Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Go Green

Meningkatnya permukaan air laut. Berkurangnya keanekaragaman hayati. Emisi karbon dan rumah kaca. Pemanasan global. Belakangan kata-kata ini kerap kita dengar. Bahkan sejumlah pejabat dari berbagai belahan dunia sudah mengadakan pertemuan khusus untuk membahas masalah ini. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Bumi makin panas. Entah dari mana slogan ini saya dengar, tapi demikianlah kenyataannya. Emisi karbon yang dilepas oleh berbagai aktivitas manusia di bumi ini menimbulkan efek rumah kaca yang memerangkap panas di bawah atmosfer bumi. Mulai dari gas buangan kendaraan bermotor hingga pembakaran hutan, semua menyumbang kenaikan suhu di permukaan bumi.

Lalu, dampaknya menjalar ke mana-mana. Lapisan es di kedua kutub bumi mencair, mengakibatkan suhu dan permukaan air laut berubah. Saya sangat suka melihat dokumentasi kehidupan alam liar dan tempat-tempat yang berada nun jauh di sana. Dulu saya melihat foto-foto beruang kutub yang sedang bermain di atas lapisan es yang kokoh. Foto terakhir yang saya lihat menunjukkan gambar seekor beruang kutub berdiri bingung di atas sebuah tiang es yang sangat langsing.

Yang tampak jelas terlihat, permukaan air laut lebih tinggi dari daratan. Di Jakarta, setiap pasang laut mengakibatkan sejumlah daerah di tepi pantai terendam air. Di Karibia, beberapa negara yang berbentuk pulau-pulau kecil ditengarai dapat segera ‘hilang’ tertutup air laut. Dampak yang tidak kasat mata? Sejumlah spesies hewan laut tidak yang dapat bertahan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu air akhirnya mati. Orang pun sibuk mencari cara mengatasi limpahan air ini: banjir kanal dibuat, tanggul ditinggikan. Tapi ada banyak hal lain yang terlupakan.

Pertama, reboisasi. Kata-kata ini terkesan sangat resmi seperti ucapan para pejabat. Belasan tahun lalu Ully Sigar Rusady (sekarang menjadi Ully Hary Rusady) telah mendendangkan lagu penghijauan. Namun, sampai di mana usaha kita menanam pohon? Bahkan gerakan penanaman sepuluh juta pohon yang baru-baru ini diluncurkan saja hampir tak terdengar kelanjutannya.

Megapolitan seperti Jakarta masih membutuhkan ribuan hektar ruang hijau. Lalu, mengapa pohon-pohon yang sudah berdiri besar dan kokoh di sepanjang banjir kanal justru ditebangi? Lupakah kita bahwa membesarkan sebuah pohon membutuhkan waktu yang sangat lama? Bahkan pohon-pohon yang baru ditanam dengan menggusur sentra keramik Rawasari, entah kapan dapat berfungsi sebagai penyaring udara, penyerap air, dan peredam panas yang benar-benar diharapkan.

Kedua, kebersihan. Buat apa punya banyak sungai, bahkan bercita-cita menciptakan transportasi sungai, kalau sungai kita joroknya minta ampun. Kapan penduduk di bantaran sungai mau direlokasi? Mereka, dengan pola pikir mereka bahwa sungai adalah tempat sampah besar, membuat sungai kita jadi begitu bau dan menjijikkan. Di jaman orang sudah pakai internet dengan kecepatan di atas 1 Mbps, masih ada sebagian orang yang berpikiran untuk buang hajat di sungai. Nggak nyambung, ya?

Bicara relokasi memang nggak gampang, sih. Dikasih perumahan model rumah susun gitu, toh nantinya dikontrakkan atau dijual lagi sehingga mereka balik lagi ke pinggir sungai. Ada mekanisme yang bisa lebih memastikan kalo mereka nggak balik lagi ke tempat itu?

Hunian liar juga punya dampak besar buat kebersihan kota, lho. Di koran Kompas hari ini (16 Juli) ada berita pembongkaran hunian liar di sekitar jalan kereta api. Orang-orang yang ingin pulang kampung dapat tiket kereta api gratis. Masalahnya, kalau kampung halaman mereka nggak berkembang, orang-orang akan cenderung kembali ke Jakarta. Mereka akan bikin hunian liar di tempat lain lagi. Masalahnya nggak selesai, kan?

Balik ke soal kebersihan dan perkara go green. Sampah juga jadi masalah, kan? Di koran selalu ada berita tentang sampah : lokasi TPA yang diblokir, gunungan sampah yang longsor dan memakan korban, sampai seorang kakek yang hanyut di atas atap rumahnya dan terbawa ke pintu air Manggarai.

Pengolahan sampah harus dimulai dari rumah. Dari memisahkan sampah yang organik dan tidak organik. Dari kebiasaan menjadikan sampah organik sebagai kompos. Dari upaya menggunakan barang-barang yang bisa dipakai kembali. Intinya, dari upaya mengurangi jumlah sampah yang kita berikan buat hidup kita sendiri. Seringkali kendalanya sederhana saja: tidak praktis.

Buat apa bawa kotak makanan dari rumah kalo ada plastik yang bisa dibuang begitu makanannya habis? Buat apa bawa sendok-garpu yang harus dicuci lagi kalo ada sendok-garpu plastik yang langsung dibuang? Berhentilah berpikir begitu.

Ketiga, hemat. Dulu, pelajaran saya di SD menyatakan bahwa sumber daya alam kita bukannya tak terbatas. Karena itu kita harus pintar-pintar memanfaatkannya. Entah kenapa rasanya sekarang kita benar-benar boros. Akibatnya? Krisis listrik dan air, contohnya. Dulu kita nggak punya masalah dengan air minum. Sekarang, mau minum saja harus beli. Di beberapa daerah, mau mandi pun harus beli air karena air tanah yang tersedia justru bikin sakit kulit.

Intinya, mulai dari diri kita sendiri. Seribu langkah dimulai oleh satu langkah, kok. Dan itu harus langkah kita, bukan langkah orang lain. Apa yang sudah saya perbuat? Saya sedang mengurangi pemakaian plastik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: