Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Sie Jin Kwie Kena Fitnah-Teater Koma

Cerita tentang raja muda Cina di abad ketujuh ini sudah beberapa kali dimainkan oleh Teater Koma. Ini saya ketahui dari jajaran poster yang menunjukkan perjalanan 34 tahun Teater Koma. Sepertinya Sie Jin Kwie ini sudah yang ketiga kali. Tapi, tentu saja, yang sekarang ini jauh lebih berwarna.

Ya, berwarna. Hal ini adalah salah satu yang saya sukai dari Teater Koma. Kostum dan rias wajahnya selalu penuh warna. Bahkan termasuk pemakaian material ‘tidak lazim’ supaya bisa membuat penampilan di panggung lebih menarik. Saya ingat betul waktu Teater Koma mengelar pertunjukan Petruk Jadi Raja. Compact disc pun dijadikan ornamen rambut sehingga memantulkan cahaya. Menarik! Nah, dibandingkan dengan Petruk, Sie Jin Kwie ini–meski juga berwarna-warni–tetapi pencahayaannya lebih gelap. Tapi, tetap saja, warna-warninya aduhai… ^_^

Inti ceritanya tidak jauh dari soal fitnah. Raja Muda Sie Jin Kwie yang menjadi kesayangan Kaisar Lisibin (dinasti Tang) ternyata memiliki musuh. Adalah Biejin yang merasa Sie Jin Kwie memusnahkan keluarganya, bersama suaminya, Litocong, dan saudara jauhnya, Thiojin, merancang tipu muslihat untuk menjebak Sie Jin Kwie. Dengan berpura-pura membawa undangan dari istana, mereka meminta Sie Jin Kwie datang dan memberi obat dalam minumannya. Sie Jin Kwie tidak sadarkan diri dan ia dituduh telah berbuat tidak senonoh kepada anak Biejin-Litocong (sayang, saya lupa siapa nama anaknya). Si anak sendiri menolak dijadikan ‘alasan’ karena akan merusak citranya sebagai perempuan baik-baik. Namun, karena Litocong memaksa, akhirnya si anak mengiyakan lalu bunuh diri.

Justru kejadian inilah yang akhirnya dilaporkan Litocong pada Kaisar Lisibin. Menurutnya, Sie Jin Kwie menodai anaknya sehingga bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu. Kaisar Lisibin, yang masih bersepupu dengan anak Litocong, sedemikian geram sehingga tidak berpikir panjang lagi; ia langsung menjatuhkan hukuman mati untuk Sie Jin Kwie. Untungnya para penasihat bisa menunda hingga mereka punya kesempatan untuk mencari bukti bahwa Sie Jin Kwie tidak bersalah.

Waktu terus berlalu dan teman-teman Sie Jin Kwie berhasil menunda waktu hukuman mati. Mereka mendatangi semua orang untuk mencari tahu kebenaran. Tapi Litocong pun tak kalah cepat. Ia terus mendesak Kaisar hingga memutuskan hukuman mati dilaksanakan saat itu juga. Salah seorang penasihat kerajaan mengingatkan bahwa Kaisar tidak boleh bertindak gegabah. Tetapi karena Kaisar tidak mendengarkan nasihatnya dan tetap akan menjatuhkan hukuman, si penasihat pun memutuskan bahwa ia sudah tidak layak hidup. Ia bunuh diri dan Cina pun berkabung.

Di sisi lain, Cina menghadapi ancaman dari kerajaan tetangga yang dipimpin oleh Soupotong. Padahal, panglima perang Cina justru sedang menanti hukuman mati. Akhirnya, Kaisar bisa dibujuk untuk membatalkan hukuman mati Sie Jin Kwie dengan memberikan pengampunan. Sedangkan kepada Litocong, Kaisar berdalih hukuman Sie Jin Kwie akan dilakukan setelah selesai berperang. Kaisar ini  mblenjani tenan… 😦

Sie Jin Kwie sendiri menolak kebaikan Kaisar. Dia menolak semua tanda-tanda kerajaan yang dikembalikan oleh Kaisar. Tentu saja ini bisa menimbulkan amarah Kaisar. Maka para penasihat pun berbondong-bondong datang untuk membujuk Sie Jin Kwie. Yang diminta Sie Jin Kwie hanya satu: keadilan atas kejahatan Litocong. Para penasihat pun akhirnya mengambil inisiatif. Mereka sudah tahu tentang kejahatan Litocong, tetapi karena Litocong masih merupakan saudara Kaisar, mereka pun tidak boleh gegabah.

Setelah dijanjikan bahwa kejahatan Litocong akan diadili, Sie Jin Kwie berangkat berperang. Para penasihat mengusulkan pada Kaisar agar Litocong disembunyikan ke biara karena khawatir Sie Jin Kwie akan menuntut balas. Kaisar pun setuju. Tanpa sepengetahuan Kaisar, sesampainya di biara, Litocong dibunuh dengan cara dibakar.

Beberapa adegan dalam pertunjukan ini dibuat secara simbolis. Misalnya, kesedihan ketika penasihat tua kerajaan bunuh diri ditampilkan dalam setting yang dibuat semakin gelap dan semakin gelap, seiring dengan orang-orang yang bangun-bersujud mengikuti persembahyangan. Lalu, adegan di mana Litocong dibakar–karena tidak mungkin menyalakan api di panggung–dibuat dengan gambar mirip api dan Litocong yang terbatuk-batuk karena asapnya. FYI, dia disembunyikan dalam genta raksasa, dan genta itulah yang dibakar. Makanya Litocong batuk-batuk. 🙂

Iklan

2 Komentar

  1. Geri syahril Sidik

    Bu, gmana cara kirim tulisan saya ke komunitas perubahan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: