Amanda Setiorini

Amanda.my.id

What Kind of Intimacy do You Have?

 

Mendengar kata intimacy alias keintiman, apa yang ada dalam benak Anda? Makan malam romantis diterangi temaram lilin? Atau bergandengan tangan di tepi pantai?

Sebagian mungkin ada benarnya. Namun dalam setiap hubungan yang sifatnya mendalam, keintiman mutlak diperlukan meskipun jenis dan kadarnya berbeda. Menurut psikolog Robert Sternberg,  keintiman adalah elemen emosi yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan dan keinginan membangun hubungan. Ketiga hal ini membuat Anda ingin berdekatan dengan orang tersebut, senang berlama-lama ngobrol dengannya, merasa rindu bila lama tidak bertemu, juga keinginan untuk melakukan kontak fisik, misalnya berpelukan atau bergandengan tangan. Karenanya, hal-hal seperti ini kerap kita rasakan tidak hanya terhadap pasangan tetapi juga sahabat, saudara, dan siapa pun yang ‘lebih dari teman biasa’ bagi kita, bukan?

Sementara dalam konteks hubungan cinta, keintiman merupakan sepertiga bagian dari cinta itu sendiri. Sternberg dikenal dengan teorinya tentang segitiga cinta -bukan cinta segitiga- yang menyatakan bahwa cinta terdiri dari tiga komponen, yaitu keintiman, gairah dan komitmen. Interaksi ketiga komponen inilah yang membentuk berbagai jenis ‘cinta’ dan hubungan antara dua manusia.

Tipe Komponen Deskripsi
Nonlove Tidak ada Ada pada kebanyakan hubungan interpersonal, seperti pertemanan biasa.
Liking Keintiman Ada kedekatan, saling pengertian, dukungan emosional, dan kehangatan. Biasanya ditemui pada hubungan persahabatan.
Infatuation Gairah Seperti pada cinta pada pandangan pertama, ketertarikan secara fisik, umumnya mudah hilang
Empty love Komitmen Biasanya ditemukan pada pasangan yang telah menikah dalam waktu yang cukup lama.
Romantic love Keintiman dan gairah Hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi yang kuat, bisa jadi tanpa ada komitmen (misalnya pada masa pacaran).
Companionate love Keintiman dan komitmen Hubungan jangka panjang yang tidak melibatkan unsur seksual, termasuk persahabatan. Termasuk juga suami-istri yang lebih merasa sebagai sahabat daripada kekasih.
Fatuous love Gairah dan komitmen Hubungan dengan komitmen tertentu (misalnya perkawinan) atas dasar gairah seksual.
Consummate love Semua komponen Merupakan tujuan dari hubungan cinta yang ideal.

Untuk memenuhi keintiman sejati,  setidaknya ada dua hal yang perlu dimiliki oleh pasangan, yaitu rasa aman dan keterikatan.  Rasa aman dibutuhkan sepanjang hubungan tersebut berlangsung. Saat Anda merasa takut, sedih, atau emosi negatif lainnya, pasangan adalah orang yang melindungi, menghibur, juga a shoulder to cry on. Jika dalam dalam kondisi seperti ini Anda justru menghindar dari pasangan, berarti Anda merasa tak aman di dekatnya dalam kondisi Anda yang buruk. Rasa aman hanya bisa didapatkan dari rasa percaya Anda terhadap pasangan, demikian pula sebalikya.

Sementara keterikatan adalah perasaan selaras dengan pasangan. Anda berdua memiliki kesamaan yang menyenangkan sekaligus perbedaan untuk membuat hidup menjadi lebih menarik. Artinya, kesamaan tidak perlu dalam segala hal. Perbedaan tetap diperlukan agar hubungan Anda berdua bersifat saling melengkapi.

Laura Dawn Lewis, penulis The Eight Stages of Intimacy, menyatakan bahwa keintiman terdiri dari delapan fase: fisik, estetik, rekreasional, intelektual, spiritual, emosional, seksual dan unconditional love.  Fase yang terakhir dan tertinggi adalah unconditional love alias cinta tak bersyarat. Ini merupakan tahap yang paling sulit dicapai, karena di tahap ini Anda tidak boleh egois. Yang Anda lakukan semata-mata hanyalah untuk kebahagiaan pasangan, meski apapun yang diperbuatnya mungkin menyakiti Anda. Karena sulitnya, fase ini biasanya hanya ditemui pada hubungan orangtua dengan anak.

Keintiman fisik

Merupakan kedekatan secara fisik yang mengekspresikan perasaan Anda kepada pasangan. Termasuk di dalamnya adalah berada dalam personal space pasangan Anda. Antropolog Edward T. Hall menyatakan bahwa personal space merupakan ruang tak kasat mata dengan radius sekitar 120 cm. Keberadaan orang lain dalam personal space Anda seringkali menimbulkan ketidaknyamanan baik pada diri Anda maupun orang tersebut. Karena itu, jika Anda nyaman berada di personal space pasangan dan demikian pula sebalinya, Anda dan pasangan mencapai kedekatan fisik yang memungkinkan Anda berdua mengekspresikan kasih sayang. Misalnya dengan berpegangan tangan, berpelukan, hingga melakukan aktivitas seksual.

Keintiman fisik paling mudah dikenali karena pada saat merasa tertarik dengan lawan jenis, otomatis Anda ingin berdekatan dengannya. Keintiman fisik terjadi melalui pengamatan Anda terhadap bagaimana pasangan berpikir, berbicara, serta caranya berinteraksi terhadap lingkungan.

Keintiman estetik

Didasarkan pada ketertarikan yang serupa dalam hal cita rasa seni dan budaya, termasuk musik, pakaian, makanan dan kesesuaian lainnya secara umum. Seringkali kesesuaian dalam hal ini tidak mudah karena cita rasa seseorang cenderung sudah terbentuk di usia dewasa. Jadi, ketika bertemu pasangan dengan gaya berbeda, agak sulit membuat kompromi di antara keduanya. Misalnya gaya berpakaian pasangan yang cenderung nyentrik membuat Anda merasa malu atau risih terlihat bersamanya.

Keintiman estetik dapat menjadi ‘penilaian’ awal tentang kesesuaian Anda dan pasangan. Meskipun demikian, jika Anda berdua sangat berbeda -misalnya: salah satu penyuka musik jazz sementara yang lainnya penggemar rap- tidak berarti Anda dan pasangan tidak bisa mengambil sisi positifnya. Anggaplah hal ini sebagai perluasan wawasan. Siapa tahu setelah mendengarkan jenis musik yang berbeda ternyata Anda pun ikut menyukainya. Yang penting, kalau toh akhirnya Anda tak suka, jangan dipaksakan.

Keintiman rekreasional

Dengan keintiman ini Anda dan pasangan berbagi minat dan kesenangan, termasuk hobi dan olahraga kesukaan. Umumnya pasangan memiliki beberapa minat yang sama untuk dinikmati dan kesenangan lain yang dipenuhi oleh dirinya sendiri. Jadi, tak harus semuanya serba sama dan dilakukan bersama dengan pasangan. Namun, keintiman juga sulit dicapai jika Anda senang menonton pementasan teater sementara pasangan menganggap hal itu sebagai pemborosan semata.

Memiliki aktivitas yang dapat dilakukan bersama pasangan sama pentingnya dengan memiliki aktivitas yang hanya dilakukan oleh diri sendiri maupun teman-teman, tanpa sama sekali melibatkan pasangan. Hal ini penting untuk mempertahankan identitas diri sendiri yang -terutama bagi wanita- seringkali hilang setelah menikah. Bagaimana pun seperti yang diungkapkan Kahlil Gibran, “Dan pohon ek dan siprus tumbuh tidak dalam bayangan yang lainnya..”

Anda dan pasangan memiliki keintiman rekreasional yang solid jika:

1.       Dapat menghabiskan waktu bersama-sama tanpa mempedulikan hal apa yang dikerjakan.

2.       Anda dapat menyebutkan olahraga, film, dan aktivitas favorit pasangan.

3.       Anda memiliki aktivitas yang bisa dikerjakan bersama pasangan dan aktivitas yang dikerjakan oleh diri sendiri maupun bersama teman-teman.

4.       Anda tidak merasa kesal jika pasangan melakukan aktivitas yang menjadi kesenangannya.

5.       Anda senang mendapatkan pengalaman baru dari aktivitas yang dilakukan dengan pasangan.

Keintiman intelektual

Adalah berbagi harapan, ketakutan, pendapat dan keyakinan dengan pasangan tanpa merasa malu atau khawatir dicemooh. Anda melihat diri Anda pada pasangan, memahami dan terlibat dalam pemikirannya. Keintiman intelektual tidak harus sejalan dengan tingkat intelegensi atau pendidikan, meskipun penelitian terhadap perkawinan yang sukses menunjukkan  bahwa perbedaan skor test IQ pada pasangan tersebut memang tidak berbeda jauh. Selain pada pasangan, keintiman intelektual juga bisa terjadi pada sahabat.

Anda dan pasangan memiliki keintiman intelektual yang solid jika:

1.       Masing-masing mengetahui apa yang tidak disukai pasangannya dan berusaha untuk menjauhkan hal tersebut dari pasangannya.

2.       Bebas berpendapat, beradu argumen dan pengetahuan tanpa mendapat penolakan, pengabaian atau hukuman.  Dengan demikian Anda dan pasangan tetap dapat berbeda pandangan pada hal-hal yang mungkin sangat sensitif, seperti politik, agama, pengasuhan anak dan seksualitas.

3.       Tanpa disadari, Anda dan pasangan seringkali melakukan tindakan, bahasa tubuh dan gaya bicara yang serupa.

4.       Anda mengetahui apa yang menjadi tujuan hidup, harapan dan mimpi pasangan.

Keintiman spiritual

Meliputi moralitas, etika, juga berbagi eksistensi dan tujuan hidup. Keintiman spiritual tidak berhubungan dengan keyakinan agama yang dianut Anda maupun pasangan. Keintiman ini merupakan rasa saling menghormati yang membuat masing-masing melakukan yang terbaik agar pasangannya dapat berkembang secara maksimal.

Sebelum memasuki keintiman spiritual, Anda dan pasangan harus mengenali identitas diri sendiri dan mendefinisikan dengan jelas siapa Anda dan siapa pasangan Anda sebelum menjadi satu kesatuan: saya dan kamu menjadi kami. Beberapa ciri yang dapat dilihat adalah:

1.       Saat berbicara dengan orang lain, Anda tidak menyebut diri sendiri atau pasangan, tapi menggunakan kata ‘kami’ yang merujuk Anda berdua sebagai kesatuan.

2.       Anda berdua paham dengan diri masing-masing dan telah menyelesaikan berbagai masalah psikologis di masa lalu, termasuk hubungan cinta Anda dan pasangan sebelumnya.

3.       Memiliki tujuan jangka pendek, menengah dan panjang yang didasarkan pada hubungan Anda dan pasangan.

4.       Anda dan pasangan mencapai kesepakatan mengenai moral dan etika berdasarkan prinsip dasar masing-masing. Tak harus benar-benar sama, tapi apapun yang tidak disepakati harus bisa ditoleransi oleh pasangan.

Keintiman emosional

Meliputi afeksi, emosi dan perasaan yang dapat mewujud dalam berbagai fenomena, yang bisa dilihat baik dalam komunikasi verbal maupun non verbal.  Seberapa jauh Anda merasa nyaman dengan pasangan bisa menunjukkan derajat keintiman emosional Anda. Karena itu, keintiman emosional sebagian besar ditentukan oleh rasa percaya Anda. Dengan keintiman ini Anda dapat berbagi pikiran, perasaan dan emosi pada pasangan untuk saling memahami atau sekedar curhat. Cara ini akan membangun kebersamaan Anda berdua.

Keintiman emosional membuat Anda dapat menerima pasangan tanpa kecuali, termasuk segala kekurangannya. Anda merasa nyaman menceritakan tentang diri Anda tanpa rasa takut akan mendapat penolakan. Dalam kesehariannya, Anda berdua tidak enggan berbagi atau menyuarakan kemarahan, kebahagiaan, rahasia dan dorongan sensual Anda. Anda tahu persis bahwa Anda dicintai dan mencintai pasangan Anda, apapun yang Anda rasakan atau perbuat.

Untuk mengetahui seberapa jauh keintiman emosional Anda dengan pasangan, cobalah menjawab pertanyaan berikut ini:

1.       Jika Anda mengalami kecelakaan, siapa yang Anda hubungi pertama kali?

2.       Jika Anda dipecat, kepada siapa Anda akan mencari penghiburan?

3.       Jika Anda mendapat promosi, siapa orang pertama yang Anda kabari?

Keintiman emosional melibatkan rasa percaya dan mengijinkan orang lain melihat yang terburuk dan terbaik dari diri Anda. Bagi kebanyakan orang, hal ini cukup sulit. Tapi tak dapat disangkal bahwa hal ini sangat penting dalam hubungan jangka panjang yang sehat.

Keintiman seksual

Yang termasuk di dalamnya adalah sentuhan, kebebasan seksual, kontak fisik, romantisme, hubungan intim dan prokreasi. Keintiman seksual meliputi semua persepsi sensual yang memungkinkan, termasuk sentuhan, ciuman, pandangan mata, ekspresi atau tindakan yang menunjukkan kasih sayang, komunikasi, dan -tentunya- hubungan seksual serta orgasme. Namun, keintiman seksual bukanlah keintiman yang sesungguhnya. Setiap orang tentu saja bisa melakukan hubungan seksual, namun diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengubah aktivitas fisik menjadi keintiman yang hakiki.

Kebebasan seksual merupakan hak untuk menerima atau menolak hal-hal yang terkait dengan urusan seksual, tanpa khawatir akan menjadi bahan ejekan, merasa dipaksa, atau mendapat kekerasan dan paksaan fisik maupun mental. Jika pria menghindari hubungan seks karena permasalahan medis -misalnya disfungsi atau berkurangnya hasrat seks akibat stres- tanpa memberi tahu pasangan, berarti keintiman seksual belum tercapai. Atau jika wanita sering berpura-pura mengalami orgasme tanpa memberi tahu pasangan untuk mencari solusinya bersama-sama, itupun berarti belum tercapai keintiman seksual.

Dengan kebebasan seksual, Anda dan pasangan tidak perlu merasa malu mengungkapkan berbagai kendala dan hal negatif yang dirasakan. Hal-hal memalukan seperti ketidakmampuan mengalami orgasme, disfungsi seks, keperawanan, penyakit seks, maupun pengalaman seks yang buruk di masa lalu -meskipun tidak mudah diungkapkan- namun Anda yakin tidak akan membuat pasangan marah dan meninggalkan Anda. Jika pasangan ‘ngambek’ karena Anda sedang tidak ingin berhubungan intim lalu menolak ajakannya, itu berarti hubungan Anda berdua belum mencapai keintiman seksual, melainkan sekedar dalam kondisi keterhubungan secara seksual.

Karena sifatnya yang cenderung fisik, banyak pasangan yang tergesa-gesa mencapai keintiman seksual setelah keintiman fisik, estetik dan rekreasional, dan mengabaikan keintiman intelektual, spiritual dan emosional. Merasakan ketertarikan dengan seseorang, lalu menyadari bahwa Anda berdua memiliki sejumlah minat dan hobi yang sama, memang dapat menimbulkan perasaan dekat dan intim. Padahal di balik itu masih ada nilai-nilai dan pandangan yang -jika tidak selaras- bisa mengakibatkan pertentangan. Ibarat sebuah gedung, sulit membuatnya tahan lama dan bagus jika dasarnya tidak kuat.

Suatu hubungan didasari oleh keintiman dan keintiman tercapai karena saling percaya. Hanya saja, dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menumbuhkan rasa saling percaya tersebut. Jadi, untuk mendapatkan hubungan yang awet, tak perlu tergesa-gesa dan cobalah untuk mendapatkan satu per satu keintiman tersebut.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: