Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Tiga Hari yang Sibuk di Pattaya

Pattaya, kota pantai yang terletak 2 jam bermobil dari Bangkok, tidak ubahnya seperti Bali. Panas terik dan dipenuhi turis. Namun di antara penjaja berbagai souvenir dan kursi untuk berjemur, ada yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Pattaya. Salah satunya adalah kabaret waria Alcazar yang saya nikmati di malam pertama saya di kota yang panas itu.

Gedung Alcazar Show tampak sangat biasa, bahkan cenderung ketinggalan zaman. Sejak melangkahkan kaki ke gedung itu saja saya sudah bermain tebak-tebakan, mana yang sebenarnya adalah waria, di antara para wanita di sana. Kebetulan saya mendapatkan tempat duduk di barisan paling depan dan dapat dengan puas menikmati wajah-wajah cantik para ladyboy tersebut. Sungguh sulit dipercaya bahwa sosok cantik di atas panggung itu sebenarnya adalah pria.

Pagelaran tersebut menggambarkan berbagai budaya dan cerita. Selain Thailand, mereka juga menampilkan tari dan lagu dari Vietnam, Jepang, Melayu (lengkap dengan lagu Cindai), Korea, dan Timur Tengah. Lagu I Will Survive disuguhkan oleh para penari dengan pakaian berumbai-rumbai dan hiasan kepala bak burung merak. Lagu The World is not Enough ditampilkan oleh para penari bertelanjang dada yang dilapis warna perak atau emas dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk rok bawahnya. Biaya untuk menonton pertunjukan ini adalah 640 baht untuk kursi VIP dan 480 baht untuk kursi biasa. Saya menutup hari itu dengan menikmati pijat ala Thailand dengan baluran minyak aromaterapi yang membuat rileks.

Semua Serba Kecil

Mini Siam adalah tempat lain yang tak boleh Anda lewatkan. Dibangun tahun 1986, objek wisata menampilkan lebih dari 100 model bangunan penting di Thailand dan dunia. Pada bagian depan adalah zona Eropa mini, di mana kita dapat melihat Arc de Triomphe dan menara Eiffel, Tower of London, gedung opera Sydney, patung Liberty, Kremlin, monumen Abusimbel, hingga colloseum. Sementara di bagian belakang adalah zona Siam mini, yang berisi berbagai bangunan penting di Thailand, seperti: Grand Palace, Wat Arun, Wat Phra Keo, hingga bandara Chiang Mai.

Walaupun ukuran bangunannya kecil, tapi jangan menyepelekan area yang harus kita jalani. Persiapkan air minum dan topi, karena panas teriknya dapat membakar kulit bahu seperti yang saya alami. Pada pintu masuk juga disediakan penyewaan payung. Biaya untuk menikmati Mini Siam adalah 300 baht.

Let’s Walking in the Sea

Hari kedua di Pattaya, saya mengikuti tur ke Pulau Koral, sekitar 30 menit perjalanan dengan kapal cepat. Tak hanya duduk manis di kapal, kami mampir di salah satu galangan untuk melakukan parasailing. Anda tahu, kan? Kita memakai parasut dan ditarik oleh kapal cepat sehingga melayang-layang di udara. Jangan khawatir memikirkan bagaimana turunnya, karena begitu kaki kita berada dalam jangkauan, para petugas siap menarik kita kembali ke galangan dan tidak akan mendarat di air (meskipun kita juga sudah dilengkapi pelampung). Untuk melayang-layang selama 3 menit, biaya yang dibutuhkan adalah 400 baht.

Pemberhentian berikutnya adalah sebuah kapal yang akan mengantarkan kami melakukan sea walking. Ini benar-benar berjalan di dasar laut. Kita tidak perlu bisa berenang atau memiliki sertifikat menyelam. Prinsipnya, saat kita menuruni tangga ke dasar laut, sebuah helm besar diletakkan menutupi kepala kita. Dengan tekanan udara dari selang khusus, air laut tidak akan masuk dan memenuhi helm. Kita tinggal menyesuaikan perubahan tekanan dengan menelan ludah atau menutup hidung (ya, tangan kita di air bisa masuk ke dalam helm untuk memencet hidung!).

Setelah terbiasa dengan tekanan, barulah kita bisa menikmati pemandangan di bawah laut, termasuk beraneka ragam ikan yang hilir mudik bahkan menabrak tubuh kita. Saya  difoto di antara karang yang cantik, memegang aneka binatang laut (termasuk anemon yang lunak), dan memberi makan ikan dengan roti. Biaya untuk sea walking adalah 1500 baht dan 500 baht untuk foto.

Usai sea walking, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Koral. Yang kami lakukan di sana adalah berenang dan berjemur, menikmati pasir yang putih dan perairan yang jernih. Ada batas-batas yang diberikan untuk perenang. Di luar area tersebut, terlalu bahaya untuk berenang karena biasanya orang bermain jet ski dan banana boat. Sore hari, dalam perjalanan kembali ke Pattaya, kami menaiki perahu dengan alas kaca untuk menikmati pemandangan bawah laut bagi mereka yang tidak melakukan sea walking. Asal tahu saja, lebih indah melihat langsung di bawah air!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: