Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Pria vs Andropause

Kalau wanita mengenal istilah menopause, pada pria dikenal istilah andropause. Sebenarnya, kondisi ini memiliki istilah medis late-onset hypogonadism, yang merujuk pada penurunan tingkat hormon testosteron secara bertahap pada pria. Uniknya, andropause disertai dengan penambahan berat badan, kehilangan massa otot, merasa depresi, sulit tidur, merasa kondisi tubuh lemah, dan-yang paling penting-terjadinya disfungsi seksual.

Andropause masih menjadi bahan perdebatan di antara para ahli. Sebagian ahli menyarankan agar pria yang mengalami penurunan kadar testosteron perlu mendapatkan terapi sulih hormon-untuk mengatasi gejala andropause-seperti layaknya wanita menopause. Jika wanita menopause mendapatkan terapi sulih hormon estrogen, maka pria andropause mendapatkan terapi sulih hormon testosteron.

Pada kenyataannya, produksi testosteron memang menurun sekitar 1% per tahun setelah pria berusia 30 tahun. Meskipun tampaknya hal ini merupakan solusi, namun terapi sulih hormon mungkin memiliki efek samping yang serius, termasuk meningkatnya risiko kanker prostat, serta serangan jantung dan stroke, khususnya untuk pria di usia paruh baya.

Sementara itu beberapa ahli lain menyatakan bahwa tanpa penurunan kadar testosteron, pria usia paruh baya juga rentan mengalami penurunan dorongan seksual, depresi, atau kelelahan, akibat sejumlah faktor antara lain kesehatan dan gaya hidup. Stres bekerja dan kondisi pernikahan yang kurang memuaskan adalah contohnya. Dengan demikian, turunnya hasrat seksual atau depresi tidak semata-mata terjadi karena turunnya kadar testosteron.

Untuk menguji apakah andropause benar-benar terjadi, dan jika demikian, apa saja gejala yang ditimbulkannya, baru-baru ini sekelompok peneliti Inggris melakukan penelitian terhadap 3.210 pria berusia antara 40-79 tahun, yang tersebar di delapan tempat di Eropa. Pada akhir penelitian, mereka menemukan 3 gejala seksual yang timbul akibat turunnya kadar testosteron, yaitu: menurunnya frekuensi ereksi di pagi hari, menurunnya dorongan seksual secara keseluruhan, dan terjadinya disfungsi ereksi. Umumnya kondisi ini baru terjadi jika kadar testosteron turun hingga di bawah 11 nmol per liter.

Para peneliti juga menemukan pula gejala fisik-ketidakmampuan melakukan aktivitas berat (seperti berlari, mengangkat benda berat, dan olahraga), tidak mampu berjalan lebih dari 1 km, dan tidak mampu membungkuk atau berlutut-dan tiga gejala psikologis, yaitu kehilangan semangat, merasa sedih, dan kelelahan berat. Namun, keenam gejala ini tidak spesifik ditemukan pada pria yang mengalami penurunan kadar testosteron.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar 2% dari seluruh responden yang dapat didiagnosis menderita late-onset hypogonadism. Gejala ini ditemukan pada 0,1% populasi pria usia 40-49 tahun, meningkat menjadi 0,6% pada usia 50-59 tahun, 3,2% pada usia 60-69 tahun, dan 5,1% pada usia 70-79 tahun.

Jadi, andropause atau late-onset hypogonadism memang merupakan penurunan kadar testosteron pada pria, namun baru mengakibatkan gangguan seksual ketika mencapai batas tertentu. Dengan demikian, tidak setiap gangguan seksual merupakandan gaya hidup, misalnya, lebih berperan besar dalam hal ini. Juga, tidak berarti bahwa setiap penurunan kadar testosteron harus diatasi dengan terapi sulih hormon, mengingat kemungkinan risikonya lebih berat akibat dari turunnya kadar testosteron. Faktor kesehatan sar daripada dampak positifnya.

Dan, yang jelas, menurunnya dorongan seksual tidak dapat semata-mata dipulihkan dengan terapi sulih hormon testosteron.

Artikel di Conectique

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: