Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Selamat Tinggal, Kopi!

Waktu menunjukkan pukul 3 sore dan pekerjaan Anda masih banyak. Tetapi, entah mengapa mata Anda sulit diajak kompromi. Terasa begitu berat dan Anda mungkin membayangkan nikmatnya bisa memejamkan mata selama 10-15 menit. Sayangnya, mana mungkin tidur siang di kantor?

Familiar dengan cerita ini? Ya, hal seperti ini memang sering kita alami. Ada yang menyalahkan makan siang sebagai penyebabnya. Katanya, otot perut yang melar setelah terisi makan siang ‘menarik’ otot kelopak mata untuk menutup. Tentu saja, itu hanya gurauan. Tetapi, di antara pukul dua siang hingga lima sore memang banyak orang mengalami penurunan energi, sehingga terciptalah budaya tidur siang di berbagai negara.

Sayangnya, saat ini hal tersebut cenderung dianggap sebagai penurunan produktivitas, alih-alih sesuatu yang alami. Para ahli kronobiologi, yaitu ilmuwan yang mempelajari ritme biologis tubuh, menyimpulkan bahwa hal ini terjadi akibat jam tubuh kita.

Terletak di bagian otak yang disebut hipotalamus, jam tubuh mengatur fungsi vital tubuh kita, termasuk denyut jantung, produksi hormon, juga tekanan darah. Dalam kaitannya dengan dorongan untuk tidur, hal ini menimbulkan penurunan tingkat kewaspadaan manusia di sore hari. Demikian pernyataan para ahli dari departemen psikiatri Universitas Pennsylvania.

Ahli lain menyebutkan bahwa hal ini terkait langsung dengan suhu tubuh yang juga dikontrol oleh hipotalamus. Artinya, jika suhu tubuh meningkat, maka kemampuan mental dan kognitif kita pun semakin tinggi. Sebaliknya, jika suhu tubuh kita menurun, maka demikian pulalah kondisi mental dan kemampuan kognitif kita.

Masalahnya, kenaikan suhu tubuh cenderung tejadi pada pagi hari, mencapai puncaknya di siang hari, kemudian menurun di sore hari hingga akhirnya kita terlelap di malam hari. Ingat saja betapa sulitnya hari-hari yang Anda lalui setelah bepergian melintasi zona waktu. Tubuh sudah meminta istirahat sementara hari masih terang.

Baik karena suhu tubuh maupun jam tubuh, tentunya ada cara yang dapat kita lakukan untuk menyiasati hal ini. Cara paling mudah dan paling umum dilakukan adalah meminum cafein, biasanya dalam bentuk kopi. Tetapi, tahukah Anda bahwa ada strategi yang lebih baik untuk mengatasi hal ini?

Langkah pertama adalah memperhatikan waktu tidur malam Anda. Apakah Anda cukup tidur delapan jam setiap malam? Apakah kualitas tidur Anda cukup baik? Mungkin saja Anda bisa tidur delapan jam setiap malam tetapi kerap terbangun karena mimpi buruk atau hal-hal lain. Menurut Michael Smolensky, direktur Pusat Kronobiologi dan Kronoterapi Rumah Sakit Memorial Hermann di Houston, gabungan antara kecenderungan jam biologis dengan kurangnya waktu tidur setiap hari dapat mengakibatkan penurunan kewaspadaan yang cukup besar di sore hari.

Selain tidur, urusan makanan pun perlu diperhatikan. Mengonsumsi makanan bergizi dalam porsi kecil dapat memerangi rasa lelah di sore hari. Oleh karena itu, jangan meremehkan pentingnya sarapan di pagi hari. Menurut Ekizabeth Somer, penulis buku Food & Mood: The Complete Guide to Eating Well and Feeling Your Best, berdasarkan survei pada orang-orang yang merasa lelah di sore hari, sembilan dari sepuluh orang menyatakan bahwa mereka tidak makan pagi. Alih-alih mengonsumsi banyak karbohidrat saat makan siang, ia menyarankan agar kita mengonsumsi campuran makanan kaya protein dan karbohidrat untuk memaksimalkan energi.

Setelah makan siang, ada baiknya Anda menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di luar ruangan selama beberapa saat. Olahraga telah diketahui dapat meningkatkan energi dan membuat kita lebih bertenaga. Sementara itu, paparan sinar matahari ternyata juga dapat meningkatkan kewaspadaan seseorang.

Lalu, masihkah perlu minum kopi? Para ahli menyimpulkan bahwa kafein dalam kopi hanya menjadi pemicu sementara. Bahkan, biasanya malah mengakibatkan penurunan tenaga yang lebih tajam. Anda sebaiknya mengonsumsi camilan dengan kandungan karbohidrat yang tidak terlalu tinggi, seperti biskuit gandum dengan keju atau sumber protein lainnya.

Jika memungkinkan, ada baiknya menyesuaikan pekerjaan dengan tingkat energi Anda. Lakukan tugas-tugas yang menantang di pagi hari. Sisakan sore hari Anda untuk pekerjaan yang menarik tetapi tidak terlalu menuntut energi dan kewaspadaan Anda. Kalau perlu, jadwalkan sore hari Anda untuk berdiskusi dengan orang-orang yang Anda yakini dapat mendorong kembali semangat dan tenaga Anda. Nah, tidak perlu kopi lagi, bukan?

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: