Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Mengenal Darah, Si Alat Transportasi

Darah memiliki fungsi yang sangat penting dalam metabolisme tubuh. Terganggunya sistem aliran darah dapat menyebabkan organ-organ tubuh tidak berfungsi dengan baik. Lakukanlah pemeriksaan darah untuk mengetahui seberapa baik kondisi kesehatan Anda dan kenali penyakit-penyakitnya.

Sel darah merah bertugas mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh dan membuang karbon dioksida dari tubuh. Sel-sel ini dibuat oleh bone marrow, jaringan berbentuk spons di dalam tulang. Sel darah merah dapat hidup selama 120 hari, kemudian mati.

Sel darah putih dan platelet juga dibuat dalam bone marrow. Sel darah putih berfungsi mencegah infeksi, sementara platelet saling menempel untuk menutup bagian pembuluh darah yang luka dan menghentikan pendarahan.

Hematologi adalah cabang dari ilmu biologi (fisiologi), patologi, laboratorium klinis, penyakit dalam, dan pediatric yang mempelajari darah, organ pembentuk darah, juga penyakit darah. Berasal dari bahasa Yunani, aima yang berarti darah, hematologi mencakup etiologi, diagnosis, perawatan, prognosis, dan pencegahan penyakit-penyakit darah. Gangguan pada darah biasanya mempengaruhi produksi darah dan komponen-komponennya, seperti sel darah, hemoglobin, protein darah, mekanisme pembekuan darah, dan lain sebagainya.

Sirkulasi Darah

Sistem kardiovaskular adalah sistem peredaran darah, termasuk di dalamnya jantung sebagai pompa, pembuluh darah darah sebagai selang dan darah sebagai isinya. Sistem sirkulasi darah ini meliputi sirkulasi besar dari jantung ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung, sirkulasi kecil dari jantung ke paru dan kembali lagi ke jantung, serta sirkulasi koroner di dalam jantung sendiri. Pada sirkulasi besar, kerusakan dapat terjadi pada organ-organ tubuh seperti otak, ginjal dan jeroan tubuh lainnya, tangan, kaki, mata dan sebagainya. Penderitanya dapat mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi), stroke, iskemi (hambatan pada pasokan darah) tungkai akut, bahkan buta mendadak karena sumbatan pembuluh mata. Stroke sendiri sering digolongkan oleh ahli syaraf sebagai kelainan serebro vaskuler (pembuluh darah otak)

Pada sirkulasi kecil, dapat terjadi penyakit emboli (benda asing masuk ke pembuluh darah) paru dan hipertensi paru. Pada sirkulasi koroner, penyakit terjadi akibat darah pada fase diastolik (fase istirahat pada jantung) mengisi koroner dari pangkal aorta sehingga darah kembali mengalir ke jantung dan bermuara di serambi kanan. Pada sirkulasi ini, dapat terjadi penyakit jantung atau pembuluh koroner dalam bentuk angina pectoris, infark miokard dan penyakit lainnya.

Pembuluh darah terdiri dari arteri, arteriola, kapiler, venula dan vena. Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi. Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah di antara denyut jantung. Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu.

Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis. Fungsinya sebagai jembatan antara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena (membawa darah kembali ke jantung). Kapiler memungkinkan oksigen dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah.

Dari kapiler, darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri, sehingga vena mengangkut darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu dibawah tekanan.

Pemeriksaan Darah

Dengan fungsi dan tugasnya yang demikian penting, profil darah dapat menggambarkan banyak hal tentang kondisi tubuh kita. Itu sebabnya dianjurkan melakukan pemeriksaan darah setiap tahun. Dari hasil tersebut Anda dapat mengetahui seberapa baik kondisi kesehatan Anda, termasuk jika hasilnya menunjukkan ketidaksesuaian dengan angka rata-rata yang dianggap normal. Namun Anda tak perlu langsung khawatir, karena hal tersebut masih dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk faktor usia.

Pemeriksaan darah yang paling sering dilakukan adalah hitung jenis sel darah lengkap (complete blood cell count), yang merupakan penilaian dasar dari komponen sel darah. Selain untuk menentukan jumlah sel darah dan trombosit, persentase dari setiap jenis sel darah putih dan kandungan hemoglobin, hitung jenis sel darah menilai ukuran dan bentuk dari sel darah merah. Sel darah merah yang abnormal bisa pecah atau berbentuk seperti tetesan air mata, bulan sabit atau jarum. Mengetahui bentuk atau ukuran sel darah merah bisa membantu mendiagnosis suatu penyakit. Misalnya, sel berbentuk bulan sabit adalah khas penyakit sickle cell anemia, sel darah merah yang kecil dapat merupakan pertanda stadium awal kekurangan zat besi, dan sel darah merah berbentuk oval besar menunjukkan kekurangan asam folat atau vitamin B12 (anemia pernisiosa).

Pemeriksaan lainnya memberikan keterangan tambahan tentang sel darah. Hitung retikulosit adalah penghitungan jumlah sel darah merah muda (retikulosit) dalam volume darah tertentu. Dalam keadaan normal, retikulosit mencapai jumlah sekitar 1% dari jumlah total sel darah merah. Jika tubuh memerlukan lebih banyak darah merah (seperti yang terjadi pada anemia), secara normal sumsum tulang akan memberikan jawaban dengan membentuk lebih banyak retikulosit. Karena itu penghitungan retikulosit merupakan penilaian terhadap fungsi sumsum tulang.

Sel darah putih dapat dihitung sebagai suatu kelompok terpisah (hitung sel darah putih). Jika diperlukan keterangan yang lebih rinci, umumnya dilakukan penghitungan jenis-jenis tertentu dari sel darah putih (differential white blood cell count).

Pemeriksaan yang juga sering dilakukan pada plasma darah adalah analisis elektrolit, yaitu mengukur kadar natrium, klorida, kalium dan bikarbonat, kalsium, magnesium, dan fosfat. Pemeriksaan lain mengukur jumlah protein (biasanya albumin), gula (glukosa) serta bahan limbah racun yang secara normal disaring oleh ginjal (kretinin dan urea-nitrogen darah). Sebagian besar pemeriksaan darah lainya membantu memantau fungsi organ lainnya. Misalnya fungsi tiroid lebih mudah dinilai dengan mengukur kadar hormon tiroid dalam darah dibandingkan dengan mengambil contoh tiroid secara langsung. Begitu juga untuk melihat kondisi hati. Pengukuran enzim hati dan protein dalam darah lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan mengambil contoh hati.

Berikut gambaran pemeriksaan darah secara umum:

No Yang Diukur Tujuan Hasil Normal Keterangan
1. Glukosa Memeriksa kadar gula darah dan kemungkinan menderita diabetes. 

Pengambilan darah pertama dilakukan setelah 8 jam puasa. Setelah itu Anda harus makan dan kembali memeriksakan darah setelah 2 jam.

Glukosa puasa: 

65—100 mg/dl.

Glukosa 2 jam setelah makan:

< 140 mg/dl

Selama tidak kurang dari 50 mg/dl atau terjadi gejala hipoglikemia (pusing, berkeringat, sakit kepala, detak jantung cepat), kadar glukosa yang lebih rendah dari hasil normal tidak menjadi masalah. 

Kadar glukosa puasa:

> 100 mg/dl = Pradiabetes (badan mulai sulit memroses gula),

> 126 mg/dl = Diabetes.

Kadar glukosa 2 jam setelah makan:

140—199 mg/dl =

Pradiabetes,

> 200 mg/dl = diabetes

2. BUN (Blood Urea Nitrogen) atau Urea dan Kreatinin darah. Melihat fungsi ginjal, karena BUN mengukur kadar nitrogen  yang disaring oleh ginjal dan dibuang lewat air seni. 

Kreatinin adalah pembuangan dari pembentukan energi di otot.

BUN: 6—24 mg/dl 

Kreatinin:

0,5—1,2 mg/dl.

Kadar BUN yang meningkat bisa menjadi sinyal malfungsi ginjal, namun lebih sering merupakan pertanda dehidrasi. 

Bila rasio BUN:Kreatinin > 20:1, Anda harus mengasup lebih banyak cairan.

Kreatinin > 1.4 mg/dl bisa menjadi pertanda masalah ginjal.  Jika Anda adalah penderita diabetes atau hipertensi yang dapat menyebabkan komplikasi ginjal, kadar kreatinin harus selalu dipantau.

3. Sodium, Potasium dan Klorida Ketiganya merupakan elekrolit yang larut dalam darah, sehingga dapat diketahui keseimbangan cairan dalam tubuh dan  mekanisme pengolahan garam. Sodium: 

136—145 mEq/L

Potasium:

3,5—5,5 mEq/L

Klorida:

97—110 mg/dl

Beberapa jenis obat bisa mempengaruhi kadar sodium dan potasium. Namun bila hasilnya terlalu tinggi atau rendah, mungkin ada gangguan ginjal.
4. Kalsium dan Fosfor Memeriksa kondisi tulang, meskipun tidak mendiagnosis keropos tulang (osteoporosis). Kalsium: 

8,4—10,4 mg/dl

Fosfor:

2,5—4,5 mg/dl

Jika kadar kalsium dalam darah rendah, tubuh akan mengambil kalsium dari tulang untuk ‘memberi makan’ otot (kalsium diperlukan otot untuk berkontraksi). Jika ini terus terjadi, peluang terjadinya osteoporosis semakin besar. 

Tingkat fosfor yang tinggi biasanya disebabkan oleh penyakit ginjal. Bila kadar fosfor meningkat, penyerapan kalsium akan terganggu sehingga merapuhkan tulang.

5. ALP (Alkalin Fosfatase), ALT (Alanin Transaminase) dan Albumin 

ALP dan ALT merupakan enzim dalam liver, sedangkan albumin merupakan protein yang diproduksi liver, dengan demikian pemeriksa kondisi liver. ALP: 

98—279 Unit/L

ALT:

13—50 Unit/L

Albumin:

3,5—5,5 g/dl

Pada tahap awal, kerusakan liver sering tidak menunjukkan tanda-tanda. Karena itu, tes ini merupakan alat deteksi yang baik.
6. HgB (Hemoglobin) dan HCT (Hematokrit). Memeriksa kemungkinan anemia (kurang darah). HgB wanita dewasa: 12—16 g/dl 

HgB pria dewasa: 14—18 g/dl

HCT wanita dewasa:38—47%

HCT pria dewasa:

42—50%

MCV (mean corpuscular volume ) adalah volume rata-rata satu sel darah merah. Bila jumlah sel darah merah rendah (memiliki MCV rendah), bisa menjadi pertanda rendahnya kadar zat besi dalam darah.
7. Trombosit Melihat kemampuan tubuh dalam mengontrol pendarahan. 200.000—400.000/mm3 Bila hasil tes < 150.000/ 

mm3, pendarahan mudah terjadi. Bila > 450.000/mm3, mudah terjadi pembekuan darah.

8. Sel darah putih Kemampuan tubuh melawan infeksi. 5.000—10.000/ mm3 Meningkatnya jumlah sel darah putih merupakan pertanda infeksi. Jika cukup parah, jumlah sel darah putih bisa membengkak hingga 3 kali lipat. Jenis-jenis sel darah putih yang berbeda merupakan petunjuk adanya gangguan kesehatan yang berbeda.

Penyakit-penyakit Darah

1. Anemia

Penyakit ini terjadi akibat kurangnya jumlah sel darah merah, atau sel darah merah tidak mengandung cukup hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dengan kandungan zat besi tinggi yang membuat warna merah pada darah. Protein ini bertugas membantu sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Pada penderita anemia, tubuhnya tidak mengandung darah yang kaya oksigen. Karena itu ia cenderung merasa cepat lelah. Beberapa jenis anemia bersifat ringan dan mudah dirawat. Ada yang dapat dicegah dengan melakukan diet sehat, ada pula yang dirawat dengan suplemen tertentu. Namun beberapa kondisi anemia dapat berlangsung parah, panjang, dan mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan baik. Anemia yang berlangsung cukup lama atau kondisinya parah menyebabkan kekurangan oksigen dalam darah dan mengakibatkan kerusakan pada jantung, otak, serta organ lain dalam tubuh. Beberapa kasus anemia yang cukup berat bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Berkurangnya jumlah sel darah merah dapat terjadi karena tiga sebab: kehilangan darah, kurangnya produksi sel darah merah, atau tingginya tingkat perusakan sel darah merah. Seseorang bisa saja menderita anemia akibat satu atau beberapa faktor penyebab. Perawatan yang diberikan dokter tergantung pada apa penyebab anemia dan bagaimana kondisi penyakitnya. Namun jika kondisi anemia sudah parah, mungkin dibutuhkan tranfusi darah atau transplantasi sel darah atau sel bone marrow.

Kehilangan darah merupakan penyebab utama anemia, terutama jenis iron-deficiency anemia. Umumnya kehilangan darah dalam jumlah cukup besar terjadi pada wanita yang mengalami menstruasi dengan pendarahan cukup banyak. Kehilangan darah dapat bersifat sementara maupun permanen. Faktor lain yang memungkinkan terjadinya kehilangan darah misalnya kecelakaan, menderita kanker, atau tindakan operasi.

Ketidakmampuan menghasilkan jumlah sel darah merah yang mencukupi bisa terjadi karena faktor genetis maupun nongenetis. Di antara faktor nongenetis adalah gangguan hormon, beberapa jenis penyakit kronis, kehamilan, dan diet yang tidak tepat. Diet yang minim asupan zat besi, asam folat, atau vitamin B12 dapat mengurangi kemampuan tubuh membuat sel darah merah dalam jumlah cukup. Selain itu, tubuh juga membutuhkan vitamin C, riboflavin, dan tembaga, serta hormon erythropoietin yang akan merangsang bone marrow membuat sel darah merah.

Penyakit jangka panjang seperti kanker dan penyakit ginjal juga dapat menghambat tubuh dalam membuat sel darah merah. Khusus untuk kanker, beberapa pengobatannya dapat merusak jaringan bone marrow atau menghambat kemampuan sel darah merah untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Jika jaringan bone marrow rusak, tubuh tidak mampu membuat sel darah merah cukup cepat untuk menggantikan sel-sel yang mati atau rusak. Sedangkan penderita HIV/AIDS dapat menderita anemia karena infeksi atau pengobatan yang diberikan.

Sedangkan anemia pada masa kehamilan terjadi karena kekurangan zat besi dan asam folat, serta perubahan yang terjadi pada darah. Selama enam bulan pertama, bagian cair darah yang disebut plasma meningkat lebih cepat dan jumlah sel darah merah. Akibatnya, darah menjadi lebih encer dan terjadilah anemia.

Beberapa bayi terlahir tanpa kemampuan membuat sel darah merah yang diperlukan tubuhnya. Kondisi ini disebut aplastic anemia. Anak-anak seperti ini umumnya membutuhkan transfuse darah untuk meningkatkan jumlah sel darah merah. Beberapa jenis obat, racun, dan infeksi juga dapat menyebabkan aplastic anemia.

Penghancuran terlalu banyak sel darah merah bisa disebabkan oleh kondisi genetis, misalnya penyakit sickle cell anemia, thalassemia, dan kekurangan enzim. Hemolytic anemia adalah contoh lain dari kondisi di mana tubuh menghancurkan terlalu banyak sel darah merah. Demikian pula penyakit atau pembesaran pada limpa, yaitu organ yang membuang sel darah yang telah usang dari dalam tubuh.

Anemia adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja, namun wanita pada masa produktif cenderung lebih rentan menderita anemia karena pendarahan yang dialami selama menstruasi. Bahkan, bayi usia 2 bulan pun dapat menerita aemia akibat kurangnya asupan zat besi, terutama jika bayi mendapatkan susu sapi.

Penderita anemia dapat mengalami masalah dengan detak jantungnya (aritmia). Lama-lama hal ini bisa merusak jantung dan mengakibatkan gagal jantung. Anemia juga dapat merusak organ tubuh lain karena organ tersebut tidak mendapat cukup oksigen. Bagi penderita HIV/AIDS, anemia bisa memperburuk kondisi mereka dan mengakibatkan beberapa pengobatan tidak berjalan dengan semestinya.

Gejala anemia yang utama adalah kelelahan. Anda mungkin saja merasa terlalu lelah bahkan untuk sekedar melakukan aktivitas harian. Tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai adalah pusing, sakit kepala, kulit pucat, terasa dingin pada tangan dan kaki, napas pendek-pendek, juga rasa sakit pada dada. Gejala ini terjadi karena jantung harus bekerja lebih keras memompa darah yang mengandung oksigen lebih banyak ke seluruh tubuh.

Dokter Anda akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti pemeriksaan irama jantung, paru-paru dan cara Anda bernapas, termasuk meraba rongga perut untuk memeriksa hati dan limpa Anda. Tentu saja Anda juga akan akan diminta melakukan pemeriksaan darah lengkap. Bone marrow juga mungkin akan diperiksa untuk mengetahui apakah jaringan tersebut berfungsi dengan baik.

Untuk mencegah anemia, asupan zat besar perlu diperhatikan. Tubuh lebih mudah menyerap zat besi dari daging dibandingkan dengan sayur-sayuran ataupun bahan makanan lainnya. Umumnya dokter akan menganjurkan memperbanyak konsumsi daging merah. Sumber zat besi lainnya adalah bayam dan sayuran berwarna hijau tua lainnya, kacang-kacangan, telur, polong-polongan, dan buah yang dikeringkan. Zat besi juga ditambahkan pada beberapa makanan seperti sereal, roti, dan pasta.

Selain zat besi, tubuh juga membutuhkan asam folat untuk membuat dan mempertahankan sel-sel baru. Asam folat adalah salah satu bentuk vitamin B yang ditemukan pada makanan. Sumber-sumber asam folat dapat diperoleh dari bayam dan sayuran berwarna hijau tua, hati sapi, telur, pisang, dan jeruk. Tubuh juga membutuhkan vitamin C untuk penyerapan zat besi. Berbagai buah merupakan sumber vitamin C yang baik, termasuk aneka jeruk, kiwi, mangga, stroberi, dan semangka.

2. Sickle Cell Anemia

Sesuai namanya, pada penyakit ini sel darah merah berbentuk bulan sabit. Padahal, bentuk normalnya adalah bulat seperti donat tanpa lubang. Bentuk bulan sabit ini membuat sel darah merah kehilangan fleksibilitasnya dan berakhir pada sejumlah konplikasi. Abnormalitas bentuk sel darah merah ini terjadi karena mutasi gen hemoglobin. Menurut sejumlah penelitian, dengan penyakit ini angka harapan hidup pun menurun, menjadi 42 tahun pada pria dan 48 tahun pada wanita. Penyakit ini biasanya dijumpai pada masa kanak-kanak, dan biasaya terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana penyakit malaria pernah atau masih banyak terjadi.

Gejala penyakit ini meliputi napas pendek terutama ketika bekerja berat, nyeri dada, batuk, pusing, kejang, sakit kepala, nyeri pinggang dan perut, nyeri pada lengan dan kaki, bahkan dapat berpengaruh pada penglihatan. Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat memperbaiki pembentukan sel bulan sabit. Karena infeksi dapat memperparah kondisi penderita anemia bulan sabit, pengobatan lebih diarahkan untuk mencegah infeksi, deteksi dini, dan pengobatan segera setiap ada infeksi. Termasuk di dalamnya pemberian antibiotik dan hidrasi cepat dengan dosis yang besar. Pemberian oksigen biasanya hanya dilakukan bila penderita mengalami hipoksia (sindrom kekurangan oksigen pada jaringan tubuh, biasanya terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian).  Nyeri hebat akibat  infeksi dapat mengenai setiap bagian tubuh. Sementara tranfusi biasanya hanya diperlukan jika membran eritrosit pecah, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma), atau selama kehamilan.
3. Thalassemia

Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang bersifat menurun (genetik). Enam sampai sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini. Jika sesama penderita thalassemia menikah, kemungkinan yang terjadi pada anak yang dilahirkan adalah 25% talasemia mayor, 50% carrier (pembawa sifat) dan 25% sehat. Pada keadaan ini, sel darah merah yang dihasilkan pecah lebih cepat dari sel darah merah normal. Akibatnya, terjadi kekurangan sel darah merah bahkan bisa jadi membutuhkan donor darah secara rutin.

Umumnya thalassemia digolongkan menjadi thalassemia mayor dan minor (disebut juga thalassemia pembawa sifat). Penderita thalassemia minor seringkali tidak merasakan gejala apapun. Hanya kadang-kadang mengalami anemia kekurangan zat besi ringan. Untungnya lagi, kemungkinan penderita thalassemia minor menjadi pengidap thalassemia mayor hampir tidak ada. Sementara itu, penderita thalassemia mayor perlu mendapat perhatian juga perawatan khusus. Di dalam tubuhnya tidak tersedia hemoglobin dalam jumlah cukup karena jaringan bone marrow-nya tidak dapat memproduksi sel darah merah sesuai kebutuhan.

4. Thrombophilia

Ini adalah kondisi di mana darah menggumpal dengan begitu mudah atau sulit larut dalam cairan darah. Normalnya, pembekuan darah terjadi untuk menutup ‘kerusakan’ pada dinding pembuluh darah dan menghentikan pendarahan. Setelah pendarahan berhenti, tubuh akan memecah fibrin, yaitu sejenis protein yang berperan sebagai perekat antarbekuan darah. Pembekuan juga dapat terjadi untuk melambatkan aliran darah dalam pembuluh. Perlambatan biasanya terjadi ketika melewati pembuluh darah kecil.

Pembekuan darah yang berlebihan bisa disebabkan oleh beberapa hal. Namun, apapun penyebabnya hal ini bisa membatasi bahkan menghambat aliran darah. Ujung-ujungnya hal ini bisa merusak organ yang tidak mendapat suplai darah, dan menyebabkan kematian.

Meskipun dapat diturunkan, kondisi ini lebih banyak terjadi akibat penyakit, kondisi, atau faktor lain. Pada gangguan pada kekebalan otomatis tubuh yang disebut Antiphospholipid Antibody Syndrome, antibodi dalam tubuh merangsang pembekuan darah pada arteri dan vena. Keduanya adalah pembuluh darah yang menghubungkan jantung dengan seluruh tubuh. APS lebih banyak ditemukan pada wanita dan orang-orang yang menderita gangguan reumatik seperti lupus.

Kondisi lain yang memicu hal ini andalah merokok, diabetes, obesitas, dan perawatan di rumah sakit. Diabetes meningkatkan risiko pembentukan plak pada arteri. Sekitar 80% kematian pada penderita diabetes disebabkan oleh pembekuan darah yang berbahaya. Sementara obesitas dapat menimbulkan atherosclerosis yang dapat merusak pembuluh darah. Perusakan ini memicu terjadinya pembekuan darah.

Sementara kecacatan genetis yang mengakibatkan pembekuan darah secara berlebihan terjadi pada protein yang dibutuhkan untuk terjadinya pembekuan ini. Kecacatan juga dapat terjadi pada substansi yang berfungsi mencairkan pembekuan darah. Obat-obatan untuk mengencerkan darah seringkali harus digunakan secara rutin pada penderita yang pembekuan darahnya dapat mengancam jiwa.

5. Hemofilia

Hemofilia berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari dua kata yaitu haima yang berarti darah dan philia yang berarti cinta atau kasih sayang. Pada penyakit ini, proses pembekuan darah tidak berjalan dengan semestinya. Penderita membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses pembekuan darah tersebut. Hemofilia adalah suatu penyakit yang diturunkan. Penderita hemofilia kebanyakan mengalami gangguan perdarahan di bawah kulit. Misalnya luka memar jika sedikit saja mengalami benturan, luka memar timbul dengan sendirinya jika penderita baru saja melakukan aktivitas yang berat, atau pembengkakan pada persendian (lulut, pergelangan kaki, siku). Hal ini bisa membahayakan jiwa jika pendarahan terjadi pada organ tubuh yang vital seperti otak.

Hemofilia terbagi atas dua jenis, yaitu hemophilia A (klasik) dan B (Christmas Disease). Disebut hemofilia klasik karena jenis ini adalah yang paling banyak kekurangan faktor pembekuan pada darah. Pada jenis ini terjadi kekurangan protein faktor 8 pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan. Sementara hemofilia B disebut Christmas Disease karena ditemukan pertama kali pada seorang bernama Steven Christmas asal Kanada. Pada jenis ini terjadi kekurangan protein faktor 9 pada darah. Hemofilia A terjadi sekurang – kurangnya 1 di antara 10.000 orang. Hemofilia B lebih jarang ditemukan, yaitu 1 di antara 50.000 orang.

Gangguan terjadi karena kekurangan jumlah pembeku darah jenis tertentu, bahkan hampir tidak ada. Ketika mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada pembuluh darah. Untuk menutup ‘kebocoran tersebut, pembuluh darah mengerut dan keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. Faktor-faktor pembeku da-ah bekerja membuat anyaman benang-benang fibrin yang akan menutup luka sehingga darah berhenti mengalir keluar pembuluh. Penderita hemofilia kekurangan jumlah faktor pembeku darah tertentu sehingga anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna dan darah tidak berhenti mengalir keluar pembuluh.

Hemofilia tidak mengenal ras, perbedaan warna kulit atau suku bangsa. Paling banyak diderita oleh pria, sementara wanita akan menderita hemofilia jika ayahnya seorang hemofilia dan ibunya pemabawa sifat (carrier). Sebagai penyakit yang di turunkan, seseorang menderita hemofilia sejak dilahirkan. Tetapi pada kenyataannya hemofilia selalu terdeteksi pada tahun pertama.

Hemofilia A dan B dapat di golongkan dalam 3 tingkatan, yaitu :

Klasifikasi Kadar Faktor VII dan Faktor IX di dalam darah
Berat Kurang dari 1% dari jumlah normalnya
Sedang 1% – 5% dari jumlah normalnya
Ringan 5% – 30% dari jumlah normalnya

6. Lymphocytopenia

Limfositopenia adalah jumlah limfosit yang rendah di dalam darah (dibawah 1.500 sel/mikroL darah pada dewasa atau dibawah 3.000 sel/mikroL pada anak-anak). Limfosit adalah suatu jenis sel darah putih yang terlibat dalam system kekebalan tubuh. Ada dua kategori besar limfosit, yaitu limfosit berbutiran besar (large granular lymphocytes) dan limfosit kecil. Limfosit dibuat pada sumsum tulang hati dan menghasilkan antibodi pada anak-anak yang akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Dalam keadaan normal, jumlah limfosit mencapai 15-40% dari sel darah putih dalam aliran darah.

Ada dua jenis limfosit, yaitu limfosit B (disebut juga sel B) dan T (disebut juga sel T). Sel B berasal dari sumsum tulang dan matang di dalam sumsum tulang; sedangkan sel T berasal dari sumsum tulang, tetapi proses pematangannya tejadi di dalam kelenjar timus. Sel B berubah menjadi sel plasma, yang menghasilkan antibodi untuk  membantu tubuh menghancurkan sel-sel abnormal dan organisme penyebab infeksi (misalnya bakteri, virus dan jamur). Sementara sel T berfungsi sebagai sel pembunuh (mengenali dan menghancurkan sel abnormal atau terinfeksi), penolong (membantu sel lainnya untuk menghancurkan organisme penyebab infeksi) dan penekan (menekan aktivitas limfosit lainnya sehingga mereka tidak menghancurkan jaringan yang normal).

Limfosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi virus, membantu sel lainnya untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri dan jamur, berubah menjadi sel yang membentuk antibodi (sel plasma), melawan kanker, dan membantu mengatur aktivitas sel lainnya dalam sistem kekebalan. Jumlah limfosit dapat berkurang dengan segera karena stres berat juga akibat pengobatan kortikosteroid, kemoterapi untuk kanker dan terapi penyinaran. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan limfositopenia adalah kanker (leukemia, limfoma, penyakit Hodgkin), artritis rematoid, lupus eritematosus sistemik, infeksi kronik, dan AIDS.

Limfositopenia karena obat-obatan, biasanya akan mereda dalam beberapa hari setelah pemakaian obat dihentikan. Jika karena AIDS, biasanya hanya sedikit yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah limfosit, meskipun obat tertentu bisa meningkatkan jumlah sel T-penolong. Jika terjadi kekurangan limfosit B, maka konsentrasi antibodi dalam darah bisa turun dibawah normal.
Pada keadaan ini, diberikan gamma globulin untuk membantu mencegah infeksi. Sementara jika terjadi infeksi diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus untuk melawan organisme penyebabnya.

7. Thrombocytopenia

Trombositopenia adalah berkurangnya jumlah sel keping darah (trombosit) di dalam tubuh (darah) karena suatu hal. Darah biasanya mengandung sekitar 150.000-350.000 trombosit/mL.

Jika jumlah trombosit kurang dari 30.000/mL, bisa terjadi perdarahan abnormal meskipun biasanya gangguan baru timbul jika jumlah trombosit mencapai kurang dari 10.000/mL.

Penyakit ini bisa disebabkan akibat sumsum tulang menghasilkan sedikit trombosit, trombosit terperangkap di dalam limpa yang membesar, trombosit menjadi terlarut, atau meningkatnya penggunaan dan penghancuran trombosit. Pendarahan pada kulit bisa menjadi pertanda awal dari jumlah trombosit yang berkurang. Bintik-bintik keunguan seringkali muncul di tungkai bawah dan cedera ringan bisa menyebabkan memar yang menyebar. Bisa juga terjadi pendarahan pada gusi, atau ditemukan darah pada tinja atau air kemih. Sementara pada penderita wanita, darah menstruasinya sangat banyak.

Jika jumlah trombosit semakin menurun, maka pendarahan akan memburuk. Jumlah trombosit kurang dari 5.000-10.000/mL bisa menyebabkan hilangnya sejumlah besar darah melalui saluran pencernaan atau terjadi perdarahan otak (meskipun otaknya sendiri tidak mengalami cedera) yang bisa berakibat fatal.

8. Hemochromatosis

Ini adalah penyakit keturunan yang menyebabkan tubuh kelebihan zat besi, dan selanjutnya menyerang organ-organ seperti liver, jantung, dan pankreas. Penyakit ini, bisa menjadi faktor pemacu penuaan yang bekerja secara diam-diam. Kecuali dideteksi dan diobati sejak dini, penyakit ini dapat mengundang artritis, diabetes, kanker, bahkan ajal yang prematur.

Jika berlebih, zat besi akan disimpan sebagai cadangan. Begitu telah berada dalam tubuh, mineral ini terus berada disana, kecuali jika Anda mengalami pendarahan. Ketika jumlahnya berlebihan, zat besi menghasilkan radikal-radikal bebas, yakni molekul-molekul oksigen yang secara kimiawi tidak stabil dan dapat merusakj antung serta liver, juga mempercepat proses penuaan di seluruh tubuh. Penderita hemokromatosis , misalnya, 200 kali lebih berpeluang menderita kanker liver dibanding orang biasa. Selain itu, kelebihan zat besi dapat menyebabkan sirosis, sebuah penyakit tak dapat disembuhkan yang dapat menimbulkan jaringan parut dan akhirnya merusak liver.

Zat besi yang berlebihan juga mengganggu kemampuan jantung dalam memompa darah dan mengundang terjadinya sejenis penyakit jantung yang disebut congestive cardiomyopathy, penyebab membesarnya otot-otot jantung. Kondisi ini 300 kali lebih fatal pada penderita hemokromatosis daripada orang kebanyakan. Hemokromatosis juga dapat mengubah kulit menjadi gelap dan merusak kelenjar pituitari, menyebabkan menurunnya dorongan seksual, impotensi, dan kemandulan.

Tidak ada gejala awal yang dapat dijadikan pegangan pada penyakit ini. Yang biasa ditemukan adalah penyakit jantung, diabetes, sirosis, lemas tak bertenaga, kulit menjadi gelap, bahkan terkadang hanya sakit pinggul. Begitu berhasil didiagnosis, hemokromatosis diobati dengan cara membuang darah penderita. Cara ini efektif karena setiap kira-kira setengah liter darah mengandung sekitar 200 miligram besi. Kangkah ini memaksa sumsum menarik cadangan besi dari tubuh ketika mengganti sel-sel darah merah yang diambil dengan yang baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: