Amanda Setiorini

Amanda.my.id

Jalan 4000 Langkah

Empat ribuan langkah, jarak antara mal AEON dengan rumahku. Setidaknya begitulah menurut aplikasi Samsung Health di ponselku.

Aku ingat betapa satpam kompleks menatapku lekat-lekat, sejak berbelok dari trotoar sampai benar-benar berdiri di hadapan mereka. Untung aku memakai celana panjang, jadi mereka bisa lihat bahwa kakiku menapak. Hiy!

Buat apa sih jalan kaki, malam-malam pula. Mereka terheran-heran karena biasanya aku selalu identik dengan Sirion unguku. Bahkan ke Gramedia World saja naik mobil, padahal jaraknya lebih dekat lagi. Aku hanya nyengir dengan keheranan mereka. “Macet,” kataku.

Ya, macet. Setiap ada perhelatan GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang diselenggarakan di Indonesian Convention Exhibition (ICE), daerah perumahan sekitarnya terkena imbas kemacetan dan parkir yang tumpah tuah ke jalanan. Setidaknya sudah tiga kali penyelenggaraan, bahkan berminat datang pun aku tidak. Demi melihat antrean yang disebabkannya aku sudah menyerah. Mau jalan kemanapun susah, karena arus lalu lintas banyak direkayasa: tutup sana, tutup sini. Sehingga mau ke mal AEON yang terhitung tinggal menyeberang perempatan saja bisa berputar-putar entah kemana.

Jadi, naik ojek dan jalan kaki merupakan solusi yang paling tepat. Sekali ini terpaksa saya memanfaatkan jasa pengendara motor yang bisa menyalip di berbagai tempat aneh, berbelok dan berputar di antara dua penghalan, hingga berhenti tepat di depan pintu masuk yang diinginkan. Bayangkan kalau naik mobil sendiri. Sudah macet ke sana, masih harus bersabar pula mencari tempat parkir.

Tapi, ya tentu saja. Sekali lagi pemilihan waktu yang tepat juga penting. Jalan kaki, meskipun lebih cepat, tetapi bila dilakukan tengah hari ya sama saja menderitanya. Panas dan debu kendaraan tetap menjadi kendala nomor satu. Makanya, ketika pulang dari mal jam 7 malam, saya langsung memilih jalan kaki. Ini kesempatan yang bagus buat olahraga, dan ternyata banyak hal yang bisa saya lihat, lho.

Zebra Cross, Punya Siapa?

Sebenarnya syarat utama adalah tersedianya trotoar yang aman dan nyaman. Tapi, di seputaran BSD memang trotoar hampir tidak menjadi masalah. Pengembang menyediakan trotoar yang cukup lebar dan bersih, berbeda dengan di Jakarta, yang trotoarnya sempit, kadang ada tiang berdiri di tengahnya, dan kebanyakan dihuni oleh pedagang atau pengojek.

Trotoar di BSD justru sering menjadi kendala untuk orang yang bersepeda, karena kurangnya bagian landai untuk naik-turun sepeda ketika trotoar tersebut terpotong oleh jalan masuk ke sebuah bangunan atau ruko. Jadi orang yang bersepeda harus turun dulu dan menaikkan sepedanya ke trotoar berikut, baru melanjutkan bersepeda. Kalau jalan masuknya agak banyak, aktivitas ini bisa lumayan menjengkelkan.

Karena trotoar sudah tidak ada masalah, saya akan bercerita tentang zebra cross alias tempat penyeberangan. Sama seperti Jakarta, zebra cross ini sering menjadi tempat berhentinya pemotor. Jadi, alih-alih berhenti di belakang garis lampu merah, sejumlah pemotor menempati zebra cross yang merupakan area pejalan kaki. Ini membuat pejalan kaki yang ingin menyeberang “terbuang” ke area yang bukan tempat menyeberang. Nah, kalau terjadi kecelakaan, siapa yang salah?

Sepanjang perjalanan pulang saya melewati beberapa zebra cross, dan dengan banyaknya lampu merah dimatikan dan arus lalu lintas dibuat searah, menyeberang di zebra cross pun bukan hal yang mudah. Pertama, karena tidak ada jeda kendaraan berhenti. Semua kendaraan berhak untuk tetap melaju–kan tidak ada lampu merah. Kedua, mental pengemudi di Indonesia memang jarang memberi hak kepada pejalan kaki. Sudah pejalan kaki berdiri di area zebra cross, pengendara mobil atau motor justru menekan gas lebih dalam supaya bisa segera melewati orang yang mau menyeberang.

Berbeda dengan di beberapa negara yang pernah saya kunjungi. Begitu ada orang berdiri di zebra cross, meskipun tanpa lampu merah penyeberangan menyala, pengendara akan berhenti dan memberikan kesempatan orang tersebut untuk menyeberang. Ini sering menjadi cerita lucu bagi orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke luar negeri. Karena baik orang yang ingin menyeberang dan orang yang duduk di belakang kemudi, sama-sama menunggu untuk memberi jalan. Nah lho.. Kapan menyeberangnya, ya?

Biasanya si pengendara tetap pada tempatnya, dan orang yang menyeberang itulah yang akhirnya sadar bahwa dialah yang ditunggu untuk menyeberang jalan, agar si pengendara dapat melanjutkan perjalanannya.

Dalam perjalanan saya pulang, setidaknya saya melewati 4 zebra cross. Zebra cross pertama berada di jalur menuju AEON atau ICE, dan semua kendaraan dipacu cepat-cepat. Jadi saya menunggu sampai tidak terlalu banyak kendaraan melaju. Untunglah saya tidak perlu menunggu terlalu lama karena sebuah mobil putih yang berada paling dekat dengan saya, memberi jalan. Terima kasih ya, mobil putih!

Pada zebra cross kedua, sebenarnya jalanan itu sepi. Hanya ada kendaraan yang berbelok kiri secara langsung, itu pun tidak banyak. Saat saya berada di tengah zebra cross, tiba-tiba sebuah motor melaju cepat dan berbelok ke arah jalanan yang saya sebrangi. Melihat pejalan kaki sedang menyeberang, bukannya berhenti, motor itu oleng ke kanan dan kiri, mencoba mencari celah entah di depan atau di belakang saya, agar tidak perlu berhenti. Daripada ditabrak, saya memilih berhenti di tengah zebra cross dan menatap lurus-lurus si pengendara motor. Sebenarnya saya mau tanya, “Kamu mau lewat depan atau belakang saya, sih?” Motor itu masih oleng beberapa kali sampai akhirnya si pengendara memutuskan bahwa saya tidak akan mundur, dan dia lewat di belakang saya. Fiuh! Untung cuma ada 1 motor saat itu. Susah juga kalau ada beberapa motor oleng atau mobil yang tetap tancap gas di tikungan….

Di zebra cross ketiga, saya mendapat jeda. Mungkin karena sebelumnya ada lampu merah, sehingga jalanan di depan saya lenggang beberapa waktu. Saya menyeberang. Herannya, mobil-mobil yang jaraknya masih 300-an meter dari saya, sibuk memberi lampu, pertanda bahwa mereka sedang jalan cepat. Loh, kan saya sudah menyeberang di tempat yang benar… Bukankah seharusnya mereka yang memperlambat laju kendaraan, ya? Haduh, saya benar-benar tidak paham etika berlalu lintasdi Indonesia. Atau, jangan-jangan sudah tidak ada lagi?

Industri Kreatif

Ini istilah saya saja. Maksudnya adalah pedagang asongan di seputaran area parkir ICE. Bayangkan saja, mereka bisa menyulap motor sampai mobil untuk menjadi warung berjalan. Kalau motor, mereka menambah tempat di jok belakang untuk menggantungkan aneka jenis kopi sachet dan camilan. Kalau mobil, mereka menyulap bagian belakang seperti warung. Jadi, kalau membuka bagasi, langsung tampak segala jualan yang sama seperti di motor tadi. Jajaran termos air panas sudah disiapkan untuk menyeduh kopi. Bahkan, tak jarang ada yang membawa kompor gas kecil untuk memasak mi instan.

Tentu saja, pasarnya adalah para supir yang menunggui mobil sementara si majikan sedang menikmati pameran. Kebanyakan penjual makanan dan minuman ini ikut parkir di pinggir jalan. Sementara supir yang memarkir kendaraannya di dalam area parkir bisa keluar melalui celah pagar–di area parkir tidak boleh ada orang berjualan.

Di mana mereka duduk? Tentu saja di trotoar. Dengan beralaskan spanduk atau koran bekas, para supir duduk dan mengobrol sambil menikmati kopi panas. Obrolannya bisa bermacam-macam, mulai dari majikannya sampai poligami. Saya mencuri dengar omongan salah satu supir, bahwa istrinya baru 2 orang. Dia menargetkan punya istri sampai 4 orang, seperti yang dicontohkan temannya sesama supir. Saya baru tahu bahwa punya sejumlah istri adalah target, ya di sini. Teringat sebuah guyonan di sosial media: jangan pikirin punya istri empat, tapi pikirin punya mertua delapan. Nah!

Soal trotoar, sebenarnya tidak salah juga sih jika digunakan untuk duduk-duduk. Karena trotoar di sini memang dilengkapi bangku-bangku di beberapa titik. Tapi para supir kebanyakan duduk lesehan menggelar alas, sementara bangku-bangku yang disediakan kebanyakan ditempati oleh…, muda-mudi berpasangan. Ah, iya. Ini kan malam Minggu. Mungkin sesekali perlu juga mengajak mantan pacar kencan di bangku trotoar begini. Supaya kekinian!

Dibuang Ke Mana?

Nah, kalau ini bukan perkara mantan, tetapi sampah. Dampak paling langsung dari jajan di pinggir jalan adalah banyaknya sampah yang tercecer di trotoar. Mulai dari gelas plastik bekas kopi, bungkus makanan… Yang menunggu majikan maupun yang pacaran, sama-sama membuang sampah, nih.

Saya heran, kenapa ya orang Indonesia tidak terbiasa membuang sampah? Apakah karena mental ingin dilayani? Maksudnya begini: kita merasa sudah mengeluarkan uang untuk membeli, lantas tidak peduli dengan sampahnya. Kalau perlu, seharusnya pihak penjuallah yang mengurusi sampah. Kan kita sudah membayar!

Atau, orang kita tidak peduli kebersihan. Bayangkan kalau sebaliknya: kita menginjak sampah yang ditinggalkan orang lain sehingga–katakanlah–sepatu/baju/celana panjang kita menjadi kotor. Atau, biarlah kalau orang lain yang kena, asal jangan saya. Begitukah?

Apa sih susahnya membereskan sampah? Misalnya, gelas plastik bekas minuman. Atau bungkus makanan. Tidak ada tempat sampah? Setidaknya kumpulkan di satu tempat. Dalam kasus trotoar yang saya lewati, setidaknya gelas plastik bekas minuman itu bisa dikumpulkan di dekat pohon, supaya petugas kebersihan lebih mudah mengambilnya. Daripada dia harus memunguti gelas-gelas yang berserakan, bukan?

Tapi ternyata itu pun sulit. Mempermudah pekerjaan orang lain bukan sesuatu yang mudah bagi orang kita. Bahkan saya dengar, kalau bisa mempersulit, kenapa mempermudah? Bahkan bisa jadi kita mengatakan, “Bukankah untuk itu kita membayar petugas kebersihan?”

Nah lho! Mungkin hal-hal seperti ini yang perlu kita tinggalkan. Tidak karena kita sudah membayar, sudah berkorban, lantas kita merasa berhak mempersulit pekerjaan orang lain. Membantu ternyata juga menyenangkan, lho. Ah, rasanya saya dulu sering mendengar ungkapan begini: mudahkanlah urusan orang lain, niscaya urusan kita akan dipermudah juga.

Well, empat ribuan langkah ternyata berarti juga, ya. Selain olahraga, banyak hal yang bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran buat saya. Kalau kita mau maju, mau berhasil, banyak hal yang perlu kita perbaiki. Salah satunya adalah sikap kita sendiri.

Iklan

Kenapa Mahasiswa Kita Malas Membaca?

Sebagai pengajar, saya sering stres sendiri dengan mahasiswa saya. Kalau sudah urusan membaca, malasnya minta ampun. Siapapun tentu tahu, membaca buku teks yang tebal-tebal dan berbahasa asing bukan hal mudah, apalagi bisa dinikmati. Tetapi, sudah saya berikan sadurannya pun, mereka masih tetap enggan membaca.

Soal minat terhadap literasi ini pun dibahas dalam pertemuan penulis dan editor Penerbit Buku Kompas, Kamis (19/05/2016). Satu hal yang langsung terasa “jleb” bagi saya adalah ketika Witdarmono, penggagas koran anak-anak “BERANI”, mengatakan bahwa minat membaca itu dimulai dari kecil, dan diawali dari rumah—artinya, dari orangtua.

Jadi, kalau orangtua tidak biasa membaca dalam kehidupan sehari-hari, janganlah berharap anak-anaknya akan senang membaca. Seorang kawan bercerita mengenai temannya yang berkeluh kesah, “Kok anak saya enggak ada yang senang membaca, ya?” Si kawan bertanya, “Di rumahmu langganan koran, nggak?” Ketika dijawab tidak, ia membalas, “Ya tidak perlu heran kalau begitu.” Ini karena koran datang setiap hari dan “memaksa” kita untuk membaca, bukan?

 

Dimulai dari Rumah

Saya mengingat-ingat kembali bagaimana cara saya dibesarkan dalam keasyikan membaca. Saya membaca novel sejak kelas 1 SD. Mulai dari serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Mallory Tower, St. Clare, dan masih banyak lagi. Setiap bulan selalu membeli buku, dan liburan sekolah bagaikan surga karena saya boleh membeli hingga 6 buku! Sejak kecil saya terbiasa dengan novel—yang isinya hanya tulisan, kadang tidak ada gambarnya sama sekali—bukan jenis komik. Dan sampai sekarang, saya tidak pernah suka membaca komik, sementara novel-novel tebal buat saya tampak semakin seksi saja.

Darimana kebiasaan membaca itu? Baru-baru ini, Mama mengirimkan foto saya masih kecil, mungkin kurang dari 3 tahun dan jelas belum bisa membaca. Foto itu menggambarkan saya duduk di teras rumah—dengan kursi kecil—sambil membaca…, Harian Kompas. Mungkin memang tidak benar-benar membaca, hanya sekadar mejeng saja. Ganjil rasanya melihat anak sekecil itu memegang Harian Kompas.

Di masa kecil, saya berlangganan Majalah Bobo. Saya kerap mengumpulkan sisipan cerita di bagian tengah Bobo, lalu saya jilid. Salah satunya adalah cerita petualangan Pak Janggut dan buntelan ajaibnya. Langganan koran dan majalah adalah bagian dari keseharian di rumah. Setelah lewat masanya Bobo, saya berlangganan majalah HAI. Kalau majalah dan koran tidak dikumpulkan, buku adalah koleksi. Jumlah buku saya sudah lebih dari 1.000 judul dan baru-baru ini saya “harus” membuat lemari yang benar-benar layak untuk menyimpan koleksi berharga itu.

 

Membaca vs. Menonton

Kebanyakan orang lebih suka menonton daripada membaca. Setiap mengajar pelatihan menulis saya selalu bertanya, berapa orang yang senang membaca dan yang senang menonton. Kebanyakan memilih menonton daripada membaca. Menurut saya, itu salah satu sebab mereka merasa kesulitan untuk menulis.

Sekarang, ada “gangguan” lain lagi, yaitu gawai. Masalahnya, gawai kerap diasosiasikan dengan game atau video. Keponakan saya yang belum berusia 3 tahun sudah mahir memilih video anak-anak dari YouTube. Gawai memang ampuh membuat anak-anak anteng.

Saya tidak menyalahkan, tetapi juga heran mengapa gawai tidak dibuat menjadi sarana untuk senang membaca. Jadi kita tidak perlu memusuhi gawai dan menganggapnya sebagai gangguan terhadap minat literasi. Asalkan kita mengenalkan gawai dengan cara yang tepat, dengan fungsi yang sudah diarahkan, saya yakin kita bisa mengambil manfaat dari kemajuan teknologi ini.

Keberadaan e-book, misalnya. Terlepas dari preferensi apakah lebih suka membaca di layar atau kertas, e-book sangat bermanfaat untuk meningkatkan minat baca. Saya bisa menyimpan berbagai e-book dalam satu alat, lalu membacanya di manapun ketika dibutuhkan. Biasanya kalau memang sudah persiapan untuk menunggu—misalnya di bank atau antre dokter—saya sudah membawa bacaan. Tetapi untuk kegiatan menunggu yang tidak direncanakan, simpanan e-book saya di ponsel adalah solusi.

Baru-baru ini saya mengunduh iJakarta, aplikasi Perpustakaan Digital Jakarta milik Badan Perpustakaan dan Arsip Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Meski masih banyak penyesuaian dan perbaikan yang perlu dilakukan, saya melihatnya dengan lebih positif: semakin mudah kita mengakses bacaan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya saja.

Kenapa Mahasiswa Kita Malas Membaca? http://kom.ps/AFvGpI

Big Bad Wolf

Dimulai sejak 30 April sampai nanti tanggal 8 Mei, bazar buku murah ini konon sudah berhasil menarik lebih dari 100 ribu pengunjung. Sampai hari ini, 7 Mei 2016, saya sudah datang tiga kali. Ya, tidak salah baca: tiga kali. Kunjungan pertama tanggal 29 April, sehari sebelum dibuka secara resmi untuk publik. Kedua, pada hari Senin, 2 Mei, sekitar pukul 16-18 WIB. Lalu ketiga, Jumat 6 Mei pukul 23.30 dan baru berhasil keluar dari Big Bad Wolf dini hari Sabtu 7 Mei pukul 03.30.
Kok bisa masuk sebelum dibuka buat publik? Sebenarnya sudah dibuka, sih, dengan pengguntingan pita oleh Anies Baswedan. Tapi belum boleh dimasuki publik karena tanggal yang diumumkan baru keesokan harinya. Pada hari itu pengunjung harus menunjukkan tiket masuk. Saya sendiri mendapat tiket masuk gratis dari acara IESE di hall 5—Big Bad Wolf di hall 10. Saya tidak tahu apakah pengunjung lain pada hari tersebut juga mendapatkan tiket dari acara di hall 5 atau ada tempat lain yang memberikan tiket masuk ke Big Bad Wolf. Tentu saja, karena belum dibuka secara publik, kondisi di hall 10 masih aman terkendali. Buku-buku tertata rapi sesuai tumpukannya. Saya melongok sedikit ke celah hall 9, di sana terdapat tumpukan kardus bekas.
Sayang, saya cuma punya waktu 30 menit untuk menyisir tepi kiri hall 10. Ini baru tepinya, lho, benar-benar bagian yang menempel ke tembok saja. Saya sama sekali belum melirik buku-buku yang ada di tengah. Tepi kiri berisi buku-buku fiksi. Di bagian depan, sempat membuat saya takjub, adalah buku-buku berbahasa Indonesia. Kebanyakan dari Penerbit Mizan. Tapi di sisi kiri, seluruhnya adalah fiksi berbahasa Inggris. Dalam 30 menit saya mendapatkan 7 buku—kebanyakan fiksi—dengan total pengeluaran kurang dari Rp400 ribu.
Menenteng kantong plastik berisi 7 buku bukan urusan berat, lah. Apalagi saya bisa langsung turun ke basement dan terhubung ke basement hall 5, tempat kendaraan saya parkir. Hal ini juga memudahkan kalau sedang hujan. Supaya buku-buku belanjaan tidak basah, dong.
Senang? Jelas. Lantas saya pun berencana untuk kembali pada hari Senin, pada jam kerja pula. Pertimbangannya sederhana: orang-orang belum pulang kantor sehingga tidak terlalu ramai. Tidak tergoda sama sekali untuk mengunjungi Big Bad Wolf di akhir pekan, meski dengan iming-iming mereka buka non-stop selama liburan tersebut. Artinya, buka mulai Sabtu dan baru tutup hari Minggu malam.

Senin Sore

Kali ini saya langsung menuju parkiran Hall 10. Posisinya tidak di basement, tetapi di lapangan terbuka. Saya pun menyiapkan payung karena khawatir hujan pada saat nanti saya selesai belanja buku. Pemilihan posisi parkir juga harus tepat. Meskipun mendekati pintu masuk hall, tapi ada taman di depannya yang membuat kita harus memutarinya. Lebih baik parkir di dekat pintu masuk atau sekalian di dekat pintu keluar. Saya memilih di dekat pintu keluar, supaya tidak terlalu antre ketika akan pulang.
Meskipun masih hari kerja, pengunjung sudah lebih banyak daripada ketika saya datang pertama kali. Agak pusing juga melihat begitu banyak orang dalam satu ruangan. Tapi saya berusaha untuk tidak memperhatikan, fokus hanya kepada buku-buku yang saya minati. Saya tidak lagi melihat tepi kiri, tapi langsung menyasar ke tengah, tapi masih di sisi kiri hall 10.
Sisi kiri ini dilihat dari pintu masuk, ya. Tepat setelah pintu masuk, terdapat alas rak dengan posisi lurus ke depan. Alas rak ini bagaikan membelah hall menjadi dua, sementara di sisi kanan dan kirinya diletakkan meja-meja secara melintang. Cara saya adalah mengitari meja-meja tempat buku tersebut seperti huruf S, terus sampai ke belakang.
Sejak masuk saya sudah membawa keranjang belanja karena tahu bakalan membeli lebih banyak daripada kemarin. Tapi membawa keranjang belanja beroda di antara cukup banyak orang rasanya juga tidak terlalu mudah. Harus banyak bersabar apabila berpapasan. Jangan main srudak-sruduk semaunya sendiri. Lumayanlah, bisa belajar toleransi.
Sebagian besar sisi kiri hall masih berisi fiksi. Baru agak ke belakang, maksudnya mendekati kasir, mulai terdapat buku anak-anak. Selesai menyusuri sisi kiri, saya sudah memenuhi keranjang belanjaan dengan 17 novel. Saya pun pindah ke sisi kanan. Di sini saya belum membeli buku, baru sekadar melihat-lihat. Di sisi kanan ini ada buku referensi, biografi, masakan, travel, dan di bagian belakang, kembali terdapat buku anak-anak segala rupa.
Karena sudah merasa lelah dan tidak nyaman, saya segera menuju kasir. Dinding belakang hall 10 dipenuhi oleh jajaran dua lapis kasir. Bagi pemegang kartu kredit atau debit Mandiri, disediakan kasir khusus yang sore itu tidak terlalu ramai. Sambil meminta kardus untuk belanjaan, saya mengajak ngobrol kasir tersebut. Dia bercerita bahwa akhir pekan sebelumnya, pengunjung sangat ramai pada pukul 2 dini hari. “Mungkin karena males kena macet, maka mereka datangnya malam hari, Bu,” begitu katanya. Mereka juga bercerita bahwa sif malam—untuk akhir pekan seperti itu—adalah jam 21 sampai jam 9 pagi keesokan harinya. Saya mendapat info bahwa honor SPG di sana Rp250 ribu per 12 jam. Ada yang mengatakan bahwa honor ini terlalu kecil, tapi saya sudah kroscek kepada teman-teman yang biasa membuat pameran, memang demikianlah adanya. Uang tersebut tidak termasuk uang makan.
Kembali ke Big Bad Wolf, kasirnya kebanyakan perempuan dan mereka cukup cekatan menangani belanjaan yang bertumpuk. Mereka menawarkan apakah saya ingin menggunakan poin dari kartu kredit Mandiri saya. Lumayanlah untuk mengurangi nilai belanja, meski tak seberapa.
Saya ditawari menggunakan jasa porter untuk sampai ke depan hall 10. Ia membawa troli untuk mengangkat kardus saya. Waktu itu rasanya belanjaan saya sudah banyak. Tapi sempat saya melirik pengunjung lain, ternyata ada yang belanja hingga 3 kardus seukuran punya saya. Wow, ternyata saya tidak terlalu kalap berbelanja.
Dengan diantar porter—yang semuanya pria—barang-barang belanjaan tak perlu lagi diperiksa di pintu keluar. Pemeriksaan hanya dilakukan pada tas yang dibawa pengunjung saja. Lalu saya ke depan, ke tempat pengumpulan barang belanja ketika pembelinya pergi mengambil kendaraan.
Di sana pembeli akan diberi nomor yang sama dengan belanjaannya. Ketika sudah datang dengan kendaraan, ia menukarkan nomor tersebut dengan belanjaannya. Dengan demikian tidak ada belanjaan yang tertukar. Karena saya hanya membawa satu kardus, rasanya agak malas juga kalau harus memutar mobil kembali ke depan hall, lebih baik langsung menuju pintu keluar. Maka saya pun menimbang beban kardus tersebut, dan setelah yakin cukup kuat membawanya sampai ke mobil, saya berterima kasih kepada si porter lalu berjalan pergi.

Jumat Malam

Penasaran dengan kehebohan Big Bad Wolf non-stop, saya pun merencanakan datang malam hari. Ingin tahu seperti apa sih orang-orang belanja buku sampai dini hari? Persiapan hari itu dimulai dengan tidur siang yang cukup sebelum begadang.
Tepat jam 23.30, kami memasuki area parkir hall 10. Waduh! Parkirannya penuh sekali. Belajar dari pengalaman hari Senin, kami mencari parkir di dekat pintu keluar. Sedekat mungkin, pokoknya.
Melangkahkan kaki masuk ke hall 10, saya tercengang. Antrean masuk mengular sampai ke pintu keluar. Mau tak mau, harus menunggu dengan sabar. Setelah sampai di depan pintu masuk barulah saya tahu bahwa mereka memberlakukan sistem buka-tutup. Wah, seperti apa ramainya di dalam, ya? Dari luar sih memang sudah tampak kepala-kepala memenuhi ruangan.
Masalah pertama: tidak kebagian keranjang belanja. Wah, tahu begitu dari rumah saya bawa koper kabin beroda. Tapi ya sudahlah, namanya rezeki, tidak lama kemudian saya mendapatkan keranjang belanja. Kali ini saya mencari buku di sisi kanan. Sayangnya, kondisi buku-buku tersebut sudah sangat berantakan—ini masalah kedua. Tidak jelas lagi pembagiannya, mana yang buku referensi, mana yang fiksi, mana yang buku anak. Semua sudah campur aduk menjadi satu di setiap meja. Buku-bukunya pun tak lagi dalam posisi tersusun rapi membentuk menara, tapi benar-benar berantakan.
Mungkin karena sejak hari Rabu malam bazar ini tidak pernah tutup, maka tidak ada kesempatan untuk merapikan buku-buku yang akan dijual. Saya pun tak bisa terlalu banyak memilih. Sudah bukunya berantakan, pengunjung juga terlalu penuh hingga sulit bergerak—apalagi dengan keranjang belanjaan, antrean di kasir pun mulai membuat nyali menciut.
Masalah ketiga: entah kenapa sinyal ponsel kali ini benar-benar tidak bersahabat. Padahal ketika hari Senin, saya masih dengan bebas mengecek daftar buku saya melalui google drive. Malam ini, untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga pun tidak bisa. Padahal kami terpisah dan entah bagaimana nanti akan bertemu lagi di hall penuh manusia seperti ini.
Pada kesempatan pertama bertemu, kami segera memutuskan untuk antre kasir yang panjangnya sudah mendekati pintu masuk—ini masalah keempat. Satu orang antre, yang lain cari buku. Nanti bergantian. Bahkan setelah keranjang penuh pun, kami masih antre di kasir. Lamanya kira-kira 1,5 jam. Kami diberkahi dengan mesin EDC yang tiba-tiba ngadat, sehingga kasir mencari pembeli yang bersedia membayar tunai. Dan kamilah yang berada di garis depan. Sebenarnya mesin EDC ngadat ini adalah masalah kelima, tapi karena memberi keuntungan bagi kami, ya sudahlah. Lebih baik saya anggap bukan masalah, toh?
Sejak beberapa hari belakangan, Big Bad Wolf membuka 2 hall, 9 dan 10. Semakin luas, dan semakin banyak buku yang ditampilkan. Tetapi juga semakin penuh orang. Buku-buku baru yang diletakkan di hall 9 bahkan tidak lagi pakai meja. Langsung di atas rak alas di lantai, masih dalam kardusnya yang hanya dipotong bagian atas untuk mengambil buku. Itu pun kondisinya sudah porak poranda. Memang bukunya tidak rusak, tetapi juga tidak mudah ditemukan.
Total empat jam kami di dalam bazar, dengan 1,5 jam diantaranya berdiri di barisan menuju kasir. Total belanjaan kali ini adalah 20 buku dengan nilai belanja Rp 1,4 juta. Sayang, beberapa buku yang saya incar di hari Senin tidak dapat saya temukan di tengah kekacauan hari ini.
Kebetulan saya masih menyimpan struk pembelian dari belanja di hari Senin. Tampak benar perbedaan kedua struk tersebut. Pada struk hari Senin, masih tertulis judul-judul buku yang saya beli. Saya ingat, kasir memindai satu per satu kode batang di setiap buku. Semalam, dalam kondisi yang ramai, kasir tidak lagi memindai. Dia mengelompokkan buku berdasarkan harganya, kemudian memasukkan data. Jadi struk saya hanya bertuliskan harga buku dikalikan dengan jumlah buku dengan harga tersebut. Jauh lebih sederhana!

Kapok?

Pagi ini saya membaca berita bahwa karena animo masyarakat yang luar biasa terhadap Big Bad Wolf, maka bazar buku itu akan diperpanjang hingga Senin malam. Jika dihitung dari Rabu malam, berarti lebih dari 100 jam bazar buku tersebut dibuka tanpa tutup. Wow!
Seorang teman melaporkan di Facebook saya bahwa tadi pagi ia datang untuk yang kedua kalinya sekitar pukul 7. Lalu ia memutuskan untuk pulang lagi karena melihat antre di kasir “hampir satu hall sendiri”. Nah lho.
Saya sendiri tidak berencana datang lagi ke bazar tersebut. Bukan kapok, sebenarnya. Tapi saya merasa tidak bisa lagi mencari buku di tengah orang sebanyak itu dan kekacauan buku yang sudah kadung terjadi. Selain itu, sejak awal memang kru Big Bad Wolf tidak bisa membantu menemukan buku yang kita cari, alias kita harus terjun sendiri mencari buku-buku tersebut.
Apalagi dalam kondisi sudah berantakan seperti ini, saya tidak yakin bisa mendapatkan buku yang saya inginkan. Yang paling mungkin terjadi adalah saya berusaha berjalan di sela-sela orang dan meja, sambil melihat buku-buku yang masih bisa dilihat, lalu mengambil buku yang menarik buat saya. Tidak mungkin, misalnya, ada teman minta tolong dicarikan buku X. Wah, hampir yakin saya bahwa buku yang dimaksud tidak bisa ditemukan meskipun sebenarnya ada.
Tidak ada lagi waktu berkunjung yang bisa saya rekomendasikan. Mau pagi, siang, sore, bahkan tengah malam sekalipun, bazar ini dipenuhi orang. Semalam saja ada yang membawa hingga dua keranjang belanja, atau satu keranjang belanja yang kemudian ditumpuk 1-2 kardus di atasnya. Saking banyaknya buku yang dibeli.
Lalu, apa yang saya beli dalam tiga kali kunjungan ke Big Bad Wolf ini? Kelompok pertama adalah novel, terutama karena saya menyukai Philippa Gregory. Saya pernah kesulitan mendapatkan buku-bukunya sehingga harus memesan langsung ke Amazon—yang mana ongkos kirimnya saja mencapai setengah dari total harga buku yang saya beli. Jadi, ketika menemukan buku-buku Philippa Gregory di sana, tak pikir dua kali langsung saya ambil.
Kelompok kedua adalah buku-buku referensi yang, kalau harganya normal, kemungkinan besar tidak saya beli. Tapi karena di sini harganya cukup menantang, maka saya segera mencari, terutama yang berhubungan dengan bahan ajar saya.
Kelompok ketiga adalah buku-buku acak yang menarik minat saya. Misalnya, 501 Must-Read Books. Tidak terlalu penting juga sih punya buku begitu, tapi menarik saja untuk tahu buku-buku apa sih yang “katanya” layak dibaca. Sebenarnya saya juga mencari buku sejenis tentang tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Tapi tiga kali ke sana, tidak saya temukan buku semacam itu. Koleksi buku travel-nya—menurut saya—sangat kurang.
Buku desain, buku masakan, buku anak, dan novel, adalah jenis-jenis buku yang tumpah ruah di ruangan tersebut dengan berbagai judul dan kemasan. Ada pula berbagai buku referensi yang menurut saya, mungkin tak banyak peminatnya. Seperti buku tentang macam-macam mobil, jam tangan, senjata api. Ada juga sih buku referensi tentang jenis-jenis kuda, anjing, atau burung. Atau buku Grey Anatomy yang tebal dan lebar, mungkin untuk mahasiswa kedokteran, ya.
Sungguh saya tidak merekomendasikan membawa anak-anak yang masih kecil ke tempat seperti ini, meski dengan alasan mengenalkan budaya baca sekalipun. Semalam saya melihat orangtua-orangtua yang membawa kereta dorong, dimana semua anak di dalamnya sudah tertidur dengan kaki menggantung. Ada pula ibu yang duduk bersila di antara meja dan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Pada masing-masing paha si ibu, terlelap seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang usianya mungkin belum sampai 10 tahun. Lalu, bukan 1-2 kali saya temukan anak kecil menangis dalam gendongan orangtuanya, entah karena lelah atau karena tidak dibolehkan mengambil buku yang ia mau.
Kalaupun mau mengajak anak, mungkin yang sudah duduk di bangku SMP sehingga dia paham konsekuensinya. Anak seusia itu sudah paham bahwa ia harus menunggu sementara orangtuanya harus antre membayar, misalnya. Ia sudah punya kesibukan sendiri, misalnya main HP di luar hall atau di tempat makan yang disediakan. Kecuali punya anak yang benar-benar cinta buku dan will do anything to get the books, saya tidak sarankan membawa anak-anak dalam kondisi yang sudah kacau balau seperti sekarang ini.

Kawanan Serigala

Dengan jumlah buku berbahasa Indonesia yang cukup minim, tadinya saya kira bazar ini tidak akan penuh seperti yang terjadi sekarang. Apakah minat baca masyarakat sudah membaik? Jika ya, apakah hanya untuk bacaan berbahasa Inggris? Bagaimana dengan bacaan berbahasa Indonesia, apakah juga akan diminati seperti ini?
Saya teringat akan pesta buku atau pameran buku yang selalu saya datangi. Hingga 4 tahun terakhir, saya masih rutin mendatangi pameran buku. Waktu itu saja saya merasa tidak sebanyak ini orang yang mengunjungi pameran tersebut. Saya sendiri pun lama-lama enggan ke sana. Bukan hanya tempatnya yang semakin tidak representatif—dulu Indonesian Book Fair digelar di JCC lama-lama pindah ke Istora, acaranya pun tidak menarik.
Salah satunya, tidak ada diskon yang cukup “nendang” untuk menarik minat pembeli. Beda betul dengan Big Bad Wolf yang memberi diskon antara 60-80% dari buku-buku tersebut. Langsung terasa bedanya antara membeli buku di Big Bad Wolf dengan di toko-toko buku asing semacam Periplus atau Kinokuniya. Jelas, orang akan tertarik membeli. Apalagi buku-bukunya pun tergolong terbitan baru. Kalaupun lama, jelas labelnya: cerita atau buku klasik. Ada nilai koleksi di dalamnya.
Sementara pameran buku kita, tidak demikian. Harganya—kalaupun ada diskon—tidak jauh berbeda. Lalu, untuk apa dong datang ke pameran buku kalau harganya sama saja dengan membeli di toko buku terdekat dari rumah? Kalaupun ada buku yang dijual murah—katakan saja Rp5 ribu atau Rp10 ribu—bisa dipastikan itu adalah buku-buku lama. Dijual dengan harga demikian murah mungkin untuk memberi ruang dalam gudang penerbit yang sudah penuh.
Selain itu, pameran buku kita cenderung tidak fokus. Pesta buku Jakarta biasanya dibarengi dengan penjualan alat tulis dan sekolah karena diadakan menjelang tahun ajaran baru. Lalu, saya tidak ingat lagi pada Islamic Book Fair tahun berapa yang saya merasa galau karena lebih banyak menjual perlengkapan muslim daripada buku-bukunya.
Kondisi tempat pameran pun perlu diperhatikan. Memindahkan Indonesian Book Fair dari JCC ke Istora, menurut saya, kurang sesuai. Istora terlalu kecil sehingga lebih cepat sesak. Apalagi bila sirkulasi udaranya kurang baik, bau pengap segera menguar, membuat sakit kepala pengunjung pameran. Bedakan dengan Big Bad Wolf yang digelar di gedung baru: ICE-BSD. Meski penuh sesak seperti semalam, tak ada aroma yang menganggu.
Memang, tidak semua orang terpuaskan dengan Big Bad Wolf. Sejumlah teman mengeluhkan tidak adanya buku-buku yang mereka minati, termasuk buku-buku mengenai Islam. Tidak apa. Bukankah ini peluang bagi penerbit kita? Membuat pameran sejenis untuk buku-buku berbahasa Indonesia dan buku-buku dari Timur Tengah, misalnya. Selama ini penerbit-penerbit besar di Indonesia rutin mengunjungi Frankfurt Book Fair—bahkan tahun lalu menjadi guest of honor di sana, London Book Fair, atau Bologna Children’s Book Fair—terutama untuk buku anak-anak. Mengapa tidak menjalin kerja sama dengan penerbit-penerbit di Abu Dhabi International Book Fair atau Cairo International Book Fair?
Big Bad Wolf sebenarnya adalah tokoh serigala—yang biasanya jahat—dalam cerita anak-anak. Kita dapat menemukan tokoh ini dalam cerita Gadis Berkerudung Merah atau Tiga Babi Kecil. Dalam kisah Tiga Babi Kecil, serigala ini bernama Midas. Saya tidak paham kenapa acara atau komunitas ini menggunakan istilah big bad wolf.
Tapi serigala yang ini mungkin adalah jenis yang baik, karena memberikan buku-buku bagus dengan harga yang sangat terjangkau. Jadi, ada baiknya juga bergabung dalam kawanan serigala ini. Pada kunjungan pertama saya ditawari menjadi member. Manfaatnya apa? Saya sih tidak terlalu memperhatikan penjelasan yang diberikan. Yang tertangkap hanya bahwa member akan mendapat kesempatan H-1 di acara yang sama tahun depan. Nah, itu saja sudah cukup.

Kursi Kosong–Bukan Horor

Kejadian ini di food court sebuah mall semalam…

Seorang bapak membutuhkan kursi untuk 4 orang. Dia pun mengambil kursi-kursi tak berpenghuni. Satu di antaranya berada di meja dimana seorang anak laki-laki duduk sambil bermain HP. Ada empat kursi di meja si anak: satu dia duduki, satu diambil, tersisalah dua kursi lagi yang masih kosong. Anak itu hanya melihat si bapak mengambil kursinya, tapi tidak berkata apa-apa.

Tak lama, teman-teman si anak datang. Ternyata mereka berempat. Itu berarti, kursinya kurang satu. Dua anak lain pergi lagi setelah meletakkan makanannya, mungkin masih mau mencari makanan lain. Satu anak laki-laki yang tersisa kebingungan, karena dia yang tidak dapat kursi.

Lalu si anak laki-laki yang tadi duduk berkata, “Ambil aja kursi lain.” Sambil berkata begitu, dia menggeser kursi terdekat–yaitu salah satu dari empat kursi yang ada di meja saya. Dia menggeser tanpa memandang–boro-boro berbicara dengan–saya. Tapi si anak yang tidak dapat tempat duduk justru memandangi saya, seperti mau minta izin tapi tidak tahu bagaimana memulainya.

Kesempatan itu saya ambil dan berkata, “Kalau mau ambil kursi, sebaiknya tanya dulu, ada yang menduduki atau tidak.” Lalu saya menatap si anak yang tadi menggeser kursi. Tanpa minta maaf, si anak tadi bertanya acuh, “Ada yang duduk, nggak?” Maksudnya mau bertanya seperti saya, tapi sopan santunnya tidak ada sama sekali. Untuk memberi pelajaran kepadanya, saya katakan, “Ada.” Dia pun batal mengambil kursi dan temannya–yang belum dapat kursi tadi–menduduki kursi temannya yang masih kosong.

Saya memang hanya duduk sendiri, karena dua orang teman makan saya masih berputar-putar mencari makanan. Sebenarnya satu kursi tadi bisa saja saya berikan, asal si anak meminta dengan baik. Tapi karena tidak tahu sopan santun itulah, saya memilih untuk tidak memberikan kursi saya. Oh ya, anak yang saya maksud ini mungkin usianya 15 tahunan–sepantaran dengan anak saya.

Tidak lama kemudian teman makan saya datang dan mengajak pindah ke tempat duduk lain yang posisinya lebih baik daripada yang sekarang–maksudnya, tidak berdesakan. Maka saya pun bangkit dan berjalan. Ketika melewati meja si anak laki-laki itu, saya berkata, “Nah, sekarang kursinya kosong, bisa kamu ambil.” Kedua anak itu diam saja dan saya juga enggan menunggu respons mereka.

Sambil makan saya berpikir betapa orang dewasa mungkin tidak sadar bahwa ia menjadi contoh, bukan saja untuk anaknya tetapi anak-anak lain di sekitarnya. Bagaimanapun kita makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain–kenal maupun tidak. Anak laki-laki itu mungkin mencontoh si bapak yang tadi menggeser kursinya tanpa pamit. Atau mungkin ia tidak diajarkan sopan santun itu oleh orangtuanya di rumah. Sementara si anak laki-laki kedua, mungkin hati kecilnya tahu bahwa ia harus meminta izin, tapi bingung bagaimana mengucapkan karena ia tak terbiasa melakukannya. Entahlah.

Saya ingat ketika si bapak menggeser kursi yang ada di meja anak laki-laki itu, saya benar-benar memperhatikan, karena dalam hati saya heran, “Kok ambil kursi nggak bilang-bilang, ya?” Lalu–ini saya sadari belakangan–bapak tadi mencari kursi kedua. Sebenarnya yang terdekat memang kursi di meja saya, tapi karena saya terlanjur memperhatikan bapak itu, ia tampaknya merasa tak enak sehingga mencari kursi lain. Mungkin kalau saya nggak ngeliatin, bapak itu juga akan mengambil kursi saya. Lalu, tergantung pada saya, apakah mampu bersikap asertif atau tidak dengan menegur si bapak.

Apakah karena ia berhadapan dengan anak kecil, maka ia merasa tak perlu meminta izin? Apakah karena diliatin seorang dewasa lain, ia tidak berani menggeser kursi yang terdekat dengannya? Entahlah. Apakah sebegitu sulit menanyakan sebuah kursi boleh digeser atau tidak? Sekali lagi, masalah sopan santun saja sebenarnya. Kalau diminta dengan sopan, tentu dijawab dengan sopan juga: entah kursi itu terpakai atau boleh dipakai.

Ketika saya pindah meja dan mengatakan kepada si anak laki-laki bahwa kursinya sudah bisa diambil, itu pun maksudnya agar ia tahu bahwa saya merespons permintaan dia tadi dengan baik: karena tadi dia menanyakan kursi kosong, maka ketika kursi itu kosong, saya sampaikan bahwa dia bisa memakainya. Meski zaman sekarang sudah demikian maju, buat saya tata krama itu kok tetap penting. Dan semoga masih banyak orang yang berpendapat seperti ini sehingga tak lalai mengajarkan hal tersebut kepada generasi muda.

Pemotor, Ojek, Go-Jek, dan Jek-jek Lainnya

Saya tidak bisa lupa pesan mama saya waktu saya masih SMP, terutama waktu kelas 3. Saat itu saya ikut bimbingan belajar di daerah Pancoran. Mama selalu bilang, “Kalau nyebrang jalan, hati-hati sama motor. Kalau mobil, lebih jelas. Entah dia kasih kita nyeberang, atau enggak. Kalau motor, nggak jelas. Dia bisa nyalip-nyalip seenaknya. Nanti kamu malah ketabrak.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya sudah bisa mengemudikan mobil, makin gemas saja saya melihat perilaku motor-motor di jalan raya. Dari sisi kanan memotong jalan di depan mobil untuk pindah ke sisi kiri, membawa muatan yang melebihi ukuran motor itu sendiri, membelok tanpa memberi lampu sen, dan lain-lain. Salah satu alasan mengapa saya senang lewat jalan tol–meskipun sekarang juga sama macetnya–adalah karena di jalan tol tidak ada motor. Jadi tidak pusing menghadapi pengendara motor yang seenaknya.

Naik Motor Sendiri
Karena Mama menganggap motor tidak aman, saya belajar untuk menyetir mobil terlebih dahulu–walaupun belum punya mobil sendiri. Tapi, itu pun dengan serangkaian SOP. Saya, misalnya, harus belajar menyetir mobil di salah satu kursus setir mobil. Tidak boleh belajar sendiri dengan orang-orang rumah. Selain itu, ketika mengambil SIM mobil juga harus sudah pada usia yang ditentukan. Tidak ada istilah “nembak” umur untuk mendapatkan SIM mobil lebih cepat. Lalu, ketika ambil SIM, kalau harus ujian, ya ikutlah ujian. Pokoknya semua aturan diikuti dengan baik dan benar. Yang ini adalah aturan dari Papa saya.

Salah satu alasan mengapa saya harus belajar bermobil di tempat kursus karena mobil yang digunakan sudah dilengkapi dengan peralatan yang dibutuhkan. Termasuk, si pelatih memiliki satu set kopling-rem-gas sendiri untuk menjaga keamanan. Apalagi di awal belajar mobil, saya paling sering terlalu cepat melepas kopling sehingga mobil jadi meloncat dan…, mati mesin. Selain bikin malu, bayangkan kalau hal itu terjadi di jalanan. Dalam hal ini, saya sangat terbantu dengan mobil dan pelatih di tempat kursus yang mengajarkan saya cara melepas kopling dan menginjak gas dengan sinkron.

Cerita yang sama terjadi ketika saya belajar mengendarai motor. Membuka gas terlalu tinggi sehingga motor meloncat dan menabrak dinding. Setelah itu saya kapok belajar motor. Sampai ketika saya bekerja, seorang teman mengatakan bahwa motor matik lebih mudah dipelajari dan tidak akan melompat seperti motor manual. Saya pun mulai belajar menyetir motor matik.

Ambil SIM motor? Sama saja. Hanya karena tidak ada kursus setir motor, saya langsung ambil SIM. Ketika diminta praktik motor, saya tanya, apa motornya? Karena saya cuma belajar motor matik. Petugas bilang, di sini motornya manual semua. Dan saya bilang, saya tidak bisa mengendarai motor manual. Dengan heran, si petugas bertanya, “Lalu, bagaimana kalau nanti Ibu terpaksa membawa motor manual?” Jawaban saya enteng saja, “Ya tidak akan saya bawa, Pak. Buat saya membawa motor bukan keharusan, tapi pilihan. Jadi saya hanya mau membawa motor matik. Dan untuk itu saya harus punya SIM. Kalau tidak ada motor matik, ya saya akan naik kendaraan lain. Karena saya juga tidak mau celaka.” Si petugas manggut-manggut saja lalu meloloskan saya dari ujian praktik.

Itu bukan akal-akalan untuk tidak ikut ujian, lho. Saya menepati janji saya kepada petugas tadi. Sampai detik ini saya tidak pernah mengendarai motor manual, selalu matik. Dan kalau tidak ada, ya saya lebih baik naik taksi saja.

Saya bermotor ke kantor ketika bekerja di daerah Ciracas. Standar keamanan saya tingkat tinggi, pokoknya: jaket tebal, helm cakil. Ini adalah jenis helm yang bukan hanya menempel di atas dan di samping kepala, tetapi juga sampai ke dagu. Untuk saya yang berkacamata memang lebih rumit karena memakai dan melepas helm berarti juga melakukan hal yang sama terhadap kacamata saya. Tapi tak apa. Buat saya, keselamatan tetap nomor satu. Dan mungkin karena saya mulai dengan bisa mengendarai mobil, saya merasa tidak semena-mena seperti pengendara motor lainnya. Ketika harus pindah jalur, tentu saya memberi lampu sen dan menunggu saat yang tepat, bukan dengan memotong kendaraan lain, misalnya. Dan ukuran ruang yang saya berikan tetap besar, meskipun tidak sebesar mobil. Saya, misalnya, pantang menyelipkan motor di antara 2 mobil, selalu mengambil jalur kiri, selalu berhenti di belakang garis lampu lalu lintas, dan sebagainya.

Pemotor di Jalanan
Ketika mulai bekerja, saya mendadak jatuh cinta dengan ojek. Awalnya, tentu saya naik bus ke kantor. Lalu setelah operasi usus buntu, saya merasa tidak nyaman berdiri terlalu lama, baik ketika menunggu bus maupun di dalam bus itu sendiri. Belum lagi lalu lintas yang tergolong padat di seputaran Pasar Senen. Pilihan naik taksi, jelas tidak mungkin selamanya. Bisa-bisa gaji sebulan hanya untuk membayar ongkos taksi.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada ojek. Langganan pula. Jadi setiap pagi dia mengantar anak saya ke sekolah, lalu mengantar saya ke kantor di daerah Kuningan. Siangnya dia jemput anak saya dari sekolah dan sorenya menjemput saya di kantor. Bermodal helm milik sendiri, tentu, yang saya wanti habis-habisan jangan sampai dipakai oleh orang lain. Perjalanan ke kantor menjadi lebih mudah dan dapat diprediksi waktunya. Imbasnya hanyalah kulit saya yang menggelap karena paparan debu, meskipun saya sudah mengenakan jaket dan masker. Dan, yah, tentu saja bermasalah ketika musim hujan datang…

Pengalaman berlangganan ojek dan menyetir motor sendiri itu membuat saya kemudian lebih berhati-hati kalau memilih ojek. Saya tidak mau ojek yang “ugal-ugalan”. Saya jadi galak kalau naik ojek: jangan nyalip, berhenti di belakang garis, jangan motong jalan orang, dan sebagainya. Mungkin tukang ojek akan stres menghadapi penumpang seperti saya. Tapi, biarlah. Salah sendiri jadi tukang ojek tidak tahu aturan. Kalau membahayakan diri sendiri, terserahlah. Tapi kalau membahayakan penumpang, sudah lain urusannya.

Kelengkapan Bermotor
Memang secara umum–kalau bukan karena jalanan yang sekarang kian macet–saya menganggap motor bukanlah kendaraan yang aman. Terutama karena perilaku pengendaranya. Pertama, pengendara tidak memperhatikan kelengkapan motor. Banyak lho, motor-motor berlalu-lalang tanpa kaca spion. Atau, kalaupun ada, ukurannya kecil–karena mengutamakan gaya, dan tidak diarahkan untuk melihat kendaraan dari samping belakang. Saya beberapa kali melihat spion yang diarahkan justru ke pengendara motor itu sendiri. Bukan itu lho fungsinya kaca spion…

Saya juga sering melihat pemotor berpakaian seadanya: semisal celana pendek dan sandal jepit, ketika berkendara. Pada suatu pelatihan yang disponsori oleh salah satu merek motor, saya mendapat penjelasan bahwa bermotor yang benar seharusnya mengenakan celana panjang dan sepatu, tentunya untuk keamanan diri sendiri. Suatu kali salah seorang tim saya terlambat masuk karena kecelakaan: kaki kirinya terbakar karena motor di depannya mundur dan knalpot motor tersebut mengenai kakinya. Seandainya saja dia memakai sepatu, tentu hal tersebut bisa diminimalkan dampaknya. Sayangnya, tim saya itu senang bersandal jepit-ria ketika bermotor. Duh! Semoga dia belajar dari kejadian tersebut.

Seorang guide di Jepang yang ditemui mama saya ketika berwisata ke sana bercerita bahwa dia pernah didatangi polisi karena sehari sebelumnya bermotor dengan celana pendek. Guide itu orang Indonesia, tentunya. Dan dia menganggap tidak masalah bermotor dengan celana pendek. Padahal, itu melanggar aturan dan di Jepang hal tersebut ditegakkan benar-benar. Ketika disambangi polisi di rumahnya, guide tersebut masih mencoba ngeles. Sayangnya si polisi punya bukti yang lebih kuat berupa rekaman CCTV peristiwa tersebut. Dan karena ia waktu itu masih pendatang baru, polisi hanya memberinya peringatan, belum hukuman.

Saya paling ngeri kalau melihat pemotor yang tidak mengenakan helm. Dan, entah kenapa, banyak orang saya lihat “mengganti” helm dengan kerudung atau kopiah. Padahal fungsinya tidak sama. Apakah jika menggenakan jilbab lantas tidak perlu pakai helm? Beberapa orang yang saya tanyai mengatakan bahwa mereka tidak pakai helm karena tidak pergi jauh-jauh. Well, siapa sih yang mau mendapat kecelakaan? Mau pergi jauh atau dekat, kita tidak tahu kapan kecelakaan akan terjadi. Ada pula yang memberi jawaban berdasarkan keimanan. Wah, saya tidak mau masuk ke urusan seperti itu. Buat saya, melindungi diri adalah yang penting. Terlepas dari apapun yang kita imani.

Saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman. Ia bertanya kepada orang lainnya, berapa harga helm yang dipakai orang tersebut. Kebetulan helm itu jenis yang hanya menutupi bagian atas kepala. Istilah saya, mohon maaf, helm Hitler. Waktu itu sekitar tahun 2007-an. Si pemilik helm menjawab, “Sepuluh ribu rupiah.” Orang yang bertanya kemudian menyimpulkan, “That’s the price of your head.” Betul juga!

Barang Bawaan dan Perilaku
Kedua, motor sering kali dipaksakan membawa barang-barang yang ukurannya jauh melebihi ukuran motor itu sendiri. Memang, sih. Motor adalah kendaraan yang fleksibel. Tinggal ditambah kantong di kanan dan kiri belakang, misalnya. Sudah bisa digunakan membawa barang, mulai dari surat–seperti model pak pos zaman dahulu, hingga kambing. Betul, kambing. Saya pernah melihatnya sendiri. Awalnya saya curiga, apa sih yang ada di kantong motor di depan saya. Kok bentuknya agak tidak biasa. Setelah saya dekati–saya, tentunya, bermobil–ternyata yang muncul dari kantong itu adalah kepala kambing. Badannya, tentu saja, ada di dalam kantong. Ini terjadi menjelang hari raya kurban. Mungkin si pengendara adalah penjual kambing yang hendak mengantarkan kambing ke pemesannya. Tapi kok ya begitu caranya? X_X

Sayangnya membawa muatan berlebih di belakang tidak membuat pemotor sadar. Dia tetap saja selap-selip di jalan, memotong jalur lain, bahkan berhenti mendadak. Saya pernah melihat pemotor dengan tambahan rangka besi di belakangnya untuk membawa termos nasi ukuran besar–yang biasanya untuk katering. Si pengemudi tetap saja memilih jalan sempit di antara dua mobil, padahal rangka besi di belakangnya membuat goresan panjang di mobil yang dilewatinya–meski si pemilik mobil tidak sadar. Saya yang sedang ada di bus di belakang mobil yang tergores tersebut hanya melongo. Buset, deh…

Ketiga, perilakunya itu sendiri. Menyelip di antara mobil–kaca spion mobil tersambar motor sudah bukan hal yang aneh di Jakarta. Betapapun sempitnya ruang yang ada, pemotor tetap saja berusaha lewat. Belum lagi perilaku pemotor yang naik ke tempat pejalan kaki karena jalanan dalam kondisi macet. Sudah melanggar aturan, membahayakan orang lain pula! Saya juga memperhatikan bahwa banyak pemotor merasa sudah berhenti di pinggir–dan menurutnya, orang akan dapat lalu lalang di sebelahnya–tanpa menyadari bahwa kakinya yang menjagang motor masih terlalu jauh dari bodi motor dan berpotensi terlindas mobil!

Pada poin ini saya akan menyarankan orang untuk belajar mobil terlebih dahulu dibandingkan motor. Dengan menguasai mobil terlebih dahulu, berdasarkan pengalaman, seseorang akan lebih berhati-hati ketika mengendarai motor. Alasannya, pertama, orang tersebut akan cenderung memiliki patokan ruang yang lebih besar sehingga tidak terbiasa menyalip sembarangan. Sebaliknya, jika menguasai motor terlebih dahulu, seseorang akan menyetir mobil seperti ketika menyetir motor. Ukuran ruangnya kecil sehingga ia merasa bisa menyalip atau menghindar dengan mudah. Atau, sembarangan padahal kondisi lalu lintas tidak memungkinkan karena sedang sangat macet.

Alasan kedua, pola pikir orang yang belajar mengendarai mobil terlebih dahulu adalah berhenti jika ada sesuatu di hadapannya. Sementara orang yang menguasai motor terlebih dahulu akan cenderung menghindar. Keseimbangan motor terjadi ketika ia bergerak, dan untuk menjaga keseimbangan itu, pengemudinya harus terus bergerak dan karenanya akan cenderung menghindar daripada mengerem. Mengerem berarti berhenti dan untuk menjaga keseimbangan, ia harus menurunkan kaki. Pemotor lebih suka “ngepot” sedikit ke samping sehingga tidak perlu berhenti. Sayangnya, kebiasaan itu juga terbawa ketika ia nantinya mengendarai mobil. Cenderung banting setir daripada berhenti.

Umur: Mental vs. Fisik
Keempat, urusan umur. Bukan tanpa alasan lho dibuat aturan bahwa pemohon SIM harus berusia 17 tahun. Secara psikologis diharapkan pada usia ini seseorang sudah mampu berpikir matang dan tidak emosional dalam berkendara, juga sudah dapat bertanggung jawab secara hukum.

Sayangnya, banyak orangtua berpikiran lain. Asalkan kaki si anak sudah dapat mendukung dirinya dan motornya, sudah dibolehkan mengendarai motor. Tak heran banyak anak SD kelas akhir yang sudah bermotor, bukan saja ke warung di dekat rumah tetapi ke jalan raya. Padahal, mungkin baru fisiknya yang siap. Secara mental ia belum layak berkendara motor. Bukan saja membahayakan dirinya, tetapi juga pengendara lain di jalanan.

Karena itu saya amat terkejut ketika membaca berita mengenai putra salah seorang selebritas yang kecelakaan di jalan tol. Bukan hanya usianya yang belum cukup untuk menyetir mobil, tetapi juga menyetir di jalan tol. Saya menyesalkan orangtua dan petugas manapun yang memberinya izin mengemudikan mobil.

Kembali pada pelatihan yang saya sebutkan di atas, pihak produsen motor itu kemudian meminta peserta untuk membuat tulisan mengenai motor. Saya–di situ sebagai pengajar–terkejut ketika banyak di antara peserta yang notabene para guru, menuliskan betapa murid atau anak tetangga mereka yang menjadi korban kecelakaan bermotor, mulai dari masuk ke selokan hingga yang mengantar nyawa. Sebagian besar karena salah satu dari faktor-faktor yang saya sebutkan di atas.

Ojek Aplikasi
Tibalah suatu masa ketika Nadiem Makarim memperkenalkan yang namanya Go-Jek. Tak urung saya mengagumi Nadiem yang berhasil mencari celah dari ruwetnya masalah trasnsportasi di Jakarta. Untuk masalah transportasi ini, nanti saya tuliskan secara terpisah. Tetapi Go-Jek benar-benar memberikan solusi cerdas. Bukan, saya bukan pengguna Go-Ride karena berbagai alasan yang sudah saya sebutkan di atas, meskipun banyak teman yang mengandalkan Go-Ride karena berbagai alasan. Tapi yang jelas saya sangat terbantu dengan layanan Go-Sent dan Go-Food.

Go-Sent alias jasa pengiriman barang adalah yang pertama kali saya coba. Manfaat yang paling besar adalah kejelasan dan keamanan. Jelas, karena si ojek terlacak posisinya. Aman, artinya barang yang saya kirim dipastikan diterima oleh orang yang dimaksud. Bayangkan kalau pakai ojek biasa. Wah, mana ada jaminan?

Go-Food atau jasa membelikan makanan, baru-baru saja saya alami ketika saya sakit dan malas memasak. Apalagi pergi ke luar untuk membeli makanan, bukan? Jadi saya tinggal buka aplikasi, memilih makanan, dan Go-Jek akan mengonfirmasi pesanan saya lalu membawakan ke rumah. Problem solved!

Tentu saja, jangan memanfaatkan jasa mereka pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. Secanggih apapun layanan yang diberikan, sulit menemukan jasa ojek pada jam-jam tersebut. Semua laris-manis dibutuhkan oleh orang-orang yang hendak berangkat atau pulang kantor.

Saya ikut mempromosikan Go-Jek dan berusaha menggunakan layanannya dalam berbagai kesempatan, bukan hanya karena kejelian Nadiem, tapi karena ini adalah produk canggih anak negeri. Dengan alasan tersebut saya sedapat mungkin tidak menggunakan aplikasi ojek lain yang diketahui memiliki investor dari negara lain. Tapi tetap saja, saya bukan dan sudah kapok mencoba Go-Ride. Selain karena keamanan, ternyata faktor U ikut berpengaruh. Saya jadi gampang masuk angin. Tentu saja saya pakai jaket, tetapi dengan kondisi lingkungan yang semakin panas, berkeringat dan kering lagi di badan adalah jalan masuk angin yang paling ampuh.

Ojek dan Masalahnya
Saya termasuk yang bersedih ketika timbul masalah antara Go-Jek dengan ojek pangkalan. Ah, sama-sama mencari nafkah, mengapa harus berselisih seperti itu? Ojek pangkalan juga bisa kok membuat layanannya seperti Go-Jek. Kebanyakan ojek pangkalan juga sudah mempunyai langganan yang berdomisili atau beraktivitas di dekat mereka. Tinggal bermodal ponsel agar dapat dihubungi oleh pelanggan, bukan?

Dulu, ketika saya berlangganan ojek, saya juga mengambil ojek pangkalan. Karena pada masa itu ponsel belum terlalu jauh penetrasinya, saya memberinya ponsel saya yang sudah tidak terpakai. Asalkan dia bisa dihubungi. Misalnya, untuk memastikan bahwa anak saya Abi sudah dijemput dengan selamat. Bahkan, kalau jam pulang saya berubah–karena harus liputan atau kegiatan lain–ojek saya tinggal di-SMS. Jadi dia akan menjemput saya di jam yang baru.

Lalu saya membuat perjanjian di awal: pada jam-jam Abi berangkat dan pulang sekolah, serta jam saya berangkat dan pulang kantor, dia tidak boleh alpa. Dan, Abi harus diantar jemput sendirian, tidak boleh dia sekaligus memboncengi lebih dari 1 anak–yang mana salah satunya adalah Abi. Pasalnya, saya pernah mendapat ojek yang sembrono. Ketika mengantar Abi, dia juga mengantar anak lain, yang tak laina dalah anaknya sendiri. Sehingga Abi yang–waktu itu–tubuhnya masih imut-imut terjepit di antara tukang ojek dan anaknya. Besoknya saya putuskan untuk mengganti ojek tersebut.

Kembali pada penggunaan ponsel, saya jadi mudah mengecek ojek saya sedang berada di mana. Sekali waktu dia sakit dan tidak bisa mengantar Abi, itu pun jadi lebih mudah diselesaikan dengan sarana komunikasi tersebut. Ketika akhirnya jasa si tukang ojek sudah tidak dibutuhkan, saya juga tak sampai hati meminta kembali ponsel yang saya pinjamkan, kok.

Dengan mencari pelanggan saja sebenarnya ojek pangkalan tidak perlu berlama-lama menganggur di pangkalannya. Bahkan, kalau sudah terjadwal seperti ojek langganan saya dahulu, di siang hari dia justru bisa istirahat sebelum jadwal menjemput berikutnya. Enak, bukan? Mau meminta tolong tukang ojek membelikan sesuatu barang juga bisa, kok. Hanya saja dia pasti akan datang dulu meminta uang sebelum berbelanja. Dan kita harus menyepakati berapa ongkos berbelanja tersebut. Dengan keberadaan Go-Jek, hal-hal seperti ini lebih mudah lagi karena ada standar. Tarif pun sudah ditentukan sehingga konsumen tidak dikemplang oleh tukang ojek yang tidak bertanggung jawab.

Persaingan antara ojek pangkalan dan ojek aplikasi manapun memang terus terjadi. Saya berharap ojek aplikasi–yang manapun–memberikan layanan lebih kepada konsumen. Bukan hanya perang tarif murah seperti sekarang, saya berhadap layanan tersebut bisa diberikan dari perilaku pengojek itu sendiri. Saya sering miris melihat ojek aplikasi yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas, misalnya. Seharusnya para provider ojek aplikasi tersebut mengetatkan aturan agar pengojeknya menjadi salah satu pelopor keamanan dan keselamatan berlalu lintas. Jangan hanya memberi jaket dan helm, misalnya, tetapi juga memeriksa kelengkapan motor seperti kaca spion, dan memberi pengenalan terhadap aturan lalu lintas serta sanksinya jika melanggar.

Tentu saja, pada industri jasa seperti ini, tak kalah pentingnya bicara soal pelayanan. Bersikap dan berbicara yang baik kepada pelanggan adalah keharusan. Di sini ojek pangkalan bisa jadi keteteran karena tak jarang mereka berlatar belakang semacam preman di daerahnya. Pernah ada berita mengenai ojek pangkalan yang melakukan kekerasan kepada ojek aplikasi. Terlepas dari persaingan yang mereka hadapi, itu adalah cara yang buruk untuk menunjukkan pelayanan. Tak salah jika banyak orang semakin ngeri menggunakan ojek pangkalan.

Larangan Ojek
Baru-baru ini terjadi kehebohan karena mendadak ada larangan bagi ojek sementara masyarakat sudah kadung menikmati layanan ojek aplikasi yang disediakan. Saya antara mendukung dan tidak. Kehadiran ojek, Go-Jek, lantas kemudian ada jek-jek yang lain termasuk Lady-Jek, adalah bukti carut marutnya urusan transportasi publik di Jakarta. Yang dilakukan masyarakat sebenarnya hanyalah mencari solusi dari permasalahan transportasi yang ada, kok.

Masyarakat semakin membutuhkan jaminan keamanan, itu sebabnya belakangan ini ojek aplikasi mengerucut pada mereka yang menyasar hanya kaum hawa. Mungkin penumpang merasa lebih nyaman jika pengemudi ojeknya sama-sama cewek. Seorang teman pernah berkata, dia memesan ojek dan ternyata yang datang adalah ojek dengan pengemudi perempuan. Padahal teman saya ini laki-laki, dan dia merasa tidak enak: masak cowok diboncengi cewek? Akhirnya mereka bernegosiasi, dan berujung kompromi yang lucu: teman saya yang membawa ojek, sementara tukang ojeknya menjadi penumpang. Nah!

Keunggulan ojek aplikasi lain adalah perkiraan waktu yang lebih tepat ketimbang menunggu di pinggir jalan untuk mendapatkan moda transportasi. Ada lagi sisi kemudahan: daripada menghabiskan berjam-jam menggunakan bus atau taksi untuk mengantar barang yang harus segera sampai–belum lagi biaya taksi jika ikut bermacet-macet dalam lalu lintas jakarta–lebih baik menggunakan ojek aplikasi.

Di sinilah pemerintah seharusnya berperan. Larangan ojek aplikasi memang sudah dibatalkan, tapi latar belakang pemikirannya tetap belum jelas. Menurut saya, janganlah terburu-buru mengharamkan ojek dalam bentuk apapun. Perbaiki dulu sarana transportasi publik. Banyak hal perlu dikerjakan di sini, mulai dari memperbaiki infrastruktur hingga membereskan perusahaan angkutan yang nakal. Sementara itu, buatlah aturan sementara untuk ojek dan teman-temannya. Saya setuju kok kalau ada pembatasan ojek di jalan-jalan tertentu. Memang pengendara motor, dengan perilaku yang tidak siap dan kondisi motor yang tak laik, tidak seharusnya berada di jalan utama. Bisa juga dengan memperketat pengawasan terhadap pemotor, mulai dari ujian SIM hingga perilakunya di jalanan.

Saya beberapa kali berkunjung ke luar negeri dan amat jarang melihat motor di sana, kecuali di Vietnam tentunya. Bahkan di negara yang merupakan produsen motor, seperti Cina dan Jepang, saya kok tidak melihat masyarakat di sana menggunakan motor. Tampaknya mereka hanya memproduksi dan kita yang mengonsumsi. Mereka dapat untung, kita dapat polusi dan lalu lintas yang semerawut. Yang jelas, transportasi publik di sana sangat memadai. Meskipun di Beijing ada semacam bajaj yang sama saja cara menyetirnya dengan bajaj di Jakarta, tapi jumlahnya tidak banyak karena sebagian besar tetap menggunakan kereta bawah tanah.

Melarang ojek sebelum membereskan transportasi publik seperti kemarin kita berupaya memadamkan api di tanah gambut. Api di bagian atas mungkin sudah padam, sementara di lapisan bawah, tanah masih membara.

Tentu Saja Kamu Temanku

Tentu saja kamu temanku

Sejak dulu,
Sejak dalam pikiran kita hanya ada bermain dan bersenang-senang
Sejak putih-merah mewarnai hari-hari kita

Kita bisa bicara dengan bebas
lewat surat, lewat kata-kata, bahkan tanpa kata.
Kita sekelas, sebangku, atau satu ekstra kurikuler
Kita mengalami semuanya sama-sama
ujian, kelulusan, perploncoan, aneka bimbingan belajar
Semua yang melelahkan tapi juga menggembirakan

Lalu kita saling mendukung
Kalau ada cowok/cewek yang sedang kita taksir
Atau menertawakannya
Kita saling bersedih kalau ada yang putus,
Dan ikut makan-makan kalau jadian

Sekarang pun kita masih teman
Jangan bodoh

Jalan hidup kita sudah berbeda
Hati kita memilih yang berbeda
Pengalaman kita jadi berbeda
Kesedihan kita berbeda, begitu juga kebahagiaan
Mungkin itu semua,
Membentuk diri kita menjadi orang yang berbeda

Tapi kita tetap teman
Meski dengan cara yang berbeda

Kalau tak lagi semua bisa kita ceritakan
Bukan berarti kita bukan teman
Kalau tak lagi semua hal sama-sama kita tangisi
Bukan berarti kita bukan teman
Mengapa pula harus memaksakan cara yang sama
Sementara anak itik buruk rupa pun akan menjadi angsa yang cantik

Mengenang Setahun Kepergianmu

Sudah lama Uti bilang ingin mati saja. Antara kasihan dan kesal, saya mencoba memahami penyebabnya. Jelas, yang pertama karena Eyang Kakung sudah meninggal dan Uti merasa kesepian. Tidak ada lagi temannya mengobrol, betapapun kami mencoba menggantikannya. Pasangan hidup yang baik memang tidak dapat digantikan. Itulah pelajaran paling berharga yang saya dapat dari kakek-nenek saya itu.
 
Alasan kedua, adalah ketidakmampuannya untuk bergerak. Uti adalah orang yang sehat, semua organ dalam tubuhnya diperiksa secara rutin dan dia terbebas dari masalah-masalah yang sering dihinggapi orang dewasa: kolesterol, gula darah, tekanan darah, dan sebagainya. Justru karena masih sehat itulah Uti selalu aktif: jalan mengitari mal baru bukan kendala baginya. Pada saat anak pertama saya lahir tahun 2000, dia masih pergi sendirian dengan taksi ke rumah sakit.
 
Tangannya pernah patah hingga dipasang pen dan digendong berbulan-bulan, itu juga karena keaktifannya. Ia merawat burung kenari sendiri, dan ketika mencoba menggantungkan sangkarnya di kaitan di atap, ia terjatuh dari kursi tempatnya memanjat. Beruntung hanya tangannya yang patah.
 
Di suatu pagi yang nahas, ia jalan kaki seputaran kompleks seperti biasa rutin dilakukannya. Mungkin karena hari masih gelap–Uti biasa jalan pagi setelah salat subuh–Uti terjatuh karena terpeleset kotoran anjing. Dari situlah semuanya berawal.
 
Kaki kanannya patah di bagian bonggol paha atas dan harus diganti. Meskipun sudah dicari bonggol pengganti dari platina yang harganya supermahal, toh tubuhnya menolak kehadiran benda asing. Berkali-kali bonggol baru tersebut mengakibatkan infeksi.Dengan bonggol baru itu sebenarnya Uti bisa berjalan meski memakai kruk. Bisa duduk di kursi roda dan didorong ke depan rumah untuk menghirup udara segar. Memang, sejak itu Uti sudah tidak bisa memasak lagi karena tidak kuat berlama-lama berdiri. Padahal memasak adalah salah satu kesukaannya.
 
Ada banyak ketidakbisaan lain, bukan hanya terkait masalah kakinya yang patah. Kala itu Uti memang sudah sulit membaca, karena huruf-huruf koran atau majalah sudah terlalu kecil baginya. Dengan alasan yang sama, ia sudah tidak bisa lagi menjahit dan menyulam, salah satu kesenangannya yang diajarkan kepada saya. Ini membuat kesenangan dalam hidupnya berkurang amat banyak.
 
Kembali ke masalah bonggol, karena begitu mengganggu, begitu sering infeksi dan menyebabkan sakit, bonggol itu akhirnya harus diangkat. Sejak itu, Uti kesulitan duduk lama, apalagi berjalan. Sehari-harinya hanya tidur dengan bantuan lengkap untuk kebutuhan sehari-harinya.
 
Sejak itu kondisinya menurun. Uti seperti tidak punya semangat lagi untuk hidup. Tidak bisa kemana-mana, hanya bisa tiduran. Saya selalu datang berpamitan sebelum berangkat kerja, dan saya melihat betul penurunan semangat hidupnya.
 
Mulanya Uti jadi malas bicara. Kalau saya berpamitan, dia hanya memegang-megang lengan saya. Saya selalu mencium pipinya yang tirus. Dan Uti selalu tersenyum kepada saya. Paling-paling dia memegang bandul kalung saya ketika menciumnya, dan berkata, “Bagus..” Saya selalu menjawab, “Ini Uti yang belikan…” Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
 
10580245_10203969208337923_7286536569799630374_n
 
Ketika saya wisuda S2, saya berikan undangan itu kepadanya, dan sepertinya Uti paham undangan apa itu. Tetapi dia tidak berkomentar apapun. Dan ketika saya datang dengan toga lengkap untuk berfoto bersamanya, Uti pun tidak bicara. Saya tidak pernah melupakan wisuda S1, ketika Uti dan saya pergi lebih dulu ke Surabaya untuk daftar ulang sambil mengambil toga. Uti masih begitu muda dan penuh semangat. Empat belas tahun kemudian segalanya sudah berubah.
 
***
 
Hari itu saya dipanggil pulang karena Uti mendadak tidak mau makan dan tidak merespons. “Jangan sampai menyesal,” kata Mama. Saya pun pulang dan mendapati mata Uti yang kosong. Dia seperti tidak mendengar kata-kata kami. Terus-terusan Uti mengaduh. Apa yang sakit, kami juga tidak tahu.
 
Beberapa hari kemudian Uti dibawa ke rumah sakit karena ada darah dalam urine-nya. Sejak itu Uti tidak kembali ke rumah. Saya tidak terlalu ingat runtutannya. Yang saya ingat ketika Uti akhirnya masuk ICU dan diinfus makanan dari lehernya karena semua tempat yang biasa dimasuki jarum infus sudah menolak.
 
Sedih melihat Uti seperti kesakitan dengan infus barunya itu. Dokter sendiri mengatakan bahwa diinfus di leher memang sakit sekali. Tapi tidak ada cara lain untuk memasukkan makanan.
 
Menurut dokter, Uti mengalami infeksi di paru-parunya karena terlalu lama tidak bergerak. Ketika masuk rumah sakit kemampuan paru-parunya tinggal 30%. Segala antibiotik tercanggih diberikan untuk memperbaiki fungsi paru-parunya.
 
Di ICU itulah pertama kali Dokter menyarankan untuk melubangi trakea-nya. Tapi cara itu bukan tanpa risiko. Di usia yang sudah 87 tahun, dikhawatirkan paru-parunya justru tidak mampu memperbaiki sel-selnya sendiri sehingga menimbulkan ketergantungan pada alat bantu itu.
 
Keputusan itu akhirnya diambil melalui rembuk keluarga. Uti tidak dipasangi alat bantu di trakea dan dipindahkan ke ruang biasa agar dapat ditunggui secara bergiliran. Di ICU kami tidak bisa menunggui di sampingnya, dan itu membuat Uti kesepian.
 
Perpindahan dari ICU ke ruang biasa bukan tanpa perjuangan. Entah mengapa Uti masih berontak dan menendang-nendang di atas tempat tidur. Saya berlari di samping tempat tidurnya, memegangi selimutnya yang disepak kesana-kesini, padahal Uti tidak berpakaian sama sekali. Entah bagaimana Uti sepertinya mengerti waktu saya bilang, “Ini Manda. Saya di sini…” Uti berhenti berontak, tetapi saya harus terus lari mengiringi tempat tidurnya.
 
Saya ingat Uti masih memegangi tangan saya sampai tertidur di tempatnya yang baru. Saya tinggalkan Uti setelah semua infusnya kembali berjalan. Ini kamar super VIP dengan pengawasan perawat di dalam kamar.
 
Beberapa hari kemudian, Uti dipindahkan lagi dari kamar perawatan VIP ke kamar biasa. Kami masih bisa menunggui, tetapi tidak ada perawat di dalam kamar. Di sini kondisi Uti memburuk. Tidak lagi mengenali kami dan riak di tenggorokannya terlalu banyak sehingga harus disedot beberapa waktu sekali.
 
***
 
Jumat, 2 Agustus 2013. Adik saya yang terakhir menunggui dan gantian dengan Mama karena harus ke kantor. Saya datang malam sebelumnya dan berjanji akan berjaga malam ini. Sekitar jam 2 siang, dengan Mama di sampingnya, Uti pergi meninggalkan kami. Jantungnya masih berdetak ketika paru-parunya berhenti berfungsi.
 
Saya dan Mama mengerjakan semuanya. Saya adalah salah satu orang yang mengangkat jenazah Uti dari tempat tidur ke dorongan untuk ambulans. Saya harus berdiri di atas tempat tidur karena ternyata berat memindahkan jenazah di jarak sedekat itu.
IMG_4610
Esoknya, saya juga yang mengangkat Uti untuk dimandikan dan dikafani. Saya ikut memandikan dan menyalatkan. Duh, Uti. Tidak ada lagi teman saya bercerita. Uti adalah sahabat semua cucunya, dan saya yakin bukan hanya saya yang merasa kehilangan. Saya hanya yakin bahwa Uti tidak lagi menderita. Bahwa Uti sudah terbebas dan segala kesakitannya. Bahwa Uti akan bersama-sama lagi dengan  Eyang Kakung.
 
Sesuai permintaannya, kami kuburkan Uti bersama Eyang Kakung dalam satu liang. Dua puluh tahun mereka terpisah, kami berharap mereka sekarang sudah bersama lagi, seperti janji mereka dahulu: together forever.
 
Beberapa waktu lalu saya bermimpi seperti ditelepon Uti. “Ini siapa?” katanya. Sangat jelas itu suara Uti. “Ini Manda,” jawab saya. Persis seperti yang saya katakan saat berlari di samping tempat tidurnya. Saya bertanya, apakah Uti sakit? Karena suaranya sangat mirip orang pilek. Mimpi saya terputus sampai di situ. Tapi saya meyakini satu hal: kami saling merindukan. Sesegera mungkin saya berziarah ke makamnya. “Ini Manda,” ujar saya di pusaranya. Saya tahu Uti mendengarnya.
 
Saya memang tak berlama-lama bersedih. Saya selalu ingat bahwa Uti sudah lama kesepian. Tapi tak bersedih bukan berarti saya tidak merindukannya. Saya kangen sekali. Saya sengaja membuat sendiri buku tahlilnya, agar saya bisa merangkai foto-foto Uti sebagai pengobat rindu. Saya tak pandai berpuisi, tapi di buku tahlil 100 hari Uti, saya menuliskan kata-kata ini:
 
Biarkan kami mengenangmu,
Dengan kejadian-kejadian indah
Yang pernah kita alami bersama.
Biarkan kami mengikhlaskanmu,
 
Berharap kebahagiaan sejati
Menantimu di sana.
Biarkan kami mendoakanmu,
Semoga Ia menempatkanmu
Di tempat terbaik-Nya.
 
Biarkan kami merindumu,
Berharap suatu saat nanti
Kita akan bersama-sama lagi.
 
Uti, ini Manda. Saya tuliskan catatan ini dengan penuh kerinduan….

Storyteller of Coffee

IMG_1685Sore yang dingin di Dieng saya habiskan bersama Pepeng. Di kartu  namanya tertulis ‘storyteller of coffee’. Memang, yang dijual bukan kopi, tapi cerita mengenai cara mengolah kopi yang nikmat. Pepeng memulainya dengan belajar dari para petani, lantas dia banyak bergaul dengan penikmat kopi dari mancanegara.

Menurut Pepeng, orang-orang di luar negeri ‘bingung’ dengan orang Indonesia. “Negara kalian adalah penghasil kopi, tapi kenapa kalian minum kopi sachet?” Pepeng menirukan kata-kata relasinya. Tidak heran, pertanyaan pertama Pepeng kepada saya adalah, “Biasa minum kopi apa, Mbak?” Dan ketika saya sebutkan salah satu merek kopi, dia hanya tersenyum.

Dibawakannya ke hadapan saya berbagai macam kopi. Menurut Pepeng, beberapa orang merasa kopi tertentu terlalu asam, sementara yang lain tidak merasa begitu. Jadi, pilihan kopi seratus persen bergantung pada preferensi tiap orang. Saya menyerah saja, minta dibuatkan mana yang menurutnya paling enak. Maka, Pepeng pun memasukkan biji-biji kopi ke dalam penggilingan tangan. Ia mengajarkan saya menggiling kopi. Tapi karena saya tahu diri, setelah beberapa menit mencoba akhirnya saya serahkan kepada ahlinya saja. Bisa-bisa antrean kopi menjadi panjang karena saya perlu waktu sangat lama untuk menggiling kopi! Baca lebih lanjut

Kesenian naga dari Dieng

IMG_1512Berseragam kuning dengan motif sisik naga, sekitar sepuluh orang berlari ke dalam lingkaran. Masing-masing menggenggam tongkat yang mengusung kepala, badan, hingga ekor naga yang juga berwarna kuning. Mereka bergerak dengan lincah mengikuti irama tambur. Ke mana kepala bergerak, ke sana tubuh meliuk dan ekornya melecut. Bisa jadi suatu ketika pembawa bagian kepala lari melompati badan bagian tengah. Si pemegang badan otomatis merunduk dan ketika orang kedua dari kepala melompat, orang di belakangnya pun sigap merundukkan kepala. Tidak terjadi tabrakan, betapapun cepatnya mereka bergerak.

Mereka pun saling memberikan informasi dengan cepat. Jika salah seorang pembawa sudah lelah, dari tepi lingkatan ada orang lain yang segera berlari untuk menggantikan tempatnya. Ternyata mengangkat tongkat sambil berlari demikian cukup menguras tenaga. Itu sebabnya mereka menyediakan sejumlah pemain cadangan. Baca lebih lanjut

Pepaya (Tidak) Berbatang Tunggal

Dieng memang terkenal dengan agrobisnisnya. Kawasan bertanah vulkanik ini menghasilkan kubis yang besar-besar dan cantik. Daunnya mulus seperti kulit seorang model. Wortel pun berukuran besar-besar dan segar. Wah!

Soal buah dan sayur, saya masih dikagetkan dengan manisan Carica. Menurut penduduk Dieng, Carica adalah sejenis pepaya. Entah mengapa, dari bagian otak yang terdalam tiba-tiba saya teringat pelajaran masa sekolah dulu bahwa nama latin pepaya adalah Carica Papaya.  Uniknya, pepaya yang biasa kita lihat berbatang tunggal, namun Carica bisa memiliki beberapa batang. Dan, masing-masing bisa berbuah! Keunikan ini belum berakhir. Masih menurut mereka, jika bibit Carica ini ditanam di tempat selain Dieng, maka yang akan tumbuh adalah pepaya biasa yang kita kenal. Apakah karena pengaruh ‘mistis’ atau struktur tanah Dieng yang subur, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, makanan ini sangat menyegarkan dan merupakan salah satu buah tangan yang harus dibawa dari dataran tinggi ini.

Mengenai dinginnya, wah…, jangan ditanya. Di hari pertama saya mengikuti acara hingga pukul 7 malam dalam udara yang menggigit. Apalagi karena hujan, maka acara mundur hingga waktu yang tidak ditentukan. Tentu saja hal itu tidak terlalu menjadi masalah, karena acara malam itu adalah pagelaran wayang yang memang biasa dilakukan hingga dini hari. Ketika saya memutuskan untuk pulang, 15 menit turun gunung dengan motor rasanya cukup membekukan seluruh tubuh! Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: