Amanda Setiorini

Amanda.my.id

香港迪士尼樂園,最後!!

Sebagai penggemar berat Disney, khususnya karakter Mickey Mouse dan Cinderella, rasanya tidak ada yang lebih saya inginkan daripada berkunjung ke Disneyland. Jadi, ketika kesempatan itu akhirnya datang ketika usia sudah kepala tiga, saya tetap tidak ragu untuk mengambilnya…

Pilihan saya jatuh ke Hong Kong Disneyland. Alasan pertama, untuk berkunjung ke negara itu saya tidak perlu visa. Itu pun sudah menghabiskan sekitar Rp 10 juta untuk akomodasi. Well, seperti prinsip saya, buat apa bekerja keras kalau toh akhirnya tidak bisa bersenang-senang. 😀 Jadi, hasil kerja keras selama setahun saya nikmati di Hong Kong Disneyland, Desember 2011, sekaligus menginap di Disney Hollywood Hotel. Pokoknya, nggak tanggung-tanggung!

Alasan kedua, itulah Disneyland terdekat yang saya tahu. Saya tidak siap dengan penerbangan belasan jam ke Amerika untuk mengunjungi Disneyland yang dibangun langsung oleh Walt Disney. Saya cuma punya waktu 5 hari cuti, itu sudah termasuk waktu memulihkan diri dari segala tetek-bengek urusan perjalanan.

Saya berangkat hari Senin dengan Garuda Indonesia langsung menuju Hong Kong. Sayangnya, cuaca sedang tidak bersahabat sehingga dalam perjalanan ke sana saya justru mabuk udara hingga muntah-muntah. Hmmm, benar-benar awal liburan yang kurang menyenangkan. Seperti biasa, muntah adalah musuh saya yang bisa merusak segala suasana menyenangkan.

Kowloon yang Dingin

Setelah terbang selama 4 jam, saya mendarat di Hong Kong International Airport dan langsung mencari MTR (Mass Transit Railway) menuju China daratan. Ya, yang disebut Hong Kong memang terletak di tiga pulau yang berbeda: Pulau Lantau, Pulau Hong Kong, dan China daratan bagian selatan. Malam itu saya berencana menginap di Tsim Sha Tsui, Kowloon.

Dari bandara, saya naik MTR Airport Express langsung ke daerah Kowloon. Karena dari bandara, tarifnya agak lebih mahal dibandingkan MTR lainnya, sekitar HKD70 per orang. Tapi, memang super cepat. Hanya ada beberapa stasiun tempatnya berhenti setelah bandara: Tsing Yi, Kowloon, dan Hong Kong.

Saya disarankan turun di Kowloon, bukan Hong Kong, karena di sana terdapat shuttle bus menuju tempat saya menginap, yaitu Chungking Mansion (http://en.wikipedia.org/wiki/Chungking_Mansions), di Nathan Road. Dengan bahasa Inggris yang separuh-separuh saya pahami, petugas di stasiun Kowloon menunjukkan lajur shuttle bus nomor K3. Sayangnya, bus tersebut sudah jalan. Jadi, saya berencana menunggu di dekat tempat bus tadi berhenti.

Tiba-tiba seorang pria berteriak-teriak. Rupanya saya tidak boleh menunggu di pinggir jalur bus. Saya diminta masuk dan menunggu di ruang tunggu. Saya mesem-mesem saja. Mungkin di dalam hatinya petugas tersebut sudah menduga, saya pasti dari Indonesia.

Tidak berapa lama, bus K3 yang baru pun datang. Supirnya sudah turun, mungkin ia berpikir akan menunggu sejenak. Tetapi, begitu melihat saya dan beberapa orang masuk, meskipun belum terlalu penuh, bus tersebut segera melaju. Ternyata, di sini tidak ada istilah ngetem, ya… 😀

Kalau saya bilang melaju, bus ini benar-benar berjalan dengan cepat. Sampai penumpangnya harus berpegangan kalau tidak ingin bernasib sama seperti koper-koper di bagian depan, terlempar keluar dari tempatnya. Didukung oleh tidak adanya kemacetan di tempat ini, dalam beberapa menit saja saya sudah sampai di pemberhentian pertama.

Dengan menggelindingkan koper, saya menyusuri Mody Road lalu ke Nathan Road, mencari penginapan yang sudah saya pesan. Dalam hati, saya sudah bersiap-siap dikira orang mau pindahan karena membawa koper besar di jalanan. Tapi, ternyata banyak orang melakukan hal yang sama. Di Hong Kong, menggeret-geret koper besar di pinggir jalan bukanlah hal yang aneh. Apalagi, tidak akan ada orang yang nyeletuk, “Habis dieliminasi, ya?” 😀 Pedestriannya pun ramah untuk mereka yang membawa koper dan penyandang cacat. Selalu ada turunan untuk memudahkan perjalanan kursi roda (dan karena itu menggeret koper pun tidak menjadi masalah) dan ada petunjuk timbul untuk penyandang tunanetra.

Di depan Chungking Mansion, saya sedikit terhenyak. Memang saya tidak memilih hotel yang bagus. Yang saya pesan adalah Las Vegas Hostel dengan tarif HKD400. Tapi saya tidak menyangka bahwa bagian bawahnya adalah pertokoan. Lebih mirip pasar, malah (terlintas di pikiran saya Pasar Tebet Barat…). Well, karena sudah berada di sana, saya melangkahkan masuk ke tower C, menuju lantai 12.

Alamak, sesak sekali pertokoan ini. Saya harus mengantre untuk masuk lift yang ternyata super kecil. Jelas saja antreannya lumayan panjang. Dengan bersusah payah, sampailah saya di lantai 12 lalu mendaftar ke resepsionis.

Tempat resepsionis ini tambah mencurigakan. Semua serba sempit. Memang benar, nama saya sudah terdaftar, dan saya membayar dengan kartu kredit (di sinilah saya tahu dari mana asalnya ada biaya administrasi sebesar 3%). Dan, ini yang lebih konyol. Saya diantar ke tower A.

Jadi, penginapan yang saya pesan di tower C itu tampaknya sudah penuh. Dan, Chunking Mansion terdiri dari beberapa tower yang sebagian besar merupakan hostel. Sepertinya, kalau di satu tempat penuh, tamu bisa dioper ke tempat lain. Saya pun mengantre lagi di lift tower A, untuk naik ke lantai 11.

Si pengantar rasanya tidak lebih pintar daripada saya. Berkali-kali dia nyasar. Atau, mungkin dia orang baru sehingga belum hapal dengan banyaknya hostel dalam satu tower. Di lantai 11 tower A itu saja ada setidaknya 2 hostel. Saya akhirnya ditempatkan di Fortunate Hostel.

Penjaga di Fortunate terheran-heran karena mendadak ada tamu. Walah, bagaimana ini komunikasinya? Tapi, untungnya dia tidak menyuruh saya kembali ke tower C untuk menanyakan ke resepsionis pertama. Dia langsung memberikan saya kunci kamar.

Di sinilah kejutan berikutnya: kamarnya hanya ukuran 2×3 meter. Begitu pintu terbuka, saya berhadapan dengan pintu kamar mandi, dan di sebelah kirinya langsung kasur (ukuran queen) yang menempel rapat ke jendela dan dinding. Nah lho! Sebenarnya ukuran ruang tidak menjadi masalah. Toh saya juga hanya numpang tidur. Setelah saya cek, air panas menyala dengan baik. Artinya, saya tidak akan kedinginan untuk mandi. Hanya saja, ternyata di sana tidak ada pemanas ruangan….

Usai mandi, saya berjalan-jalan untuk mencari makan malam. Saya menyusuri Nathan Road menuju selatan. Ketika berjalan-jalan itulah saya baru merasakan dingin yang sangat menggigit. Mungkin beginilah yang dimaksud dengan ‘dingin menusuk tulang’. Dan, saya hanya berbekal jaket tipis yang biasa saya kenakan di Bandung atau Puncak sementara orang lain berjaket tebal lengkap dengan bulu-bulu. Entah mengapa melihat orang lain well-prepared seperti itu saya jadi merasa tambah dingin. Brr!

Saya berjalan hingga Avenue of Star, semacam wall of fame yang memuat cap tangan para bintang film China. Avenue of Star terletak di tepi selat yang memisahkan China daratan dengan Pulau Hong Kong. Saya menghabiskan waktu dengan memotret pemandangan gedung dan lampu-lampunya yang cantik di pulau seberang, sambil menggigiti cumi bakar yang dengan cepat terasa dingin.

Beberapa bintang film China yang saya kenal juga diabadikan di Avenue of Star, termasuk Bruce Lee dan Jackie Chan. Cukup banyak juga orang yang mengantre untuk berfoto dengan cap telapak tangan mereka. Enak juga jadi orang terkenal, bahkan cap telapak tangannya pun diminati banyak orang! 😀

Karena tidak kuat dengan udara dingin, saya tidak berlama-lama di sana. Saya berjalan kaki kembali ke hotel melalui Mody Road dan mendapati sebuah restoran kecil yang menjual mie. Saya cukup lega karena di tempat tersebut saya bisa memilih isinya sendiri, jadi tidak perlu risau dengan daging babi. Berjalan memang lumayan menghangatkan tubuh, tapi tanpa penutup wajah seperti saya sekarang, yang ada hidung saya terasa nyeri dan ngilu karena dingin. Dan, semangkuk mie dengan hot lemon tea benar-benar melegakan.

Saya kembali ke hotel dan menghabiskan malam dengan rasa dingin yang sepertinya dapat menembus selimut serta baju tidur saya. Saya baru ingat bahwa 2 malam ke depan saya sudah memesan kamar di tempat serupa. Malam itu juga saya bertekad membatalkan pesanan tersebut, berapa pun biaya yang harus saya bayar. 😀

Jalur khusus ke Disneyland!

Waktu di Hong Kong satu jam lebih cepat dibandingkan waktu di Jakarta. Ketika saya bangun keesokan paginya, matahari sudah cukup terang, tetapi udara dingin masih terasa. Ditambah lagi, hotel-hotel di sini sepertinya tidak menyiapkan makan pagi. Saya sarapan roti yang semalam saya beli di 7-Eleven yang terletak di persimpangan Nathan Road dan Mody Road. Lumayan! Saya pun bersiap-siap menuju Disneyland.

Kembali saya menggeret koper, kali ini menuju Stasiun MTR Tsim Sha Tsui. Dari stasiun ini saya perlu berpindah 3 jalur MTR. Saya naik di Tsim Sha Tsui menuju Central, berpindah ke Hong Kong menuju Sunny Bay, lalu yang terakhir jalur khusus dari Sunny Bay menuju Disneyland Resort. Meskipun harus pindah-pindah seperti ini, saya tidak merasa kerepotan. Semua jalur berada di bawah tanah dengan ruangan ber-AC dan pusat perbelanjaan.  Petunjuknya pun jelas, termasuk bagi orang asing dan tunanetra. Jalanannya pun terasa lega, teratur, di beberapa tempat disediakan ban berjalan. Pokoknya, suasananya benar-benar menyenangkan dan mendukung.

MTR jalur khusus ke Disneyland yang berada di Pulau Lantau memang disediakan untuk memanjakan pengunjung Disneyland. Bayangkan saja, secara fisik desain keretanya sudah berbeda dibandingkan kereta di jalur lain. Jendela MTR di jalur ini berbentuk kepala Mickey Mouse, demikian pula pegangan bagi penumpang yang berdiri di dalam kereta. Dalam setiap gerbong setidaknya ada empat patung karakter Disney. Kali itu saya bersebelahan dengan Snow White dan di depan saya terdapat patung Donald Duck. Suasananya sudah dibuat sangat Disneyland!

Sesampainya di stasiun MTR Disneyland, mata dipuaskan dengan semua hal tentang Disney. Mulai dari jenis huruf, gambar kepala Mickey Mouse di setiap tempat, termasuk gambar topi Fantasia yang dipakai Mickey. Semua begitu nyata sampai-sampai saya berucap, “Akhirnya sampai juga di Disneyland!” Ini juga sekaligus sebagai penjelasan resmi dari judul beraksara Mandarin di atas.

Stasiun ini langsung berhadapan dengan jalan masuk ke Disneyland. Jadi, begitu kaki melangkah keluar stasiun, di depan saya berdiri gerbang Disneyland. Sayang, saya belum bisa masuk ke sana. Saya harus check in dan menyimpan koper besar ini di hotel. Untungnya disediakan shuttle bus sehingga saya tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana bolak-balik dari hotel ke Disneyland.

Shuttle bus-nya pun dilengkapi dengan gambar-gambar Disney. Demikian pula hotelnya, mulai dari pintu masuk hingga kamar. Meskipun saya harus menunggu sekitar 30 menit sebelum bisa masuk kamar, tapi mata ini sudah terpuaskan dengan berbagai desain khas Disney. Oya, waktu check in di Hong Kong ternyata pukul 15.00 sementara check out-nya bervariasi antara pukul 11.00-12.00. Tidak perlu berlama-lama di kamar, setelah bisa check in saya segera kembali ke Disneyland.

Ternyata gerbang yang tadi saya lihat di depan stasiun MTR masih berupa gerbang awal. Setelah jalan beberapa ratus meter, saya mendapati air mancur yang dikelilingi tokoh-tokoh Disney. Tidak jauh dari situ terdapat pintu masuk dengan antrean yang cukup panjang. Padahal ini belum waktunya libur akhir tahun! Ketika masuk, saya harus menyerahkan tiket dan memindai salah satu jari tangan.

Suasana Natal sudah mulai diudarakan. Mistletoe, pohon Natal, permen tongkat merah-putih, dan kado-kado…. Saya membuka peta yang diberikan pihak hotel dan memutuskan untuk mencoba Hong Kong Disneyland Railroad pada kesempatan pertama. Ini adalah kereta dengan gerbong terbuka yang mengitari Hong Kong Disneyland. Pemberhentian pertama di bagian depan, dekat pintu masuk. Pemberhentian kedua di bagian belakang, di area Fantasyland. Jadi, pengunjung bisa naik dari depan maupun belakang Disneyland.

Sayangnya, kereta ini ternyata tidak menjanjikan pemandangan menyeluruh dari Disneyland karena berada di sebelah luar jalur pepohonan. Hanya beberapa bagian saja yang bisa diintip sepanjang perjalanan. Tampaknya kereta ini hanya untuk mempermudah pengunjung dari bagian depan yang ingin ke belakang atau sebaliknya, supaya tidak terlalu lelah berjalan. 😀

Lima Area Disneyland

Pada dasarnya Hong Kong Disneyland terdiri dari lima bagian. Bagian pertama adalah Main Street, USA. Di jalan utama ini terdapat berbagai toko yang menjual permen, roti, kue, cinderamata. Juga terdapat bangunan Animation Academy, Art of Animation, Magic Access Member Service Center, dan City Hall yang berfungsi sebagai tempat informasi. Di alun-alun tengahnya biasanya ada tokoh Disney yang bisa diajak berfoto. Kali itu saya melihat Mickey dan Minnie dalam pakaian Natal. Tapi antrenya itu, lho…

Saya memutuskan untuk masuk ke Art of Animation dan melihat bagaimana gambar-gambar Disney yang luar biasa itu dibuat, mulai dari sketsanya hingga patung yang digerakkan. Oya, sebelumnya saya mengunjungi kios di dekat pintu keluar yang menjual berbagai pernak-pernik. Saya membeli bando yang dilengkapi dengan telinga Mickey dan topi sihir Fantasia. Dengan benda inilah saya berfoto selama 2 hari di Disneyland.

Saya sedang berada di toko souvenir ketika diberi tahu bahwa parade sudah hampir sampai. Meskipun tidak tahu parade apa yang dimaksud, saya bergegas ke luar dan mendapati tepi jalan sudah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat parade.

Ya, setiap jam 15.30 para tokoh Disney itu berparade. Kali ini dengan kostum Natal. Pada kereta paling depan, tentu saja idola saya, Mickey Mouse. Jadi, walaupun tidak bisa cukup dekat, saya bisa berfoto dengan Mickey Mouse yang sedang melambai-lambaikan tangan sebagai latar belakang.

Area kedua yang saya jelajahi adalah Tomorrowland. Mungkin area ini ditujukan bagi anak laki-laki, karena banyaknya permainan fisik dan maskulin. Ada Space Mountain, Stitch Encounter, Orbitron, UFO Zone, Autopia, dan Buzz Lightyear Astro Blasters. Space Mountain tampaknya sejenis roller coster dan saya tidak berminat memasukinya, karena yang di Dunia Fantasi saja sudah membuat saya mual-mual. Di wahana Stitch Encounter kita bisa berinteraksi dengan Stitch, tokoh dalam film Lilo & Stitch, yang sedang berada di pesawat luar angkasa. Uniknya, dalam permainan ini interaksinya sangat rapih. Misalnya, Stitch mengatakan bahwa dia seperti mengenal penonton yang duduk di baris kesekian nomor sekian. Stitch kemudian menanyakan namanya, kemudian menanyakan siapa orang yang duduk di sebelahnya. Dan mereka pun bercakap-cakap!

Sementara Autopia adalah permainan menyetir mobil mengikuti lajur yang sudah disediakan. Sebenarnya wahana ini agak mengecewakan karena saya mendatanginya 2 kali dan dikatakan bahwa saya harus menunggu selama 45 menit. Ternyata, yang dimaksud dengan menunggu selama 45 menit itu bukan berarti 45 menit lagi atraksinya baru dimulai. Tetapi kalau saya masuk ke dalam jalur antrean, kemungkinan saya harus menunggu giliran selama 45 menit! Tahu begitu, dari hari pertama saya sudah mengantre…

Dalam Buzz Lightyear Astro Blasters, kita membantu Buzz menembaki alien. Cukup menyenangkan! Cuma saya agak kurang bersahabat dengan senjatanya. Seberapa pun tepatnya saya mengarahkan ke sasaran, kok ya alien-nya nggak ada yang tertembak… Walhasil skor saya di akhir permainan hanya di bawah 1500. Skor demikian hanya digolongkan sebagai penjelajah luar angkasa saja.

Permainan lain di area ini adalah UFO Zone yang terdiri dari robot-robot penyemprot air dan Orbitron yang lebih mirip komidi putar. Keduanya tampak lebih cocok untuk anak-anak yang lebih kecil. Saya sendiri kurang berminat basah-basahan karena membawa kamera SLR.

Fantasyland adalah area ketiga, yang sepertinya lebih cocok untuk anak perempuan. Di sini bisa ditemukan Sleeping Beauty Castle, Mickey’s PhilharMagic, Dumbo the Flying Elephant, Cinderella Carousel, Fantasyland Train Station, Fantasy Gardens, Mad Hatter Tea Cups, It’s a Small World, The Golden Mickeys, The Many Adventures of Winnie the Pooh, dan Snow White Grotto. Dumbo the Flying Elephant, Cinderella Carousel, dan Mad Hatter Tea Cups adalah sejenis komidi putar dengan berbagai bentuk, Fantasyland Train Station adalah salah satu dari dua stasiun kereta seperti yang saya naiki dari bagian depan Disneyland, It’s a Small World sejenis Istana Boneka yang ada di Dunia Fantasi, sementara Sleeping Beauty Castle dan Snow White Grotto adalah tempat berfoto.

Di Fantasy Gardens kita bisa menemukan tokoh-tokoh Disney yang bisa diajak berfoto. Pada hari kedua saya menyempatkan diri untuk mengantre dan berfoto bersama Mickey Mouse. Sayang, karena antrean cukup panjang di setiap tokoh, saya hanya bisa memilih satu karakter saja saja. Lucunya, waktu saya sudah mengantre cukup lama, tiba-tiba Mickey Mouse-nya meninggalkan paviliun. Lah, apa-apaan, ini? Untungnya tidak lama kemudian dia kembali lagi. Sepertinya para pemeran karakter sedang berganti sif. Masa bodohlah siapa yang ada di dalam, yang penting penampilan luarnya adalah Mickey Mouse, bukan? 😉

Mickey’s PhilharMagic adalah pertunjukan 4D yang menampilkan pertunjukan orkestra. Untuk atraksi ini setiap orang dibekali dengan kacamata 4D. Seharusnya orkestra tersebut dipimpin oleh Mickey, tetapi karena sedikit kekeliruan, akhirnya Donald-lah yang memimpin orkestra dan menjadikannya kacau balau. Dalam kekacauan itu Donald terbawa ke berbagai scene, termasuk ketika Aladdin dan Putri Jasmine sedang menyanyikan A Whole New World di atas karpet ajaib. Efek 4D-nya luar biasa. Termasuk ketika suling milik Donald terlempar ke luar, ke arah penonton. Juga percikan air di wajah penonton. Pertunjukkan ditutup dengan Donald yang seolah terlempar keluar dari layar ke bagian belakang penonton. Dan, ketika semua penonton mengarahkan pandangan ke dinding bagian belakang, kami melihat boneka Donald (hanya bagian pantat dan kakinya saja karena kepalanya sudah ‘masuk’ ke dinding) yang bergerak-gerak seperti berusaha membebaskan diri dari dinding.

The Golden Mickeys merupakan pertunjukan tari dan lagu dari beberapa film Disney, semacam

opera musik. Film-film yang diceritakan di sini antara lain Beauty and the Beast, The Hunchback of Notredame, juga Lilo and Stitch. Tampaknya Cinderella tidak termasuk dalam kategori yang dimunculkan. Padahal saya yakin gaunnya pasti sangat indah…

Tidak kalah menariknya adalah wahana The Many Adventures of Winnie the Pooh yang menceritakan salah satu bagian dari cerita Winnie the Pooh. Saya suka desain layout-nya yang menunjukkan halaman-halaman cerita Winnie the Pooh. Di sini saya harus menaiki kereta tunggal yang bisa bergerak sesuai dengan cerita. Misalnya, ketika bertemu dengan Tiger yang suka melompat, maka gerakan kereta pun naik turun seperti sedang melompat-lompat.

Toy Story Land merupakan sasaran saya berikutnya. Posisi area ini agak unik, yaitu yang paling belakang dari seluruh Hong Kong Disneyland. Dan, biasanya 1,5 jam sebelum pukul 9 malam, di mana akan ada pertunjukan kembang api, biasanya area ini sudah ditutup. Mungkin di sinilah persiapan pertunjukan itu dilakukan. Di balik area ini, saya melihat mesin-mesin yang sedang bekerja. Tampaknya Hong Kong Disneyland akan segera memperluas areanya dengan berbagai atraksi baru.

Saya sendiri baru memasuki Toy Story Land di hari kedua dan terus terang saja tidak terlalu menikmati atraksinya: Toy Soldier Parachute Drop, Slinky Dog Spin, RC Racer, dan Barrel of Fun. Barrel of Fun sepertinya lebih merupakan tempat untuk berfoto bersama tokoh Toy Story. Sayangnya, ketika saya berada di sana, tidak ada tokoh yang siap berfoto.

RC Racer sejenis Kora-Kora di Dunia Fantasi. Pengunjung duduk di dalam kereta yang mengayun naik, kemudian turun lagi, dan mundur ke atas dalam rel yang berbentuk seperti tapal kuda. Hmm… Sepertinya saya kurang fit untuk permainan ini. Demikian pula dengan Toy Soldier Parachute Drop. Modelnya seperti wahana Rajawali di Dunia Fantasi. Hanya saja ketika kereta diturunkan, ada payung yang mengembang di atasnya. Turunnya pun tidak langsung merosot ke bawah, tetapi berhenti di beberapa titik.

Sementara Slinky Dog Spin adalah duduk di dalam kereta berbentuk anjing yang berputar mengejar ekornya sendiri. Sebenarnya permainan ini tidak terlalu ‘berbahaya’ hanya saja, rasanya seperti anak kecil…

Area terakhir adalah Adventureland. Di sinilah areanya Tarzan dan Simba The Lion King. Atraksi di area ini mulai dari Festival of The Lion King, Rafts to Tarzan’s Treehouse, Tarzan’s Treehouse, Jungle River Cruise, hingga Liki Tikis. Rafts to Tarzan’s Treehouse adalah dermaga untuk rakit yang akan mengantarkan pengunjung ke Pulau Tarzan di tengah danau, tempat rumah pohon Tarzan berdiri. Saya harus mendaki rumah pohon tersebut dan mendapati ruangan-ruangan yang menceritakan bagaimana Tarzan ditemukan oleh induk gorila hingga akhirnya bertemu dengan Jane untuk kemudian jatuh cinta. Proses menaiki sejumlah anak tangga ini lumayan menguras napas!

Danau yang mengelilingi Pulau Tarzan dapat dijelajahi dengan perahu dalam atraksi Jungle River Cruise. Di sini dibedakan antara pengunjung yang menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris, untuk menentukan pemandu yang akan menjelaskan kepada mereka. Sebenarnya, pemandu tersebut hanya menceritakan betapa ganasnya alam dengan adanya binatang buas (gajah yang tiba-tiba menyemprotkan air, buaya yang tiba-tiba muncul di dekat perahu, dan kuda nil yang tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar) dan suku kanibal yang memajang tengkorak manusia di mana-mana. Pemandu juga menceritakan tentang dewa api yang berada di gunung dan dapat menyemburkan api yang sangat panas, ditambah dengan semburan air di mana-mana.

Sementara Liki Tikis adalah wahana yang paling ‘aman’. Terdiri dari sejumlah patung totem yang bisa mengeluarkan uap air dan menyemprotkan sedikit air kepada penonton yang berlari-larian di antara patung-patung tersebut.

Kunjungan saya selama dua hari di Hong Kong Disneyland ditutup dengan mengantre pertunjukan Festival of The Lion King. Seperti juga Stitch Encounter, The Golden Mickeys, Mickey’s PhilharMagic, Festival of The Lion King memiliki jadwal pertunjukan tersendiri. Pertunjukan terakhir jam 6 sore, jadi sangat sesuai untuk mengakhiri penjelajahan saya di sana.

Festival of The Lion King berupa opera musik yang menceritakan kisah Simba, sejak kecil hingga menjadi raja. Para penari bergerak lincak di atas lantai yang bisa naik-turun membentuk panggung rata maupun bertingkat. Pencahayaan dibuat cukup redup karena lampu sorot banyak berperan untuk mengarahkan perhatian penonton.

Selain lantainya yang bisa naik-turun bertingkat itu, saya juga mengagumi kostum yang rapi dengan detail yang sangat banyak. Untuk penari yang memerankan zebra, misalnya. Bentuk kepala zebra yang dijadikan tutup kepala sangat mirip dengan aslinya. Saya juga mengagumi kemampuan mereka menyanyi sambil menari dalam durasi yang cukup lama.

Menginap di Disney Hollywood Hotel

Untuk memuaskan kecintaan saya pada Disney, saya juga menginap semalam di Disney Hollywood Hotel yang bertarif Rp 2 juta. Lucunya, justru hotel yang berkelas ini tidak menyediakan wi-fi gratis. Hanya ada wi-fi gratis di lobby, sementara di kamar dikenakan biaya HKD120 per jam. Dan, makan pagi pun tidak disediakan. Untuk makan pagi di hotel, pengunjung dikenakan biaya kurang lebih HKD180.

Sesuai dengan namanya, desain hotel ini juga memanjakan pencinta Disney. Ada patung Mickey Mouse di beberapa tempat, jendela-jendela berbentuk kepala Mickey, dan siaran televisi yang menayangkan film-film Disney, terutama film-film klasik.

Saya juga menemukan mesin yang dapat mencetak koin bergambar tokoh Disney. Setiap mesin biasanya memiliki tiga pilihan tokoh yang bisa dicetak. Kita hanya perlu memasukkan koin HKD10 lalu memilih tokoh mana yang kita inginkan. Melalui kaca kita bisa melihat mesin berputar dan mencetak koin kita. Selanjutnya, koin yang dihasilkan keluar di bagian bawah mesin.

Sebenarnya saya berencana juga untuk jalan-jalan di seputar lingkungan hotel, ingin melihat tata kota dan apa saja yang berada di dalamnya. Tetapi tampaknya tidak cukup satu  malam di hotel tersebut karena sebagian besar waktu sudah saya habiskan di Disneyland.

Jadi, setelah dua hari semalam di Disneyland, saya pindah ke Pulau Hong Kong. Sama seperti sebelumnya, saya mengandalkan MTR yang menyenangkan itu. Bedanya, kali ini saya pergi ke ujung timur Pulau Hong Kong. Jadi, perjalanannya agak jauh meskipun banyaknya jalur MTR yang harus saya seberangi tetap sama. Perjalanan pun terhitung tidak lama, padahal saya melintasi 3 buah pulau. Sekitar 90 menit saya sudah tiba di stasiun MTR Chai Wan, di ujung Pulau Hong Kong.

Ini Dia Pulau Hong Kong

Di pulau ini sebenarnya saya hanya numpang tidur saja karena besok sudah akan berjalan lagi ke Macau. Saya menginap di Y-Loft Youth Center. Bahkan di dalam stasiun MTR pun sudah ditunjukkan jalan menuju Youth Center, yaitu melalui pertokoan. Sayangnya, ketika sampai di Youth Center saya justru kehilangan arah, di sebelah mana saya bisa menemukan Y-Loft?

Untungnya orang Hong Kong cukup ramah. Melihat saya celingak-celinguk, mereka menanyakan apakah saya tamu di Y-Loft. Mereka memeriksa bukti reservasi saya, kemudian meminta saya naik ke lantai 12, tempat resepsionis Y-Loft Youth Center berada. Setelah  naik tangga berjalan saya sempat tersasar di lantai 2, tapi lagi-lagi ada pemuda yang membantu mengarahkan saya ke lift, bahkan menekankan tombol 12 untuk saya.

Resepsionisnya pun masih muda (mungkin semua yang bekerja di Youth Center memang harus orang-orang muda), dengan bahasa Inggris yang mudah dipahami. Setelah check-in, dia menunjukkan kamar saya. Di sini memang hampir tidak ada bell boy yang membawakan barang karena semua serba mudah untuk orang yang membawa barang banyak sekalipun. Benar-benar tempat yang menyenangkan.

Kamar yang saya tempati jauh lebih layak dibandingkan Chunking Mansion, meskipun sewanya lebih murah. Wi-fi gratis pun disediakan di kamar, jadi saya tidak perlu duduk di lobby sekadar untuk update status Facebook atau mengirim email ke kantor. Suhu ruangan standar dengan pemanas ruangan yang memadai. Malam ketiga di Hong Kong, saya akhirnya dapat tidur dengan nyenyak. Ketika di Disney Hollywod Hotel bukannya saya tidak enak tidur, lho, hanya saja saya terlalu bersemangat menjelajah di hari berikutnya!

Welcome to Macau!

Keesokan harinya, saya menyusuri jalur MTR yang sama, kembali ke stasiun Central. Kalau kemarin di stasiun ini saya berganti kereta ke Disneyland, kali ini saya terus saja sampai stasiun terakhir di jalur ini. Dari stasiun ini, saya menuju dermaga kapal cepat yang akan mengantar saya ke Macau. Seperti sebelumnya, antara stasiun MTR dengan dermaga kapal cepat pun terkoneksi dengan baik. Plus, jalan yang memudahkan untuk menggeret kopor besar.

Karena berbeda negara, saya harus melewati imigrasi. Tapi kartu imigrasi yang saya isi ketika masuk Hong Kong ternyata bisa digunakan untuk ke Macau, alias saya tidak harus mengisi kartu imigrasi lagi. Perjalanan dengan kapal cepat berlangsung sekitar satu jam. Sayangnya, jendela di kanan-kiri dalam keadaan tertutup (mungkin karena sinar matahari yang cukup terik) sehingga saya tidak bisa memandang ke luar.

Macau terdiri dari dua pulau, yaitu Macau di utara dan Taipa di selatan. Dermaga kapal cepat berada di Macau, jadi saya harus menaiki shuttle bus untuk menuju Grandview Hotel di Taipa. Ketika di Macau inilah saya mulai merasakan suasana yang tidak bersahabat. Jalur untuk membawa tas beroda maupun bagi penyandang cacat masih cukup banyak, meskipun tidak sebanyak di Hong Kong.

Masalahnya, tidak semua orang bisa berbahasa Inggris dan papan penunjuk jalan pun jarang yang berbahasa Inggris. Kebanyakan berbahasa Mandarin atau Portugis. Kalaupun ada yang berbahasa Inggris, kadang jadi tambah membuat bingung. Ketika keluar dermaga saya dibantu oleh pemandu dari Filipina yang sedang menunggu tamunya. Dialah yang mengarahkan saya ke tempat shuttle bus hotel menunggu.

Dengan tarif yang tidak terlalu mahal, Grandview Hotel jauh lebih bagus daripada hotel-hotel yang saya tinggali selama di Hong Kong (kecuali Disneyland, tentunya). Tapi, sepertinya pemasukan mereka memang bukan dari wisata, melainkan dari kasino yang berada di bagian bawah hotel. Di sini pun mereka tidak menyediakan sarapan dan wi-fi gratis. Saya harus membayar HKD50 untuk 3 jam. Sebenarnya mereka memiliki mata uang sendiri yang disebut MOP (Macau Pataca), tetapi nilainya hanya sedikit berada di bawah HKD (Hong Kong Dollar). Jadi, mereka biasanya menerima saja kalau kita membayar dengan HKD.

Sebagai pulau kedua, Taipa tampaknya tidak banyak menyediakan kegiatan yang berarti. Pada malam
terakhir saya hanya berjalan-jalan di antara gedung-gedung yang penerangannya tidak seberapa. Kemudian, saya mencari roti untuk sarapan esok hari, dan kembali ke hotel karena merasa lelah dan kedinginan. Sebenarnya, suhu udaranya tidak terlalu dingin. Hanya anginnya saja yang membuat saya merasa kurang nyaman.

Saya juga kesulitan mendapatkan makanan di Macau karena urusan bahasa tadi. Akhirnya saya membeli makanan beku di 7-Eleven dan dihangatkan di microwave. Itu pun, saya harus berusaha keras memahami maksud penjaga 7-Eleven ketika ia menerangkan bahwa saya harus membawa satu per satu makanan tersebut ke microwave.

Mungkin kalau saya berada di Pulau Macau, kondisinya jauh lebih berbeda, jauh lebih hidup. Bagaimanapun, ini tempat berkumpulnya para penjudi, bukan? Masak iya kondisinya senyap seperti ini? Tapi manfaatnya, saya jadi bisa beristirahat dengan tenang. 😀

Keesokan harinya, saya check-out dan langsung menuju dermaga untuk kembali ke Hong Kong. Ketika membeli tiket ferry, saya bisa memilih yang langsung ke Hong Kong International Airport. Hebatnya lagi, semua barang saya bisa langsung dibagasikan dan tidak perlu diambil lagi di bandara. Saya tinggal melenggang dan barang-barang saya langsung dimasukkan ke pesawat menuju Jakarta. Saking hebatnya itulah saya sampai lupa bahwa Kindle saya masih tersimpan di dalam koper besar dan rencana saya untuk minum obat batuk sebagai pengantar tidur di pesawat menjadi terlupakan. 😀

Untungnya semua berjalan sesuai rencana dan tidak ada keterlambatan barang sedikit pun yang bisa mengakibatkan jadwal perjalanan saya berantakan. Sesampainya di bandara, saya langsung mengarah check-in pesawat, melalui sejumlah pemeriksaan dan imigrasi, sempat berbelanja oleh-oleh sejenak, dan langsung duduk manis menunggu boarding. Oh ya, tidak lupa menukarkan kembali uang saya ke Rupiah dan menyimpan beberapa HKD dan MOP sebagai kenang-kenangan.

Sesampainya saya di Jakarta, barulah saya mensyukuri betapa beruntungnya perjalanan saya kali ini. Kalau saja cuaca buruk yang bisa menunda ferry, misalnya, belum tentu saya bisa kembali ke Jakarta sesuai jadwal. Begitu pula cuaca dalam penerbangan. Meskipun saat berangkat sempat membuat saya jackpot, cuaca dalam penerbangan pulang cukup bersahabat. Dan, pilot Garuda Indonesia yang saya naiki mendaratkan pesawat dengan mulus, nyaris tanpa goncangan. Good landing, Captain! 😉

Scrapbook Hong Kong Disneyland

Peta Hong Kong Disneyland http://park.hongkongdisneyland.com/hkdl/en_US/general/printPdfParkMap?name=PrintExplorerParkMapPage

Album foto Disney: http://bit.ly/uYSqKi

Iklan

2 Komentar

  1. wah seru kayaknya! (dan cerita yang panjang)

  2. Ini kelihatan banyakan susahnya daripada senengnya bu…tapi worthed to take it laah..ahahah.. sesuai y bu sama pengorbanannya, congrats bu…ey,judulnye gimane bacanye tuuh??@_@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: