Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Melelehkan Kaca

Selanjutnya kami berkunjung ke pengerajin gelas di daerah Bitera. Kami melihat pembuatan berbagai gelas, piring, stoples, dan vas, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bisakah Anda bayangkan bekerja di depan oven dengan panas 1.500°C? Kami melihat para pekerjanya –semua laki-laki- bermandikan keringat dan memakai kacamata hitam.

Menurut Ida Bagus Arnawa, pemilik Ida’s Glass, bahan dasarnya adalah kaca putih biasa. Untuk piring, digunakan kaca utuh berbentuk persegi yang diletakkan di atas cetakan yang terbuat dari batu cadas, semen, dan gips. Uniknya, ketebalan kaca tidak akan berubah saat dibentuk dengan cetakan di dalam oven.

Sedangkan untuk bentuk lainnya dapat digunakan kaca yang sudah pecah bahkan hancur, karena pada prosesnya kaca-kaca tersebut akan dilelehkan dalam oven bersuhu tinggi. Dengan tongkat panjang yang berongga di tengahnya, pekerja akan mengambil lelehan kaca tersebut untuk kemudian diputar, ditiup, dan dibentuk sesuai kebutuhan. Jika proses belum selesai namun kaca mulai mengeras, mereka membawanya ke atas oven lagi agar kaca melunak dan dapat dibentuk kembali.

Tahap selanjutnya, kaca yang sudah dibentuk dimasukkan dalam oven pendingin. Jangan salah, meskipun memakai istilah ‘pendingin’ oven ini masih memiliki suhu sekitar 600°C. Kalau proses pembentukannya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit,  namun proses di oven pendingin memakan waktu 24 jam.

Rasanya waktu berlalu begitu cepat di tempat yang unik ini. Kami belajar begitu banyak hal baru. Namun, apapun yang terjadi, para ibu tentu tak lupa berbelanja. Aneka gelas dan stoples segera dibungkus koran dan masuk dalam tas Pesona ukuran besar yang diberikan khusus untuk menemani peserta berbelanja.

Kunjungan berikut adalah pengerajin tas dari bahan alam, seperti rotan, palem, dan bambu. Waktu satu jam yang tersedia dihabiskan dengan memilih aneka tas, dompet, dan sandal cantik. Kalau kurang puas dengan satu model, masih banyak model lainnya. Hampir seluruh peserta mengatakan bahwa mereka membeli tas-tas tersebut untuk anak-anak atau keluarga di rumah. What a great mom!

Kegiatan selanjutnya adalah belanja kerajinan perak. Kami mengunjungi toko UC Silver di daerah Batubulan. Perhiasan peraknya sangat cantik. MenurutWayan Sutedja, pemilik UC, seluruh produknya dikirim ke mancanegara. Di antaranya adalah Malaysia, Hongaria, dan Rusia. Bahkan tak jarang, orang Indonesia membeli justru di luar negeri. “Salah seorang tamu saya di sini pernah berkata bahwa dia memiliki liontin Kabah seperti yang ada di galeri saya. Beliau membelinya di Arab. Padahal, memang saya mengirimnya ke Malaysia, dan orang Malaysia mengirimnya ke Arab,” ujarnya.

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah toko oleh-oleh. Beberapa panganan khas yang seringkali dijadikan buah tangan adalah kacang koro yang gurih, aneka dodol (stroberi, nangka, dan durian), juga ting-ting jahe dan kacang. Di sana tersedia pula brem Bali dalam bentuk padat dan cair. Saya tertarik membeli brem cair, tapi sebelumnya saya minta mencobanya dahulu. Ternyata rasanya cukup ‘keras’ untuk lidah dan perut saya yang punya penyakit lambung. Akhirnya saya batalkan niat membeli brem.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: