Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Mengajarkan Disiplin Tanpa Berteriak

Pertama-tama, hilangkan dari pikiran Anda bahwa mengajarkan disiplin pada anak perlu melibatkan perilaku yang keras dan-terutama-galak. Lupakan tentang bilah rotan atau ikat pinggang ayah, kalau dulu Anda diajarkan dengan cara seperti itu.

Disiplin adalah mengajarkan perilaku yang baik dan tepat pada anak. Oleh karena itu, teknik yang tepat untuk mengajarkannya adalah dengan disiplin proaktif. Artinya, orangtua mendorong timbulnya rasa tanggung jawab anak, memelihara harga diri, dan memperkuat hubungan orangtua dengan anak. Nah, sudah jelas, kan bahwa ancaman dan hukuman bukan teknik yang tepat untuk mengajarkan disiplin?

Hal lain yang perlu Anda perhatikan, teknik mengajarkan disiplin harus disesuaikan dengan usia sehingga anak memahami perbedaan antara perilaku yang tepat dan tidak tepat. Itu sebabnya orangtua perlu memiliki strategi yang berbeda sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak.

Selain itu, tidak satu teknik pun yang dapat digunakan di segala situasi. Jadi, orangtua perlu mengantisipasi situasi dan kondisi seperti apa yang sedang terjadi untuk dapat menerapkan cara pengajaran disiplin yang tepat. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Abaikan perilaku yang mengganggu (jika mungkin). Perilaku yang tidak akan melukai anak Anda, misalnya menangis atau tantrum, dapat diabaikan. Mengabaikan berarti tidak memberi anak Anda penonton yang diinginkannya, yaitu orang-orang yang ia inginkan untuk memberi perhatian atas tindakannya. Namun, perlu diperhatikan bahwa cara pengabaian ini akan berhasil jika Anda melakukan juga hal yang sebaliknya, yaitu memberi pujian atau perhatian pada perilakunya yang positif. Jika Anda sama-sama mengacuhkan perilakunya, baik yang positif maupun negatif, anak tidak akan paham mana perilaku yang seharusnya dia pelajari.
  2. Menggunakan ekspresi wajah dan bahasa tubuh untuk menyampaikan perasaan Anda tentang perilaku anak. Meskipun tanpa suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuh Anda merupakan cara yang paling ampuh untuk memberi tahu anak betapa kecewanya Anda atas perilakunya. Saat anak semakin dewasa, Anda dapat mengatakan padanya bahwa perilakunya membuat Anda marah, sedih, atau kecewa.
  3. Menggunakan konsekuensi logis. Biarkan konsekuensi atau akibat dari perbuatannya itulah yang mengajarkan si kecil perilaku yang tepat. Misalnya, mencorat-coret dinding berakibat ia harus membantu Anda membersihkannya atau menyimpan krayonnya selama sehari. Jangan menyimpannya terlalu lama karena mereka justru menganggapnya sebagai balas dendam. Hal ini menghilangkan pembelajaran yang seharusnya mereka terima. Tentu saja, kalau Anda tidak mengizinkannya menggambar di dinding, berarti Anda sudah menyiapkan area menggambar yang tak kalah menariknya bagi anak.
  4. Mengalihkan perhatiannya. Ketika anak berebut mainan, misalnya, alihkan perhatiannya dengan mainan lain.
  5. Memuji perbuatan baik. Berilah anak-anak aturan dan arahan yang jelas tentang perilaku apa yang Anda harapkan, lalu berilah pujian jika mereka berhasil melakukannya. Misalnya, jika membereskan mainannya, Anda akan membacakannya satu cerita.
  6. Mudahkanlah anak-anak dalam melakukan hal-hal yang baik. Jika Anda ingin anak-anak merapikan mainannya seusai bermain, sediakan tempat yang mudah mereka jangkau. Jangan meletakkan rak terlalu tinggi, misalnya, agar hambatan ini tak menyulitkan anak untuk melakukan perbuatan yang baik.
  7. Memberi contoh. Sering kali, hal mudah ini diabaikan oleh orangtua. Misalnya, setelah membaca majalah, Anda perlu mengembalikan ke tempatnya dan pastikan anak Anda melihat apa yang Anda kerjakan. Demikian pula setelah makan, Anda membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur, misalnya.
  8. Untuk perilaku yang berbahaya dan melibatkan kekerasan, misalnya memukul, menggigit, atau tindakan lain yang mengakibatkan kerusakan, gunakan metode time-out, terutama setelah anak berusia 3 tahun. Dudukkan anak di tempat yang tidak ada gangguan (bukan di tempat televisi sedang menyala, tentunya). Jelaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah keliru dan berbahaya, serta beri tahu bagaimana untuk berperilaku yang benar. Lamanya time-out perlu disesuaikan dengan umur dan sebaiknya tidak lebih dari 5 menit. Gunakan penunjuk waktu sehingga anak pun tahu sampai kapan ia harus duduk diam. Setelah time-out selesai, kembalilah seperti biasa. Jangan ungkit kesalahannya, dan pujilah jika ia berperilaku baik.

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: