Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Empati Anak ditentukan Sejak Bayi

Selama beberapa dekade terakhir semakin banyak penelitian yang menyatakan pentingnya pengalaman positif pada awal kehidupan-bahkan sejak dalam kandungan-untuk perkembangan kepribadian serta kesehatan fisik dan mental anak.

Baru-baru ini sekelompok peneliti yang dipimpin oleh profesor psikologi dari Notre Dame, Darcia Narvaez, menyatakan bahwa anak-anak yang mendapat kasih sayang dan sentuhan positif selama bayi akan menjadi anak yang lebih ramah, lebih cerdas, dan lebih peduli kepada orang lain.

Para peneliti menunjukkan bahwa bayi yang sering mendapat sentuhan fisik dari orangtuanya, segera mendapat respons saat menangis, serta mendapatkan pelajaran mengenai disiplin tanpa melibatkan hukuman, akan berkembang menjadi anak yang lebih memiliki empati. Ini berarti menjadi dewasa, mereka lebih mudah memahami pikiran dan perasaan orang lain. Pola asuh yang penuh kasih sayang ini mirip dengan yang digunakan orangtua pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, ribuan tahun lalu.

Salah satu contohnya adalah bayi yang secara instingtif akan menangis jika tidur sendirian. Tidur sendirian membangkitkan respons stres karena otak bayi menganggapnya sebagai kondisi yang ‘tidak aman’. Meskipun kemudian bayi dapat beradaptasi dengan kesendirian tersebut-yang menunjukkan betapa fleksibel perkembangan otaknya-para peneliti tetap menyatakan bahwa usaha memenuhi harapan bayi (untuk tidak tidur sendiri) memiliki keuntungan tersendiri.

Responsivitas, yaitu cara orangtua merespons kebutuhan bayi dan bertindak tepat sesuai harapan bayi, memiliki kaitan erat dengan perkembangan moral. “Responsivitas membantu memupuk kepribadian yang menyenangkan, perkembangan hati nurani yang lebih baik, dan pembentukan perilaku prososial yang lebih besar,” ujar Narvaez. Penelitian serupa juga dilakukan pada tikus dan memberikan hasil yang sama tentang pentingnya kasih sayang di awal kehidupan seorang anak. Bayi tikus yang dijilati ibunya tumbuh lebih sehat, lebih cepat, lebih cerdas melewati maze, dan lebih mudah berinteraksi sosial. Sementara bayi tikus yang kurang mendapat perhatian ibunya cenderung lemah dalam ketiga hal tersebut.

Menurut Narvaez, karena dilahirkan dengan cinta maka kita perlu menerima kasih sayang dalam cara-cara tertentu di awal kehidupan untuk mendapatkan manfaatnya. Kita perlu mempraktikkan cinta saat bertumbuh dewasa melalui pengalaman sosial yang berbeda, agar dapat memberikannya kembali dengan berlimpah. Otak terbentuk setiap hari oleh apa yang kita lakukan dan tidak kita lakukan. Jika kita tidak mempraktikkan empati, kita tidak dapat menjadi orang yang berempati. Jika kita tidak berinteraksi dengan orang lain, kita tidak dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang tersebut. Jika kita tidak berusaha mengurangi stres yang dialami orang lain melalui kasih sayang dan pengertian, baik kita maupun orang tersebut akan semakin tertekan.

Tentu saja, periode awal kehidupan bukanlah satu-satunya masa di mana anak belajar berempati. Masih banyak masa lain untuk anak-anak belajar memahami pemikiran dan perasaan orang lain. Namun, jika ingin anak kita lebih berempati di kemudian hari, banyak pelukan dan pola pengasuhan responsif tentu tidaklah merugikan.

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: