Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Taspen, duh Taspen… :(

Beberapa hari lalu akun Twitter dan Facebook saya dipenuhi omelan panjang lebar mengenai betapa kacaunya pelayanan di Taspen. Walaupun ini mungkin bukan hal baru bagi banyak orang-artinya, kebanyakan memang sudah tahu betapa kacaunya pelayanan umum kita-izinkan saya menuliskannya untuk sekadar pengingat dan katarsis. 😀

Ceritanya berawal dari tidak ditransfernya uang pensiun Uti sejak Agustus 2010. Ini baru diketahui bulan Desember 2010, jadi ada 5 bulan uang pensiun yang tertangguhkan. Kali pertama saya datang ke Taspen, saya ke bagian informasi dan mendapat keterangan kalau beberapa waktu lalu Taspen mengadakan pendataan ulang dengan mengirimkan formulir ke alamat para pensiunan. Formulir yang tidak kembali mengakibatkan uang pensiunnya tidak dibayarkan. Mungkin dianggap sudah meninggal dunia atau tidak butuh uang pensiun lagi.

Tetapi, si petugas juga bilang bahwa mungkin saja formulir itu tidak sampai ke tangan pensiunan. Seperti yang dialami Uti. Karena itu, dia memberikan tiga formulir yang harus dilengkapi dengan berbagai persyaratan, termasuk foto dan tanda tangan Lurah setempat. Saya kembali ke rumah dengan membawa gambaran positif tentang Taspen: prosedurnya sudah lumayan bagus, antri dengan tertib karena memakai nomor antrian, petugasnya pun informatif.

Setelah semua syarat dilengkapi, sekitar seminggu kemudian saya kembali ke Taspen. Semua formulir yang diberikan sudah lengkap dan fotokopinya pun sudah siap. Saya datang setelah istirahat dan mendapat nomor 149. Padahal saat itu nomor terakhir yang dipanggil baru sekitar 70-an. Setelah satu jam menunggu, pergerakan angka panggil masih tidak menjanjikan. Maka, saya bertanya ke bagian informasi. Menurut si petugas, nomor yang sudah ada tetap akan dipanggil hari ini, meskipun kantor tutup jam 16.40 WIB.

Jadi, saya menunggu dengan berbagai gaya. Mulai dari diam-diam saja, mendengarkan musik, nonton televisi (sialnya, hari itu saya lupa bawa Kindle). Dari 7 loket klaim yang disediakan, cuma 4 yang terisi petugas. Yang lainnya kosong. Dan, mungkin karena melayani para manula, setiap petugas perlu waktu yang cukup lama. Yang saya sesalkan, kalau tahu bahwa kliennya adalah manula dan perlu waktu untuk menjelaskan, kenapa ketujuh loket itu tidak disiapkan penuh?

Jam 16.00, petugas kebersihan mulai merapikan bangku-bangku tambahan, menyapu, dan mengepel. Firasat saya mulai nggak nyaman, karena jarak nomor yang sudah dipanggil dengan nomor yang saya pegang masih 20 lagi. Lucunya, begitu orang-orang yang mengantri berkurang, petugas loket klaim pun semakin sedikit. Dari 4 orang, menjadi 3 orang. Aneh, kan? Seharusnya mereka makin giat karena sudah mau jam pulang dan yang dilayani semakin sedikit. Benar-benar mental tempe!

Setelah nomor 148 dipanggil, tinggal ada saya dan seorang ibu lagi yang bernomor 150. Keanehan terjadi karena salah satu petugas mematikan komputernya. Loh? Ada apa ini? Si ibu nomor 150 mendekati dan memberikan nomornya. Begitu juga saya. Saya biarkan si ibu itu lebih dulu karena posisinya memang di depan saya, walaupun nomornya di belakang saya.

Si petugas (nama di mejanya tertulis Evi Elita) menyalahkan si ibu karena tidak mendatangi loket. Dan, setelah melihat berkas-berkas si ibu, petugas itu bilang kalau berkasnya belum lengkap dan harus kembali lagi besok! Sadis sekali. Usia si ibu mungkin sudah 60-an akhir. Harusnya petugas yang memberi ibu tersebut berkas formulir yang harus diisi sudah memberi tahu semua kelengkapan yang dibutuhkan. Sehingga si ibu tidak perlu bolak-balik nggak penting seperti ini.

Oke, selanjutnya giliran saya. Si petugas juga ngomel karena katanya saya tidak mendekati loket. Saya bilang, “Nomor saya belum dipanggil, Bu.” Katanya, “Ya Mbak seharusnya datang ke sini.” Orang brengsek! Mana saya tahu kalo kamu mau tutup loket? Kalau mau tutup, mbok ya tanya dulu, apakah masih ada nomor yang belum dipanggil. Jelas-jelas kami berdua memegang nomor antrian.

Selanjutnya, dia juga bilang kalo berkas saya tidak lengkap. Saya bilang, “Ini semua yang diberikan sama bagian informasi, Bu. Fotokopiannya juga sudah disesuaikan dengan syarat dari bagian informasi. Mana yang kurang?” You know what did she say? Dia bilang, “Santai aja dong, Mbak…” Bajingan!

Dasar petugas nggak tahu diri! Untuk menutupi kesalahannya menutup loket sebelum kliennya habis, pertama-tama dia menyalahkan kliennya karena tidak mendekati loket. Ketika kliennya protes karena memang nomornya belum dipanggil, dia melempar kesalahan kedua. Katanya, berkas-berkas yang dibawa kliennya tidak lengkap. Ketika saya protes bahwa semua kelengkapan ini sudah sesuai dengan persyaratan dari bagian informasi, dia mengeluarkan kata-kata biadab itu. Seolah-olah kliennya yang ngotot sama dia. Eh, kampret! Dengan cara kalian lempar-lempar kesalahan kayak gitu, siapa yang bisa nahan emosi? Giliran dikasih tahu faktanya, malah nyolot balik. Petugas layanan publik kok sikapnya kampungan gitu, sih?

Berlanjut lagi… Dia nggak mau dong nyalain komputernya lagi. Si petugas brengsek itu meminjam komputer tetangganya untuk melihat data pensiun Uti. Trus dia bilang, “Ini uangnya nggak ditransfer karena nama pensiunan dan pemilik buku tabungan nggak sama.” Berusaha sabar, saya jelasin lagi, “Pensiunannya memang sudah meninggal. Ini yang terima istrinya. Selama ini baik-baik saja, kok. Baru bulan Agustus nggak ditransfer.” Dia pun terdiam. Trus, dia lempar tugas melayani saya ke si pemilik komputer yang dia pinjam tadi. Petugas yang ini masih muda. Sepertinya juniornya, sehingga nggak bisa nolak ketika disuruh menggantikan si senior brengsek. Walaupun saya tahu dari wajahnya, dia sebel banget disuruh lembur karena seniornya pulang duluan.

Akhirnya, saya duduk berhadapan dengan mbak yang masih muda itu. Orangnya sabar dan tampaknya cukup baik. Dia menjelaskan ke klien yang sebelum saya dengan detail. Ketika memeriksa berkas Uti, dia bilang bahwa uang pensiun tidak ditransfer karena Taspen sudah tidak bekerja sama lagi dengan Bank Mandiri (rekening pensiun Uti di BDN yang kemudian merger menjadi Bank Mandiri). Dia menyarankan saya membuka rekening di BRI.

Pada titik ini terjadi 2 keanehan sekaligus, kan? Alasan tidak ditransfer adalah karena berhentinya kerja sama dengan Bank Mandiri. Padahal, waktu saya minggu lalu ke bagian informasi, alasannya karena Uti tidak mengembalikan formulir pendataan ulang. Jadi, mana yang benar? Keanehan kedua, apa susahnya sih transfer ke bank lain (meskipun tidak ada kerjasama)? Sama saja seperti gaji orang kantoran, kan? Kantornya punya bank apa, karyawannya punya bank apa, transfer gaji nggak masalah. Terlambat 1-2 hari karena proses antarbank saja, kan? Apakah PT Taspen yang mengelola dana pensiun sedemikian besar untuk para pensiunan PNS hingga veteran yang jumlahnya sangat banyak ini tidak bisa mengatasi persoalan antarbank? Sungguh memalukan!

Namun, saya tidak mau berdebat dengan Mbak yang baik itu. Lagipula, ini kesalahan sistem, bukan kesalahan dia. Cuma satu hal yang saya tanyakan, “Mbak, kalau nanti kerjasama Taspen dengan bank-nya berhenti lagi, apakah nenek saya harus buka rekening baru lagi?” Menurut si petugas, BRI memang bank-nya Taspen. Jadi tidak mungkin tidak ada kerjasama. Baiklah, seperti permainan monopoli, rupanya…

Masalah berikut, si Mbak bilang bahwa yang bisa ditransfer ke Mandiri hanya pensiun Agustus-November. Untuk Desember dan seterusnya harus dikirim ke bank baru. Sementara, rekening di bank baru kan belum dibuat. Berarti untuk Desember pun harus menanti sampai proses pembuatan rekening selesai. Saya berusaha bernegosiasi, supaya sampai Desember tetap ditransfer ke Mandiri. Nanti uang pensiun Januari barulah ditransfer ke BRI yang baru. Dia tidak bisa memutuskan, jadi dia minta saya ke dalam, bicara dengan Pak Mulia.

Kepada Pak Mulia saya ceritakan bahwa Uti sudah tidak bisa berjalan tanpa kursi rodanya. Eh, malah si Pak Mulia mencontohkan kalo banyak pensiunan yang datang ke Taspen memakai kursi roda. Sabar, Manda…. Saya jelaskan lagi, Uti pake kursi roda karena kakinya patah. Itu bukan saja menyulitkan jalan tetapi juga keluar-masuk kendaraan. Akhirnya Pak Mulia menyarankan saya buka tabungan di BRI Taspen saja karena formulirnya bisa dibawa pulang dan pensiunan tidak perlu datang. Dia pun akhirnya menjanjikan bahwa rapel pensiun sampai bulan Desember akan tetap bisa ditransfer ke Mandiri. Dia menyuruh saya ke bagian informasi lagi untuk meminta formulir mutasi bank (ampun!) dan ke BRI untuk meminta formulir pembukaan rekening. Ketika saya ke luar, semua petugas sudah pulang, loket sudah ditutup.

Keesokan harinya, Mbak yang kemarin menangani saya di loket klaim pagi-pagi sudah menelpon dan menanyakan apakah Pak Mulia mengizinkan transfer Desember tetap ke Mandiri. Lucu, ya? Seandainya Pak Mulia tidak mengizinkan, bisa saja saya bohong ke si Mbak. Bukankah dia seharusnya bertanya ke Pak Mulia, ya? 😀 Ketika saya sampai di Taspen, Mbak yang sama tidak bertugas di loket klaim, tetapi di bagian informasi. Tanpa mengambil nomor, saya mendekati si Mbak dan meminta formulir mutasi. Mbaknya tidak mengingat saya, tapi ketika saya ingatkan bahwa dia tadi pagi menelepon saya, dia segera mempermudah segala urusan. Dia juga bilang bahwa kalau saya yang mengurus mutasi bank, saya harus punya surat kuasa. Sangat antisipatif! Saya suka petugas seperti ini. Hari itu saya juga mengambil berkas pembukaan rekening baru BRI.

Lalu, keesokan harinya saya kembali (lagi!) ke Taspen. Ketika saya menyerahkan berkas pembukaan rekening baru, saya bertanya soal ATM. Menurut petugas BRI, rekening khusus pensiunan tidak punya ATM karena takut disalahgunakan oleh orang lain. Jadi, kalau mau kita harus membuka rekening umum untuk mendapatkan ATM dan membuat surat permintaan bahwa uang pensiun dari rekening khusus pensiun setiap bulannya ditransfer ke rekening umum. Benar-benar menggelikan! Bukankah akhirnya sama saja? Ada ATM yang bisa dititipkan ke orang lain dan mungkin disalahgunakan? Sungguh saya tidak paham dengan pemikiran mereka!

Bayangkan saja, ya. Coba lihat kondisi Uti saya. Kakinya patah dan tidak bisa ke mana-mana. Dia selalu menitipkan ATM-nya ke orang lain, termasuk saya, untuk mengambil uang. Artinya, kalau kondisi si pensiunan sehat bugar, tentu dia akan lebih suka mengambil sendiri uangnya ke ATM. Tapi ada berapa banyak pensiunan yang seperti itu? Bandingkan dengan berapa banyak pensiunan yang sudah tidak bisa jalan, penyakitan, tidak ada yang bisa mengantar ke ATM…. Semua pasti akan menitipkan ATM-nya kepada orang lain untuk mengambilkan uang. Tinggal bagaimana si orang yang dititipin saja, kan? Ada yang mungkin ‘mengutip’ uang lelah, ada yang langsung memindahkan ke rekeningnya sendiri, ada pula yang benar-benar cuma mengambilkan uang sesuai yang diminta.

Begitu rekening khusus pensiunan selesai, saya mengurus mutasi bank lebih dulu. Tetapi nomor antrian ternyata sudah habis, meskipun si petugasnya masih ada di loket mutasi. Saya mendekat dan ternyata meskipun nomor sudah habis, dia masih menerima pengurusan mutasi. Thanks God! Ada lagi petugas yang baik.. 😉 Setelah mutasi selesai, tinggal memikirkan bagaimana hari ini bisa membuka rekening umum supaya bisa mendapatkan ATM. Kalau besok saya harus kembali lagi ke Taspen, rasanya kok rugi membuang-buang waktu saya untuk institusi yang nggak jelas ini. Dengan sedikit upaya, satu jam kemudian saya kembali membawa formulir pembukaan rekening baru. Lucunya, setoran awal untuk rekening khusus pensiunan cuma 100 ribu, sementara untuk rekening umum 250 ribu. Untunglah di situ ada ATM Mandiri juga sehingga saya nggak kesulitan meskipun harus bolak-balik ke ATM dan fotokopi.

Kenapa nggak dari awal, ketika saya pertama kali minta informasi, mereka buka data pensiunan dan melihat apa masalahnya? Bukan cuma sekedar ngasih formulir data ulang. Toh mereka sudah pake komputer. Tinggal masukin nomor pensiunan, trus terlihat semua datanya, kapan terakhir ditransfer, transfer ke mana.. Kan bisa ketahuan kalau si pensiunan pake rekening Mandiri. Dan bisa diantisipasi sejak awal kalau harus mutasi bank? 😦

Saya prihatin dengan sistem di Taspen. Kasihan kepada para manula yang harus tertatih-tatih datang ke Taspen berkali-kali untuk mengurus uang pensiunnya yang tidak seberapa. Sebagian dari mereka adalah veteran Pejuang Kemerdekaan RI yang pernah rela mati agar Indonesia merdeka. Tanpa mereka, para karyawan Taspen tidak bisa duduk di kantornya sambil sms-an dan pulang jam 4 sore. Tega-teganya mereka menelantarkan para pensiunan. 😦 Ndak punya rasa malu.

Iklan

14 Komentar

  1. fajar w

    ayah saya jg pensiunan dan ATMnya sekarang ditutup sepihak. maksudnya baik tapi sistemnya kurang cerdas, kembali jaman susah. padahal mereka yang membuat kebijakan ini besok2 juga akan jadi pensiunan, akan kesulitan berjalan apalagi antri.

  2. johan

    Ayah saya juga punya masalah, akhir februari 2011 ayah sy pensiun dari pt. KAI. Tapi ternyata uang taspen dan gaji bulan februarinya tidak turun sampai sekarang, 21 maret. Apa yg mesti kami lakukan??

    • Sudah coba datang ke kantor Taspen? Bagian informasinya cukup membantu, kok. Tapi kalau sudah sampai teller dan sebagainya, agak nggak menjanjikan kualitasnya.. 🙂

  3. hisyam

    Ayah saya biasanya ambil pensiun di kantor pos (di Jogja), karena faktor kesehatan, mulai tiga bulan yang lalu tinggal di Tangerang dan pengennya ga usah tiap bulan pulang balik ke Jogja buat ambil pensiun, beliau mau buka rekening di bank aja. Ngurusnya mesti ke Kantor pos atau ke Taspen ya ?

    • Harus ke kantor Taspen dulu, Pak. Untuk mencatatkan akan ditransfer ke mana uang pensiunnya. Tetapi itu juga bukan jaminan, ya. Seperti yang saya ceritakan di atas. Nenek saya juga sudah transfer, tapi ada saja bulan-bulan yang tidak ditransfer dan akhirnya harus diurus kembali di Taspen. 😦 Semoga membantu. 🙂

  4. johan

    taspen ini apa ga punya complain handling mechanism ya..?. kasihan banget nasabahnya yang banyak banget…..

  5. agung

    salam kenal, ibu janda dari pensiunan, biasanya menggunakan kantor pos untuk mengambil uangnya, kira kira kalau kantor posnya dipindah alamatnya (karena kami rencananya mau pindah rumah), bisa ngga ya…thanks be4

    • Wah, semoga saya bisa membantu, ya. Karena pengalaman saya juga tidak banyak. Tapi yang jelas kalau mau pindah alamat harus mengisi formulir di kantor Taspen itu. Dari situ bisa ditentukan pembayaran pensiunnya lewat bank atau kantor pos, dan cabangnya di mana. Semoga berhasil, ya. 🙂

  6. solehah

    emg bnr bgt..instansi2 public skrg byk mempersulit! !!! apalagi klo masalah uang…
    pke acara Legalisir surat inilah itulah..kebyakan syarat!!!
    aq baru mau ngurus taspen bantuang dana kematian alm bpk aq….
    aq mo liat bsok gman pelayanany..
    makasih yaa share n care nya ^^

  7. mamah nohan

    Uti sekarang juga mau ikut cucunya di pandaan, sepertinya hal tetek bengek mutasi ini akan aku jalani. T.T

  8. Kris

    Menjawab berbagai permasalahan di atas bersama ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:
    1. Setiap Tahun Ganjil PT Taspen mengirim SPTB (Surat Pernyataan Tanda Bukti Diri) kepada semua pensiunan yang fungsinya untuk update status berkaitan keberadaan ybs masih hidup atau sudah meninggal, alamat ybs masih sama atau sudah pindah, terakhir kaitan dengan perubahan data keluarga ada penambahan atau pengurangan apa nggak?. Pengiriman SPTB dilakukan 3 periode yaitu Januari, April dan Juli. Jika sampai September tidak mengembalikan SPTB ke Taspen maka pensiunan akan di STOP SEMENTARA. Ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
    2. Uang Pensiun wajib diambil setiap bulan, jika sampai dengan 6 bulan atau lebih tidak mengambil atau tidak pernah datang ke kantor bayar untuk update status dianggap PEnsiun Pasif yang keberadaannya perlu dilakukan on the spot oleh mitra bayar pensiun. jika tidak ditemukan keberadaan pensiunan oleh mitra bayar akan dilaporkan ke Taspen. Kemudian 2 bulan berikutnya pensiun nya akan di stop sementara. Untuk menghindari STOP Sementara para pensiunan walaupun tidak mengambil wajib hadir untuk update status di kantor bayar sejenis dimanapun paling lama 6 bulan sekali. tidak harus kantor bayar tempat buka rekening.
    3. Untuk pindah kantor bayar harus datang ke Taspen dengan membawa SK Asli dan mengisi formulir pindah kantor bayar. Jika akan pindah ke luar wilayah Taspen harus mengisi formulir pindah wilayah dengan mengisi formulir mutasi pindah cabang plus membawa SK ASLI.
    4. Penggunaan ATM umum bagi pensiunan memang dilarang karena banyak penyalahgunaan ATM umum yang menggunakan PIN angka dipakai ahli warisnya. yang boleh adalah menggunakan ATM berdurasi (ada masa tenggangnya). Solusi yang sedang dibangun saat ini sedang dibuat pilot project e-karip (elektronik Kartu identitas pensiun) yang bisa berfungsi sebagai ATM dengan pin bukan angka tapi menggunakan Finger / sidik jari, ini menghindari penggunaan ATM oleh orang yang tidak berhak.
    5. Karena Taspen adalah instansi BUMN yang diberi wewenang untuk mengelola uang PNS dan akan diaudit baik oleh KAP maupun BPK maka semua proses pengajuan klim harus bisa dipertanggungjawabkan. sehingga semua persyaratan administrasi perlu legalitas oleh pejabat berwenang.
    6. Pensiun pertama yang belum bisa dibayar oleh taspen biasanya karena
    a. SK Pensiunnya belum terbit
    b. SKPP Asli belum ada (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran)
    c. Belum mengisi formulir dan persyaratan lainnya.
    7.Taspen selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik buat para pensiunan maupun peserta PNS/BUMN lainnya.
    8.jika ada yang kurang jelas bisa hubungi via twitter di @kris1721.
    Terima kasih dan mudah-mudahan bisa memperjelas.

  9. yono

    Share pengalaman
    Hari ini (14 april 2014) datang ke PT Taspen untuk urus UDW(Uang Duka Wafat),modal nekat coba tanya tanya ke informasi,cukup membantu walau sempat di omelin karna tdk bawa persyaratan apa2,untung ada fotokopi KTP almarhum Ibu Saya.
    Di cek ternyata bulan ini di stop pembayarannya karna dianggap pasif,ngobrol2 akhirnya
    di suruh bawa persyaratan sebagai berikut:
    1.fotocopy surat kematian di legalisir lurah
    2.fotocopy pemohon
    3.fotocopi skep pensiun/SK
    4.form surat kuasa ahli waris di legalisir Lurah
    untuk form surat kuasa ahli waris,surat pernyataan pemohon,surat permohonan bayar di kasih oleh PT Taspen ,kita tinggal tulis saja.
    dan bila sdh lengkap di bawa ke bagian Claim(tempat yg mba ceritakan).
    berharap semua lancar saja..
    nb.persyaratan ini hanya bila kita yg tersisa sebagai ahli waris (anak),bapak-ibu sdh meninggal
    maaf jika share sy ini kurang berkenan bagi mba,tapi sy hanya ingin membagi pengalaman saja.

  10. Bagaimana cara mengajukan pindah tempat pembayaran pensiun dari kantor pos semarang ke kantor pos kota magelang, tk

  11. Sumartini

    Bu, tolong usulkan ke pembuat kebijakan taspen, agar dibuka pengelompokan pensiunan yg kondisinya sdh tdk bisa hadir ke bank atau tempat pengambilan pensiun.
    Kepada mereka supaya didatangi petugas taspen/pembayar tiap awal bulan dgn memberikan uang pensiun ataupun update statusnya.
    Jgn biarkan mereka mati karena stres ngurusin pengambilan uang pensiun yg tdk seberapa itu.
    Pejabat taspen juga bakal pensiun, tua, sakit dan mati, maka pikirkan kemudahan bagi para pensiunan yg sdh jompo itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: