Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Mengajarkan Peran Jender pada Anak

Anda mungkin pernah mengalami hal ini: ketika mendengar berita kelahiran seorang bayi, akan ada pertanyaan susulan apa jenis kelaminnya untuk membelikan hadiah dengan warna yang sesuai. Bayi laki-laki kerap diberi hadiah berwarna biru, sementara bayi perempuan diberi hadiah berwarna merah jambu. Meskipun tampaknya sederhana, tindakan ini kerap berlanjut pada pembedaan lain antara anak perempuan dengan anak laki-laki, yang di kemudian hari berdampak pada bagaimana individu tersebut memandang diri dan perannya dalam masyarakat.

Bagi sebagian besar orang, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Tapi tengoklah perkara kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, yang justru kerap dilakukan oleh suami terhadap istri. Seringkali yang menjadi alasan bukan karena suami tidak mengerti bahwa ia tidak boleh melakukan kekerasan, tetapi justru karena merasa dirinya adalah pihak yang superior dalam rumah tangga dan karenanya berhak melakukan apapun terhadap istrinya. Dan, seringkali hal ini tumbuh subur juga karena istri, meski dengan tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun, tetap menganggap dirinya adalah pihak yang inferior. Kepatuhan dan ketaatan pada suami seolah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, meskipun suami memperlakukan dirinya bukan lagi seperti manusia yang layak dihargai.

Berbeda, tapi Tidak Dibedakan

Meskipun seringkali disederhanakan menjadi orientasi seksual , jender merupakan salah satu komponen sistem seksualitas yang merujuk pada aturan-aturan di mana sebuah sistem masyarakat mengubah seksualitas biologis ke dalam produk-produk aktivitas manusia.  Ini berarti seperangkat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, mulai dari fungsi biologis hingga sosialnya. Pada tingkat biologis, laki-laki dan perempuan memiliki susunan tubuh  yang berbeda. Perbedaan ini memungkinkan perempuan untuk hamil dan melahirkan anak, sementara laki-laki tidak. Karena itu kita mengenal istilah maskulinitas dan femininitas. Identitas Jender terbentuk saat seseorang mengasosiasikan dirinya dengan salah satu kondisi tersebut.

Sementara pada tingkat sosial, laki-laki dan perempuan diharapkan menunjukkan ciri-ciri atau perilaku yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Peran jender mengacu pada norma-norma perilaku tertentu yang diasosiasikan dengan sifat maskulin atau feminin. Hal ini mengakibatkan timbulnya sifat dan perilaku yang dianggap sesuai dengan salah satu jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki bisa memperbaiki mobil dan perempuan bisa memasak, atau perempuan boleh menangis sementara laki-laki tidak boleh.

Sebagai orangtua, kita adalah pihak pertama di mana anak akan memperoleh pelajaran tentang jender ini. Di awal masa kanak-kanak saja, anak akan segera mengasosisasikan diri dengan salah satu orangtuanya. Dari proses inilah anak kemudian belajar banyak hal yang terkait dengan keberadaannya sebagai seorang perempuan atau laki-laki. Karena itu, hubungan antara ayah dan ibu merupakan contoh pertama yang akan anak-anak lihat.

Saat anak melihat ayahnya yang penuh kasih sayang dan melindungi ibunya, anak laki-laki akan mendapat pemahaman bahwa laki-laki harus bersikap lembut dan melindungi perempuan. Sementara, anak perempuan memahami bahwa sebagai perempuan ia akan diperlakukan dengan kasih sayang.

Sebaliknya, jika –kembali ke contoh kasus kekerasan dalam rumah tangga- melihat ayahnya memukul atau berkata-kata kasar kepada ibunya, anak laki-laki akan belajar bahwa itulah yang seharusnya dilakukan terhadap perempuan. Sementara, anak perempuan akan belajar bahwa perempuan memang diperlakukan seperti itu oleh laki-laki. Jika si ibu diam saja, keadaan tidak menjadi lebih baik. Anak laki-laki belajar bahwa perempuan harus diam saja ketika diperlakukan seperti itu. Jika terjadi perlawanan, laki-laki akan menganggap hal tersebut sebagai sebuah tantangan untuk kelaki-lakiannya dan cenderung meningkatkan kekerasan yang dilakukannya.

Apalagi, dewasa ini semakin banyak ibu yang bekerja. Penyesuaian dan kerjasama yang dilakukan oleh ayah dan ibu merupakan contoh yang paling mudah ditiru oleh anak-anak. Saat wanita berperan ganda sebagai ibu yang bekerja, sebenarnya pria pun berperan ganda sebagai ayah yang mengerjakan urusan rumah tangga. Jika ayah ikut melakukan pekerjaan di rumah dan ibu memberikan kontribusi terhadap keperluan rumah tangga, anak akan belajar untuk saling menghargai. Tetapi jika sepulang kantor ibu masih harus berkutat dengan pekerjaan di rumah sementara ayah duduk bersantai, anak belajar untuk tidak saling mendukung.

Bias Jender? No Way.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan konsep menunjukkan perbedaan antara pria dan wanita. Tidak perlu juga berkeras menunjukkan bahwa wanita bisa melakukan hal yang sama dengan pria maupun sebaliknya. Toh, wanita dan pria memang berbeda. Dari segi anatomi, misalnya. Pada otak wanita, fungsi bahasa tersebar di kedua belahan otak, sementara pada pria lebih terkonsentrasi di belahan otak sebelah kiri. Ini membuat pria lebih rentan mengalami gangguan bahasa yang disebut disleksia.

Sementara pada ranah psikologi, wanita cenderung memiliki kepribadian agreeableness yang cenderung untuk penuh simpati  dan kooperatif, sementara pria cenderung memiliki kepribadian neuroticism yang mudah depresi, marah, dan merasa cemas. Penelitian lain menunjukkan bahwa pria lebih agresif daripada wanita, terutama dalam hal mengekspresikan agresinya secara fisik. Meski demikian, penelitian lain menunjukkan bahwa wanita cenderung mengekspresikan agresinya dengan cara yang tidak terbuka. Misalnya secara verbal dan relasional, dengan melakukan penolakan secara sosial.

Dengan gambaran ringkas ini saja hampir tidak mungkin kita memperlakukan pria dan wanita dengan cara yang persis sama. Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak menerima perbedaan tersebut sebagai keunikan yang dikembangkan dengan caranya masing-masing. Hindari mengajarkan bahwa salah satu jender lebih baik daripada yang lainnya. Saat kita mengajarkan bahwa anak perempuan harus bisa sama baiknya seperti anak laki-laki, berarti kita menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki kemampuan di bawah anak laki-laki.

Widi, 34, mengajarkan kepada anaknya bahwa secara fisik laki-laki lebih kuat, tapi perempuan memiliki ketahanan yang lebih besar. “Laki-laki bisa membawa beban 50 kg sejauh 100 m, sementara perempuan bisa membawa beban 25 kg sejauh 200 m,” ujarnya mencontohkan, “Itu sebabnya laki-laki harus melindungi perempuan, tapi –seandainya pun bisa-  laki-laki tidak akan sanggup menanggung beban kehamilan dan rasa sakit yang dialami perempuan saat melahirkan.” Artinya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki ‘kekuatan’ yang setara namun tidak bisa disamakan.

Sementara Karin, 33, mengajarkan mengenai risiko pekerjaan. “Ibu saya masih sering beranggapan bahwa perempuan tidak boleh keluar malam,” ujarnya, “Tapi saya mengajarkan pada anak-anak bahwa ada banyak pekerjaan yang menuntut perempuan juga beraktivitas di malam hari. Hal-hal seperti ini tidak bisa dianggap sebagai penyimpangan, tetapi justru tanggung jawab profesi yang harus dihargai sama tingginya –misalnya- dengan laki-laki yang bekerja di dunia kecantikan, sepanjang tidak mengubah orientasi seksualnya.” Berhadapan dengan nilai-nilai yang dianut orangtua kita dahulu memang tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak dapat dilakukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: