Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Shlumpadinka

 

 

Kata ini saya dengar di Oprah Show tanggal 24 Oktober 08. Saya tidak tahu persis apa apartinya shlumpadinka, tapi yang saya tangkap adalah gaya berpakaian ‘masa bodoh’. Wanita yang memakainya tidak peduli apakah ia terlihat rapi dengan pakaian tersebut. Ada yang mengenakan celana yang sudah bolong untuk beraktivitas sehari-hari. Ada yang menggunakan piyama untuk antar-jemput anak sekolah. Ada yang ke supermarket dengan pakaian olahraga. Ada yang suka memakai kaos basket suaminya. Ada yang sudah pakai baju ukuran besar yang membuat bentuk tubuhnya jadi tak karuan. Garis besarnya adalah tidak modis, padahal itu terjadi di dunia barat yang kerap kita anggap sebagai contoh, kalau bukan kiblat mode.

Oprah Show kali ini menyulap mereka yang masa bodoh dengan penampilannya menjadi wanita-wanita yang menarik. Gaun hitam model tunik, sepatu datar, tas besar warna putih (katanya warna putih sedang naik daun), scarf warna cerah… Ada beberapa hal menarik dari acara ini.

Wanita kerap berpikir bahwa berpakaian rapi itu tidak penting, apalagi kalau tugas mereka Cuma berkutat masalah dapur dan anak-anak. Ini persis omongan orang-orang jaman dulu. Memang sih, kalau mau keluar rumah, mereka akan berganti baju dari daster kesayangan menjadi pakaian yang layak untuk keluar rumah. Tapi tetap saja pakaian itu hanya sekedar ‘layak keluar rumah’. Bukan pakaian yang tepat untuk diri kita.

Kenapa saya bilang tepat untuk diri kita? Pakaian mencerminkan siapa diri kita dan dari pakaian pula orang lain mempersepsi diri kita. Tidak peduli apakah kita lulusan S2 yang memilih untuk tidak bekerja dan hanya mengurus anak, tidak sepatutnya kita berpakaian sembarangan. Saya pernah habis-habisan menertawai seorang teman yang punya jabatan cukup tinggi di kantor. Pasalnya hari itu dia memakai pakaian yang robek di sana-sini, terutama di bagian kancing. Menurut saya, dia memang tak harus memakai pakaian berlabel LV atau Guess, misalnya. Tapi setidaknya berpakaian yang tepat untuk kegiatannya (maksud saya, untuk ke kantor) dan untuk posisinya. Bukankah ada kata bijak bahwa kalau kita ingin dihargai orang, maka kita harus menghargai diri sendiri?

Menurut saya, langkah yang paling mudah adalah menggunakan pakaian sesuai fungsinya. Kalau piyama adalah pakaian tidur, jangan gunakan untuk menjemput anak ke sekolah. Setelan olahraga, ya dikenakan saat berolahraga.

Selanjutnya, lihat saja apakah baju itu masih layak dikenakan. Kalau baju sudah robek-robek dan tak bisa dijahit lagi, atau warnanya sudah pudar sehingga tidak jelas lagi antara merah muda dengan broken white, tentu sebaiknya tidak digunakan lagi. Ada baiknya juga kita punya waktu –misalnya dua kali dalam setahun- untuk memilih lagi baju-baju yang sudah tidak layak pakai. Sebelum baju tersebut benar-benar kumal, mungkin masih bisa digunakan oleh orang lain. Siapa tahu…

Wanita sering menganggap penampilan yang trendi itu identik dengan harga mahal. Ini yang coba diangkat Oprah dalam acara kali ini. Setiap wanita yang sudah diubah penampilannya diminta berjalan ke depan, lalu disebutkan berapa dolar yang dihabiskan untuk penampilan seperti itu. Totalnya sekitar $200-300 saja. Artinya, itu tergantung kepandaian kita memilih tempat yang tepat untuk berbelanja.

Saya punya sebuah cerita tentang sahabat saya. Selama 12 tahun pernikahannya, ia tidak pernah membeli pakaian yang pantas. Sepanjang yang bisa diingat, ia membeli baju yang cukup bagus ketika akan bekerja, ketika hamil, lalu ketika kembali bekerja setelah melahirkan. Momen-momen seperti itu saja yang membuat ia berani menghabiskan uang ‘agak’ banyak. Di kantornya, ia mendapat julukan ‘oldis’ yang merupakan kebalikan dari ‘modis’. Itu karena pakaiannya yang sangat sederhana, biasa, dan tentu saja tidak mengikuti perkembangan mode.

Karena suatu alasan, perkawinannya berakhir dan ia kembali ke rumah orangtuanya. Ibunya terkaget-kaget mendapati anaknya tidak memiliki pakaian yang pantas untuk ke kantor. Maka diajaklah si anak untuk berbelanja pakaian. Habislah 2 juta rupiah untuk membeli 8 baju, 4 celana (panjang dan pendek), 2 tas, 1 sepatu dan 1 ikat pinggang. Melihat anaknya malah bingung melihat kumpulan struk belanjanya, sang ibu hanya berkata, “Dua juta untuk dua belas tahun yang tidak pernah kamu belanjakan itu nggak besar, lho..” Benar juga, kan?

Kalau wanita sudah menyukai satu model pakaian, dia bisa memiliki 10 model tersebut dengan berbagai warna dan bahan. Untuk yang satu ini, mau tak mau saya menunjuk diri saya sendiri. Kalau saya sudah suka satu model, saya selalu ingin membuat model yang sama dengan warna dan motif yang berbeda. Di acara Oprah tadi, misalnya, seorang wanita yang sangat menyukai overall ternyata punya hampir 10 pakaian seperti itu di lemarinya. Atau seorang pencinta celana karet memiliki celana karet aneka warna, bahkan masih menyimpan celana karet yang berlubang sekalipun.

Satu saja pelajaran yang saya ketahui, begitu kita putuskan bahwa baju yang sudah tak layak itu masih pantas berada dalam lemari pakaian, maka kemungkinan kita untuk memakainya kembali sama saja dengan baju lain yang lebih bagus kondisinya. Jadi, kalau sudah merasa ada yang ‘salah’ dengan baju itu, singkirkan saja. Kadang saya juga merasa sayang menyingkirkan baju yang -mungkin suatu hari nanti- ingin saya tiru lagi modelnya. Untuk baju seperti itu, saya punya tempat khusus yang saya beri label ‘Baju Contoh’. Meskipun begitu, saya harus mendisiplinkan diri bahwa tidak semua baju bisa masuk ke tempat itu.

Kembali ke model kesayangan tadi, sekarang saya memikirkan hal lain. Daripada –katakanlah dalam 2 tahun mendatang- saya memakai model A dengan beragam warna, lebih baik pakaian model A ini sering saya pakai, lalu kalau tiba saatnya tak layak pakai, saya akan membuat model yang sama dengan warna dan bahan yang berbeda. Kalau perlu, lakukan modifikasi sesuai tren masa itu. Lebih praktis, kan? Menurut saya, tidak ada baju yang benar-benar ketinggalan jaman. Toh kita sudah lihat sendiri bagaimana model-model pakaian di jaman orangtua kita dulu kembali in. Tentu, dengan sedikit modifikasi sesuai perkembangan.

Terakhir tapi tak kalah pentingnya, jangan menganggap antar-jemput anak adalah hal yang sepele sehingga kita tidak perlu berpakaian rapi. Memang, ketika memasak di dapur kita akan mengenakan pakaian rumah dan tidak peduli kalau wajah kita coreng-moreng dan berminyak. Tapi kalau setelah itu kita harus menjemput anak, jangan hanya melap wajah dan membuka celemek lalu kabur ke sekolah.

Waktu anak saya masih TK, saya sering menjemputnya sekolah dengan celana jins dan kaus pas badan. Mau menggoda pria lain? Mau melupakan bahwa saya sudah punya anak? Ah, itu pikiran picik. Anak-anak mungkin tak ingin melihat ibunya menjemput ke sekolah dengan pakaian dan tata rias berlebih. Namun mereka sebenarnya juga tidak pede kalau ibunya menjemput dengan pakaian yang kurang pantas. Berpakaianlah yang rapi dan pantas sehingga ketika menjemput si kecil ia akan dengan bangga berkata kepada teman-teman dan gurunya, “Itu Ibuku…” Anda tahu, itu yang terjadi pada saya.

Boks: http://www.merriam-webster.com/shlumpadinka.html

shlumpadinka • \shlum-puh-DINK-uh\ • noun

: a woman who dresses like she has completely given up on herself and it shows : a dowdy and unstylish woman

Example Sentence:

There you are running out to get the paper looking like a shlumpadinka. —Oprah Winfrey (April 27, 2007)

Did you know?

“I have to practice not looking like a shlumpadinka on the air,” said Oprah Winfrey on her eponymous show, broadcast April 15, 1997. Oprah has occasionally separated shlumpa and dinka, the constituent parts of the word, for emphasis:  “You are watching right now in your sweats…the same sweats you had on yesterday and the day before…you are a shlumpa and a dinka and you know it!” Oprah has also used the word shlumpadink to refer to a masculine subject, although this form is somewhat less frequently heard. Oprah has often used shlumpadinka attributively to modify another noun, as in “It’s my shlumpadinka shoes!” or “You’re watching me right now in your shlumpadinka pajamas.”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: