Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Green Office, Bukan Sekadar Label

Prepared for Prof. Rhenald Kasali, PhD

Green Office, Bukan Sekadar Label

Hijau yang saya maksud di sini tentu saja tidak ada kaitannya dengan preferensi keagamaan tertentu. Yang dimaksud dengan green office di sini adalah perkantoran yang memiliki dan menunjukkan komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Segalanya yang bernuansa ‘green’ atau ‘lingkungan’ memang tengah naik daun. Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, mungkin kita belum banyak mendengar tentang hal ini. Tapi, generasi saat ini memang berbeda.

Mereka adalah generasi C—di buku Cracking Zone saya menyebutnya sebagai Gen C. Ini adalah generasi yang dicirikan oleh keterhubungan (connectedness) di seluruh dunia. Salah satu penghubung mereka adalah konsep tentang lingkungan hidup yang lebih sustainable. Dengan keterhubungan ini mereka memiliki pengetahuan yang sama. Jadi, tidak perlu heran jika konsep kelestarian lingkungan merebak di mana-mana.

Di Amerika, kita mengenal Al Gore dengan perjuangannya untuk mengurangi pemanasan global, salah satunya melalui film An Inconvenient Truth. Ada pula kelompok anak muda yang giat mengampanyekan kelestarian lingkungan, memulung sampah di tepi sungai, menghalangi pembalakan liar, serta memberi tekanan-tekanan pada perusahaan yang mencemari lingkungan dengan limbah mereka yang tidak terolah. Anak-anak muda yang alergi melihat perusakan lingkungan seperti itu semakin mudah kita temui.

Ketika datang ke Metro TV, saya melihat tulisan ‘Go Green’ dan ‘No Styrofoam’ di berbagai tempat. Di jejaring sosial Twitter, akun @greenerationid rajin mengajak orang menggunakan reusable bag untuk berbelanja. Himbauan seperti ini memang bukan hal yang salah. Tetapi, adakah tindakan yang nyata? Apakah kita sudah tidak lagi memanfaatkan kantong plastik saat berbelanja? Atau, mungkin pertanyaannya perlu dibalik, berapa orang yang tidak lupa membawa tas kain saat berbelanja? Seperti apakah perilaku yang menunjukkan bahwa kata-kata ‘hijau’ itu bukan sekadar slogan semata? Dalam kaitan ini, ada beberapa opportunities bisa kita amati.

 

Green Image

Banyak perusahaan yang menggunakan konsep green ini sebagai image. Kita bisa melihatnya dari properti yang digunakan: apakah kawasan usahanya pro lingkungan, apakah perusahaan tersebut menggunakan bahan-bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan, atau apakah mereka sudah menerapkan konsep green environment? Atau, jangan-jangan ini semua hanya pencitraan semata.

Pasalnya, untuk menjadi green company atau menerapkan konsep green environment, yang paling penting dilakukan adalah melakukan perubahan mendasar pada nilai organisasi. Bukan pelabelan di luar, melainkan perubahan mindset dan perilaku dari setiap orang yang berada di dalamnya. Sebuah pengembang perumahan, misalnya, tidak bisa mengklaim dirinya sebagai green developer kalau hanya menyediakan sekian persen lahan hijau di dalam wilayahnya. Pengembang tersebut mungkin harus memiliki pengolahan sampah yang efisien sehingga perumahan tersebut nantinya tidak menyumbang semakin banyak sampah ke TPA Bantar Gebang, atau mengganti atap rumah dengan panel surya sehingga setiap rumah nantinya dapat memanfaatkan sinar matahari untuk menghasilkan listrik.

Di Rumah Perubahan, kami menerapkan konsep green office di mana setiap memasuki ruang gedung wajib melepas alas kaki. Untuk apa aturan seperti itu? Dengan cara ini Rumah Perubahan tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan untuk membersihkan ruangan. Cara yang sederhana, bukan?

 

Green Energy

Energi adalah motor penggerak kehidupan. Tanpa energi, mobilitas kita terganggu. Tanpa energi kita tidak mungkin menyimpan vaksin untuk kesehatan, karena lemari pendinginnya membutuhkan energi. Tanpa energi, bagaimana kita bekerja dan makan?

Energi bukan sekadar urusan bahan bakar (fossil fuels), tetapi dapat diperluas dalam kehidupan sehari-hari. Di Rumah Perubahan, saya membuat jendela-jendela besar agar sepanjang siang kami dapat memanfaatkan cahaya matahari dan mengurangi pemakaian listrik untuk penerangan. Kami juga menumbuhkan pohon-pohon besar sehingga—meskipun cahaya matahari masuk ke dalam ruangan—teriknya terhalau oleh rimbun dedaunan.

Green energy dapat juga diterapkan dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Setiap sampah yang dihasilkan oleh alam, dikembalikan lagi untuk alam. Di Rumah Perubahan, setiap helai daun yang gugur kami olah dan jadikan pupuk untuk menyuburkan kembali pepohonan. Demikian pula dengan pemakaian kertas. Meskipun belum 100% paperless, Rumah Perubahan menggunakan kertas recycled dan memanfaatkan sampah kertas sebaik-baiknya, misalnya dengan menjadikannya sebagai ornamen akuarium.

Dewasa ini riset tentang energi yang terbarukan semakin gencar dilakukan. Negara yang kaya angin menggunakan angin sebagai energi, sementara negara yang kaya ombak menggunakan arus laut itu sebagai energi. Untuk Indonesia, yang paling tepat adalah energi dari panas bumi dan matahari. Matahari, karena kita terletak di garis khatulistiwa. Kita tidak perlu cemas—seperti  negara-negara sub tropis—karena matahari selalu bersinar sepanjang tahun. Panas bumi juga merupakan modal yang tak kalah penting untuk dimanfaatkan, karena gunung berapi sangat berlimpah di negara kita. Kita tidak membutuhkan nuklir sebagai pembangkit energi. Dan, meskipun Indonesia juga kaya akan batubara, bahan tambang ini tidak tepat sebagai sumber energi karena mengandung sulfur yang dapat menimbulkan hujan asam dan efek rumah kaca.

Masyarakat justru lebih tanggap dalam hal ini. Di Cimahi, Eddy Permadi menciptakan pembangkit listrik mikrohidro yang mengandalkan aliran air sungai. Yang menarik, turbin pembangkit listrik yang dapat menghasilkan daya sebesar 1 megawatt ini tidak terpengaruh dengan tingginya jeram air. Tanpa perlu air terjun yang besar untuk memutar turbin, masyarakat di sana sudah tidak perlu cemas lagi terhadap pasokan listrik. Bahkan, dari listrik yang dihasilkan, mereka dapat membuat industri minuman serbuk Bandrek Hanjuang  yang bermanfaat kembali bagi mereka. Singkat kata, hukum kekekalan energi benar-benar harus dimanfaatkan di Indonesia.

 

Green Living

Saya pernah membuat foto menara Eiffel dengan latar belakang langit berwarna biru cerah nan indah. Bisakah Anda membuat foto yang serupa dengan Monas? Tentu bukan perkara perbedaan objek foto, tetapi di Jakarta kita akan kesulitan mencari langit berwarna biru cerah. Langit di kota besar Indonesia cenderung berwarna kuning, cerminan udara yang penuh dengan polusi. Polusi tidak hanya ada di udara, tetapi juga dari sampah yang tidak sempat diperhatikan oleh pemerintah daerah.

Dewasa ini masyarakat menginginkan kehidupan yang lebih hijau. Banyak yang sudah menggunakan sepeda untuk bepergian, memilih sekolah atau tempat kerja di dekat rumah sehingga mereka tidak perlu berkendaraan untuk mencapainya, membeli barang-barang organik, dan sebagainya. Banyak orang menggunakan gadget yang dapat didaur ulang bukan karena tak mampu membeli gadget baru, tetapi untuk mengurangi sampah bagi lingkungan.

Di lingkungan terkecil, yaitu keluarga, green living dimulai dengan mengolah sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga. Anda tentu tahu tentang keranjang takukura untuk mengolah sampah dapur. Rumah Perubahan juga mendidik masyarakat sekitar untuk belajar memisahkan sampah. Dengan demikian, sampah organik bisa digunakan untuk pupuk, sementara sampah anorganik tidak meracuni lingkungan.

Dalam industri pun demikian. Banyak produsen yang mengurangi banyaknya lapisan dalam kemasan produk karena tuntutan untuk mengurangi sampah bagi lingkungan. Dengan demikian biaya produksi pun lebih kecil dan harga pun lebih rendah. Masyarakat di sekitar pabrik yang tidak memperhatikan pengolahan limbah, bahkan membuang limbah berbahaya ke lingkungan, melakukan protes dan menuntut pabrik tersebut lebih peduli pada lingkungan. Masih banyak contoh lain dari masyarakat yang ingin kehidupannya lebih serasi dengan alam dan hal ini mengarah pada terbentuknya green consumer.

 

Green Investor

Di pasar modal, para investor dewasa ini cenderung menginginkan laporan yang mencerminkan green company. Pemerintah pun telah memasukkan ide green company dalam undang-undang mengenai Perseroan Terbatas dan Penanaman Modal. Ini berarti bahwa setiap perusahaan harus memiliki keseimbangan dalam hal profit, people, dan planet, alias memiliki kinerja sosial, ekonomi, dan lingkungan yang seimbang.

Hal ini juga berlaku pada saat memilih partner bisnis. Newmont yang berinduk di Denver, misalnya, sangat selektif dalam memilih partner yang pro lingkungan. Perusahaan ini memiliki pembangkit listrik terbaik di dunia yang menerapkan konsep pelestarian lingkungan. Newmont juga memiliki tabung limbah yang ditanam 4 km di bawah dasar laut sehingga tidak meracuni kehidupan di atasnya.

Tentu ini bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi jika partner kerjanya tidak memiliki konsep yang sama. Oleh karena itu, ketika mencari partner di Indonesia, Newmont membutuhkan perusahaan yang juga berorientasi pada keselamatan lingkungan. Dengan alasan itulah Newmont memilih PT. Masbaga, sebuah social entrepreneur yang memiliki lembaga pendidikan di Yogyakarta.

 

Generasi C membuat masyarakat di seluruh belahan dunia menjadi terhubung. Kita sama-sama mengalami pertumbuhan teknologi dan komunikasi yang melompat secara eksponensial. Hal ini mengubah banyak hal, termasuk pemahaman kita tentang kelestarian lingkungan. Sekarang ini orang tak hanya mencari keuntungan (profit), tetapi juga mengolah profit tersebut untuk kesejahteraan manusia (people) dan kelestarian lingkungan (planet). Kita pun harus bersiap menerapkan green concept dalam berbagai segi kehidupan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dan, seperti kata Seneca, hanya mereka yang siaplah yang dapat menangkap peluang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: