Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Lombok Selatan

Hari keempat, dengan mobil sewaan saya jalan ke Pantai Kuta. Ini masih di Lombok, lho. Pantainya ada di bagian selatan pulau ini. Tapi sebelum sampai di sana, yang jelas saya mampir-mampir dulu di banyak tempat.Guide-nya masih Rizal yang 2 hari lalu jadi nakhoda ke Gili.

Tempat pertama adalah toko mutiara yang bagus banget. Saking paginya, kayaknya saya orang pertama yang masuk di toko itu, deh. Saya beli anting mutiara pesanan calon pengantin, Dhana.

Tempat kedua adalah desa Banyumulek, tempat pengrajin keramik.Di sana Rizal menunjukkan kendi maling yang unik. Airnya diisi dari bagian bawah. Sesudah itu kendi dibalik sampai posisi seperti biasa. Tapi, airnya nggak tumpah, tuh. Menurut si pembuatnya, lubang tempat masukin air itu bentuknya seperti pipa. Jadi waktu kendi dibalik, airnya ada di samping pipa. Kebayang, nggak?

Sesudah nunjukin cara buat keramik, si ibu itu trus gendong anak kecil. Umurnya ternyata 7 bulan. Laki-laki juga. Eh, pas saya ajak, dia mau aja saya gendong. Wah, sedih banget rasanya. Jadi ingat Fariel…

Tempat berikutnya adalah desa tenun Sukarara. Di sana ada guide-nya yang jelasin macam-macam. Ada tenun ikat, dan ada tenun songket. Tapi harganya lumayan mahal. Jadi saya cuma beli peci buat Abi dan ayahnya (soalnya belum ada yang ukuran Fariel).

Terus berlanjut tempat pembuatan lukisan batik untuk hiasan dinding. Yang ukurannya lebih besar sedikit dari majalah Dewi, harganya 70 ribu. Tapi saya nggak beli apa-apa. Lha, wong emang nggak tertarik.

Tempat berikutnya desa tradisional Sade. Di sini ada guide lokalnya juga. Di desa itu ternyata banyak yang kawin antar saudara. Ada sekitar 700 orang nempatin area sekitar 4 hektar. Padat, dan miskin. Mereka punya 8 sumur untuk semua orang. Keunikan lain, lantai rumahnya dari kotoran sapi. Idih, jijay!

Dari situ kita ke Tanjung Aan. Di sinilah kita ketemu pasir merica. Jadi pasirnya nggak halus, tapi bulet-bulet kayak merica. Untung Rizal udah nyiapin 2 botol aqua, yang akhirnya kita isi dengan pasir. Di sebelah kiri, pasir merica. Di sebelah kanan, pasirnya halus. Kok bisa gitu, ya?

Dari situ mampir ke Pantai Kuta. Tempatnya sama aja. Sepi. Dan karena pasirnya biasa-biasa aja, saya nggak begitu tertarik dengan tempat ini. Jadi cuma foto-foto aja, trus balik ke utara.

Sebenarnya tujuan utama mau ketemu Bu Atje di Sekarbela. Tapi karena Bu Atje nggak bisa, dan saya juga udah nggak semangat (udah pengen pulang ke Jakarta), akhirnya kita mampir di Karang Genteng buat beli mutiara.

Ada beberapa toko mutiara, tapi saya pilih yang pertama aja. Itu pun cuma beli mutiara yang 20 ribuan. Buat ganti-ganti. Trus beli anting buat Ranti, 25 ribu. Trus jalan lagi.

Terakhir, ke toko oleh-oleh. Beli dodol buat di kantor. Toko ini sudah di Ampenan. Jadi sudah dekat kota. Saya langsung ke Alang-2. Bayar sewa mobil, mandi, packing, trus check out. Sudah janji malam terakhir mau nginep di tempat Bu Atje.

Di rumah Bu Atje, ngobrol sebentar sama Soraya, trus sudah waktunya makan malam. Malam itu ada undangan di tetangganya Bu Atje, Pak Christian (Perancis) dan Ibu Getrude (Jerman). Kebetulan ada Pak Sekwilda. Jadilah makan malamnya penuh basa-basi. Saya duduk di antara Pak Peter dan Pak Christian.

Selesai makan malam, saya, Bu Atje, dan Pak Peter, ke pembukaan Square di Senggigi. Itu semacam restoran dan bar. Ketemu Mas Epoel di sana, dan akhirnya sempat juga wawancara tentang Alang-2, meskipun tanpa rekaman. Gimana mau ngerekam, wong musiknya jedar-jeder begitu?

Keluar dari Square, kita ke Happy Hour. Minum sebentar, ngobrol, trus pindah ke Sugar. Ini tempatnya bencong dan gay. Wuih, pokoke amit-amit, deh. Minum lagi, ngobrol, trus pindah ke Marina. Minum lagi, ngobrol lagi, trus akhirnya pulang. Itu sudah jam 1 dini hari.

Kalo dipikir-pikir, apa manfaatnya dari kegiatan dan tempat begitu, ya? Gara-gara minum melulu, yang pertama saya lakukan di rumah adalah pipis! Ah, cuma buang-buang uang aja. Untung saya nggak harus bayar sendiri. Seingat saya, Pak Peter dan Bu Atje minum bir & anggur. Emang nggak puyenk, ya?

Karena nggak bisa langsung tidur, saya packing malam itu juga. Baru bisa tidur jam 2, jam 5.15 sudah dibangunin Bu Atje. Nggak pake mandi, yang penting ganti baju. Supir taksi pesanan semalam sudah sampai jam 5.30. Akhirnya, sampai juga waktunya saya berpamitan dan ngucapin terima kasih untuk kebaikan Bu Atje dan keluarga selama saya di sana.

Nggak sabar ketemu anak-anak. Sampai rumah liat Mas Abi lagi main PS dan Fariel lagi tidur. Begitu saya colek-colek, dia bangun, dan senyum manis banget. Duh, saya kangen banget sama mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: