Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Schließlich in Frankfurt Angekommen!!

Akhirnya sampai di Frankfurt!! Mudah-mudahan begitulah arti judul di atas.. 😀 (terima kasih Google)

Meskipun saya menjejakkan kaki di kota ini karena urusan pekerjaan (dan berujung pada ikatan dinas selama setahun), saya tidak pernah berhenti mensyukuri kesempatan ini. Eropa adalah salah satu tempat yang ingin saya kunjungi. Dan kalau itu berarti harus dengan bekerja, saya terima. Hehe…

Ke Frankfurt untuk mencari buku di pameran buku terbesar dunia, Frankfurt Buchmesse, bukannya tanpa rintangan. Pertama, karena pesawat kami datang jam 6 pagi, sementara penginapan baru di-booking jam 12 siang (kalo ini sih memang kantornya yang kurang ajar.. 😀 ). Untungnya kita bisa buka 1 kamar untuk 11 orang, sekadar bisa membersihkan badan setelah penerbangan belasan jam dari Jakarta.

Kedua, jetlag. Ini yang paling menyiksa. Terutama untuk saya yang baru sekali ini pergi begitu jauh (biarin dibilang norak 😛 ). Beberapa rekan yang sudah berkali-kali ke Frankfurter Buch Messe, mesem-mesem saja melihat kami jalan seperti zombie: hanya tubuh yang bergerak, otaknya macet… 😀 Tapi, kalaupun mau dibawa tidur, nantinya jam tubuh tidak menyesuaikan diri. Jadi, pagi itu kami jalan-jalan sampai bego (ini bego beneran, lho..). 😀

Dengan semangat ‘kapan lagi mumpung di Frankfurt’ kami jalan-jalan sampai kaki mau lepas. Kota itu sungguh menyenangkan. Jangan tanya ke mana saja kami berjalan. Benar-benar ke mana kaki melangkah saja. Waktu itu bulan Oktober, suasananya sudah cukup dingin. Yang saya perhatikan, di setiap jendela rumah selalu ada pot tanaman kecil. Benar-benar cantik.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa jalan-jalan di kala jetlag sungguh bukan merupakan pilihan tepat. Apalagi kami sempat nyasar entah di mana, hanya gara-gara ingin berfoto di sungai Jerman yang bersih. Akhirnya kami nyasar jauuhhh sekali. Sebal, capek, semua jadi satu. Jadi, ketika malam itu sempat ditelepon orang rumah, saya cuma kepingin pulang… 😥

Untungnya, hotel tempat kami menginap cukup menyenangkan. Namanya Hotel Excelsior, di Mannheimer Straße (itu artinya Jalan Mannheimer). Oya, asal tahu saja, kunci pintu di hotel ini dibuka dengan cara yang aneh. Bukan dengan anak kunci, bukan dengan kartu. Tapi ada semacam gantungan logam yang harus ditempelkan di pegangan pintu, lalu diapain, gitu. Saya juga lupa. Yang jelas, saya pernah terpaksa nyolek-nyolek room service yang sedang membersihkan kamar tetangga, “Can you show me how to open the door, please?” (soalnya saya nggak bisa masuk kamar! 😛 )

Posisi Excelsior persis di depan stasiun kereta api utama, Haupthbahnhof. Tinggal menyeberang saja, kita sudah sampai di stasiun besar itu. Di stasiun itu juga, pada suatu malam, saya harus beli makan sendiri karena teman-teman ada kegiatan masing-masing. Berbalut jaket tebal, syal, dan sarung tangan (meskipun orang sana sih masih pake jaket biasa… 😛 ) saya menyeberang ke Haupthbahnhof.

Di sana ada berbagai tempat makan. Mirip Gambir, lah, tapi tentu saja dalam format yang lebih bersih, rapi, dan tertata. Beberapa gerai makanan waralaba yang saya kenal di Indonesia juga ada di sana. Tapi, demi mencoba makanannya orang Jerman, akhirnya saya beli roti isi seharga € 3. Saya mampir sebentar ke toko souvenir untuk membeli magnet kulkas, oleh-oleh buat Mama.

Sesampainya di hotel, saya butuh waktu beberapa menit untuk melepaskan mantel dan sebagainya, ke kamar kecil sejenak, lalu mencari posisi yang enak buat makan. Pada gigitan pertama, saya kaget. Ternyata rotinya keras sekali. Dan isinya, hampir nggak ada rasanya. Saya tidak terlalu ingat, apakah roti ini dari awalnya sudah keras, atau karena terkena hawa dingin ya? Entahlah, yang jelas sekali itu saya merasa sangat yakin bahwa makanan di Indonesia adalah yang terenak!

Saya masih ingat betul rasanya: jalan sendirian dalam udara dingin di kota yang tidak saya kenal, dengan bahasa yang tidak saya pahami…, lalu berakhir dengan makan makanan yang luar biasa tidak enak. Entah mengapa, yang timbul adalah perasaan sedih dan mempertanyakan diri sendiri: apa sebenarnya yang saya harapkan. *dalem banget, nih…* Tapi, ini benar. Saya tidak pernah menyadari betapa senangnya di Jakarta selalu ada yang menemani ke mana-mana juga bisa makan makanan yang akrab di lidah. Perasaan sendiri dan terasing itu membuat saya sedih.

Untuk mengusir kegalauan, saya turun ke business center di dekat lobi. Niatnya sih ingin fesbukan atau apa, lah. Ternyata, kendala berikutnya muncul lagi. Keyboard yang digunakan dengan huruf Jerman…. Bagi yang tidak merasakan mungkin tidak bisa memahami betapa hal-hal kecil seperti itu akhirnya bisa membuat kita merasa jengkel luar biasa dan…, pengen pulang!

Pamerannya sendiri sangat besar. Ada delapan hall yang masing-masing luasnya mungkin sebesar JCC. Sayangnya, karena bersama bos-bos besar, jadi saya hanya sempat masuk ke 2 hall (salah satunya jelas hall 8). Tahun 2009 itu yang menjadi guest of honor adalah China. Saya sempat diajak melihat tempat mereka, plus foto-foto. Hanya itulah tempat lain yang sempat saya lihat di buchmesse. 😀 Oya, hall 8 adalah yang paling belakang. Jadi, dari pintu masuk Messe, setelah menunjukkan tiket, kami mengantri bus yang muter-muter di dalam tempat pameran. Jadi, sisi positifnya, saya sebenarnya bisa melihat hall-hall lain, tapi dari bagian depannya saja. 😀

Posisi Messe cukup strategis. Di depannya langsung ada halte trem. Dengan mendorong koper beroda, kami berjalan keluar Messe dan langsung menanti trem. Tremnya datang secara rutin, di dalamnya juga cukup lega. Ada tempat duduk dan ada pula pegangan untuk mereka yang berdiri. Tapi penumpang tidak perlu berdesakan, tempatnya cukup nyaman. Kalaupun trem yang ini dianggap terlalu penuh, dalam beberapa menit akan ada trem lain.

Salah satu halte trem itu ada di depan hotel Excelsior. Jadi, transportasi di sana memang serba memudahkan. Pernah juga kami turun satu halte lebih cepat sebelum Excelsior. Lalu, teman-teman sengaja masuk ke Kaiser Straße (Jalan Kaiser). Awalnya sih makan ‘ayam setengah’. Setelah itu, jalan ke belakang, ke tempat-tempat yang ‘hot’. Nggak, jangan khawatir. Saya cuma masuk ke sebuah toko yang menjual perlengkapan aneh: DVD dari pasangan normal hingga homoseksual, benda-benda bertaji (ouch!), sampai pecut (waduh!). Yah, dipahami sendiri sajalah apa maksud cerita saya ini. 😛

Hari terakhir, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke Romerberg, salah satu kota tua di Frankfurt. Bangunannya masih unik dan menarik. Kami mendatangi semacam alun-alun di mana terdapat The Gerechtigkeitsbrunnen (Fountain of Justice) yang dibangun tahun 1543. Itu adalah patung dewi Justitia yang membawa timbangan keadilan. Kami jalan-jalan di sekitar situ saja, termasuk berbelanja oleh-oleh. Kami juga sempat melihat sepasang pengantin yang baru keluar dari gereja dengan sambutan meriah dari para undangan. Seperti di film-film gitu, loh… 🙂

Nah, tempat-tempat yang saya ceritakan tadi, sudah saya beri tanda di gambar ini… (bayangkan betapa konyolnya karena ternyata sungai yang kami cari ternyata ada di belakang hotel…. >.< )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: