Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Obat Asma vs Pertumbuhan Anak

Beberapa penelitian dan laporan tentang efek samping obat asma kerap membuat para orangtua khawatir dan cenderung untuk tidak mengobati. Padahal, menurut William Lunn, direktur Interventional Pulmonary Service di Baylor College of Medicine, Houston, “Ada lebih banyak bahaya akibat orangtua tidak mengobati penyakit asma pada anaknya dibandingkan efek samping pengobatan asma itu sendiri.” Beberapa di bawah ini adalah masalah dan kontroversi utama seputar pengobatan asma untuk anak.

Steroid oral menghambat pertumbuhan anak

Kortikosteroid adalah obat anti-inflamasi kuat yang baik untuk menekan pembengkakan yang mengawali serangan asma. Obat ini dapat dihirup maupun ditelan, termasuk prednisone, prednisolone (jenis prednisone oral), Flovent, dan Pulmicort. Meskipun orang sering menyebutnya sebagai steroid, namun obat-obatan ini tidak sejenis dengan obat pembangun otot yang sering kali disalahgunakan para atlet.

Anda mungkin sering mendengar bahwa steroid oral dapat menghambat pertumbuhan anak. Namun, secara umum steorid oral yang lebih kuat diberikan pada anak hanya untuk periode yang sangat singkat, dengan tujuan mengatasi serangan asma yang parah, terutama yang membuat anak perlumembutuhkan perawatan di rumah sakit. Steroid hirup, di sisi lain, dapat digunakan sehari-hari dengan dosis tertentu.

Karena dihirup langsung ke dalam paru-paru (bukannya ditelan dan beredar ke seluruh tubuh), para ahli yakin bahwa sangat sedikit dampaknya terhadap pertumbuhan anak. “Derajat terhambatnya pertumbuhan dengan terapi asma yang tepat adalah seperempat hingga satu setengah inci pada akhir pertumbuhan dewasa,”ujar Dr. Calhoun. Lagipula, kortikosteroid hirup yang baru lebih efektif daripada jenis lawas, sehingga dokter seringkali menggunakan dosis yang lebih rendah.

Selain itu, menurut Dr. Calhoun, steroid lawas mengaktifkan cellular pathways yang menyebabnya lambatnya pertumbuhan tulang, sementara steroid jenis baru tidak mengandung komponen ini. Dengan demikian, terhambatnya pertumbuhan anak bukanlah alasan untuk menghindari pengobatan yang efektif ini. “Asma yang tidak terkontrol pada masa kanak-kanak juga dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan karena anak yang bersangkutan sering sakit sehingga mempengaruhi pertumbuhannya,” urai Dr. Calhoun.

Steroid hirup dapat menekan sistem kekebalan tubuh

Kecemasan lain adalah steroid dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga orang tersebut rentan terhadap infeksi. “Steroid dapat dan memang menekan sistem kekebalan tubuh,” ujar Dr. Calhoun, “ketika dokter memberikan steorid hirup kepada pasien asma, hal ini dipandang sebagai risiko sekaligus manfaat.”

Faktanya, steroid oral-lah yang lebih menekan sistem kekebalan tubuh dibandingkan steorid hirup. Biasanya, steroid oral digunakan dalam jumlah terbatas dan hanya untuk periode singkat. Tujuannya untuk mengatasi serangan asma yang berbahaya dan mengancam kehidupan.

Sementara, steroid hirup dapat dengan aman digunakan dalam dosis harian. Keuntungan pemakaian steroid hirup dalam pengobatan asma jauh melebihi kerugiannya. “Terdapat sedikit peningkatan risiko pneumonia jika Anda menderita asma dan mendapat pengobatan steroid hirup, tetapi ini adalah risiko yang relatif kecil dibandingkan dengan keuntungan besar yang didapat dari manajemen asma dengan obat-obatan ini,” urai Dr. Calhoun.

Untungnya, sekarang telah banyak terdapat pilihan pengobatan asma yang sangat baik dan sangat aman. Anda dapat menyampaikan kecemasan apapun kepada dokter anak. Sebagai tambahan, anak yang mendapat pengobatan steroid hirup harus membersihkan mulutnya setelah terapi untuk mengurangi risiko terkena infeksi jamur pada tenggorokan yang mudah diobati.

Pemakaian bronkodilator jangka panjang dapat meningkatkan risiko kematian terkait asma

Salah satu jenis bronkodilator, yaitu long-acting beta2-agonist, membuka jalur udara pada paru-paru dengan membuat relaks otot-otot yang menghambat jalur udara. Obat ini-termasuk Advair (fluticasone dan salmeterol) serta Symbicort (budesonide dan formoterol)-dapat mencegah serangan asma, tetapi tidak dapat menghentikan asma yang sudah telanjur kambuh.

Pada tahun 2006 FDA telah mensyaratkan agar obat ini menjelaskan pada labelnya informasi tentang risiko kematian sambil terus memantau keamanannya dan pada tahun 2008 resmi melarang pemakaian Serevent dan Foradil pada anak-anak.

Panduan terkini tidak mengajurkan obat-obatan ini sebagai obat asma tunggal, melainkan sebagai suplemen untuk pengobatan asma lainnya. “Obat-obatan ini tidak menyembuhkan peradangan sama sekali. Jadi, jika pasian asma menggunakannya dalam waktu lama tanpa steroid hirup atau tablet untuk mengontrol peradangan, pembengkakan pada jalur udaranya akan semakin buruk karena bronkodilator jangka panajng dapat menutupi gejala tersebut,” ujar Dr. Lunn. Dengan demikian, penggunaan bronkodilator jangka panjang harus dipasangkan dengan kortikosteroid hirup yang dapat mengontrol pembengkakan.

Jadi, jika Anda mencemaskan pengobatan asma untuk buah hati Anda, sebaiknya jangan langsung memutuskan tanpa pertimbangan dokter. Meskipun setiap obat tentu memiliki dampak negatif, yang diperlukan adalah sebesar-besarnya keuntungan bagi kesembuhan si kecil.

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: