Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Kebakaran dan Superman

Lidah api bergerak-gerak menjilati langit malam yang kian kelam. Udara panas diterbangkan angin sementara asap tebal bergulung-gulung ke langit. Jarak saya hanya 800 meter dari tempat kejadian. Saya memandangi asap, melihat ke mana angin bertiup. Yang artinya juga, ke mana api akan merambat.

Dari laporan orang-orang yang melihat ke tempat kejadian, lokasinya sangat rapat dan tidak dapat dimasuki pemadam kebakaran. Air sungai di dekatnya pun sedang surut dalam kemarau panjang ini. Tak mungkin dapat digunakan untuk memadamkan api. Saya melihat seorang polisi mendekati tuan rumah tempat saya bertamu, “Yah, kita berdoa saja supaya apinya tidak menjalar ke sini. Tidak ada yang bisa dilakukan, kita hanya menunggu…”

Sedemikian pasrahkah kita menghadapi semua itu? Saya teringat cerita-cerita masa kecil saya: ketika terjadi kebakaran, orang berduyun-duyun membantu. Membentuk barisan hingga ke sungai dan mengoper berember-ember air demi memadamkan api sebelum menjalar ke tetangga.

Atau, salah satu cerita Superman. Ketika sebuah pabrik besar terbakar, apinya terlalu ganas untuk dipadamkan. Semua orang hanya mampu menonton. Pemadam kebakaran tak putus berusaha menghentikan kobaran api, tapi sepertinya tak berhasil. Ketika semua orang putus asa, Superman datang. Ia meniup air di danau terdekat hingga membeku, lalu mengangkat dan menerbangkannya ke arah pabrik tersebut. Tepat di atas lokasi yang membara itu, sang jagoan menjatuhkan bekuan air tersebut hingga menjadi tetes-tetes hujan yang kemudian memadamkan api.

Ya, jagoan. Superhero (bukan superbejo). Sosok ini muncul ketika ada kondisi yang tidak mampu ditangani dan diselesaikan oleh orang-orang biasa. Kondisi tersebut membutuhkan orang-orang yang luar biasa, yang memiliki kekuatan super. Separuh berharap saya melihat Superman terbang di langit kota saya malam itu, membantu memadamkan api di lapak-lapak pemulung yang tak terjangkau pemadam kebakaran.

Superman adalah harapan. Titik terang untuk menyelesaikan masalah, seperti yang dihadapi pemilik lapak yang kebakaran tersebut. Mengapa kita tidak dapat mengandalkan bantuan orang biasa? Mengapa harus Superman?

Pertama, mungkin yang harus dipertanyakan adalah tingkat kepedulian masyarakat. Apakah masih ada kepedulian untuk membantu orang yang terkena musibah seperti di buku-buku pendidikan moral zaman dahulu? Ataukah orang sudah masa bodoh dengan sesamanya? Dalam hal kebakaran, mungkin pilihan ini tidak berlaku. Kalau tetangga tidak membantu kita memadamkan api, kemungkinannya 50:50 bahwa rumahnyalah yang mendapat giliran berikut dijilat api.

Jadi, orang lain pasti berusaha membantu memadamkan api. Hanya saja, apakah tindakan tersebut benar-benar bantuan atau hanya salah satu cara untuk menyelamatkan diri dan harta bendanya, hanya orang tersebut dan Tuhan yang mengetahui…

Kedua, pemadam kebakaran tidak bisa mencapai tempat tersebut karena jalannya terlalu kecil, bahkan untuk kendaraan biasa yang tidak sebesar mobil pemadam. Ya, mengapa ada jalan sekecil itu (hanya bisa dilalui motor) di kota sebesar ini? Yang jelas, tata kota ini kacau balau. Ibaratanya, nggak bisa lihat tanah nganggur, bikin rumah, bikin mal, bikin gedung. Semua ini dilakukan tanpa berpikir panjang; bagaimana jalan masuknya, bagaimana parkirnya, bagaimana kemungkinan macet yang ditimbulkan, dan bagaimana-bagaimana lainnya.

Ke mana para ahli tata kota yang telah diluluskan berbagai perguruan tinggi hebat negeri ini? Apakah mereka semua, tak satupun, yang tidak bertekuk lutut di hadapan uang? Saya kok meragukannya.

Ketiga, penanggulangan bencana yang tidak tertata. Mengapa saya katakan tidak tertata? Kalau sudah tahu wilayahnya banyak jalan sekecil itu, mengapa pemadam kebakaran tidak menyiapkan peralatan untuk menjangkau daerah-daerah itu? Tidak ada dana, katanya. Ini juga alasan yang mustahil. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta tahun 2012 besarnya Rp 36 triliun, naik hampir 13,5% dari anggaran tahun sebelumnya.

Saya bukan ahli ekonomi, memang. Tapi apakah benar uang sebanyak itu tidak bisa dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan pemadam kebaran yang notabene untuk menyelamatkan warga dari bencana. Masyarakat sudah harus membayar sendiri untuk kesehatan, untuk sekolah, mengapa tidak bisa menghapkan bantuan dari pemerintah ketika terjadi musibah? Toh, tidak ada orang yang suka rela mengajukan diri untuk mendapat musibah. Adalah tugas pemerintah (daerah maupun pusat, sama saja) untuk melindungi warganya, bukan?

Pendek kata dalam kasus di atas, selain diri kita ada tetangga, lebih luas lagi ada petugas pemadam kebakaran, dan lebih luas lagi ada pemerintah daerah. Dan, di antara semua itu tidak ada yang diharapkan bisa membantu kita.

Tampaknya memang kita membutuhkan Superman (dan dengan demikian berarti kita masih sanggup berharap).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: