Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Perempuan yang Melahirkan Obama

Banyak orang orang yang mengagumi Barack Obama. Presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat ini memang simpatik dan menyenangkan bagi orang-orang di sekelilingnya. Gaya bahasanya pun teratur dan mudah dipahami oleh masyarakat. Tak heran ia merebut begitu banyak suara pada pemilihan presiden AS pada 2008 lalu. Sikapnya yang positif ini tentu saja tidak bisa lepas dari pengalaman masa kecilnya, terutama dari lingkungan keluarganya. Pengaruh sang ibu, Stanley Ann Dunham, sangat besar dalam pembentukan sikapnya ini.

Bersamaan dengan kunjungan Obama ke Indonesia baru-baru ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan bintang jasa pada wanita kelahiran Kansas, 29 November 1942 ini. Saat tinggal selama beberapa tahun di Indonesia, Ann dianggap berjasa dengan melakukan penelitian terhadap peran kaum perempuan dan pengembangan usaha mikro di Indonesia. Penganugerahan bintang jasa ini sendiri memang kontroversial. Banyak pihak menganggap pemerintah Indonesia terlalu mencari muka pada Obama. Namun terlepas dari itu, tidak ada yang membantah kalau Stanley Ann memang sosok perempuan yang luar biasa.

Stanley Ann bukan sosok sempurna. Namun ketidaksempurnaannya ini yang justru membuatnya menjadi sosok yang tangguh. Ia menjadi ibu di usia yang masih belia, dua kali menikah dan dua kali bercerai. Dari hasil pernikahannya, ia harus membesarkan dua anak yang berbeda budaya. Pendidikannya yang sempat terhambat, akhirnya bisa diselesaikan dengan meraih gelar Ph.D Antropologi. Stanley Ann yang merasa nyaman tinggal di Indonesia ini adalah pemimpi yang hidup dengan berbagai pilihan. Pilihan-pilihannya itu yang kemudian berpengaruh pada anak-anaknya, termasuk Obama.

Berpindah-pindah Tempat Tinggal

Stanley Ann menjalani masa kecilnya di berbagai tempat, mulai dari kansas, ke Kalifornia, lalu ke Texas dan Washington, mengikuti pekerjaan sang ayah. Inilah yang membuatnya selalu senang mencari sesuatu yang baru. Saat melanjutkan pendidikan Universitas Hawaii ia bertemu dengan Barack Obama Sr di kelas bahasa Rusia.

Ketika Stanley Ann dan Barack Obama Sr berpacaran, teman-temannya tidak mempermasalahkan perbedaan mereka. Di Hawaii, semua jenis budaya dapat berbaur, meskipun ini tidak berarti memudahkan pernikahan campuran. Pada tahun 1960-an, 19% wanita kulit putih di Hawai menikah dengan pria Cina, dan ini pun sudah dianggap sebagai masalah rasial.

Saat mereka menikah di Maui pada 2 Februari 1961, Stanley Ann sudah 3 bulan mengandung Barack Obama Jr. Perkawinan itu sendiri tidak banyak diketahui orang. Mungkinkah karena Stanley Ann sudah hamil? Bahkan untuk ukuran masa itu, ia masih terlalu mudah untuk menikah. Tak lama kemudian, Stanley Ann meninggalkan kuliahnya yang baru berjalan satu semester.

Saat Obama berumur hampir setahun, ayahnya meninggalkan mereka untuk menempuh pendidikan Ph.D di Universitas Harvard. Barack Obama Sr selalu berniat kembali untuk memajukan negaranya, Kenya. Namun, di sana ia telah mempunyai istri. Pada akhirnya, meskipun ia ingin membawa keluarga barunya ke Kenya, Stanley Ann tidak ragu-ragu memutuskan untuk tetap tinggal. Mereka bercerai di Honolulu, pada Januari 1964.

Meskipun menjadi orangtua tunggal yang harus bekerja keras membayar biaya hidup dan membesarkan anak, Stanley Ann memutuskan kembali sekolah. Di sanalah ia bertemu mahasiswa Indonesia, Lolo Soetoro. Pria ini sangat akrab dengan ayah Stanley Ann dan senang bermain dengan anaknya. Lolo melamarnya tahun 1967 dan mereka bersiap pindah ke Indonesia.

Mencintai Perbedaan

Segalanya serba baru bagi Stanley Ann dan Barack Obama Jr. Tempat tinggal mereka di Jakarta belum dialiri listrik dan kondisi jalanannya pun masih buruk. Saat itu Indonesia mengalami inflasi 600% dan kondisinya begitu labil. Mereka berdua adalah orang asing pertama yang tinggal di lingkungan tersebut.

Tentu, ini bukan hal yang mudah bagi Stanley Ann. Begitu besar proses adaptasi yang harus ia jalani, termasuk untuk anaknya. Selain lingkungan fisik, perbedaan budaya pun membutuhkan perhatian yang serius. Namun, Ann justru semakin tertarik dengan Indonesia.

Sayangnya, pada tahun 1971, ia terpaksa mengirim Obama kembali ke Hawaii untuk tinggal bersama orangtuanya, karena Obama mendapatkan beasiswa sekolah. Sungguh tidak mudah berpisah dari seorang anak, meskipun saat itu Stanley Ann telah memiliki anak perempuan dari perkawinannya dengan Soetoro. Tampaknya, itulah harga yang harus dibayar untuk memberikan pendidikan yang dianggap lebih baik untuk anaknya.

Setahun kemudian, Stanley Ann melanjutkan studinya di Universitas Hawaii. Ia mengambil master untuk studi antropologi Indonesia. Meskipun suaminya kerap berkunjung, mereka tak lagi tinggal bersama dan memutuskan untuk bercerai tahun 1980.

Tidak seperti kebanyakan pasangan yang bercerai, Stanley Ann tidak pernah menjelek-jelekkan mantan-mantan suaminya kepada anak-anaknya. Ia memilih untuk tidak menjadi seorang yang pesimis terhadap perceraian, maupun terhadap pria. Pengalaman hidup pun menjadikannya orang yang tidak meributkan ras maupun jender.

Peduli pada Kaum Minoritas

Setelah tiga tahun, Stanley Ann kembali ke Indonesia untuk mengerjakan Ph.D-nya. Sekali lagi ia harus berpisah dari anaknya karena Obama memutuskan untuk tetap tinggal bersama kakek-neneknya. Meskipun berat, Stanley Ann memutuskan untuk menghargai keinginan putranya. Ia berangkat ke Indonesia dan memulai penelitian yang membuatnya akrab dengan para wanita di Indonesia.

Stanley Ann berkunjung ke berbagai desa pengerajin. Ia, terutama, sangat menjiwai dunia pandai besi. Ia menjelaskan secara mendalam struktur tenaga kerja, upah, bagaimana buruh perempuan dan anak-anak ikut membesarkan industri ini, serta kendala yang dihadapi. Dengan fasih Ann menjelaskan mengapa industri besi di Jawa sangat terpengaruh oleh kualitas arang dan membandingkannya dengan pandai besi Minangkabau yang menyiasatinya dengan batu bara untuk pembakaran.

Ia mengerjakan disertasinya tentang ekonomi kerakyatan, khususnya pada masyakarat pandai besi dan kerajinan tangan. Dari kacamata akademik, Ann Dunham adalah seorang antropologis ekonomi. Fokus penelitiannya adalah masyarakat ekonomi yang terpinggirkan seperti para pandai besi dan peran wanita di pedesaan. Ia menyelesaikan desertasinya pada tahun 1992, tiga tahun sebelum menutup mata akibat kanker.

Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari Stanley Ann, termasuk sikapnya yang tidak rasial, pantang menyerah, dan ketegarannya saat menghadapi masalah. Sosoknya memang memiliki keunikan tersendiri, tanpa perlu dikaitkan dengan ketenaran anaknya.

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: