menjelang pukul 20.00, tamu-tamu bergerak kembali ke arah ballroom. Sempat terjadi kebingungan karena ternyata sebagian boleh masuk dan sebagian belum. Tapi karena kebanyakan tamu tampaknya cukup patuh, mereka hanya bergerombol di depan pintu dan sedikit membuat macet orang yang lalu-lalang. Ternyata, di dalam sudah ada fashion show yang mempertunjukkan baju-baju Ramli. Saya baru tahu ketika beberapa menit kemudian diperbolehkan masuk ruangan, padahal acaranya sudah hampir selesai. Yaaaahhh…..

Nah, sekarang giliran beneran masuk ke ballroom. Tentunya dimulai dengan mereka yang menggunakan ‘gelang tingkat tinggi’ (^_^). Para tamu dengan gelang hijau masuk lewat ballroom 2 dan segera diarahkan ke bagiannya. Dalam hal ini protokolnya cukup oke. Selain ada orang-orang yang mengarahkan, di lantainya pun tertera dengan jelas warna-warna gelang. Untungnya, saya kebagian tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari panggung dan dapat di posisi tengah. Segaris lurus dengan pianonya David Foster (^_^).

Meskipun selama beberapa menit pertama kami disuguhi TVC korporasi penyelenggara dan berkesempatan menertawakan narator berbahasa Inggris yang menggunakan logat Jawa sekaligus Batak, semangat menonton David Foster tidak pudar. Terbukti, begitu siluet sang maestro tampak di tirai yang menutupi panggung, penonton langsung bersorak riuh.

David menggunakan ‘timeline’ keempat perkawinannya untuk menceritakan lagu-lagu apa saja yang pernah dibuatnya selama ini. Lucu juga menyimak bagaimana dia menghubungkan semua lagunya dengan ketiga mantan istrinya yang tinggal di berbagai daerah elit dan hidup dari royalti lagu-lagu romantis tersebut. Dan ia benar-benar entertainer sejati. David berkomunikasi langsung dengan penonton, bahkan menangkap basah salah satu penonton di baris terdepan yang ternyata…., ketiduran! Ia juga meminta penonton untuk bernyanyi. Dan ketika ada yang terpeleset salah satu nada, ia berujar, “I wanna show you that I’m a good producer…” Dan dia mengajari orang tersebut sampai mendapatkan nada yang pas untuk lagu I Will Always Love You-nya mendiang Whitney Houston. (^_^)

Di Indonesia, seorang pencipta lagu biasanya tidak banyak dikenal orang. Karena begitu lagunya dinyanyikan oleh orang lain, maka si penyanyilah yang akan mendapat nama. Hanya beberapa pencipta lagu saja yang dikenal, misalnya Yovie. Tapi saya paham kenapa David Foster, meskipun seorang pencipta lagu, tetapi sama dikenalnya dengan para penyanyi yang melambungkan lagu ciptaannya. Salah satunya, karena dia sendiri tampil di panggung, memainkan lagu ciptaannya dengan piano, meskipun ketika itu lagunya tidak dibawakan oleh penyanyi aslinya. Dan dia menciptakan cerita yang bagus dari setiap konsernya.

Penyanyi-penyanyi yang dibawanya pun bersuara indah. Termasuk salah satunya adalah penyanyi Indonesia, Anggun C. Sasmi. Sedikit terpeleset di lagunya Whitney Houston yang bernada-nada tinggi, tapi secara keseluruhan sih oke. Sejujurnya saya tidak kenal penyanyi-penyanyi lainnya, termasuk cewek seksi dari salah satu kelompok girl band yang duduk di pangkuan salah satu pejabat institusi pengundang. (^_^)

Jadi sebenarnya acara itu cuma berlangsung selama sekitar satu jam. Undangan dibuka dari jam 18.00 WIB untuk memberikan waktu makan malam dan antre masuk kembali ke dalam ballroom. Pulangnya, kami dapat goodie bag yang berisi: buku yang saya bantu bikin (ehem), buku esai foto instansi tersebut, juga perjalanan Ramli dan rancangannya. Ya, lumayanlah. (^_^)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: