Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Psikoterapi untuk Ejakulasi Dini

Sebagian besar pria-juga wanita-mungkin akan segera mengernyit mendengar kata-kata ini. Baik untuk istilah terapi psikologis, maupun untuk ejakulasi dini. Pada dasarnya, pria dan wanita memang membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai klimaks. Umumnya, wanita membutuhkan waktu yang lebih lama karena mereka membutuhkan keintiman dan kedekatan sebelum akhirnya merasa terstimulasi.

Singkat kata, ejakulasi dini terjadi pada pria yang mengalami ejakulasi pada tahap awal hubungan seksual, atau segera setelah terjadi penetrasi. Ejakulasi dini kerap menjadi masalah bagi pasangan karena terjadinya orgasme pada saat yang kurang tepat cenderung tidak memuaskan salah satu atau keduanya. Apalagi bagi wanita yang seringkali membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai orgasme.

Ejakulasi dini dapat menimbulkan krisis kepercayaan diri. Pria yang mengalami hal ini seringkali menolak memulai suatu hubungan baru, bahkan menyarankan pasangannya untuk mencari pria lain. Di dalam hubungan itu sendiri, ejakulasi dini menggerogoti kualitas hubungan suami-istri akibat banyaknya salah paham. Si pria merasa malu, sementara si wanita khawatir bahwa tindakannya akan semakin melukai harga diri pasangannya. Atau, si wanita ingin membantu mencari pengobatan yang tepat untuk ejakulasi dini, sementara si pria justru menolak dan marah. Well, semuanya serba salah.

Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan ejakulasi dini. Namun, diyakini bahwa ejakulasi dini terjadi karena berbagai faktor, mulai dari biologis hingga psikologis, serta kombinasi dari keduanya. Faktor psikologis bahkan dianggap dapat memperburuk ejakulasi dini. Oleh sebab itu, para ahli menyarankan terapi psikologis untuk penderita ejakulasi dini, termasuk pasangan seksualnya.

Stanley E. Althof, Ph.D., dari Center for Marital and Sexual Health di Florida Selatan telah menganalisa kelebihan dan kekurangan berbagai intervensi psikologis terhadap ejakulasi dini. Psikoterapi saja hanya dibutuhkan oleh pria atau pasangan yang kondisi ejakulasi dininya disebabkan oleh faktor psikologis semata. Misalnya, depresi. Untuk pria yang belum menikah, psikoterapi dapat membantunya mengatasi krisis percaya diri untuk memasuki bahtera perkawinan.

Sementara bagi pria yang sudah menikah, psikoterapi individu dibutuhkan jika gangguan ini berakar dari masalah di masa kecilnya, atau rasa takut menyakiti wanita. Khusus untuk pasangan, psikoterapi dapat membantu kedua pihak jika mereka telah sama-sama sepakat untuk mencari solusi dari permasalahan ejakulasi dini ini sehingga siap mengeksplorasi berbagai faktor yang mungkin menjadi penyebabnya.

Psikoterapi individual biasanya berusaha mengetahui dasar-dasar perkembangan terjadinya penolakan untuk memasuki suatu hubungan, atau rasa takut akan menyakiti wanita. Mungkin juga dibutuhkan terapi perilaku dengan teknik khusus, misalnya belajar mengontrol ejakulasi, membangkitkan stimulasi hingga menjadi rangsangan, juga manajemen rasa cemas.

Sedangkan psikoterapi bersama pasangan, selain mengetahui dasar-dasar terjadinya penolakan, juga menganalisa permasalahan di dalam hubungan perkawinan yang mungkin memberi kontribusi terhadap masalah seksual dan ejakulasi dini. Terapi perilaku secara berpasangan mungkin juga perlu dilakukan.

Dr. Atlhof juga menyarankan kombinasi psikoterapi dengan obat-obatan. Obat-obat tertentu dapat menunda ejakulasi sehingga membantu pria yang bersangkutan untuk membangun rasa percaya diri sebelum ia memasuki tahap terapi psikologis. Pada saatnya, pria tersebut akan belajar bagaimana untuk merasa tidak takut terhadap dorongan seksualnya dan memperhatikan sensasi lain dari tubuhnya. Jika hal ini sudah dapat dilakukan, konsumsi obat-obatan dapat dihentikan.

Sayangnya, beberapa pria yang telah merasakan dampak positif obat-obatan justru enggan menjalani psikoterapi, sehingga mereka hanya bergantung pada obat tersebut. Pendekatan psikoterapi terbaru menekankan pada kemampuan mengontrol ejakulasi dengan mempelajari teknik baru, mendapatkan rasa percaya diri, mengurangi kecemasan, serta belajar berkomunikasi dengan lebih baik.

Para ahli percaya bahwa psikoterapi dapat memiliki pengaruh yang baik bagi pria maupun pasangan, dengan ataupun tanpa terapi medis. Yang menjadi tujuan akhir adalah peningkatan kepuasan seksual dan hubungan antara suami-istri tersebut, bukan?

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: