Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Barong Osing-Festival Salihara 2010

Category: Other
Jangan salah, loh. Saat memilih acara ini saya tidak tahu bahwa Barong Osing berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Bahkan, bisa dibilang saya tidak tahu apa pun tentang acara ini. Jadi, alasan menontonnya bukan karena saya sempat merasakan jadi orang Jawa Timur selama 4 tahun, ya.. 🙂

Osing adalah salah satu kelompok etnis yang dianggap tertua di Kabupatan Banyuwangi. Hingga saat ini, kelompok inilah yang masih sangat kuat meneruskan tradisi. Barong Osing dikenal juga sebagai Barong Kemiren, karena pusat orang Osing ada di Desa Kemiran. Menurut keyakinan mereka, barong adalah jelmaan roh leluhur yang berperan penting dalam pelbagai upacara untuk mengusir roh jahat. Ciri khas Barong Osing adalah keberadaannya yang di tengah-tengah, antara budaya Jawa dan Bali, agama Islam dan Hindu, sifat yang berkaitan dengan gunung dan laut, juga antara sesuatu yang suci dan biasa.

Barong Osing adalah jenis barong yang dimainkan oleh dua orang. Bentuknya seperti hewan buas dengan mata nyaris keluar dan taring (yang memang sudah keluar). Dagunya bisa bergerak-gerak.. 😀 Bukan sekadar tarian, Barong Osing mengandung cerita, dan ada juga akrobat serta semacam sulap: orang diikat-ikat tapi bisa lepas. Oya, barong ini seperti ludruk: pemainnya cowok semua, termasuk yang berperan sebagai wanita.

Hari kedua pentas Barong Osing menampilkan cerita Londaya Singa Barong. Dibuka dengan tarian lalu muncul Begawan Kudawaningpati yang merupakan penjelmaan Garuda Sawung Alit. Ia memilih seekor harimau untuk diubah menjadi manusia sakti untuk membasmi raksasa di Alas Kemirian. Namanya manusia itu adalah Londaya Singa Barong.

Setelah membasmi raksasa, Londaya melanjutkan perjalanan dan jatuh hati dengan salah satu istri Pak Mantri. Ia menipu kedua abdi Pak Mantri sehingga dapat melarikan Siti Ambari. Siti Ambari tampaknya tersihir sehingga mencintai Londaya. Ketika tertangkap, Londaya diikat dan dihukum dengan cara ditendang ke sana kemari. Karena kesaktiannya, Londaya terbebas dari ikatan dan kembali membawa pergi Siti Ambari. Garuda Sawung Alit mendatangi Londaya untuk mengingatkan kesalahannya. Tetapi Londaya tidak mau mendengar dan mereka bertarung. Londaya kalah dan berubah menjadi harimau kembali.

Menurut komentator setiaku, hewan yang diubah menjadi manusia ini adalah simbol dari proses peradaban di mana manusia liar berubah menjadi manusia berbudi pekerti. Begitulah… 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: