Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Semalam di Pulau Macan

IMG_7923   Serba salah memang kalau berlibur di Kepulauan Seribu. Terlalu dekat dengan Jakarta, airnya masih tercemar–saya sudah berpengalaman di Pulau Bidadari, pasir yang terkontaminasi ‘memakan’ sandal karet saya. Tapi kalau pergi ke pulau-pulau yang lebih luar, perjalanannya pasti membuat saya mabuk laut. Jadi, harus ke mana? Akhirnya diputuskan pergi ke Pulau Macan Kecil–luasnya tak sampai 1 hektar dan terletak di bagian utara Kepulauan Seribu–sambil berdoa bahwa mabuk lautnya akan dapat saya tahan.

Tempatnya memang tidak mengecewakan. Pondok kami menghadap dan berada di pinggir laut. Ya, benar-benar di tepi laut. Bahkan ada ???????????????????????????????semacam dermaga kecil dengan tangga yang bisa dituruni menuju laut dangkal di sekitar pulau. Di siang hari, ketinggian airnya hanya semata kaki. Tapi paginya, ketika saya bangun sebelum pukul 6, airnya sudah setinggi pinggang.

Saya terkesan dengan konsep pondok ini. Tidak ada dinding, hanya ditutupi oleh kerai-kerai bambu yang dicat putih bersih di sekelilingnya. Jadi, kapanpun mau, kita tinggal menggulung tirai tersebut dan–voila!–pemandangan yang begitu indah terhampar di depan mata. Ada empat  kerai di sisi yang menghadap laut. Malam itu saya tidur dengan menggulung kedua tirai yang berada di depan tempat tidur. Jadi, sebelum mata terpejam, saya bisa menikmati indahnya laut dan kelip cahaya di pulau seberang. Siapa sangka hal eksklusif seperti ini bisa ditemui tak jauh dari Jakarta yang hingar-bingar?

Sekali waktu saya bisa melihat seekor elang melayang diam di langit. Hanya sesekali saja ia mengepakkan sayapnya. Setelah itu cukup melayang dengan anggun di langit yang biru cerah. Rasanya banyak hewan yang tadinya hanya ada di buku, sekarang benar-benar muncul di hadapan saya. Termasuk ubur-ubur dan bulu babi yang tersohor dengan duri beracunnya.

Kunjungan ubur-ubur sebenarnya telah terjadi sejak sore hari. Tapi karena yang datang adalah ubur-ubur berukuran kecil dan nyaris tak menarik perhatian karena warnanya yang transparan–selain karena saya masih mabuk laut akibat perjalanan dengan speed boat selama 1,5 jam–saya belum terlalu memperhatikan. Tapi pagi hari, yang berkunjung adalah ubur-ubur selebar–minimal–telapak tangan orang dewasa dengan payung  yang lebih tebal daripada agar-agar buatan Mama (ini kok contohnya domestik sekali…).  ???????????????????????????????

Dan, bukan hanya seekor. Pertama, yang menarik perhatian saya memang seekor ubur-ubur yang mendekati tangga dermaga pondok kami. Lalu, dia pergi dan datang yang lain. Tapi ketika saya menyusuri pinggir pantai, sudah banyak ubur-ubur yang terdampar di batu-batu karang akibat terbawa ombak. Kali ini selain ukurannya yang besar, ubur-ubur ini cenderung mudah dilihat karena berwana merah jambu. Ketika kami bermain kayak mengelilingi pulau, tampak jelas banyaknya ubur-ubur di air yang jernih itu.

Lalu, perkenalan saya dengan bulu babi dimulai sore hari, ketika kami memutuskan menyeberang ke pulau tetangga dengan berjalan kaki. Menurut petugasnya, ada jalur dangkal berpasir putih untuk menyeberang. Jalur itu kedalamannya hanya setinggi pinggang orang dewasa. Hanya saja, kita harus berhati-hati dengan ikan pari yang bersembunyi dan bulu babi.

Jadi, setelah melengkapi diri dengan sepatu khusus, kami melangkah di air dangkal. Ada beberapa bagian yang lebih dalam, tetapi secara umum masih bisa dilewati. Kami harus berjalan dengan menghentak-hemtakkan kaki untuk mengusir ikan pari yang mengubur diri di pasir. Alhamdulillah, sampai tiba di pulau seberang kami tidak bertemu ikan pari dengan sabetan ekornya yang menakutkan itu.

Tetapi, bulu babi lain lagi kisahnya. Di air yang jernih dan pasir putih, tampak jelas bulu babi yang bergerombol dengan duri-durinya yang mencuat tajam. Justru bulu babi yang berada di karang cenderung tidak mudah dilihat. Jadi, kami sengaja mengindari karang–meskipun setelah diperhatikan benar-benar ternyata banyak sekali koloni bulu babi di setiap karang. Iihh!!!

Sayangnya, ketika perjalanan kembali ke Pulau Macan, matahari sudah condong ke barat. Cahayanya tidak lagi mampu menerangi jalur yang harus kami ambil. Dan, kami juga ceroboh, mencari jalan terpendek dan bukannya melambung mengikuti jalur kedatangan. Akibatnya, kami berhadapan dengan bagian laut yang dalam dan tidak bisa diseberangi dengan berjalan kaki.

Saat itulah dua orang teman seperjalanan kami kebetulan juga sedang kembali ke pulau dengan kayak mereka. Lalu, mereka menawari tumpangan untuk melewati bagian dalam tersebut. Sepintas, ide ini cukup bagus, jadi kami segera naik. Satu kayak dinaiki dua orang. Saat itulah ‘musibah’ terjadi, satu demi satu….

Pertama, saya menenteng ponsel. Dan ketika naik ke kayak, saya memegang ponsel sekaligus berpegangan pada tepian kayak. Hasilnya, ponsel saya terendam air karena kayaknya otomatis masuk ke air ketika ketambahan beban. Dan, ponsel saya pun  langsung korslet berkepanjangan sampai saya tiba di pulau…

Kedua, saya dan teman yang membawa kayak ternyata sama-sama bukan orang yang mudah menjaga keseimbangan–selain karena inilah kali pertama saya naik kayak. Jadi, kayak kami oleng berat dan kami harus menurunkan kedua kaki di sisi kayak untuk menjaga keseimbangan. Ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan usaha yang superkeras–disertai doa dan keinginan yang superluhur untuk tidak terbalik dan nyemplung di laut..

Ketiga, kayak menjadi berat karena diisi dua orang, dan ternyata belum cukup pasang  sehingga kayak kami tersangkut di karang. Ketika berusaha melepaskan diri dari karang dengan menggunakan kaki sebagai pendorong, barulah kami sadar…., ada bulu babi di ???????????????????????????????mana-mana!

Semangat untuk segera sampai di pulau membuat kami sanggup melupakan rasa nyeri akibat bulu babi dan mendayung sekuat tenaga. Setelah sampai dan kayak diserahkan, barulah rasa nyeri itu kembali mendapat perhatian. Kami pikir, mungkin tempat tertusuk bulu babi itu harus sedikit disobek untuk mengeluarkan patahan duri di dalamnya. Ternyata, bukan begitu caranya. Petugas justru mengambil botol untuk memukuli luka tersebut!!!

Tujuan mereka adalah menghancurkan patahan tersebut agar kami tidak kesakitan. Sebenarnya, proses dipukuli dengan ada patahan duri di dalam daging saja sudah cukup menyakitkan. Tetapi bayangan bulu babi yang bisa mengakibatkan demam rasanya membuat kami rela dipukuli. Setelah bintik hitam itu membesar, yang berarti patahan bulu babinya sudah hancur, rasanya memang tak lagi menyakitkan. Dan, menurut petugasnya, tidak akan menyebabkan demam.

Sebenarnya saya sudah kapok masuk air. Tapi keesokan harinya, berdalih ‘kapan lagi kita main kayak’ akhirnya saya menyeberang lagi ke pulau kecil kemarin. Kali ini dengan kayak, bukan jalan kaki. Untungnya, sejak pagi airnya cukup tinggi sehingga karang dan bulu babinya cukup jauh terendam di bawah sana. Meskipun begitu, setiap mendekati karang, saya trauma dan berusaha mengarahkan kayak untuk tidak melewati bagian atasnya.  ???????????????????????????????

Kami jalan ke pulau dan kembali dengan selamat, meskipun saat kembali kami harus sedikit ditolong karena tidak kuat lagi mendayung melawan arus. Meskipun tidak kena bulu babi, perjalanan laut siang itu diwarnai oleh serangan ubur-ubur kecil di sekujur kaki yang terendam air. Saya tidak terlalu kaget dengan ini karena ketika snorkeling di Lombok sudah pernah merasakan asiknya disengat ubur-ubur kecil… Gatal dan pedasnya terasa aduhai…

Tidur dan bangun dengan debur ombak di bibir pantai, melihat matahari terbenam dan terbit di ujung batas pandangan kita, didekati ubur-ubur, bahkan mengalami juga yang namanya tertusuk bulu babi adalah pengalaman yang sangat berkesan. Kalau telalu lama tinggal di kota, apalagi sebesar Jakarta, kita mungkin tidak menyadai ada alam yang seindah ini. Bersyukurlah saya pernah sampai di sana dengan segala kehebohannya. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: